“Anda betulan tak mengenal saya? Dulu saya sponsor model tempat Anda bekerja, lho. Saya tidak menyangka Anda sekarang bekerja kantoran. Waktu itu Anda hilang kabar tiba-tiba di dunia permodelan,” cerocos Elias.
“Astaga, Pak Elias yang sempat berpacaran dengan tetangga saya? Pantas saja nama dan wajah Anda terasa familier,” kejut Jemima, berdeham, “terkait tidak lanjutnya saya di dunia model bukan karena tiba-tiba, Pak. Dulu saya sakit-sakitan karena terlalu lelah dengan jadwal pemotretan. Dengan terpaksa saya mundur. Tapi, selama kosong itu, saya melanjutkan kuliah,” terang Jemima, merasa perlu menjelaskan fakta kepada Elias.
“Omong-omong, tentangga Anda yang menjadi istri saya.”
“Begitukah? Saya tidak menghadiri pernikaan bapak. Mohon maaf sekali.”
“Tidak masalah,” kekeh Elias.
Kaku yang Jemima rasai sebelumnya meluruh perlahan. Elias bukan seperti apa yang ia bayangkan. Mereka mengobrol banyak, acak. Mereka selayaknya kawan akrab. Padahal sebelumnya tidak pernah ada percakapan sehangat ini sebelumnya di antara Elias dan Jemima.
* * *
Betty memberondong Jemima dengan banyak pertanyaan terkait Elias setelah melihat keakraban di kantin siang tadi. “Jemima, jawab!” desaknya, gemas.
Jemima membiarkan Betty membuntutinya ke dapur kantor. Ketika ia menyeduh kopi instan pun, Betty masih di kusen pintu. Memangku tangan di depan d**a sembari memperhatikan Jemima. “Satu-satu. Aku pusing menjawabnya jika kau tidak santai begitu.”
Betty mendekati meja di ruangan itu. Duduk. Memangku dagu. “Pertama, kenapa tidak mengatakan kalau kau mengenal pak ... ah, siapa namanya tadi?”
“Elias.”
“Ya, Elias.”
“Awalnya aku tidak mengira kalau dia Elias yang aku kenal. Perubahannya begitu banyak.” Jemima mendekati Betty. Suaranya merendah, “Dulu dia berjerawat.”
Betty tertegun beberapa waktu. “Apa dia operasi plastik?”
Jemima menarik tubuhnya, menyandarkan tubuh pada lemari makanan di belakang tubuh. “Entahlah, aku tidak begitu yakin. Mungkin ya, mungkin juga tidak. Kau akan lebih kaget jika aku memperlihatkan fotonya waktu dulu. Sayangnya aku tidak menyimpan foto lelaki selain Andrew.”
“Duh, aku jadi tidak tertarik dengannya lagi. Tapi, jawab pertanyaan ini. Apakah dia sudah memiliki kekasih?” Betty berlagak malas, tapi riak matanya berkata lain.
“Dia sudah beristri. Mereka sudah lama berpacaran sebelum Elias sekeren sekarang ini.” Jemima mengajak Betty ke luar ruangan dengan gestur tubuhnya.
“Kurasa mereka memang ditakdirkan bersama. Si wanita telah menemani pria dari nol. Itu luar biasa,” komentar Betty ketika mereka sampai di bangsal Jemima.
“Eh, sudah tahu informasi? Tampaknya besok perusahaan akan libur. Kudengar karena Pak Bos sedang berbaik hati saja, tidak ada alasan khusus,” tambah Betty.
“Ah, semoga betulan. Aku ingin menghabiskan hari dengan memanjakan diri.” Jemima merentangkan kedua tangannya ke atas. Bayang-bayang kenikmatan: selimut ditambah kasur ditambah novel membuatnya hilang akal.
Maka benar saja. Sebelum pegawai dipulangkan, pengeras suara pada sudut-sudut ruangan menginformasikan hal serupa. Libur secara percuma. Siapa yang tidak girang?
“Ah, padahal aku sangat suka bekerja. Di rumah tidak ada kerjaan.” Sayup-sayup suara seorang wanita memasuki rungu Jemima. Dalam benak ia meralat ucapan. Tidak semua orang menyukai liburan. Tapi, benarkah? Itu salah satu hal mengerikan yang Jemima dengar.
“Pulang bersama Andrew?” Jemima mendongak ke samping. Ia hampir lupa tengah bersisian dengan Jovic di pintu ke luar. Betty telah pulang duluan. Alasannya selalu sama, karena mengurus sang ibu yang tengah sakit keras. Ah, kapan-kapan Jemima harus menengok Ibu Betty.
“Iya, dia sedang di perjalanan,” balas Jemima.
“Besok mau ke luar bersamaku?” tawar Andrew. “Mengikis penat saja, mumpung diberi libur.”
“Sayangnya aku sudah memiliki acara. Maaf ya.” Jemima menyatukan kedua telapak tangannya di depan d**a.
Bagi Jovic, acara itu adalah: Jemima diperintahkan Andrew untuk tidak dekat-dekat dengannya. “Apa kau akan pergi bersama kekasihmu?”
Jemima tidak cepat membalas. Entah kenapa, saat Jovic menyebut Andrew kekasihnya, suduh hati Jemima terasa tak enak kepada Jovic. “Tidak juga.”
Mobil hitam melintas. Klaksonnya dibunyikan dua kali sebelum pengemudi menurunkan kaca. “Jemima, ayo!”
“Aku duluan, ya, Jovic.”
Tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Jovic geming di tempat.
Sementara itu mobil Andrew telah membelah jalanan New York. Lampu-lampu jalan telah dinyalakan.
Sore hamper habis. Andrew tidak banyak berbicara. Ia tampak terburu. Sepertinya ada pekerjaan. Jemima merasa seluruh tubuhnya lelah, jadi ia malas bertanya. Hanya jemari mereka yang saling mendekap yang berbicara. Remas dan elus. Hingga sampai di kediaman Jemima, barulah perempuan itu berujar, “Terima kasih telah mengantarkanku pulang, An. Kalau kau sedang ada pekerjaan penting, kabari saja. Biar aku pulang dengan taksi.”
“Kau pengertian sekali. Tapi tak masalah. Aku suka mengantar jemputmu.”
Setelah mencium kening Jemima cukup lama, Andrew kembali melajukan mobilnya. Jemima merasa lega. Akhirnya puulang juga.
Pada keesokan harinya, pagi cerah dengan langit yang dipenuhi gumpalan awan gemuk, Jemima merendam diri dengan air hangat. Aromaterapi ia simpan di penjuru rumah. Lulur tubuh telah ia pakai. Ia sengaja memasak. Membuat makaroni dan omelet dengan variasi yang berbeda. Rasanya enak, tidak seburuk yang Jemima bayangkan. Andrew pun sudah menelepon. Jemima memberitahukan kegiatannya hari itu yang membuat Andrew terkekeh. Ketika membuka paket buku novel dewasa yang ia pesan di internet minggu lalu, bel apartemen membuatnya mendesah panjang. “Siapa yang menganggu surga dunia yang kubuat?” geramnya.
Jovic menyembulkan kepala ketika Jemima membuka pintu. Hendak menggerutu, suaranya seolah lenyap di ujung tenggorokan. Seorang wanita setengah baya, berpakaian anggun dan cantik luar biasa, menggoyang-goyangkan tangannya ke arah Jemima.
“Mama!” Jemima memeluk wanita itu erat.
“Sudah lama aku tidak melihatmu, Jemima.” Adalah Luna, ibu Jovic yang sudah ia anggap sebagai ibunya. Mereka begitu akrab.
“Mamaku ingin berjalan-jalan setelah pulang dari Inggris. Biar tambah ramai, kami mengajakmu,” terang Jovic. Kedua perempuan itu mengurai pelukan, tapi lengan Jemima masih betah di bahu Luna.
“Bagaiman, apakah kau mau?” tanya Luna. Binar harap yang wanita itu tunjukkan membuat Jemima tak kuasa menolak.
“Tentu saja!” girang Jemima. “Ayo, masuk dulu. Aku akan mengganti baju.”
Tak berapa lama, setelah Jemima siap dengan dres selututnya, mereka melesat menuju salah satu pusat perbelanjaan di New York. Luna duduk di kursi penumpang belakang bersama Jemima sedang Jovic ditempatkan sebagai supir. Lelaki itu tampak senang, tidak keberatan sama sekali.
“Biasa,” kekeh Luna ketika keluar dari mobil.
Luna masih sama seperti dulu. Mencari udara menurutnya adalah berbelanja. Sejak SD, Jemima senang jika diajak ke mana pun oleh Luna. Semua yang ia mau akan diberikan. Es krim, kertas gambar, krayon, boneka, lain-lain. Sedang hadirnya Jemima membuat Luna seperti mempuyai anak perempuan.
”Apa kau masih suka makan Indomie?” tanya Luna ketika mereka memasuki Prada.
Jemima terkekeh kecil. “Tentu saja. Pertama kali aku memakannya saat kecil dulu bersamamu.”
Luna ikut tertawa. Memorinya memutar ke beberapa tahun silam. Anak sekolah dasar tengah berteriak-teriak di dalam rumahnya memanggil Jovic. Kala itu Luna tengah di dapur. Anak itu, Jemima, menghampirinya. Itulah kali pertama Jemima melihat dan merasai Indomie. “Aku penasaran, kemudian membelinya di internet,” ungkap Luna.
Jovic melarikan diri ke kamar mandi. Katanya ada panggilan alam yang amat membuat perutnya mulas. Jemima dan Luna hanya tertawa melihat Jovic yang terbirit-b***t.
“Ini cantik sekali.” Luna menjumput sehelai kain Indian. Coraknya aneh, namun itu nilai estetika yang tidak Jemima mengerti.
“Memangnya akan kau gunakan untuk apa?” Jemima ikut meraba-raba kain. Halus.
Luna mengedik. Mengembalikan kain ke tempat semula. “Tidak untuk apa-apa. Lain kali saja.”
Kedua wanita berbeda generasi itu lanjut ke toko pakaian yang lain. Beragam model dan harga. Luna sekalian membeli kado untuk temannya saja nanti malam. Jemima menawarkan salah satu baju anggun selutut. Cocok untuk Luna atau dikadokan, Jemima rasa. “Dia akan terlihat lebih muda jika memakai ini,” komentar Luna, mencebikkan bibirnya takjub. “Aku ambil.”
Jovic menelepon Jemima menanyakan lokasi mereka. Tak berapa lama lelaki itu datang dengan wajah yang luar biasa lega. Seperti dia baru saja menurunkan berton-ton beban dari bahunya. Atau tampang penjaga pantai yang baru saja menyelamatkan nyawa pengunjung yang hampir tenggelam karena keram di laut.
“Kenapa kalian lama sekali, tapi yang dibeli baru satu baju?” heran Jovic, melirik tentengan di tangan Jemima.
“Perempuan memang begini,” balas Luna. Jovic menghela pasrah ketika Jemima kembali menyeret paksa tangannya sebab Luna telah melangkah beberapa meter di depan mereka.
“Ibuku masih kuat untuk hal begini.” Jovic meradang.
Dua jam berlalu. Nyatanya setelah ikut dalam obrolan perempuan yang bisa Jovic imbangi, lelaki itu menelan bosan. Ia tahu acara ini bakal berjalan dengan mengasyikan. Dirasa perus perlu diisi, ketiganya memasuki salah satu restoran Prancis. Atas rekomendasi Luna. Sudah lama ia tidak makan masakan Prancis.
“Jovic bilang kalian sekantor sekarang.” Luna membuka obrolan sedetik setelah pelayan meninggalkan meja.
Kedua muda-mudi di depannya mengangguk dan berkata “iya” secara serempak. Jovic melanjutkan, “Awalnya aku tidak menyangka. Melihat Jemima seperti mimpi.” Jemima mengangguk membenarkan.
“Kalian serasi sekali,” celetuk Luna. Naif benar jika ia tidak menginginkan Jemima sebagai menantu.
“Kami sudah berteman sejak sekolah dasar, bagaimana tidak serasi dan kompak?” sela Jemima. Bukan itu maksud Luna. Hendak menyanggah, tapi melihat cincin yang tersemat di jari manis Jemima membuat Luna terperangah.
“Kau sudah menikah?” Luna tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Lengan kurus wanita itu meraih jemari Jemima yang tersemat cincin. Indah.
“Belum. Ini cincin pertunangan,” aku Jemima.
“Berapa lama aku pergi hingga tidak tahu apa-aoa tentangmu?” Luna menggelengkan kepalanya. Menaruh balik tangan Jemima, tapi tidak melepaskan dangkapan. “Kita sudah lama tidak berkomunikasi.”
Tiba-tiba ponsel Luna berdering. Suara di sambungan tampak tergesa-gesa. Menyuruh Luna segera datang ke salah satu tempat yang Jemima baru dengar namanya.
“Anak-anak, aku minta maaf. Malam ini akan ada pesta kejutan untuk temanku, tapi kami belum menyiapkannya. Aku harus segera pergi. Apakah kalian tidak keberatan?”
Hendak memprotes pun tidak bisa, karena setelah Luna mencium pipi kiri Jemima, wanita itu segera berbalik badan meninggalkan restoran. Tak lama kemudian makanan datang.
“Maafkan Mama. Dia akhir-akhir ini menjadi sedikit pelupa,” ringis Jovic. Jemima tidak masalah. Lagi pula, aroma makanan di atas meja menusuk-nusuk penciumannya. Tampak lezat.
“Kalau kau ingin pulang juga, ayo,” tawar Jovic. Jemima buru-buru menggeleng.
“Sungguh, tidak perlu. Sayang sekali kalau kenikmatan makanan ini tidak kita rasai dulu.” Perempuan itu menyambar sendok dan garpu.
Jovic merasa tak habis pikir dengan Jemima. Perempuan itu benar-benar ajaib. “Lekali itu ingin membahas perkataan Luna terkait kesukaannya pada Jemima, tetapi ia tidak mau merusak suasana yang tercipta.
“Apa Mama ke sini karena akan membuat pesta kejutan untuk temannya saja?”tanya Jemima, penasaran, ketika sesi makan sudah berakhir.
Jovic mengangguk. “Kurasa itu teman baik Mama. Entahlah.”
“Mamamu begitu ajaib,” celetuk Jemima.
“Kau juga,” sambar Jovic. Jemima menggelenyar samar.
Perempuan itu tertawa kering. “Kau bisa-bisa saja.”
“Kalian yang bisa-bisa saja,” timpal suara lain. Keduanya serempak menoleh.
“Andrew?” Jemima terkejut, begitupun Jovic. Oh, ayolah. Ini bukan saat yang tepat. Haruskan Andrew melihat mereka makan bersama dan menaruh curiga lagi?