Bab 11

1365 Kata
“Kenapa kau bisa ada di sini bersama dia?” Itu pertaanyaan pertama yang Andrew lontarkan kepada Jemima setelah membiarkan dirinya dilingkup keterkejutan beberapa saat. Satu persatu langkahnya mendekat. Mengulur waktu yang dibiarkan dibuang sia-sia. “Ini tidak seperti yang kau kira.” Alih-alih Jemima, Jovic-lah yang menjawab. Sekalipun tak meluruhkan keresahan Andrew. Tampaknya Jemima terlalu kelu, atau sesuai dugaan Andrew, perempuan itu menyembunyikan sesuatu. Seperti hubungan terlarang atau sebagainya. Mana Andrew tahu, kan? “Apa yang kau lakukan di sini, An?” Jemima melempar tanya yang membuat Andrew menggeram, kesal. “Kau lupa?”sinisnya. “Aku dan Jo kadang-kadang menongkrong di restoran ini untuk sekadar mengerjakan tugas kantor.” Andrew menatap kecil Jemima. Jemima menahan napas diam-diam. Kedatangan Andrew terlalu mendadak dan ia lupa jika ini teritorinya. Perempuan itu tidak melakukan apa pun, tentu saja, tapi, Andrew tidak mudah percaya hanya dengan sekali ucap. “Kau terlalu berlebihan, Bung!” komentar Jovic, melihat Jovic menyudutkan Jemima. “Maaf? Apa aku mengenalmu?” Jovic membuang muka. Andrew terlalu buruk untuk Jemima, batinnya. Bagaimana bisa Jemima menaruh hati pada laki-laki cemburuan semacam Andrew? Dia memang sedikit keren, tapi tak lebih dari Jovic. Kaya? Jovic pun bukan orang yang serba kekurangan. “Kuharap kau menginteropeksi diri, Jemima,” desis Andrew. Lelaki itu berbalik pergi dengan tangan terkepal. Beruntung restoran tempat mereka bertengkar tidak begitu ramai pengunjung, karena hanya kelas atas yang bisa makan di sini. Pikiran Jemima berkecamuk. Rasa pening diam-diam memasuki kepala. Setelah kontradiksi antara hati dan pikiran, belum lagi Jovic yang mengocehkan sesuatu yang tidak Jemima tangkap, perempuan itu berdiri dari kursi. Memutuskan mengejar Andrew yang hampir hilang ditelah belokan pintu keluar setelah berujar pada Jovic, “Maaf, Andrew penting buatku. Aku harus menyusulnya.” Takdir memang tidak adil! Jovic berteriak dalam hati. Rasa panas menjalari tubuhnya yang kekar. Bagaimana mungkin setelah melihat kekurangan Andrew, Jemima tetap pada pendiriannya? Andrew dijadikan perempuan itu tempat berpulang setelah ia berkelana bersama Jovic. Lantas, bisa apa lelaki itu selain menyaksikan punggung Jemima yang kian mengecil? Jovic mendesah. Merasakan hambar pada bibirnya yang menelan cairan alkohol di cangkir kecil bekas Jemima. Langkah besar Andrew membawa Jemima menuju atap gedung. Terseok-seok Jemima menaiki anak tangga. Di atas sana, Andrew berdiri sendiri bersama deru napasnya yang menderu juga kepalanya yang menengadah menantang langit. “Kau mengikutiku?” tanya Andrew, retoris. Lelaki itu bisa mendengar derap langkah kecil, kemudian sesosok jelita berdiri tepat di sebelahnya. “Ini tidak seperti yang kau pikirkan.” Jemima mengulang jawabannya sewaktu di restoran tadi. Sudut matanya memperhatikan Andrew yang geming. Panas matahari yang menghantam wajah tampan itu membuat Andrew mengernyit. “Memangnya kau tahu apa yang aku pikirkan?” Andrew bersuara setelah sekian lama menjeda. Jemima angkat bahu. Bukan tidak tahu, tapi enggan menjadi sok tahu. “Katakan apa yang ada di pikiranmu!” perintah Andrew. Jemima sempat terkejut karena lelaki itu menaikkan suaranya beberapa oktaf. Jemima pikir Andrew telah tenang. “Mungkin ... kau menyangka aku berkencan dengan Jovic,” jawab Jemima, ragu. Andrew mendesis, menggentarkan Jemima yang berdiri gamang. Pria itu menanggapi, “Lebih buruk dari itu.” Jemima menatap Andrew  tak percaya. Andrew  balik memandangnya dengan mata yang menajam, rahang mengetat. “Kau?” “Aku kecewa padamu,” sela Andrew. Suaranya rendah. Desau angin menggelitik tengkuk Jemima. Andrew rubah raut wajah. Tak ada binar gusar yang semula, tapi riak rapuh yang begitu kentara.   ”Perjelas ucapanmu, An.” Jemima ingin marah, namun tak kuasa. Andrew kembali menatap langit. Merasai panas mentari membakar tubuhnya. “Aku benar-benar tak menyangka.” Andrew kembali berkata di tengah kebungkaman Jemima. Matanya terpejam. Matahari membuat penglihatan Andrew sedikit menguning. Jemima diam menunggu. Menurutnya, Andrew serupa remaja sekolah menengah yang egois. Ia tak menerima penjelasan Jemima dan membiarkan spekulasi buramnya mengambil alih kewarasan. Jemima berhak marah atas tuduhan asal Andrew. Bagaimana mungkin hubungan mereka akan selamat jika tidak ada kepercayaan antara satu sama lain? Jemima mendesah, menarik perhatian Andrew. “Kau selalu begini. Tertarik pada lawan jenis semudah kau mengemut permen. Tak ada beban, ringan.” Andrew mendengkus kasar. Dua langkah ia jauhi Jemima, guna melihat keseluruhan rupa perempuannya. “Kau bicara begitu hanya karena melihatku dengan Jovic makan bersama dua kali?” Jemima tersungut. Air mukanya menunjukkan ketidakterimaan. Andrew menggeleng dua kali, tegas. “Tidak dengan Timothy, Elias, Jovic, dan mungkin lelaki lainnya yang tidak aku ketahui. Demi Tuhan, J, aku cemburu berat karena aku mencintaimu,” aku Andrew, terdengar frustrasi. Menggeleng, Jemima berkata, “Kau sebut ini cinta? Aku melihatnya sebagai obsesi semata. Kau berlebihan dan aku tidak suka itu. Mereka temanku, An, temanku!” tegasnya. “Sayangnya aku tidak berpikiran begitu,” cibir Andrew. “Kau tidak mengerti apa pun tentang cinta. Selama kita berhubungan, tak pernah sekalipun kau membalas ucapan cintaku. Aku tidak bodoh, J. Dan selama itu, aku hanya tersenyum kecil. Berharap pelan-pelan kau akan mengerti dan menerimaku sepenuh hati sebagai calon suami.” Jemima urung bicara. Segala kalimat yang berkecamuk dalam dadanya dibiarkan tersendat di tenggorokan untuk kemudian ia telan mentah-mentah. Seolah bisu, Jemima hanya membiarkan air matanya yang mengobrol dengan Andrew. Tidakkah lelaki itu melihat luka dalam mata Jemima? “Kukira kau bukan lelaki seperti itu. Maksudku ... pria yang menunggu balasan ucapan cinta sedang aku ada di sampingmu, membuktikan dengan perbuatan.” Jemima biarkan air matanya mengalir tanpa diseka. Semakin deras, pun perasaannya yang kian tak karuan. Andrew menghela napas. Isakan Jemima membuatnya tercekat sesak. Dengan suara serak, ia berujar, “Berarti kita belum saling mengenal, Jemima. Baik aku, ataupun kau. Kita sepasang asing yang kebetulan bersama.” Meloloskan isakan keras, Jemima baru menanggapi, “Kau tahu perkataan klasik ini: ‘Tidak ada yang kebetulan, sebab semuanya telah ditakdirkan’? Pertemuan kita adalah ketetapan Tuhan. Apa kau merasa tidak beruntung karena bersamaku?” Andrew meringis. “Kau tidak mengerti maksudku.” “Kalau begitu buat aku mengerti!” erang Jemima. Napasnya memburu. Dadanya bergemuruh hebat. “Kau bahkan tidak menjelaskan apa pun yang membuat hatiku tenang. Kau tak mendengarkan alasanku. Semuanya hanya tentang kau dan bagaimana kau mempertahankanku.” Disekanya air mata berikut peluh pada dahi secara kasar dengan punggung tangan. “Bagaimana ucapanmu yang menyakitiku, apa kau memikirkan itu?” “Kenapa kau menjadikanku tertuduh? Keadaan berbalik sekarang. Seharusnya aku yang marah padamu!” Andrew tertawa sinis. Perempuan adalah malapetaka! “Kau bercanda?” Jemima membeliak. “Biar aku uraikan. Pagi-pagi sekali, saat aku meneleponmu, kau bilang tidak akan ke mana-mana. Hanya dengan film dan perawatan dirilah kau menghabiskan hari. Lalu, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kau dengan---oh, aku enggan menyebut namanya---dengan Jovic duduk di meja yang sama, tengah bercanda, sedang kau menolak ajakan makan siang calon suamimu sendiri.” Andrew mengibas tangannya ke udara. Tertawa kering.  “Aku tidak membohongimu!” erang Jemima, mulai paham akan haluan pembicaraan. “Tidak rencana keluar bersama Jovic,” tambahnya cepat. Andrew tertawa sinis, lebih lama daripada sebelumnya. “Kau akan mengatakan kalau ini sebuah ketidaksengajaan?” ”Kau pencemburu yang membuatku muak!” hardik Jemima. Andrew mengerjapkan matanya berkali-kali. Menatap Jemima dengan mata yang memerah menahan emosi. Rahangnya yang mengendur kembali mengetat seirama dengan kepalan tangannya yang menonjolkan urat kehijauan. “Aku khawati, aku gamang, aku tidak bisa membiarkan calon istriku bersama lelaki lain tanpa sepengetahuanku. Kalau kau bicara dulu, mungkin bakal lain cerita. Tapi ini diam-diam! Aku bukan pria yang selalu berpikiran positif!” “Kau terlalu mengekangku, Andrew!” Dengan sisa suaranya Jemima kembali berteriak. Anak rambutnya bergerak meliar diterbangkan angin. Air mata kembali meluruh ketika ia mengerjap guna menatap Andrew lebih dalam. Andrew bergerak cepat, mendorong Jemima hingga menempel tempat penyimpanan air di belakangnya. Jemima meringis ketika merasa cengkeraman Andrew pada bahunya mengerat. “Aku pencemburu, penguntit, kasar. Absen terus keburukanku. Orang memang paling bisa menjelekkan orang lain tanpa melihat keburukkannya sendiri.” Suara dingin nan rendah  Andrew tidak sedikitpun membuat Jemima goyah. Ia dengan beraninya menatap balik mata Andrew yang berapi-api. “Katakan apa salahku yang---aw! Le ... pas!” Jemima berusaha mendorong d**a Andrew. Lelaki itu secara kasar dan tiba-tiba menerjang bibir Jemima. Ia menggigit cukup keras bibir Jemima ketika wanita itu merapatkan bibirnya. Jemima mengaduh, memukul-mukul Andrew dengan tenaganya yang tak seberapa. Jemima tidak diberi celah untuk bernapas. Air matanya terasa kering, bahkan isakan pun enggan lolos dari bibirnya yang sedikit berdarah. Ini sungguh menyakitkan! Siapa pun, tolong aku, batin Jemima.  Andrew baru menyudahi aksi gilanya ketika Jemima melayangkan tamparan. Keras. Emosi Jemima di ubun-ubun. “Enyah kau dari hadapanku!” Jemima menjerit. Meronta-ronta seperti orang kesetanan. Andrew mencoba tidak peduli, tapi ketika matanya melirik pinggiran atap gedung, hatinya goyah. Sedikit. Jemima kacau, dan apa pun bisa ia lakukan. “Kubilang pergi!” raung Jemima, lebih bertenaga. Andrew geming seberapa jeda sebelum memutuskan meninggalkan Jemima dengan kekesalan yang melanda. Lelaki itu sama kecewanya, dan ia merasa, itu hukuman yang pantas untuk Jemima.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN