CANDICE EMRYS
AKAN jauh lebih baik apabila pemuda itu tidak membeberkan apa pun tentang serangkaian peristiwa ganjil ini kepada paman dan bibi, juga tetap membungkam mulutnya ketika ia membawaku kembali ke rumah sepetak kami. Namun, pasca siuman dari ketidaksadaranku, yang kudapatkan bukan mimik cemas atau apa pun yang mampu membuatku menghela napas lega, sebab semua itu berkebalikan dari apa yang kuterka sebelumnya.
Paman Miles dan istrinya seperti ingin mencabik segenap isi organ tubuhku habis-habisan. Air mukanya agak marah, tetapi mereka samarkan dengan kernyitan dalam dan sepasang alis yang bertautan. Aku berspekulasi reaksi keduanya seperti ini dikarenakan mereka berpikir aku melarikan diri, sementara kenyataannya tidak sama sekali. Makhluk aneh itu yang menuntunku—namun kehadirannya masih belum kutemukan keberadaannya sampai detik ini.
Jadi, kedengarannya akan sangat aneh dan tidak masuk akal apabila menunjuknya sebagai dalang atas seluruh kejadian ini—meski faktanya memang terjadi demikian.
“Apa kau telah menyadari kesalahan terbesarmu, Candice?” tanya Paman Miles. Suaranya berat dan terkesan mengintimidasi, sehingga membuatku tak sanggup untuk tidak melontarkan ringisan.
“Bukan aku, paman.” Aku memberanikan diri untuk membela diri sendiri, sekaligus menahan cibiran kesal, “Sesosok makhluk bertanduk dan bersayap biru aneh itu yang melakukannya. Coba kaubayangkan saja, mengapa aku bisa keluar dari rumah seorang diri sementara perpustakaan mini tidak membantu sama sekali? Kau bisa memastikan kebenaran jawabanku kepada Rhett. Ia melihatku benar-benar pergi ke dalam sana dan aku tidak pernah kembali saat itu.”
“Gadis itu sedang berdalih, paman.” Lagak Rhett sama persis seperti kali terakhir kulihat saat ia menangkap basahku hendak melarikan diri. Pemuda arogan itu mengulaskan senyum kemenangan di bibirnya ketika kulemparkan pelototan maut kepada Rhett. “Ia sempat mengusirku saat aku ingin mengikutinya. Yah, sebenarnya memang salahku juga karena mengindahkan keinginannya. Jadi, ketika aku pergi dari sana, Candice mengambil kesempatan untuk melarikan diri.”
“Enak saja!” hardikku. Baiklah, ternyata ia sedang bermain sebagai korban. Jika aku memiliki tendangan super, sudah pasti aku akan menendangnya sampai ke penghujung dunia—melebihi terjangan si gadis bersuara cengking tadi. “Tidak, paman. Jangan dengarkan pemuda narsistik ini! Ia baru saja melebih-lebihkan fakta. Aku adalah keponakanmu, bukan? Tidak mungkin seorang keponakan bisa mengutarakan dusta-dusta tak berarti kepada paman dan bibi setampan dan secantik kalian.”
“Gagasan itu secara tidak langsung mengundang kecurigaan, Candice.”
Aku meremas kedua telapak tanganku guna mencegah dorongan untuk melayangkan bogem mentah di wajah Rhett yang teramat menjengkelkan. Kurasa, bertemu dan melihatnya kini adalah daftar terakhir yang paling tidak kuinginkan. Bahkan, ia tidak lagi terlihat tampan di mataku—alih-alih kedua netraku memvisualkan sesosok iblis yang tengah menjelma sebagai seorang pemuda dengan sangat sempurna.
Setengah mendengus, sepasang mataku memandangi Paman Miles dan Bibi Harlow secara bergantian. Air muka mereka tidak jauh beda dari kali terakhir kulihat, namun kali ini jauh lebih tenang. Aku berdiam cukup lama tanpa membuka suara, membiarkan keheningan merangkak di sekitar. Sekarang, aku hanya berharap keduanya percaya dengan seluruh perkataanku—alih-alih Rhett maupun Tristan yang sedari tadi bergeming di tempatnya.
Tristan masih lebih baik jika kubandingkan dirinya dengan Rhett. Ia lebih tidak banyak bicara—kalaupun ia bicara pastinya tidak akan sebanyak dan sesinting pemuda bersurai cokelat tersebut. Setidaknya, itu sudah menjadi nilai plus untuk Tristan dan nilai minus untuk Rhett. Sifat keduanya saling bertolak belakang, sampai-sampai aku dibuat kelimpungan dan otakku memaksa untuk membayangkan percakapan di antara keduanya.
Pasti akan kedengaran sangat canggung.
“Jadi, kami akan menghukum kau.”
