CANDICE EMRYS
SEMILIR angin menghunjamku bertepatan saat jemariku menekan sebuah tombol persegi panjang kecil di sisi kiri pintu jok belakang kendaraan Paman Miles. Lidahku kontan melontarkan erangan dan mataku setengah terpejam untuk menghalau surai cokelatku memukul kembali wajahku. Laju kendaraan paman memang tidak terlalu cepat, tetapi mampu membuat rambutku tersibak—meski tidak terlalu sakit dan hanya menjengkelkan sedikit.
Kecuali itu, aku masih bisa menikmati perjalanan dengan mengamati keindahan alun-alun Kota London karenanya.
Awan putih yang bergumpal-gumpal merias langit biru yang cerah, persis seperti kapas bersih yang menggantung di cakrawala—terus bergerak mengikuti arus angin dan seakan-akan tidak mengenal gravitasi. Melihat awan bukanlah sesuatu yang baru untukku. Aku kerap melihatnya setiap kali menelusuri luar rumah satu petakku untuk menuju perpustakaan mini. Tetapi, kondisi pemandangan awan di sini berbeda dengan yang di sana.
Barangkali karena penambahan riasan seperti pencakar langit—tidak kosong melompong seperti di rumah sepetakku.
“Ia benar-benar hiperaktif, ya?”
Suara merdu Bibi Harlow memecah lamunanku akan keindahan kota kelahiranku. Dari jok depan, kepala cantiknya menoleh ke arah Glacies yang tidak pernah absen terbang semenjak mesin kendaraan beroda empat Paman Miles dijalankan. Makhluk bertanduk, bersayap, dan bersurai biru halus itu tampak sama antusiasnya sepertiku. Setiap detik, kepak sayapnya jatuh sebanyak lebih kurang dua kali—hampir tidak terhitung seperti bagaimana aku pernah mengobservasi seekor lalat mengepakkan sayapnya dulu.
Kuraih pegasus versi mini tersebut bertepatan saat tubuh mungilnya melintasi pelipisku, setengah terkejut kalau-kalau ia akan terbang ke luar kaca mobil yang membuka separuh. Saat tubuhnya sudah berada di dalam dekapan, aku serta-merta menempatkannya di atas pangkuan sembari melemparkan Glacies sebuah tatapan peringatan untuk berhati-hati dan tidak banyak tingkah.
“Apa Glacies selalu seperti ini ketika bersama Mom?”
“Tidak. Ia jauh lebih pendiam saat itu.” Entah mengapa, indra pendengar dan intuisiku mendeteksi adanya sesuatu yang menyebalkan terselip di antara deretan gigi putih Paman Miles—aku bisa melihatnya dari kaca depan yang tergantung di atas dasbor. “Kupikir ia seperti ini karena ikatan yang terjalin di antara kau dengan separuh jiwa Sapphire Galaxy itu.”
Bibirku mengulum horizontal. Setengah mencebik, aku berkata, “Secara tak langsung, kau berkata kalau aku tidak bisa diam.”
Siulan tak bersalah terlontar dari bibir Paman Miles. Sepasang mata pria itu bahkan tidak repot-repot melihat ke arahku—masih fokus dengan jalur cukup ramai di depan sana—ketika ia berkata, “Ups, tidak pernah bermaksud seperti itu.”
Dari balik jok di depanku, kepala Bibi Harlow bergerak ke arah kanan dan kiri beberapa kali. “Miles, berhenti menggoda keponakanmu,” tegurnya.
“Aku tidak sedang menggodanya, sayang.”
Kudesak sepasang mataku untuk tidak berotasi—hanya saja berakhir gagal. Jadi, hati kecilku hanya bisa berharap tidak akan ada roman picisan yang menyertai perjalanan kami di dalam kendaraan ini. Atau aku akan memuntahkan seluruh asupan pagiku—bukan karena mabuk darat melainkan kisah dramatis antara sepasang suami dan istri yang—mungkin akan—bergengsi jika mereka berniat untuk mengumbar kemesraan di depan publik.
“Omong-omong, di mana kedua pemuda itu?”
Untuk mengatasi adegan roman picisan, aku terpaksa menanyakan keberadaan dua pemuda dengan sifat bertolak belakang. Semenjak Paman Miles dan Bibi Harlow memintaku untuk lekas membenahi perlengkapan bawaan pribadiku, keberadaan mereka seakan-akan sirna. Bukan karena aku acuh dengan mereka, tetapi ingatlah bahwa pertanyaan ini kulontarkan sebagai pengalihan—dan sedikit penasaran.
“Mereka sudah berada di kawasan hutan lebih dahulu untuk memastikan semua baik-baik saja,” Bibi Harlow melirikku melalui ekor matanya, “kau tidak terkejut soal Rhett yang merupakan kakakmu?”
