CANDICE EMRYS
TERBANGUN di atas ketinggian enam ribu kaki dengan posisi yang sama sekali tidak etis—kepala hampir membentur sayap dan kedua kaki di antara tubuh bersurai hitam—tidak pernah sekali pun terlintas di benakku. Butuh kesadaran penuh untuk mengimbangi bobot tubuhku dengan sesosok makhluk mamalia bernamakan kelelawar agar tidak menjatuhkan diri dari ketinggian dengan kecepatan penuh dan mendarat dengan detak jantung yang sudah lebih dahulu berhenti.
Figur pemuda itu membelakangi tubuhku. Ia bahkan tidak repot-repot menengok saat pekikan tersekat lolos dari bibirku semasa siuman tadi. Tristan terlihat sama sekali tidak peduli—terlalu apatis sampai-sampai batinku menjadi lelah dibuatnya. Di saat kedua tanganku mencengkeram erat surai-surai hitam di bawahku, sebaliknya pemuda itu malah terlihat tenang menunggangi kelelawar raksasa yang memboncengkan tubuh kami di atasnya.
Untuk menjangkau Tristan, aku perlu merangkak dengan tubuh gemetar. Sesekali, ekor mataku melirik panorama yang membentang luas di bawah kami dengan tatapan gamang—tidak kuperhatikan secara mendetail, sebab ini adalah kali pertamaku berada di atas ketinggian, tanpa pengaman sedikit pun dan hanya bergantung pada kelelawar dan cengkeraman tanganku. Sudah pasti ini merupakan pengalaman pertamaku yang berhasil membuat adrenalinku diuji.
Napasku menderu terburu-buru seraya tetap merangkak dan mendekat pada Tristan. Embusan angin terasa menusukku sampai ke tulang—suhu udara di atas sini benar-benar rendah, tetapi mampu menciptakan kepeningan di kedua pelipisku. Bahkan, aku tidak lagi peduli saat tanganku menepuk pundak Tristan dan mencengkeram lengan pemuda itu sedemikian eratnya—mengundang atensi Tristan di depan dan membuat sepasang matanya langsung menatapku keheranan.
“Bisakah kita turun sekarang?” tanyaku, hampir mengerucutkan bibir.
“Masih jauh.”
Respons yang ia berikan bahkan tidak terdengar berhati sedikit pun. Kepalanya langsung menoleh kembali ke depan—mengabaikanku yang sedang mati-matian menjaga kesadaran penuh dan melawan seluruh ketakutanku. Sepasang mataku terpejam saat aku berusaha mengatur napasku. Seluruh animo sarkasme harus kutelan bulat-bulat agar tidak mengubahnya menjadi sumpah serapah kepada pemuda itu.
Bahkan hingga detik ini, Tristan belum juga sadar betul dengan kegamanganku terhadap gravitasi. Kalau aku pikir-pikir lagi, Rhett dan Tristan sama-sama tidak memiliki kemanusiaan—atau memang semua penyihir seperti ini.
Kuembuskan napasku dengan keras, berharap Tristan akan mengerti dan ternyata berujung sia-sia. Pada akhirnya, aku mendongak untuk mengamati langit senja dengan awan yang mulai luntur di sekitarnya—berharap sang cakrawala dapat membuatku teralih. Sedikit terpesona, aku hampir mengacungkan tanganku untuk menyentuh awan yang terlihat dekat—tetapi faktanya sangat jauh. Sebuah keelokan yang penuh tipu daya, sebuah muslihat yang tampak nyata.
Begitu kupikir ketakutanku telah berganti menjadi kekaguman, tiba-tiba saja kelelawar menukik dalam kurun waktu beberapa detik. Tidak terlalu cepat, namun berhasil meloloskan pekikanku dari ujung lidah. Aku merunduk seraya meletakkan tanganku di pakaian Tristan, lalu mencengkeramnya begitu erat sampai sepasang mataku terpejam. Indra pendengarku juga sempat berdengung oleh deru angin, berikut dengan terpaannya.
Dan aku tidak berminat membuka mataku sekali pun si kelelawar telah terbang lebih rendah dengan gerakan stabil.