Rahangku terasa ingin jatuh seiring dengan mulutku yang mulai terbuka besar. “T-tetapi, aku keponakanmu dan seharusnya kau lebih memercayai keponakanmu sendiri ketimbang pemuda asing seperti dia!”
“Kau memang keponakanku, tetapi itu tidak bisa dijadikan sebagai alasan, Candice.”
Sepasang mataku mengerjap sesaat. Tidak, aku bukan semacam gadis yang akan menangis hanya karena perkara remeh semacam ini. Kerjapan mataku lebih ke arah kebingungan dan heran. Kepercayaan mereka terhadapku sirna begitu saja karena kehadiran Rhett yang sejak awal memang sangat menyebalkan. Namun, tidak ada satu pun kata yang terlontar dari bibirku—kalimat yang hendak kulontarkan tertahan di penghujung lidah.
Seperti seekor ikan, mulutku mengap-mengap tak karuan.
Di samping Paman Miles, kulihat Bibi Harlow menghela napasnya dengan malas. “Sudah, sudah.” Ia melerai seraya terkekeh sebentar, “Berhenti menggoda keponakanmu, Miles—kau juga, Rhett. Kasihan adikmu.”
“Aku tidak pernah memiliki seorang adik bermulut besar, Bibi Harlow.” Sepasang mata pemuda itu bertumbukan dengan milikku saat aku menoleh dengan pelototan yang lebih besar dari sebelumnya. Bukan karena ucapannya yang seakan-akan menyinggung perasaanku, melainkan karena sebuah kata yang sempat disebutkan oleh Bibi Harlow tadi.
Kulontarkan suaraku dengan sekeras mungkin, “Adik?!”
Rhett tersenyum miring, kemungkinan besar karena suaraku sangat menyerupai seekor katak terjepit—atau senyum miringnya memang telah menjadi ciri khas pemuda arogan itu. “Apalagi fungsi otaknya begitu lamban,” jari telunjuknya mengarah sejajar di hidungku dari jarak yang agak jauh, “amit-amit.”
“Rhett.” Bibi Harlow melemparkan nada peringatan di dalam tegurannya, “Perhatikan ucapanmu, sayang.”
Lidahku kontan terjulur, tidak peduli betapa buruk rupa wajahku saat melakukan ini. Seluruh rasa jengkel yang sudah kusimpan setengah mati sejak tadi, seketika menguap begitu saja tanpa menjejakkan bekas apa pun—tergantikan oleh jutaan percikan kemenangan yang tak bisa kujabarkan satu per satu. Namun, percikan kemenangan itu berlangsung lebih singkat dari apa yang telah kuspekulasikan, sebab Rhett tidak terlihat malu sama sekali.
“Maaf,” tuturnya. Tetapi, tidak terdengar sedikit pun rasa bersalah di telingaku. Rhett terkekeh setelah mengutarakan permintaan maaf, kemudian melirik Tristan yang tengah berdiri di sampingnya dengan mimik bosan. Ia menambahkan, “Sebaiknya kita segera mengakhiri pembicaraan tak berarti ini atau Baxter akan mengamuk.”
Mendengar namanya terlibat di sana, Tristan tampak tidak keberatan—terbukti dari wajah tanpa ekspresinya.
Aku mendengus. Jelas saja eksistensi pembicaraan tak berarti yang ia maksud tak lain dan tak bukan terjadi karenanya. Baru saja aku hendak mengutarakan seluruh animo sarkasme yang sudah berada di penghujung lidah, tubuhku tersentak ketika sesuatu terlintas di pikiranku secepat kilat. Jadi, aku perlu menelan keinginanku untuk menyampaikan suara dalam pikiranku tentang ucapannya kala itu juga.
“Sebentar. Apa maksud kalian tadi?” tanyaku—kupastikan kali ini suaraku terdengar lebih keras dan jelas. “Adik?!”
Paman Miles mengangguk dengan santai. “Benar. Rhett adalah kakakmu,” katanya. “Mulai hari ini hingga seterusnya, kau akan terus bersama kakakmu.”
Pria itu mengatakan sesuatu yang memberatkan pikiranku—anehnya dengan sangat enteng—mengabaikan raut wajahku yang kurasa semakin buruk rupa. Beruntung, aku cepat sadar dan menutup mulutku kembali. Seraya memandangi Rhett penuh rasa tak ikhlas, kusandarkan punggungku ke depan kepala sofa—sedikit terkejut karena tak lagi merasakan sakit yang sempat membekas kala peristiwa ganjil tadi terjadi.
“Aku tidak mengerti,” desahku. Suaraku agak bergetar, namun aku tahu semua itu bukan karena mendapat kenyataan tentang Rhett yang mungkin saja memang kakakku. Tetapi, kapasitas otakku tampaknya tidak mampu membendung seluruh informasi dalam waktu singkat—apalagi baru satu hari ini.
Kudengar dehaman pelan dari arah Paman Miles. Ia membetulkan kancing kemeja atasnya yang sempat terbuka, lalu memandangiku cukup lama. “Sebelum itu, Candice. Sebentar lagi kau akan berusia tujuh belas, bukan?”
“Ya,” aku mengangguk keheranan dan menahan niat untuk tidak menggaruk puncak kepalaku, “besok—lebih spesifiknya.”
Di samping pria itu, Bibi Harlow merangkul lengan Paman Miles cukup erat. Air mukanya terlihat sedih dan tidak terima, namun ia tidak mengucapkan apa pun. Pria itu turut mengangguk setelah aku menanggapinya, kemudian ia berkata, “Setelah beberapa peristiwa menderamu bertubi-tubi selama satu hari ini, kami harap kau sudah memercayai apa pun yang akan kami katakan selanjutnya.”
Keningku berkerut dan kepalaku terteleng ke samping tanpa keseimbangan yang tetap. “Tergantung dengan perihal apa yang akan kalian bahas,” balasku. Beberapa detik setelahnya, aku tersadar dan memiliki keinginan besar untuk memukul bibirku setelah mengatakan sesuatu yang kurang etis kepada mereka. “Maaf—eh, maksudku … aku pasti akan memercayai perkataan kalian. Apa pun itu.” Dengan catatan kalau aku bisa, pikirku.
Ada secercah kelegaan di pancaran mata sepasang suami dan istri tersebut, namun kecemasan dan kesedihan Bibi Harlow masih tak kunjung padam dari sana. Dari caranya memegang lengan sang suami, aku cukup yakin buku jarinya terkepal dengan erat. Saraf pada jemari wanita itu berkontraksi dan efeknya adalah muncul beberapa cabang urat biru di punggung tangannya—terlihat sangat kentara di permukaan kulit putihnya.
Terlebih, tubuh Bibi Harlow yang ramping dan berdaging tipis turut mendukung kemunculan urat-urat biru bercabang itu.
“Apakah ini hanyalah satu-satunya pilihan, Miles?”
Wanita itu tampak tidak berdaya saat mempertanyakan hal tersebut kepada Paman Miles. Sama seperti sang istri, air muka pria itu sangat pasrah—tampak berserah diri kepada Mahaperkasa. “Mau bagaimana lagi, Harlow? Mereka telah menemukan Candice. Selain itu, usianya hampir tujuh belas—di mana penyegelan sihirnya telah berakhir,” ungkapnya. “Kita juga perlu ingat pengorbanan terakhir Felicite dan Finegan demi keseimbangan seluruh alam.”
Sungguh, aku sangat tidak mengerti ke mana percakapan ini akan berlabuh. Ada beberapa perkara yang sedikit menjengkelkan. Pertama, mereka tidak segan melibatkan namaku dan bersikap seakan-akan aku tidak memiliki telinga. Kedua, percakapan mereka tidak jauh-jauh dari sihir, pengorbanan, dan keseimbangan alam—dan aku bersumpah tidak akan mau membaca buku fantasi lagi setelah ini.
Dan terakhir, cara mereka berbicara dan bertatapan sungguh membuatku ingin meludah karena tidak jauh beda dari drama roman picisan.
Kendati demikian, aku harus mengakui Paman Miles dan Bibi Harlow berpeluang besar akan menjadi pasangan paling serasi dan bergengsi—dengan catatan apabila mereka lebih terbuka dengan dunia luar. Untuk seusia mereka yang baru mencapai kepala empat, wajah keduanya bisa dibilang tergolong yuvenil. Paman Miles tidak memiliki gelambir di leher dan perutnya seperti perkembangan orangtua pada umumnya.
Selain itu, rahangnya selalu tampak klimis mengingat pria itu senantiasa mencukur misainya setiap minggu.
Bibi Harlow memiliki tubuh ramping. Jika aku berdiri di sampingnya, ia akan terlihat menciut karena terlalu mungil untuk disandingkan denganku—tanpa mengurangi rasa percaya diri, aku berani bersumpah kalau aku tidak sebongsor itu. Wanita itu mungkin akan berhasil menarik atensi para pria di luar sana apabila tidak ada Paman Miles yang selalu berada di sampingnya.
Kendati aku belum mengenal betul dunia luar, setidaknya aku sedikit banyak mengetahui seluk-beluk standar ketampanan dan kecantikan di masa sekarang.
“Aku pikir masih ada cara lain,” desah Bibi Harlow.
Paman Miles mendengus dan mengusap pelipisnya, kemudian bertanya dengan kewalahan, “Memangnya, apa ada cara lain di dalam otakmu?”
