Sunyi yang tercipta membuat Jemima mengingat kejadian demi kejadian yang menimpanya hari ini. Ia teguk dua kali cokelat buatan Jovic yang tergenggam di jari-jemarinya yang lemas. Sudah dingin. Ditaruhnya cangkir itu dengan hati-hati. Jemima membasahi bibir. Ia melenggang ke jendela, duduk di bingkainya. Di luar sana bertengger sepasang burung camar di batang pohon. Lamat-lamat Jemima tatap. Hingga salah satunya terbang bebas, ia mengedip lambat.
“Harus bagaimana aku sekarang?”
Jemima merenung. Sudah terlalu jauh persiapan pernikahan, dan Andrew adalah orang yang dipercaya ayahnya untuk menjadi pendamping hidup Jemima. Jika Andrew adalah orang yang buruk, sudah pasti ayahnya itu tidak akan membiarkan Jemima jatuh kepada orang yang salah. Lagipula, pikir Jemima, Andrew tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dia pria lembut dan hangat yang mampu membuat Jemima nyaman.
Haruskah aku minta maaf?
Sekelibat bayang menampakkan kilasan mata Andrew yang menyiratkan sendu. Salah jika Jemima memejamkan mata untuk menghalaunya. Karena dalam kegelapan itu ia temukan cuplikan yang semakin menjadi hingga membuatnya kembali menitikkan air mata. Jemima mengerang, merasai pening pada kepalanya. Tangannya menempel pada kaca yang mengembun. Dingin menjalar, namun seolah mati rasa, Jemima tak peduli.
“Aku ingin membencimu, tapi tak bisa!”
“Kenapa kau menyakiti aku!”
“Betulkah cinta yang kau rasakan?”
“Andrew, jawab aku!”
“Sakit!”
Jemima meracau.Tubuhnya limbung di atas lantai. Ia meringkuk serupa janin di dalam kandungan. Berharap Andrew mendengar gumamannya yang menyiratkan penyesalan. Jemima ... harus meminta maaf agar hatinya merasa lapang. Ia tidak bisa membayangkan jika hubungannya terputus dengan Andrew. Ia terlalu tergantung pada lelaki yang berstatus sebagai calon suaminya itu.
“Andrew!”
“Andrew!”
“Jemima!”
Suara berat dari arah pintu tidak Jemima dengar. Di bayangannya hanya ada Andrew yang pergi meninggalkannya sendirian serupa sepasang burung cemara yang Jemima amati.
“Jemima!” Panggilan dan tepukan pada pipinya membuat Jemima mendongak. Ditemukannya Andrew dengan mata yang berkaca-kaca. Detik berikutnya, mereka berpelukan. Erat dan lama. Jemima menumpah segala resah di d**a Andrew, begitupun sebaliknya. Andrew menciumi pucuk kepala Jemima dengan sayang.
“Maafkan aku, Jemima.” Andrew mengurai pelukan. Menatap dalam kedua bola mata Jemima yang bengkak dan mengenaskan. Melihat Jemima yang hanya memandangnya diam dengan sudut-sudut bibir berkedut lantaran menahan tangis sekaligus perih, Andrew menampar-nampar pipinya seraya menggumam, “Aku memang bodoh! Berikan aku hukuman sesukamu! Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama! Tolong beri aku kesempatan kedua!”
Jemima terenyuh. Ia menangkap kedua tangan Andrew, lalu kembali memeluk calon suaminya. Katakan Jemima wanita bodoh yang mudah luluh. Memamg itu kenyataannya. Apalagi melihat air mata yang Andrew teteskan membuat Jemima merasa berharga. “Aku juga minta maaf padamu,” bisik Jemima, hampir tidak terdengar.
Di depan jendela besar itu mereka saling menatap. Baru pertama kalinya dengan air mata yang menyertai. Jemima mengelus rahang Andrew, begitupun sebaliknya.
“Apa ini sakit?” Elusan pelan yang Andrew berikan pada sudut bibir Jemima membuat wanitanya meringis. Oke, itu pertanyaan retorik, dan Andrew tahu jawabannya tanpa diminta. “Kenapa belum diobati?”
Jemima mengangguk lambat. “Aku bahkan lupa jika memiliki luka.”
Andrew tersenyum masam. Menghela napas sejenak, ia berkata, “Biar aku obati.”
Jemima tidak keberatan saat Andrew menuntunnya menuju sofa depan televisi, lalu membiarkan pria itu mengobrak-abrik kotak obat di dapur. Andrew kembali dan langsung duduk di samping Jemima. Mereka duduk berhadapan. Andrew mulai mengobati Jemima dalam diam.
“Kau mau sup?”
Jemima menggeleng.
“Tidak lapar?”
Jemima menggeleng.
“Kalau begitu, sebaiknya kau istirahat. Aku akan menginap di sini, bersamamu.”