Otakku baru menginstruksikanku untuk membuka mata setelah aku teringat dengan eksistensi Glacies. Makhluk bertanduk dan bersayap biru itu tidak tampak semenjak pertama kali aku siuman pasca memasuki portal menuju EveFalls Sky. Kepanikan kontan menggantikan perasaan gamangku dan serta-merta aku menaruh tanganku kembali di pundak Tristan yang kukuh. Otot kecilnya terasa keras saat aku menekan permukaan pundaknya.
“Glacies. Di mana Glacies-ku?” Sejujurnya, mengeklaim makhluk itu sebagai kepunyaanku agaknya membuatku sedikit terganggu.
Tristan tidak merespons, jadi aku langsung menegakkan sedikit tubuhku dan melongok ke balik pundaknya. Figur makhluk dengan surai biru tersebut yang ternyata berada di pangkuan pemuda itu—tertidur tanpa merasa ketakutan yang sebagaimana kurasakan sedari tadi. Tetapi, setidaknya keberadaan Glacies membuatku sedikit lebih lega. Jika ia menghilang, maka itu merupakan hari terakhir dalam hidupku—membayangkan diriku akan mati bahkan sebelum berpetualang di peradaban lain mampu membuat roma kulitku meremang.
“Terkadang aku pikir kau ini sebenarnya bisu,” kata bibirku. Spekulasi itu sama sekali tidak kulontarkan secara terencana. Aku perlu menekan bibir bawahku agar tidak mengatakan lebih dari ini, tetapi bibirku masih tetap saja meneruskan kalimat tololnya. “Atau kau ini adalah sebuah robot yang hanya diciptakan dengan mengenal beberapa kata saja?”
Pemuda itu masih tidak merespons. Ketika aku akan bersuara lagi, ada sedikit guncangan dan membuatku merunduk kembali, hampir menyemburkan pekikan lagi—yang langsung kutahan secara mati-matian di ujung lidah. Dan aku menjengit tatkala melihat pepohonan yang berimpitan tanpa membiarkan cahaya merangsek ke balik dedaunan. Lalu, ada sebuah wilayah raksasa dengan bangunan serupa kastel putih gading—berjarak sekiranya dua kilometer dari tempat kami berada saat ini.
“Asrama Nightfall?” terkaku.
Lagi-lagi, aku mencondongkan tubuhku mendekati pemuda itu—kali ini kuberanikan diri untuk menjadikan sisi kanan dan sisi kiri pundaknya sebagai tumpuan telapak tanganku. Aku baru saja menciptakan doktrin baru; tidak apa berlaku seenaknya selama korban-mu sangat apatis dengan lingkungan sekitarnya. Tristan tidak akan mengeluh ataupun marah, sebab pemuda itu tidak jago ekspresif.
Seperti yang telah kuasumsikan, pemuda itu sama sekali tidak ada niat untuk menepis tanganku darinya. Ia masih saja fokus dengan pandangan di depan, seakan-akan sedikit saja Tristan melihat ke titik lain kecuali depan sana, kami akan terjatuh saat itu juga. Begitu kucondongkan kepalaku untuk melihat arah tatapan pemuda itu, indra pendengarku menangkap Tristan tengah menatap Asrama Nightfall dari balik kepala kelelawar yang ukurannya lebih besar dari tubuh pemuda itu sendiri.
Kelelawar terbang semakin rendah. Tristan menepuk lehernya cukup keras—kedengarannya begitu—dan beberapa detik setelahnya, kami mendarat tepat di depan sebuah gerbang bersadur obsidian yang menjulang lima belas meter. Seperti sadurannya, hitam elegan merupakan warna dari gerbang tersebut—sangat kontras dengan bangunan serupa kastel putih gading yang menjulang jauh lebih tinggi dari si gerbang. Ada dua buah patung kakek kembar di kedua sisi gerbang obsidian.
Satu dengan sebuah topi, melambangkan seorang penyihir, sementara satunya memiliki dua buah taring di mulut—melambangkan seorang vampir.