“Tidak sama sekali.” Jawabanku terdengar sangat mantap. “Aku hanya tidak terima. Bagaimana bisa pemuda arogan itu mengalirkan satu darah denganku? Bahkan sifat kami sangat bertolak belakang—animo sarkasmenya juga sangat bodoh dan tidak sepertiku. Amit-amit!”
Wanita itu menyelipkan teguran di dalam desisnya ketika aku mengetuk kaca di sampingku sebanyak tiga kali. “Jangan bicara seperti itu, Candice. Cepat atau lambat, kau pasti bisa menerima kehadirannya. Rhett akan terus berada di sisimu selama kau menjalankan pendidikan di Asrama Nightfall—dan kuharap kalian berdua tidak terus-terusan bergelut,” tuturnya.
“Bagaimana caranya jika ia terus bertindak angkuh dan menjengkelkan seperti itu di depan mataku?”
“Kau adalah pusaka yang sangat berharga untuknya. Nanti, kau akan tahu bagaimana ia bersusah payah membimbing dirinya sendiri demi melindungimu sebagai pusaka terakhirnya. Ingat ini baik-baik, Candice.” Kudengar helaan napas kewalahan Bibi Harlow. Ia membuka mulutnya sebentar, lalu mengatupnya kembali seperti ada kata-kata yang tertahan di ujung lidahnya. “Tidak akan ada seorang kakak yang enggan melindungi adiknya.”
Aku mengangguk samar. Guncangan terputus-putus yang tiba-tiba membuat kepalaku terantuk kaca mobil—cukup keras sampai-sampai bibirku mengaduh secara spontan. Kedua tanganku semakin erat dalam mendekap tubuh mungil Glacies seiring melajunya kendaraan Paman Miles menuju pedalaman hutan—dengan jalur berupa tanah basah yang menjadi faktor utama penyebab guncangan terputus-putus dalam mobil, namun makhluk bertanduk itu tidak sekali pun memberontak.
Sedikit kebingungan, aku mencondongkan kepalaku dan menemukan makhluk itu sudah terlelap dengan damai—bersandar di dadaku dan menjadikannya sebagai bantal. Glacies terlihat sangat naif saat ia seperti ini, tetapi dari balik kepolosan raganya, tersimpan sesuatu yang membahayakan. Rasa iba tentu ada—makhluk yang diciptakan dalam bentuk tanpa noda ini ternyata adalah separuh jiwa dari intensitas ketajaman Sapphire Galaxy.
Perubahan panorama dari pencakar langit menjadi pepohonan berkabut membuat atensiku kontan teralih. Tidak ada sinar mentari yang merangsek melalui celah daun pada pepohonan—yang seharusnya menciptakan kegelapan pekat alih-alih terlihat terang. Keningku mengernyit, tetapi tidak berlangsung lama sebab aku teringat kembali tentang paparan Paman Miles tempo lalu—di mana beliau mengatakan kaum Nightfall lebih eksper di tengah kegelapan.
Kendaraan Paman Miles kian melaju menembus gumpalan kabut-kabut yang menyertai perjalanan kami—berikut dengan musik klasik yang mengalun bosan di sekitar mobil kami. Bibi Harlow tidak ikut bernyanyi seperti Paman Miles, padahal aku berani bersumpah suara wanita itu jauh lebih baik dari suaminya. Di saat Paman Miles memiliki suara tenornya yang terlampau nyaring, Bibi Harlow memiliki suara alto yang begitu menghanyutkan—tidak heran karena Candice kecil acap kali tertidur setelah kemerduan suara wanita itu bermuara di telinganya yang mungil.
Dan ternyata, sihir spesial Bibi Harlow adalah sihir melodi—sebuah sihir yang akan membuatmu terlelap usai mendengarnya.
Kendaraan beroda empat milik Paman Miles akhirnya menghentikan laju setelah belasan menit membelah jalur pepohonan. Bertepatan dengan itu, Glacies terbangun dan akan kembali terbang jika aku tidak lagi mendekapnya. Setengah mendengus, aku mulai memperhatikan sepasang suami dan istri di jok depan mulai keluar dan terlihat sedang berbicara dengan seseorang. Tanpa perlu memicingkan mata sedikit pun—sebab indra penglihatku benar-benar hebat—aku tahu itu adalah Tristan.
Di saat aku membuka pintu, kubiarkan Glacies memelesat terbang ke luar. Ia terlampau hiperaktif, bertolak belakang denganku yang pasif. Toh, selama makhluk bertanduk itu terbang tak terlalu jauh dan masih berada di bawah pengawasan kami, pasti tidak akan menjadi masalah besar untukku maupun Paman Miles dan Bibi Harlow. Tristan sendiri bukan tipe pemuda yang akan peduli tentang ini—jika kutelusuri sikap apatisnya lebih dalam lagi.
