CANDICE EMRYS SELAPUT bening mataku masih belum bisa menerima sinar rembulan. Aku memerlukan durasi sekitar dua setengah menit untuk dapat beradaptasi secara keseluruhan. Tidak ada sambutan khusus begitu aku membuka sepasang mataku selain sinar dari rembulan yang merangsek melalui jendela berskala besar. Terangnya membias membentuk sebuah bayangan tak berarti, namun terasa begitu mengintimidasi. Terbangun di sebuah ruangan asing tanpa memiliki petunjuk sama sekali mau tidak mau membuatku merasa tersudut. Kuedarkan visualku ke setiap titik, menemukan tubuh bangkarku berada di atas sebuah dipan berukuran raja, sejumlah almari dalam keadaan tertutup yang tersusun dengan apik, dan satu buah cermin berlapiskan batu pualam di setiap sisinya. Elegan dan klasik, membuatku berusaha untuk memutar

