“Kau lupa dengan ucapanku, tentang janji kita?” Jovic memandang Jemima penuh tanda tanya. Berhentilah momen yang Jovic ceritakan. Berhenti pula fantasi Jemima. Melihat Jemima yang hanya mebalas tatapannya, Jovic mendekatkan kepala hendak menempelkan bibir mereka. Jemima terkejut, namun tak lama luluh jua. Ia merasa bernostalgia. Jemima merindukan ciuman dan sentuhan Jovic. Tidak menerima ponalakan, Jovic mendorong perlahan punggung Jemima hingga membentur dinding. Jemima kian terbuay, namun kemudian, sekelibat kejadian membelalakkan matanya. Ia mendorong Jovic sekuat tenaga. Pria itu memperlihatkan raut protes yang kentara. “Ada apa, Jemima?” “Diam!” “Jemima?” “Mari aku lanjutkan kejadian yang kau ceritakan!” Beberapa tahun yang lalu, ketika Jemima tengah sibuk mempersiapkan keperlu

