CANDICE EMRYS
SESUNGGUHNYA, aku bukan seorang pendukung fanatik dan penganut paham realis. Sudah tertanam doktrin di dalam otakku bahwa manusia harus melihat kehidupan dari segala aspek dan tidak hanya melihat dari satu sisi saja. Jadi, aku bisa memercayai adanya kehidupan lain selain Bumi. Selain itu, aku juga memercayai kehadiran makhluk lain selain manusia dan hewan di dunia yang berbeda.
Namun, aku tidak pernah bisa memercayai perihal satu ini—salah satu makhluk lain itu adalah diriku sendiri, si gadis naif yang bahkan tidak mengenal betul dunia asalnya. Sungguh ironis.
“Peradaban EveFalls Sky tidak akan bisa dijangkau oleh manusia tanpa kekuatan apa pun—manusia biasa.” Paman Miles mulai memaparkan kebenaran tentang jati diri kami yang selama ini beliau sembunyikan dariku, “Berbeda dengan mereka, kita—para makhluk supernatural—dapat menjangkau alam itu hanya dengan sebaris mantra pembuka portal.”
Bibi Harlow mengambil alih penjelasan suaminya. Wanita itu tersenyum kecut seperti sedang menyimpan dilema. Kata Bibi Harlow, EveFalls Sky terbagi menjadi dua wilayah, di mana keduanya dibatasi oleh sebuah hutan dengan area mencapai ribuan hektare. Katanya, tidak akan ada yang bisa melintasi hutan tersebut sampai ke negeri seberang dengan hanya bermodalkan sepasang kaki.
Masing-masing dari kedua wilayah itu terdiri atas makhluk pagi dan makhluk malam. Pegasus, harpies, griffin, chimaera, dan sejumlah makhluk mitologis—kebanyakan makhluk-makhluk yang dapat bertransformasi menjadi hewan—masuk ke dalam kategori makhluk pagi. Sebaliknya, kategori makhluk malam kebanyakan memiliki wujud manusia sepenuhnya—meliputi penyihir, vampir, peri, nymph, dan sejumlah makhluk malam lainnya.
Sesuai dengan pembagian para penduduk, kedua wilayah di dalam EveFalls Sky tersebut terkenal dengan nama Dayfall Land dan Nightfall Land.
“Yang akan menjadi pembeda di antara kaum Dayfall dan Nightfall adalah cara kerja indranya.” Paman Miles kembali menerangkan dengan air muka serius, “Secara keseluruhan, indra kaum Nightfall dapat berfungsi dengan baik di tengah kegelapan, tetapi keadaan ini berlaku sebaliknya dengan kaum Dayfall. Mereka lebih eksper di tengah pencahayaan.”
Rahangku terus bersiap ingin jatuh pasca kedua orang dewasa itu menceritakan sebuah realitas di luar akal sehat manusia. Mereka tidak lebih sedang memaparkan suatu kisah omong kosong—seandainya bukan mereka yang menceritakan ini. Paman Miles dan Bibi Harlow memang sangat berpegang teguh dengan prinsip kejujuran. Mereka sangat menentang berat kebohongan—itulah yang aku tahu selama tinggal bersama mereka.
“Apabila kita benar-benar adalah penyihir, lantas mengapa kita berada di dunia ini?” tanyaku, menyuarakan segenap keheranan yang sedari tadi tertahan di penghujung lidah. “Setahuku—meski aku tidak benar-benar tahu, hampir seluruh manusia di Bumi beranggapan kita hanya hadir dalam sebatas dongeng saja.”
Kulihat tubuh Bibi Harlow sedikit menegang. Kilat sedih kembali terpancar di sepasang mata wanita bertubuh ramping itu, lalu menunduk untuk memandang risau kedua tangannya yang bergerak di atas pangkuan. “Finegan dan Felicite—ayah dan ibumu—menitipkan kau kepada kami saat mereka melaksanakan sebuah misi demi keseimbangan seluruh alam,” jawabnya.
