Cukup. Pemandangan Jovic di depannya terlalu indah untuk tidak Jemima putar terus di kepala. Ia tidak bisa menjaga ajarak lagi bersama Jovic. Setidaknya sampai ada keputusan pasti di mana Jemima harus memilih antara Andrew, tunangannya, atau Jovic, masa lalunya. Jemima berdecak. “Kau kenapa?” Sial. Spertinya decakan Jemima terlalu kencang hingga mengundang perhatian Jovic. Waktu istirahat menipis. Seharusnya mereka berdua sudah kembali ke balik meja kerja. “Aku tidak apa-apa. Hanya mengingat pekerjaan yang menumpuk dan harus segera diselesaikan,” alibi Jemima. Kali ini giliran Jovic yang berdecak. “Jangan terlalu memaksakan, jika kau lelah bekerja, istirahatlah. Kau bisa mengambil cuti kalau kau mau. Aku tidak mau suatu ketika kau sakit, karena pasti aku akan merasakan sakit yang sama,