Tangan kananku menarik koper—sesekali mengumpat kasar karena permukaan tanahnya begitu menyusahkan. Begitu tiba di samping sepasang suami dan istri tersebut, ekor mataku diam-diam menerawang ke seputar hutan. Tidak menemukan keberadaan Rhett kecuali Tristan seorang. Entah aku perlu merasa beruntung karena tidak perlu melihat wajah arogan Rhett—yang dapat membuat darahku naik—atau merasa sial karena Tristan terlalu diam bak manekin berjalan—yang dapat membuatku seperti mati kutu.
“Untuk menghemat waktu, sebaiknya kau dan Tristan lebih dahulu masuk ke dalam portal.” Suara Paman Miles membuatku tersadar.
Sepasang mataku kontan menatap Tristan dan membuat tatapan kami berdua saling jatuh pada satu sama lain. “Di mana pemuda arogan itu?” Kalimat pertanyaan terkutuk itu membuatku hampir mengumpat kasar. Pasalnya, aku tidak ingin kalimat itu malah terdengar cemas di indra pendengar mereka.
“Ada sedikit retakan pada portal lain,” jawab Bibi Harlow. “Rhett sedang mereparasinya.”
“Oh, pemuda arogan itu pasti sibuk sekali.”
Sepasang mata Bibi Harlow yang hangat menatapku dengan peringatan. “Berhenti memanggil kakakmu arogan, sayang.”
Bibirku langsung membela diri dengan berkata, “Aku tidak akan seperti itu kalau ia tidak memulainya dengan berlaku sok keren dan pintar.”
“Sudah, sudah.” Jika pada biasanya wanita itu yang akan melerai, kali ini sang suami menengahi percakapan kami. “Portalnya telah selesai kubuat dan tidak akan berlangsung lama. Jadi, Candice dan Tristan, kalian bisa masuk sekarang.”
Ketika kepalaku menoleh untuk menatap Paman Miles, dapat kulihat sebuah pendaran dari lingkaran sihir pada permukaan tanah—terdiri atas warna putih, biru, dan ungu metalik. Pendaran itu menjulang sampai menembus pepohonan di atas yang melindungi kami dari terangnya cakrawala. Sekilas, ia tampak sama seperti aurora—yang menjadi pembeda adalah pendaran ini tidak meluas dan hanya terdapat di satu titik saja.
Napasku tersekat karena keelokan pendaran tersebut—sampai-sampai aku tidak sadar ketika Glacies duduk tepat di puncak kepalaku—terkesiap dengan sihir spesial Paman Miles. Katanya, beliau memiliki sihir mantra dan mampu menciptakan portal menuju EveFalls Sky. Terlalu ganjil, unik, dan langka—bukan sesuatu yang bisa dimiliki oleh penyihir lain.
Tepukan ringan di pundakku membuat lamunanku berhenti sampai di sana. Begitu aku berbalik, lengan ramping Bibi Harlow tahu-tahu saja telah mendekapku—dan aku masih terlalu terkejut untuk membalas dekapan wanita itu. Tidak sampai lima detik, ia menarik tubuhnya dan menangkup kedua pipiku. Dapat kulihat sepasang mata Bibi Harlow yang terlihat berkaca-kaca, kali ini membuatku tidak tahan untuk tidak mendekapnya.
“Bi, ingatkan aku untuk tetap mengabarimu.”
“Pasti, sayang.”
“Apa kau tidak akan ikut bersamaku?”
Wanita itu menggeleng lesu, “Tidak, sayang. Aku tidak bisa ikut. Berjanji denganku, buat aku bangga dengan sihirmu.”
Kami kembali merengkuh tubuh satu sama lain, mengabaikan Paman Miles yang memandangi kami seakan-akan tidak akan pernah lagi bertemu. Ketika aku menarik diri dan tersenyum lebar ke arah Paman Miles, pria itu juga mendekapku walau tidak terlalu lama. Kepalaku berpaling ke arah Tristan—tidak untuk mendekapnya dan bila itu terjadi, maka akan langsung kuucapkan amit-amit. Ia telah berdiri di dekat portal, masih dengan raut datar dan apatisnya.
Langkahku agak lamban saat menghampiri pemuda bermata tajam itu, sebab gesekan antara koper dengan permukaan tanah tidak sinkron. “Ayo,” kataku.
Tristan berbalik untuk menghadap portal berupa pendaran itu, barang sedikit pun tidak berniat menolongku untuk menarik peti kecil beroda ini. Namun, ketika aku telah berada di dekat pemuda itu, tangan kukuhnya menarik telapak tanganku—tidak terlalu erat dan bahkan tergolong lembut—dan menjejakkan sedikit kehangatan di sana. Milikku tampak berhasil menyesuaikan diri dengan sempurna di dalam telapak tangan miliknya.
Pemuda itu menatapku sejenak, menarikku masuk ke portal—hingga kala itu juga dunia terasa berputar-putar dalam sensasi yang sama sekali tidak wajar.[]