“Pengorbanan.” Lidahku terasa kram begitu menyebutkan satu kata itu, “Kalian sempat mengatakan sesuatu tentang pengorbanan terakhir. Apakah peran mereka begitu penting, sampai-sampai keseimbangan alam berada di tangan mereka?”
“Sangat penting.” Kali ini, Rhett bersuara. “Mungkin kau sudah pernah mendengar istilah Sang Terpilih—dan sebutan itu mengacu kepada Mom dan rekannya, Dad.”
Aku tahu tidak ada waktu untuk merasa janggal begitu mendengar pemuda iblis itu menyebut kedua orangtuaku dengan sebutan Mom dan Dad, tetapi aku tidak bisa tidak bertanya kepadanya, “Dan kau benar-benar kakakku?”
“Kau terlalu banyak tanya.” Salah satu sudut bibir Rhett terangkat ke atas, membentuk senyum kambingnya. “Tetapi, aku akan tetap menjawab pertanyaanmu. Benar, aku adalah kakakmu. Apakah keempat kata itu sudah cukup jelas?”
Tidak tahan dengan pertanyaan Rhett yang mampu menyulut emosiku, aku segera mendengus sekali. Kemudian, kulirik Tristan yang masih bergeming tanpa mengeluarkan suara apa pun. Jika ia tidak sesekali bergerak di tempat, mungkin aku akan mengira pemuda itu adalah sebuah manekin hidup yang disusun sedemikian rupa seperti manusia pada umumnya.
Lalu, aku teringat sesuatu. “Di mana makhluk itu?”
“Makhluk itu?” Paman Miles dan Bibi Harlow saling berpandangan, “Glacies, maksudmu?”
Oh, jadi namanya Glacies.
“Jika yang kaumaksud adalah dia, Glacies sedang tertidur di kamarmu.” Bibi Harlow tersenyum sebentar, “Kurasa kau perlu membenahi barang-barangmu sekalian. Besok, kau akan menuju Nightfall Land dan berpendidikan di Asrama Nightfall untuk mematangkan sihir spesialmu.”
“Sihir spesialku adalah sihir pelenyap. Benar, tidak?” tanyaku, memastikan indra pendengarku tidak salah mendengar saat p*********n para berjubah hitam tempo lalu.
Paman Miles tampak terkejut. “Bagaimana kau bisa tahu?”
“Para berjubah hitam itu sempat mengatakannya.”
“Sial. Mereka satu langkah lebih depan dari kita,” umpat pria itu. “Organisasi Harapan.” Paman Miles memandangiku lamat-lamat, penuh keseriusan. “Dengar, Candice. Jika sewaktu-waktu kau bertemu dengan mereka lagi, kau harus membawa kakakmu atau Tristan di sisimu. Mereka akan menjagamu dari Organisasi Harapan.”
“Organisasi Harapan? Mamalia macam apa lagi itu?”
Indra pendengarku menangkap tawa sembur tertahan dari arah Rhett. Mau tidak mau, sepasang mataku mendelik kepadanya, namun mulutku tidak mengatakan apa pun. Aku sudah lelah menghadapi sekumpulan fakta pada hari ini dan aku tidak ingin repot-repot menghadapi makhluk menyebalkan itu—setidaknya untuk sekarang.
“Intinya, kau harus berhati-hati.” Bibi Harlow memperingatkan, “Kau bukan seorang penyihir biasa, Candice. Kau berbeda dan keseimbangan seluruh alam kini berada di tanganmu.”
*
Setelah melewati percakapan cukup panjang tersebut, akhirnya aku mulai berkemas sebagai persiapan menuju Asrama Nightfall untuk keesokan hari. Tidak terlalu banyak juga yang kubawa—hanya berupa barang-barang penting saja yang bersifat privasi. Selebihnya, kata paman dan bibi—sudah tersedia dengan lengkap di asrama. Jadi, aku tidak perlu repot-repot untuk membawa koper super besar untuk keperluan ini.