Secara tidak langsung, kebisuan wanita itu jelas sudah menjadi jawaban dari pertanyaan sang suami. Paman Miles menyandarkan punggungnya di kepala sofa dengan kernyitan dalam di permukaan keningnya. Jujur saja, ia terlihat dua kali lebih tua jika berlaku seperti itu—dan aku pikir mengernyitkan kening bisa menjadi salah satu cara untukmu terlihat lebih tua dari usiamu yang seharusnya.
“Baik.” Pria itu menepuk telapak tangannya sekali, “Tidak ada cara lain.” Ia menatap istrinya dengan sarat tak terbaca, “Itu sudah menjadi keputusan akhir dan Candice harus mengetahui semuanya.”
“Kumohon, berhenti berbicara seakan-akan aku tidak ada di sini,” gumamku. Aku tidak begitu percaya bahwa mulutku bisa mengutarakan sebuah kalimat ini dengan penuh keberanian. “Sebelum kepalaku benar-benar meledak, sebaiknya kalian menjelaskan semuanya kepadaku.”
Tebersit harapan kepada para ilmuwan di luar sana untuk memunculkan sebuah teknologi yang dapat meningkatkan kapasitas otak manusia, sehingga aku tidak perlu lagi merasakan bogem mentah dari edaran kedua pelipisku saking bingungnya.
“Candice, coba pikirkan perihal yang kauanggap tidak masuk akal.” Paman Miles mengangkat satu tangannya saat mulutku hendak melontarkan serangkaian peristiwa pada hari ini, “Bukan yang itu. Dalam hal ini, aku ingin kau memikirkan tentang sebuah alam berisikan makhluk-makhluk yang dianggap manusia biasa tidak konkret.”
“Makhluk halus.” Dua kata itu langsung kumuntahkan karena tidak dapat kutahan di penghujung lidah. “Alam bawah—uh, Neraka?”
Paman Miles menggeleng. Sungguh kesalahan terbesar baginya untuk mempertanyakan sebuah enigma kepadaku. Aku tidak akan mengerti, tentu saja. “Bukan makhluk halus. Keberadaan mereka telah memiliki pembuktian yang akurat. Bagaimana dengan penyihir, vampir, peri, dan sebagainya?” Ia bertanya lagi.
Sungguh, aku perlu berpikir dua kali untuk mengerti makna dari pertanyaan tak wajarnya.
“Mereka hanya makhluk mitologis yang kerap kali muncul di kisah dongeng,” jawabku, sedikit ragu dan mempertanyakan kebenaran dalam jawabanku sendiri. “Lagi pula, paman. Untuk apa kau menanyakan pertanyaan semacam ini kepadaku?”
“Jika di alam semesta ini memiliki kehidupan lain berisikan makhluk-makhluk tersebut, apa kau akan percaya?”
“Bagaimana, ya?” Kuangkat sedikit alisku sesaat, “Kalau siluman serigala—atau apalah namanya—termasuk ke dalam hitungan, maka jawabanku adalah ya.”
“Manusia serigala,” timpal Rhett.
Kepalaku mengangguk, baru mengingat setelah pemuda itu memberitahukan sebutan lain dari siluman serigala adalah manusia serigala. Dari sekian banyak kisah makhluk mitologis yang sudah k****a ketika masih kecil, satu-satunya makhluk yang mengendap di kepalaku hingga detik ini hanyalah manusia serigala. Karena setiap kali mendengar kata serigala, otakku tidak akan jauh-jauh dari Little Red Riding Hood—terlepas dari tokoh manusianya.
“Jadi, paman. Apakah profesimu yang sebenarnya adalah seorang penulis fantasi?” tanyaku. “Secara, kau bertanya kepadaku tentang makhluk-makhluk yang keberadaannya belum memiliki pembuktian akurat.”
Paman Miles memandangi istrinya, kemudian mereka berdua sama-sama menghela napas. “Aku memang sedang menanyakanmu makhluk-makhluk yang belum memiliki pembuktian akurat—namun bukan di Bumi, tetapi di sebuah alam lain. Dan apa kau akan percaya apabila aku mengatakan bahwa kau bukanlah makhluk Bumi?”
Pria itu kelihatannya sedang melindur, tetapi raut wajahnya tidak seperti sedang berkelakar sama sekali—seakan-akan perkataannya tadi memang benar.
Sudut bibirku terangkat. Seringai paksa lolos dari bibirku ketika aku berkata, “Memangnya, salah satu makhluk macam apa aku? Malaikat—tetapi aku tidak sebaik itu. Iblis—kurasa Rhett lebih cocok untuk makhluk jenis ini. Peri—tubuhku terlalu bongsor untuk menjadi salah satu dari mereka. Vampir—aku tidak pernah meminum darah. Apa lagi, ya? Oh, penyi—”
“Penyihir. Kau—kita—adalah penyihir. Kita adalah salah satu dari mereka—makhluk yang sedari dulu kauanggap mitologis itu, Candice.”[]