Andrew membopong Jemima ke kamar. Matahari memang belum sempurna tenggelam, tapi kacaunya hari ini membuat Jemima dan Andrew merasakan letih yang teramat. Dihempaskannya tubuh Jemima dengan lembut di atas kasur. Setelah memasang selimut, Andrew ikut bergabung, memeluk tubuh Jemima yang menghadapnya.
Esok paginya, Jemima terbangun dengan mata yang terasa berat dan kasur sebelah yang kosong saat diraba. Andrew sepertinya telah bangun duluan. Jemima menyingkap selimut. Berjalan pelan keluar kamar. Ia menghidu aroma masakan. Dihampirinya Andrew yang tengah berjibaku dengan peralatan dapur. Pria itu membuat omelet. Kemudian keduanya sarapan bersama tanpa suara.
“Apakah akan terus seperti ini?” Jemima buka suara. Andrew, orang yang diajaknya bicara, tidak langsung menjawab karena membersihkan piring.
“Apanya?” Andrew menghadap Jemima.
Wanita itu meneguk ludah, menyiapkan mental. “Kita.”
“Akan tetap bersama,” potong Andrew.
“Ya ... itu juga maksudku. Tapi, jangan bersikap seolah tidak ada yang perlu dibicarakan di antara kita.” Jemima memandang penuh keputusasaan.
Dengan suara datarnya Andrew berujar, “Apa yang perlu kita bicarakan?”
“Hal kemarin.”
“Aku sudah minta maaf. Bisakah kita menganggap seolah-olah kejadian mengerikan itu tidak terjadi saja?” Andrew mendesah. Ia hanya mengingat perbuatan buruknya yang telah menyakiti Jemima, dan itu membuat Andrew seperti orang bodoh.
“Kita sudah sama-sama dewasa, usia dan pemikiran. Apa yang terjadi di antara kita, baik atau buruknya, harus dibicarakan agar tidak ada kesalahan serupa di lain waktu,” komentar Jemima. Perempuan itu melihat gusar di mata Andrew, namun tak sedikitpun menyurutkan niat Jemima. “Kita harus selesaikan ini,” lanjutnya, tegas.
Andrew menatap Jemima tanpa kedip. “Kalau begitu, cerita yang terjadi kemarin.”
Jemima mengangguk. Diceritakannya kejadian kemarin secara terperinci. Mulai dari Luna dan Jovic yang mengajaknya ke pusat perbelanjaan. “Aku ada fotonya jika kau tidak percaya.” Jemima memperlihatkan potret dirinya dengan seorang wanita berumur yang cantik. Untungnya perempuan itu sempat mengambil gambar untuk kenang-kenangan, dan ternyata foto itu diperlukan juga.
Setelah Jemima selesai berbicara, Andrew mendesah. Ia merasa begitu bersalah kepada Jemima karena telah menuduhnya yang macam-macam. “Kenapa kau tidak menjelaskannya kepadaku sedari awal?”
“Saat itu kau marah. Aku tahu, pasti apa pun alasanku tidak akan kau terima. Jadi aku diam saja.” Jemima berkata pelan.
“Tapi karena kau tidak berusaha menjelaskan yang sebetulnya, aku malah melukaimu.” Andrew menarik jemari Jemima di atas meja, mendekapnya penuh kehangatan.
“Dan kenapa kau tidak bisa menahan emosimu?” Ganti Jemima yang bertanya. Menurutnya, kemarin Andrew tak lebih daripada iblis yang perlu Jemima kirim jampi-jampi.
“Aku mudah kehilangan kendali jika itu menyangkut Jovic. Aku ... tak tahu, Jemima,” ungkap Andrew, tersenyum tipis. “Dan, sebetulnya sudah lama ingin aku beritahukan resahku padamu. Aku tidak masalah kau berteman dengan lelaki, sungguh, tapi kau harus pilih-pilih. Jangan kau terima ajakan lelaki mana pun yang menunjukkan ketertarikan,” lanjutnya, dengan jemari yang mengelus punggung tangan Jemima.
Jemima mencerna omongan Andrew baik-baik, lantas memilih kalimat yang tepat untuk menjawab. “Sebelumnya aku tidak pernah memilih-milih dalam berteman. Jika diajak makan siang pun, walaupun senang karena mereka tampan, niatku hanya berteman. Aku tidak mau dicap sombong.”
Andrew mengangguk tanda mengerti. Seharusnya ia tahu perangai Jemima bagaimana. Memiliki sifat tak enakan kepada orang lain cukup menyulitkan juga. “Tapi, lelaki yang kau terima itu, merasa memiliki peluang untuk mendapatkanmu. Sedangkan kau sudah milik orang lain.”
Jemima tidak pernah berpikiran seperti itu, namun karena yang bicara adalah Andrew yang notabenenya adalah pria, Jemima mengangguk juga. Ia tidak akan memilih teman, namun jika orang itu menunjukkan ketertarikan, Jemima akan berterus terang bahwa ia telah bertunangan.
“Apa kau tidak keberatan jika hubungan kita dipublikasikan?” Andrew bertanya hati-hati.