Glacies masih tertidur ketika aku tiba di kamar dan mulai membenahi satu per satu barang yang akan kubawa. Deru napas makhluk itu terdengar sangat beraturan ketika aku mencuri pandang beberapa kali untuk memandanginya. Glacies adalah versi mini dari pegasus—oleh sebab itu, kemurniannya sangat terpancar jelas di sekujur tubuh mungilnya.
“Dulu, makhluk ini selalu menemani Felicite.” Bibi Harlow beringsut masuk ke dalam kamarku tanpa mengetuk pintu—sebab aku memang sengaja tidak menutup pintu agar suaranya tidak membangunkan Glacies. “Ia merupakan separuh jiwa dari benda ini.”
Wanita itu mengulurkan tangan kanannya di depanku. Ia segera membuka kepalan tangannya, kemudian visualku menangkap pendaran cahaya dari arah benda di dalam sana. “Sapphire Galaxy,” kata Bibi Harlow. “Benda ini selalu diincar oleh siapa pun di EveFalls Sky, maka kau harus berhati-hati. Bukan hanya Organisasi Harapan yang akan menjadi ancaman terbesarmu, bahkan semua makhluk di sana.”
“Ini hanya kalung?”
“Tidak.” Seulas senyum terukir di bibir Bibi Harlow. “Sapphire Galaxy adalah sebuah dan satu-satunya pedang yang bisa meretakkan Sagal Sphere—bola kristal penjaga keseimbangan alam. Namun, ia juga bisa menciptakan malapetaka bagi siapa pun yang menyalahgunakan benda ini.”
Aku mengamati kalung itu cukup lama, menerka dari mana benda ini dapat dikatakan pedang. Memang, sih, bandul dari kalung ini berbentuk pedang berlapis biru. Tidak terlihat begitu istimewa dan menarik sampai-sampai banyak sekali yang mengincarnya, namun kilatan tajam pada lapisan biru itu cukup kontras dan tak sebanding dengan ukuran kecilnya.
“Namun, ini hanya kalung. Tidak ada yang berubah,” ucapku, masih heran dengan jawaban Bibi Harlow.
“Sudah kubilang, sayang. Glacies adalah separuh jiwa dari Sapphire Galaxy. Cara kerja Sapphire Galaxy untuk berubah wujud adalah dengan masuknya separuh jiwa lain ke dalam kalung ini. Dalam arti lain, Glacies perlu menggabungkan diri untuk mengubah wujud Sapphire Galaxy dari kalung menjadi pedang.”
Sedikit mengerti, aku mulai manggut-manggut. “Jadi, mulai detik ini, Glacies akan terus bersamaku?”
“Benar.” Jemari lentik Bibi Harlow menyelusur setiap helaian surai cokelatku. “Kehidupanmu akan berubah seratus delapan puluh derajat. Apa kau akan siap sebagai penerus Sang Terpilih, Candice?”
Lidahku segera membasahi bibir bawahku. Sedikit lama aku berpikir dan pada akhirnya mengangguk kecil. “Aku harus siap.” Aku menggeleng beberapa kali—kemudian memandangi Bibi Harlow dengan kilatan penuh kemantapan, “Tidak. Aku sudah siap!”
Kutemukan kembali sebuah asa yang sempat meluntur dari pancaran mata wanita itu. Bibi Harlow mendekapku cukup lama dan erat—sampai-sampai kurasakan tubuh rampingnya sedikit bergetar. “Jagalah keseimbangan seluruh alam. Jangan biarkan keegoisan dan haus akan kekuasaan lebih unggul dari kesejatian,” katanya.
Ada jeda sejenak, sebelum Bibi Harlow kembali berbisik, “Kami menaruh banyak sekali tumpuan kepadamu, Candice.”[]