Tristan dan aku segera turun dari si kelelawar yang telah menjadi tunggangan kami, kemudian sayap raksasanya kembali berkepak-kepak. Selanjutnya, ia bersatu dengan langit lagi, meninggalkan kami hanya berdua—atau tidak—sebab seseorang baru saja melangkahkan kakinya untuk menghampiri kami dari balik gerbang obsidian yang masih dalam keadaan terkunci. Seorang pemuda bersurai hijau neon dengan kedua mata berwarna hijau kebiruan—memiliki lesung pipit saat ia tersenyum manis.
Pemuda tercantik yang pernah kulihat.
“Selamat datang di Asrama Nightfall.” Hanya dengan satu sentuhan, gerbang obsidian itu terbuka secara perlahan ke sisi yang berlawanan. Pemuda cantik itu berjalan mendekati aku dan Tristan ketika kedua sisi gerbang itu sudah memiliki jarak. “Kau pasti Candice Emrys,” katanya.
“Benar.”
“Sebelumnya, namaku Benjamin Ryker. Kau bisa memanggilku Ben atau terserah—sesukamu saja.” Ironisnya, nama si pemuda cantik terdengar begitu jantan di indra pendengarku. Ben merentangkan tangan kanannya menghadap sisi kiri gerbang dan sebuah benda yang tergantung di sana segera melayang—jatuh tepat di telapak tangan pemuda cantik itu. “Kemarikan tanganmu.”
“Benda apa itu?” aku bertanya, tetapi masih tetap mengulurkan tangan kananku di hadapan Ben.
“Sebagai pemberitahuan setiap murid pendatang yang telah hadir.” Benda pipih itu serupa dengan ponsel, hanya saja memiliki ukuran lebih kecil—alat pendeteksi sidik jari. Pemuda cantik itu mengambil satu per satu jemari tangan kananku untuk menekan si alat pendeteksi sidik jari secara bergantian. “Nah, selesai.” Ia menyudahi kegiatannya dan kembali berdiri tegak, memandangiku dengan netra indahnya, “Mari kuantarkan kau mengitari Asrama Nightfall.”
“Kau baik sekali,” tuturku. Ekor mataku diam-diam melirik Tristan, berharap pemuda itu akan merasa tersinggung usai aku melanjutkan dengan nada sarkasme, “Sepanjang perjalanan, yang kulakukan hanya berbicara dengan dinding. Akhirnya aku bertemu dengan makhluk sungguhan di sini.”
Pemuda cantik itu lagi-lagi tersenyum, membuat lesung pipitnya semakin dalam. “Tristan memang selalu seperti itu dengan orang baru. Pertama kali aku mengenalnya pun, nasib kita nyaris serupa—bahkan aku hampir berharap untuk meminta kawan sekamar yang lebih seru,” akunya. Ben tidak benar-benar serius dengan pengakuannya, sebab ada sarat jenaka yang tebersit pada kedua matanya saat kepalanya menoleh ke arah Tristan.
“Itu namanya sial.” Aku lekas menambahkan ketika kurasakan punggungku agak dingin—si pemuda objek candaan kami pasti sedang menatapku tajam, “Sekamar dengan dinding, maksudku.”
“Ironisnya, aku benar-benar beruntung ketika Asrama Nightfall kami diserang oleh beberapa oknum.” Ben memberikan isyarat untuk mendekatkan telingaku dengan bibirnya. “Karena sihir spesial keberuntungan Tristan, kamar kami merupakan satu-satunya kamar yang berhasil bertahan—di saat kamar murid lain telah berakhir menjadi puing-puing.”
Tristan masih berjalan di belakang kami ketika aku meliriknya. Ia tampak bosan—alih-alih jengkel—karena kami tengah membicarakan pemuda itu secara terang-terangan. Kuharap ia tidak tinggi hati dengan bisikan Ben tadi kalau-kalau ia mendengarnya. Jujur, aku masih heran dengan sihir spesial pemuda itu. Kata Ben, ia memiliki sihir spesial keberuntungan—dan aku sama sekali tidak merasa beruntung berada di dekatnya.
Intuisiku mengatakan; beberapa sihir spesial hanya mampu bekerja di satu sisi saja—dan keberuntungan Tristan mungkin termasuk salah satunya.[]