Bab 9

1854 Kata
Jemima betul-betul tak enak hati dengan perlakuan Ruth kepada Andrew. Segala sesuatu telah ia lakukan, tetapi ibunya itu secara terang-terangan tidak menyukai calon suaminya. “Tidak masalah. Aku sudah terbiasa menghadapi ibumu.” Andrew tersenyum. Rupanya lelaki itu bisa melihat gelagat Jemima yang sera salah. Jemima ingin fokus pada kegiatan kali ini. Maka ia segera mengalihkan pembicaraan. “Aku suka dengan pakaian ini.” Ia mundur selangkah, memutar tubuhnya perlahan. Gaun sewarna putih gading itu terkembang sempurna. Jemima laksana putri dari kerajaan dongeng. Pendaran matanya menyiratkan kegembiraan yang tak tertakar. Semua itu karena Andrew, batin Jemima. Menggumam kata “luar biasa” beberapa kali menunjukkan bahwa Andrew begitu terpana akan kecantikan Jemima. Semua yang gadisnya miliki adalah keindahan Sang Pencipta. Tubuh rampingnya, mata indahnya, semua Andrew suka. Rambut emas kecokelatan Jemima bergoyang ke sana-kemari, seirama dengan gerakan anggun tubuhnya. “Betapa Tuhan sangat teliti saat menciptakanmu,” bisik Andrew, melenggang ke arah Jemima. Mereka berhadapan seolah akan berciuman, tapi tidak. Jemima mengalungkan lengannya pada leher Andrew ketika pria itu memeluk pinggangnya. “Kupikir juga begitu. Kau sangat cocok menggunakan gaun ini.” Ketika jeda mengisi kekosong udara, Andrew kembali bersuara. “Pilihanku selalu tepat, termasuk memilihmu sebagai pendamping hidupku.” Tak lebih remaja sekolah menengah yang serba bingung ketika dijejali ucapan manis, Jemima menggigit bibir bagian dalamnya dengan gemas menampiaskan jerit. Tak kuasa lagi melihat Andrew yang hendak meledek, perempuan jelita itu menyembunyikan semburat merah di pipinya dengan kedua telapak tangan. Andrew tertawa-tawa senang sedang Jemima kian tersipu. Kekeh Andrew serupa alunan alam yang menenangkan. Seperti suara dari surge yang menjanjkan kedamaian. Pun selembut sutera termahal yang pernah ada. Jemima mendapati dirinya seolah akan terbang sebab telapak kakinya tidak menapaki tanah.   “Andrew! Kenapa kau mengangkatku?” jeritnya histeris. Tubuh Andrew memutar laksana penari sufi. Membawa serta Jemima dalam keterkejutan dan keceriaan yang tak terperi. Raung ngeri berganti menjadi tawa penghangat hati. Andrew selalu berhasil mengalihkan dunia Jemima. Seolah hidup milik berdua. Tak peduli pada pekerja butik yang tersenyum-senyum geli. Begitulah perangai sepasang manusia yang saling mencinta dan mengasihi.   Sejoli itu masih tertawa, memegangi perut masing-masing lantaran keram. Menggelitik sekali. “Mari kita makan,” ajak Andrew. Tanpa membuang waktu, mereka mengganti baju, melakukan transaksi akhir, dan pergi ke salah satu restoran kenamaan di New York.     Indonesian Food. Begitulah nama restoran yang mereka sambangi. Macam-macam makanan Asia telah mengisi penuh meja Andrew dan Jemima. Salah satunya, yang paling Jemima ingat, makanan unik yang bernama gado-gado. Menyebutkannya saja membuat lidah Jemima berkelit-kelit. Sedangkan Andrew yang menertawai sama halnya dengan Jemima. Pengucapan nama makanan yang mereka makan kali ini membuatnya gemas.   “Ini tempe oreg, Tuan,” kata pelayan laki-laki bermata bulat dan bertubuh pendek ketika Andrew menunjuk salah satu makanan di atas meja. Awalnya ia mengira itu makaroni namun dengan cara pemasakan yang berbeda. Jemima yang merasa asing dengan kata “tempe” hanya mengangguk. Melihat pelanggannya yang saling menatap---bisa jadi tengah memikirkan bagaimana keanehan rasa masakan itu bila bertemu dengan lidah mereka, pria yang memiliki senyum amat lebar itu berujar, “Kedelai adalah bahan dasar pembuatan tempe. Dijamin kalian akan merasakan sensasi baru yang menggairahkan.” Dia mengangkat kedua jempolnya sebelum mempersilakan Andrew dan Jemima, lalu melangkah meninggalkan meja.   “Setelah tahu bahan dasarnya, kedengarannya tidak buruk juga,” komentar Jemima, menusuk-nusuk tempe oreg menggunakan garpunya. Andrew mengangguk setuju.   Jeda cukup lama ketika mereka fokus pada makanannya. Alunan musik mendayu memenuhi ruangan. Orang sana-sini saling berpasangan, atau tampaknya, memang restoran  itu diperuntukkan buat sepasang kekasih.   “Nah, sudah sampai mana persiapan acara pernikahan kita?” tanya Jemima ketika makanannya habis tak bersisa. Ia menyempatkan diri memuji masakan yang baru saja masuk ke lambungnya. “Ini enak. Awalnya memang terasa sedikit aneh, tapi setelah beberapa sendok, lidahku tidak menolaknya.” Andrew mengangguk semangat. Penuturan Jemima mewakili perasaannya.   Lantas, Andrew menjawab pertanyaan pertama, “Mungkin 60%. Undangan sudah selesai cetak, baju pengantik sudah kita cari, terus ....” Andrew mengorek ingatannya. “Oh, cincin sudah ada. Tinggal foto pranikah dan acara pernikahan itu sendiri.”   Jemima ternganga. “Terasa cepat sekali, ya,” bisiknya.   Andrew mengedik. “Mungkin karena kita sudah tidak sabar.”   Setelah tawanya mereda, Jemima berkata, “Terkait foto pranikah, kau sudah punya tema?”   Andrew kontan menggeleh, menimbulkan desahan malas dari bibir seksi Jemima. “Aku serahkan padamu saja,” kata Andrew. “Apa pun maumu akan aku kabulkan. Kau ingin melakukan sesi foto di ruangan tertutup dengan bertelanjang bersamaku, akan aku wujudkan,” katanya usil.   Jemima menjewer daun telinga Andrew dengan gemas Tapi kemudian, ucapan Jemima membuat Andrew terkaget-kaget. “Kedengarannya asik juga.”   “Enak saja!” bantah Andrew, “tidak boleh ada yang melihat tubuhmu selain aku!”   Jemima dapat menduga tanggapan Andrew atas ucapannya. Pria itu menambahkan, “Aku lebih setuju jika kita mengambil tema keagamaan. Kau akan mengenakan pakaian biarawati yang tertutup. Atau tema luar angkasa, ya, itu keren. Kita akan memakai baju astronot.”     “Aku yang akan memakai baju astronot. Kau mengenakan pakaian seperti alien. Kurasa itu unik,” sela Jemima.   Bukannya menolak, Andrew malah mengangguk setuju dengan girang. “Luar biasa.”   Malam itu, di dalam ruangan berkubah yang menyajikan makanan unik serta musik mendayu yang begitu romantis, Andrew dan Jemima saling menggenggam. Harapan terlahir dari sulur-sulur ucapan. “Aku akan membahagiakanmu, Jemima. Aku berjanji.” Hati mereka saling terpatri. Andrew tahu betul dengan ucapannya. Jemima yakin sekali dengan hatinya yang merekah.   * * *   Hari berganti. Kini, Jemima telah kembali bekerja. Ia mengenakan rok pendek bervolume warna hitam serta kemeja keluaran Gucci berwarna salem. Rambutnya yang berwarna emas kecokelatan ia ikat satu, seolah memamerkan leher putih nan mulus kepada para “singa lapar”.   “Selamat pagi, Jemima,” sapa Betty ketika Jemima menghempaskan bokongnya pada kursi kerja. Wanita itu menggulung rambut cokelatnya sebagaimana biasa. Dengan gerakan lambat, ia mendudukkan diri di meja Jemima. “Katakan, apa yang membuatmu tersenyum-senyum seperti orang gila tadi?”   “Tadi?” beo Jemima. Perempuan itu terbelalak samar dan berdeham, “Aku selalu tersenyum setiap saat,” sangkalnya.   “Begitukan?” Betty curiga. Badannya mencondong ke arah Jemima. Bila dilihat, mereka tampak seperti tengah berciuman. Sebelum menimbulkan gosip yang tidak enak di telinga, Jemima mendorong kedua bahu Betty dengan tangannya. “Itu senyuman yang berbeda,” tambah Betty.   “Baiklah, baiklah,” pasrah Jemima. “Kemarin malam Andrew berjanji akan membahagiakanku. Kau tahu? Ucapannya sangat meyakinkan.”   “Tidak ada ragu lagi?”   Jemima tidak tahu kenapa Betty bisa berpendapat demikian. Mungkin karena sering bersama Jemima, dan Betty memiliki kelebihan dalam membaca perilaku manusia, anggapan itu hadir di dalam benaknya. Jemima berujar, “Masih ada,” jedanya beberapa menit, “tapi sedikit. Tidak seragu sebelumnya.”   “Kau harus tahu itu adalah salah satu ujian pernikahan. Di mana kau merasa semua lelaki menyukaimu, Andrew yang terkadang sedikit cuek dan seolah mengekang, hari pernikahan yang terasa begitu cepat, dan ... ada fase di mana kau merasa bosan dengan pasanganmu,” cerocos Betty. Jemima membungkan penuh bibir seksinya. Merasa sedikit takjub dengan Betty dan segala tebakannya yang tepat sasaran.   “Kau ....” Jemima tak bisa berkata-kata selain mengerjapkan matanya berulang kali. Setelah mengeluarkan desahan panjang yang sedari tadi mengganjal di kerongkongannya, Jemima menatap Betty dengan sorot yang penuh tanya. “Menurutmu, bagaimana perangainya Andrew ini?”   Senyuman kecil yang Betty lemparkan membuat Jemima menunggu-nunggu dalam kegelisahan. “Jemima, kau yang lebih tahu tentang calon suamimu itu. Aku hanya bertemu sekali dengannya. Mengobrol pun tidak. Sekadar kenal nama.”   “Kau bisa menilainya dari apa yang aku ceritakan.”   “Tidak semudah itu. Aku hanya ingin mengatakan, tampaknya Andrew ini betul-betul tulus dan serius kepadamu. Selebihnya biarkan hati dan logikamu yang memberi tahu. Tentang rasa dan segala pertimbangannya. Melangsungkan pernikahan dan membangun keluarga bukan saja perihal cinta,” jelas Betty.   Perempuan bersurai cokelat itu melanjutkan, “Akan kuceritakan pengalamanku. Aku menikah dengan mantan suamiku tanpa persetujuan orang tua. Beralaskan cinta dan kepercayaan belaka aku gantungkan hidupku padanya. Di awal hanya ada suka yang kami jumpai, apalagi sebelum menikah, tak jauh beda denganmu saat ini. Kata-katanya sehangat mentari pagi, membawaku ke surga yang kuimpi. Namun kemudian, semua itu terhanyut oleh waktu. Cintanya tak sekekal yang kukira. Janjinya tak seindah malam pertama. Dan pada akhirnya dia meninggalkanku entah ke mana rimbanya. Secara teknis aku belum bisa disebut janda,” aku Betty, tersenyum miris.   Jemima merenung. Akankah Andrew? Sebelum beropini liar, Betty tambah ucapannya, “Tapi nasib siapa yang tahu, bukan? Apa yang terjadi padaku, semoga tidak terjadi padamu. Tidak semua lelaki sebajingan suamiku. Maaf membuatmu gundah, Jemima. Aku hanya ingin berbagi keluh setelah sekian lama hanya memendamnya seorang diri.”   Jemima merasa simpati. Dengan sekali tarikan, ia mendekap temannya itu. Betty menggigit bibir bagian bawah menahan air mata, tapi tidak berhasil. Emosinya yang selama ini terkurung di dalam sangkar meluap. Jemima merasakan bahunya basah. Perempuan itu mengelus punggung Betty. Membuat Betty merasa lebih baik setelahnya. Pelukan adalah obat dari segala obat yang sulit dideskripsikan.   “Mau aku buatkan kopi?” tawar Jemima ketika Betty mengurai pelukan. Perempuan itu menghapus bekas air matanya, lalu mengangguk seraya tersenyum hangat kepada Jemima. Betty sudah menganggap Jemima lebih dari rekan kerja. Perempuan jelita itu selayaknya adik bagi Betty.   * * *   Betty tengah pergi ke toilet ketika Jemima menyembulkan diri ke bilik bangsalnya. Ia meninggalkan pesan agar Jemima pergi duluan, karena Betty tidak berniat untuk makan siang. Maka dari itu, setelah mengecek riasan wajahnya pada cermin kecil penutup bedak, Jemima pergi ke kafetaria seorang diri. Pada pertemuan lorong di lantai yang sama, selusin pria berdasi membuatnya terperangah. Barusan pikiran Jemima tengah melayang ke antah-berantah, sedang tidak fokus. Lelaki paling depan, yang Jemima lihat beberapa hari yang lalu, menghentikan langkah beberapa meter di tempat yang Jemima pijak. Otomatis antek-anteknya ikut berhenti. Jemima merasa takjub dalam hati.   “Oh, Si Nona Melamun itu rupanya,” ujarnya kepada Jemima seolah mereka adalah sepasang manusia yang saling mengenal. Dia menghalau udara. Lantas serupa anjing yang seyogianya mematuhi majikan, selusin pria yang mengawalnya meninggalkan mereka berdua.   “Melamun itu tidak baik. Kau barusan saja hampir menabrak salah satu orangku.”   “Maafkan saya, Pak.”   “Elias Flinn.” Jemima mengernyitkan alis seolah mengingat sesuatu. Elias ... nama yang tak asing. Tapi, di mana ia pernah mendengar itu?     “Siapa namamu, Nona?”   “Jemima Copper.”   “Baiklah, Nona Copper. Sebetulnya saya sedang mencari kaferia. Bisakah Anda memberi tahu di mana letaknya? Jika bisa, mari makan bersama sekalian.”   Jemima tidak tahu manusia jenis apa Elias ini. Tak mampu menolak sebab pria itu adalah rekan bisnis perusahaan tempatnya bekerja dan tidak mau memberikan citra buruk, Jemima berujar seraya tersenyum seprofesional mungkin. “Mari lewat sini, Pak.” Jemima berjalan duluan, membimbing Elias menuju kafetaria. Perempuan itu merasa seperti maps penunjuk arah, dan Elias adalah pria penuh intimidasi yang tatapannya terasa menusuk punggung Jemima.   Mereka mengisi meja kosong yang ada. Jemima menawarkan diri untuk memesankan Elias makanan, tetapi pria itu menolak dan merogoh sakunya untuk menelepon seseorang. Tak berapa lama kemudian berbagai macam makanan berat mengisi kekosong meja mereka.   “Aku tidak bermaksud apa pun jika itu yang ada dalam pikiranmu,” kata Elias tiba-tiba. Gerakan tubuh Jemima yang duduk tidak tenang pada kursinya membuat Elias sedikit heran. Jemima tersenyum kikuk. Ia merasa seperti maling kelas teri yang ketahuan mengambil pakaian dalam salah satu warga perkampungan padat.   “Sudah berapa lama kau bekerja di sini?” Elias membuka suara ketika sesi makan telah berakhir.   “Kurang lebih 3 tahunan,” balas Jemima setelah menjeda beberapa detik.   “Cukup lama juga,” komentar Elias. “Apakah kau pernah menjadi model sebelumnya? Aku merasa tidak asing dengan wajahmu.”   Jemima mengangguk ragu. “Betul, Pak. Dulu sekali waktusaya masih sekolah menengah.”   Elias mengguman kata “oh” begitu panjang. “Jangan tegang begitu, Nona Copper. Saya hanya bertanya, tidak macam-macam.” Pria itu tertawa kecil. Jemima terpana beberapa saat.   “Gelagat Anda membuat saya merasa seperti penjahat kelamin yang tengah mencari target,” opini Elias. Rupanya Jemima masih tegang. Bagaimana tidak? Ia duduk bersama pria setampan dewa Yunani dalam cerita fiksi sejarah. Belum lagi tatapan tanya pengunjung kafetaria yang membuatnya berkali-kali menelan ludah. “Lagi pula aku sudah beristri,” lanjut Elias.    Oh, Jemima telah mencurigai orang yang salah. Pikirannya tiba-tiba menyangkutpautkan sesuatu. Terkait: apakah kecurigaan Jemima terhadap ibunya yang tidak menyukai Andrew hanya argumen lemahnya belaka?      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN