Jo terperanjat dari duduknya ketika Andrew membanting pintu ruangan hingga menyebabkan dinding kaya di sekitarnya begetar. Pria itu melepaskan kaca mata. Desahan dan elusan pada d**a membuatnya tak bisa berkata-kata hingga memutuskan mengekori Andrew untuk memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.
Andrew berdiri di balkon. Merasai deru napasnya yang terengah membuat Andrew berpikir bahwa ia akan mati sekarang juga. Hanya perusahaan tempat yang terbesit dalam benaknya kala meninggalkan Jemima. Andrew mengerang. Dadanya bergemuruh tak karuan.
“Kau kacau sekali.” Jo berdiri di sebelah Andrew. Iris hitamnya menatap sekilah penampilah sang kawan. Buruk sekali.
Andrew melucuti kancing kemeja, gerah. “Kenapa kau tidak datang ke restoran dan melihat secara langsung apa yang terjadi beberapa menit yang lalu?” katanya, abstrak.
Jo melipat dahi, memandang Andrew sedikit sebal. “Aku kan sudah mengatakan kalau ada urusan mendadak tadi, jadi tidak bisa datang. Kau tidak mengecek ponselmu?”
Andrew tidak mengindahkan ucapan Jo ketika Jo kembali bertanya, “Apa yang terjadi?” Ada nada khawatir dalam ucapannya. Semenyebalkan apa pun Andrew, pria itu adalah saudara bagi Jo. Lelaki itu tidak pernah sekacau ini. Rambutnya tidak teratur, ujung kemeja yang keluar dari celana dengan kancing yang terbuka. Wajahnya keras namun ada sendu yang tidak bisa Jo tebak di matanya.
“Jemima,” akunya lamat-lamat dengan suara rendah dan tegas. Ia menceritakan semua kejadian di restoran termasuk di atap gedung. Semuanya tanpa dikurangi dan ditambah. Pernyataan kecil Jemima yang menurut Andrew tidak penting pun ia luapkan. Hanya Jo satu-satunya yang Andrew harapkan di saat Jemima tidak bisa menjadi rumahnya.
Jo menanggapi secara seksama. Sesekali mengernyit dan meringis seraya menatap Andrew. Napasnya terhela beberapa kali, seolah banyak sekali kekesalan yang ikut terbuang. Andrew selesai bicara ketika ia menghadap Andrew sepenuhnya. “Aku sedang tidak memihak Jemima, tapi ucapannya benar, bahwa kau harus mendengarkan ucapan orang lain.”
Andrew mendengkus keras. Jo tidak bisa membuatnya tenang! Lelaki yang menurut Andrew sok bijak itu kembali buka suara, “Kunci hubungan ada komunikasi. Kalian harus terbuka satu sama lain. Yang aku tangkap, ada kesalahpahaman di sini.” Ralat, Andrew bergumam dalam hati, Jo memang bijak betulan.
“Kau percaya pada Jemima, bukan?” Jo bertanya, Andrew mengangguk. “Lantas kenapa saat Jemima mengatakan kalau mereka sekadar berteman, kau malah menampik alasannya?”
“Mereka terlalu dekat!” kilah Andrew. “Jovic jelas-jelas menyukai Jemima, dan Jemima terlalu bodoh untuk tidak menyadarinya. Kau lupa? Sebelumnya pun atas informasi dari orang suruhanku di kantor Jemima, wanita itu kedapatan makan siang dan tidak bisa menghiraukan lelaki. Ini keterlaluan buatku.”
“Kalian sama-sama salah, Bung. Jika keambiguan ini tidak diselesaikan, siap-siap bilang selamat tinggal kepada dunia. Wanita tidak menyukai lelaki yang kasar,” komentar Jo, sedikit terbawa emosi.
“Itu hukuman untuknya! Bisa jadi kan kalau Jovic mencium bibirnya? Aku hanya menghapus jejas lelaki lain dari tubuh Jemima-ku,” alibi Andrew.
“Tapi kau menyakitinya!”
Andrew terdiam. Berputarlah adegan di mana Jemima menjerit tertahan dan memberontak karena ciuman kasarnya. Bahkan, astaga! Rasa ciuman itu berbeda. Jemima pasti berdarah.
“Kau bisa berpikir sesukamu, tapi berpikiran positif adalah hal yang baik untukmu atau untuk siapa pun. Daripada marah-marah dan tidak bisa menemukan solusi apa pun, kenapa kau tidak bicara baik-baik dulu dengan Jemima?” Jo menepuk pundak Andrew dua kali sebelum menatap langit polos tanpa awan.
“Tidak semudah itu, Jo. Cintaku yang terlalu berlebihan kepada Jemima membuatku rakus. Aku memang egois. Aku mengekangnya bergaul dengan laki-laki. Apa aku salah?” Andrew terdengar frustasi.
“Rasa cintamu tidak salah, tapi caramu kurang tepat. Daripada ketulusan, Jemima akan berpikiran obsesilah yang membawamu kepada Jemima. Jika Jemima membebaskanmu, kenapa kau harus mengurungnya?”
Andrew tersenyum miris. “Aku bahkan tidak yakin Jemima mencintaiku.”
“Kau bodoh atau bagaimana?” Jo mendelik. “Berhentilah bersikap seperti remaja labil yang tidak berpengalaman! Jemima memang tidak pernah mengatakan cinta, tapi perlakuan dan hadirnya dia di sampingmu kurasa cukup untuk membuktikan dia serius denganmu.”
“Aku tahu, tapi itu tidak cukup untukku. Wanita selalu menuntut lelaki ketika tidak ada ucapan cinta tapi lelaki itu secara nyata mendekatinya, berperilaku peduli. Mereka ingin sebuah kejelasan hubungan, katanya. Ya, di sini, hubunganku dengan Jemima sudah jelas, tapi memangnya tidak boleh jika aku mendengar secara langsung ungkapan hatinya padaku? Lelaki juga ingin dimengerti,” keluh Andrew.
“Kau benar-benar b***k cinta!” hardik Jo. Ada jenaka dalam ucapannya yang membuat Andrew merotasikan bola mata. Jo menambahkan, “Jemima wanita yang berbeda. Dia membuktikan, tapi tidak mengucapkan.”
Mungkin Jo benar, tapi Andrew tidak bisa menerimanya begitu saja. Ia memang merasa bersalah pada Jemima. Apakah dia sudah beranjak dari atap geduh? Bagaimana keadaannya?
* * *
Di waktu yang bersamaan kala sinar matahari mulai meredup serta gumpalan awan hitam berduyun-duyun di langit, Jemima merasai mati. Darah pada sudut-sudut bibir mulai mengering, namun rasa perih masih melekat. Tetiba air hujan turun tanpa aba. Deras. Tubuh Jemima yang bergetar tambah menggigil dibuatnya. Gigi-geligi Jemima bergemeletuk. Lalu sesutu bertengger di pundaknya. Jaket. Dan Jovic segera menarik Jemima ke dalam pelukan.
“Menangislah, J! Aku ada untukmu!” Suara teriakan Jovic beradu dengan deras hujan. Jemima menurut. Mencengkeram baju belakang Jovic dengan sisa kekesalan yang masih ada.
Pria itu, Jovic, memutuskan untuk mengekori Jemima. Ia melihat semuanya seperti menonton adegan drama opera. Bertahan dirinya di balik pintu atap dengan marah. Semakin menjadi perlakuan Andrew pada Jemima membuat Jovic beberapa kali akan menerjangnya, tapi urung. Ia ingin ikut campur, namun tak kuasa. Hingga Jovic bersembunyi di salah satu tong air ketika Andrew meninggalkan Jemima yang tak berdaya, lalu hujan memperburuk keadaan, barulah Jovic memunculkan badan.
“Kita pergi dari sini,” bisik Jovic. Jemima mengeratkan rengkuhan pertanda enggan. “Aku tidak mau kau sakit setelah ini.”
“Aku memang sudah sakit, Jovic,” balas Jemima, sedikit tersendat. Jovic menggigit bibir bawahnya. Sungguh prihatin ia pada Jemima. Mati-matian Jovic selama beberapa tahun menjaga Jemima sebagai sahabat, kemudian setelah dewasa dan menjalin hubungan, Jemima disakiti begitu saja. Wajar bila Jovic menanam benci pada Andrew.
“Tubuhmu yang sakit, J!” erang Jovic. Jemima menggelengkan kepalanya dengan gusar. Tangisnya semakin pecah ketika tangan Jovic mengelus punggungnnya yang bergetar.
“Andrew tidak mempercayaiku, Jovic.” Lamat-lamat suara Jemima memenuhi pendengaran Jovic secara samar. “Apakah seburuk itu?”
Andrew yang buruk, teriak Jovic dalam hati. Niat ingin mengutarakannya pada Jemima, namun ia masih sadar bahwa perkataannya akan semakin membuat Jemima terpuruk.
“Aku harus bagaimana, Jovic?” Jemima menarik tubuhnya memandang Jovik. Sekuat tenaga menahan gigil yang membuat bibirnya membiru serta badannya terasa remuk dijatuhi hujan.
“Andrew tidak seperti apa yang kau pikirkan, bukan?” tanya Andrew. Melihat Jemima mengangguk pelan, Jovic tersenyum kecut dalam hati. “Tinggalkan saja dia,” ujarnya tanpa beban.
Jemima menggigit bibir, menahan air mata yang akan kembali terjatuh. Sementara hujan masih turun ketika Jemima menanggapi, “Andrew begitu menyakitiku.”
“Dan kau menyakiti dirimu sendiri dengan mencintainya dan tidak menghindari hujan sederas ini!” sela Jovic. Suaranya meninggi. Jemima ingin protes, tapi tarikan Jovic pada tangannya membuat Jemima patuh. Terlalu banyak emosi dan tenaga yang terkuras untuk kembali memberontak. Tak ada gunanya.
Sepanjang jalan Jemima diam. Entah apa yang perempuan itu pikirkan, Jovic mana tahu. Lelaki itu teramat khawatir. Niat ingin melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi karena Jemima kedinginan, namun derasnya hujan membuat jarak pandang Jovic terbatas. Beberapa kali ia memaki cuaca. Hujan kali ini bisa jadi yang tersial untuknya dan Jemima.
Sampai di kediaman Jemima, karena tidak ada payung, Jovic terpaksa menggendong perempuan itu dengan jaket basahnya sebagai pelindung. Terseok-seok langkah Jovic ke kaman Jemima. Segera pria itu menyuruh Jemima yang seperti mayat hidup untuk membersihkan diri sementara ia singgah di kamar tamu meminjam pakaian Andrew. Apa daya, walaupun enggan, Jovic mesti menerimanya daripada sakit karena kedinginan.
Setelah selesai menghangatkan diri, Jovic ke dapur membuat cokelat hangat. Jemima turun beberapa lama kemudian setelah Jovic memanggilnya ke kamar. Perempuan itu tak bertenaga.
“Terima kasih,” gumam Jemima ketika Jovic menyodorkan segelas minuman yang mengepulkan uap panas. Jovic mengangguk. Bibirnya terlalu kaku untuk tersenyum.
“Setelah kejadian barusan, apakah kau membenci Andrew?”
“Hujannya sudah mereda. Kau bisa pergi sekarang.” Jemima berkata lain. Matanya menatap jendela dengan tirai yang berkibar karena embusan angin dari ventilasi. Hujan memang telah surut.
Jovic menghela napas. Banyak sekali yang akan ia katakan, namun melihat kondisi Jemima, tenggorokannya tercekat. Jika Jovic mengungkapkan pandangannya bahwa Andrew bukan orang yang tepat untuk Jemima serta menyuruh wanita itu untuk membatalkan pernikahan, Jemima akan tambah terpuruk, bukan?
“Aku akan menginap di sini,” putus Jovic, menyesap cokelat pada cangkir.
“Aku ingin sendiri.”
“Aku bisa ke kamar dan tidak menampakkan diri hingga esok pagi.”
“Aku ingin sendiri,” jeda beberapa saat, “tolong.”
Jovic menutup mata sejenak sebelum beranjak dan mengelus pucuk kepala Jemima. Apa pun yang membuat Jemima nyaman, akan Jovic kabulkan. “Semoga kau memutuskan hal yang terbaik,” pesannya sebelum menutup pintu, keluar.