BAB. 4. CARI SEGERA! (bagian 1)

1517 Kata
Seikat mawar merah.   Xheira menatap buket bunga itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Perasaan itu semakin kuat beradu kacau, setelah ia membaca pesan yang tertulis di buket bunga itu. Rasa tersanjung sekaligus terancam. Gembira, tapi takut setengah mati. Kapan kita mulai perburuan Hiu ? aku tak sabar lagi menyelam bersamamu.                                              Zhorak “Oh Tuhan, bagaimana ini?” kata Xheira lirih. Menatap pantulan dirinya pada dinding kaca yang sekaligus berfungsi sebagai jendela di HYDROMATIK. Xheira mendapati dirinya bingung, matanya jauh menerawang ke dalam laut, menembus bayangan dirinya. Melihat Hiu yang kebetulan melintas dan bergerak lincah. Memperlihatkan keangkerannya di dalam kegelapan laut. HIU. Sebuah kebetulan yang tepat.  Seikat mawar merah. Seekor Hiu yang kesepian.            Jinggle Supertele menyala, tanda seseorang menghubunginya. “Tap.” Layar monitor pun menyala. Terlihat wajah Zhorak yang cerah. “Hallo.”             “Ya, bunganya sudah aku terima, terima kasih banyak, tuan.” Kata Xheira tanpa semangat.            “Syukurlah. Apa Kamu juga sudah lihath  Hiunya?”  Zhorak terlihat duduk dengan santai diatas kursi putarnya.            “Yap.” Xheira melirik ke arah luar. Apa dia (hiu itu), kau juga yang mengirimnya?            “Lihath mathanya! Sepherthinya dia sedang menanthang kitha.” Zhorak mencondongkan tubuhnya. Suaranya berdesis. Dia bersorak girang dapat melihat Hiu di belakang Xheira melalui monitor.            Xheira menelan ludah. Mata Xheira mencoba melihat mata Hiu. Itu! Itu matanya! Dan seringainya yang seolah memberi tahu bahwa gigi gigi yang taring semua itu  masih lengkap dan selalu siap. Hiiii            “Ba... bagaimana kau tahu Hiu itu ada di depan kamarku?”            “Supherthelemu menyamphaikan gambarnya ke sini (bodoh!).”            “Ah!”            “Kaphan kitha mulai lathihan?” tanya Zhorak.            “Latihan?” Xheira memandang Zhorak tak mengerti.      “Kitha thak mau mathi konyol bukan?” tanya Zhorak             tentu saja…. Melihat Hiu itu saja aku sudah terkencing-kencing, ZHORAK, beginikah caramu *bernostalgia*?!      “Phihak HYDROMAThIK memberikan phelathihan khusus phada phesertta phrogram ini. Wakthunya sangath fleksibel. Jadi kau thak bisa berkelih dengan jadwalmu yang sok phadath. Athau aku akan menunthuth phihak managemen bila kau menolak.”            “Menuntut? bagaimana mungkin?” Ugh, apa dia telah berhasil menjebakku?,  entah sudah berapa kali sudah Xheira menelan ludahnya.            “Athas pheniphuan phenjualan phrogram.” Kata Zhorak serius. Kau tak akan bisa menolaknya, baby.            “Oh… kamu…” tangan Xheira mengepal tangannya.     “Huehehehehe… kau lihath, segalanya selalu mungkin unthukku?” Zhorak menyeringai culas.            “Hgggrrrr…” suara Xheira terdengar kesal. Buket bunganya ia lempar ke arah monitor.        “UPS! Waaauwww… inikah marahmu, Xheira? Mana sophan santhunmu?” kata Zhorak tambah tertawa. Oh, kau semakin menggemaskan bila garang sepherthi ithu…. Hgggrrrhhh… Kau sangath berbeda dengan phara lady Zirac yang sangath menjaga kesophanan. Yaaah… thenthu saja kau kan bukan salah sathu dari kami !            “Oke! Hari ini kamu libur, kan? Aku thunggu di rluang vakum yah!” kata Zhorak menutup pembicaraan tanpa menunggu Xheira membantah.            “Bip!”            Xheira menatap hampa monitor gelap.            “Bagus! Selamat datang kesengsaraan…” keluh Xheira membanting dirinya dan mengambil bantal mungilnya. Terbayang sudah penderitaannya menghadapi si Kunyuk nan tampan bermata indah. Bayangannya kembali mengingat hari-harinya sebagai b***k saat mereka masih kanak-kanak. Yayayayaya, Zhorak memang menyebalkan, menggemaskan, menakutkan dan di atas semua hal yang membuat Xheira enek, Xheira sadar bahwa si tampan itu sangat memikatnya.            Xheira melirik ke luar lagi. Hiu itu masih menari-nari dan dia berulang kali menabrak dinding jendela HYDROMATIK. Tepatnya jendela kamar Xheira. Xheira mendekati jendela itu sambil memeluk bantal mungilnya. Dia menatap aneh si Hiu.            Ya Tuhan! Sepertinya dia sudah tak sabar untuk mengoyak tubuhku! ***             Perburuan.    Tubuhnya kembali panas. Tenggorokannya seperti terbakar. Sepertinya semua cairan tubuhnya telah habis menguap. Rasa haus yang menggila itu kembali datang dan membuatnya nekad ke luar dari persembunyian. Air! Air! Air! Hanya itu yang ada dalam benaknya. Dia berjalan mengendap. Tapi cahaya matahari imitasi yang sedang bersinar menyadarkannya untuk lebih berhati-hati.                        “Bip. Kran 1! Kran 1!” panggilan minisupertele Kaila mengecek Zyeko yang memantau lewat monitor di kamar mereka.            “Kosong.” Kata Zyeko.            “Kran 2?” tanya Kaila.            “Kosong.” Jawab Zyeko lagi sambil mengunyah batang karbohidrat padat..            “Kran 4 , kran 5 juga kosong.” Kata Zyeko menambahkan.            “Eh… kran 4! Kran 4! Aku tadi melihat bayangannya…” Zyeko langsung berdiri begitu melihat bayangan berjubah mendekati kran.            “Nato!” seru Kaila-Zyeko hampir bersamaan.            “Siap!” Nato yang berada di departemen hortikultura, beranjak dari duduknya. Berlagak jalan biasa. Bergegas. Berlari.            Ya! Bayangan itu ada di sana! Ingin sekali Nato berteriak ‘Tunggu!’ tapi dia ingat dengan pesan Kaila untuk tak membuat keributan. Sama sekali tak boleh ada keributan! Karena keributan ini hanya akan menimbulkan kepanikan seisi HYDROMATIK ini.            Sialan! Pihak HYDROMATIK sedang mengadakan karnaval kostum.            Barisan marching band dengan jumlah terbatas itu memecah keheningan HYDROMATIK. Diikuti oleh goyangan tubuh para peserta carnaval. Semua mengenakan topeng sebagai symbol penolak bala.  “BAH!” seseorang menabrak Nato yang berjalan seperti orang linglung. Ya, Tuhan hantu-hantu dari mana ini? Topeng-topeng itu sangat mengerikan.  “hhhrrrgggg.... hasssShaaahh...!” bunyi gerutuan yang menjelaskan mereka adalah para Zirac. Nato menghentikan langkahnya. Memandang arus barisan yang melaluinya. Matanya melahap peserta barisan karnaval. Mana? Dimana kau? Di mana? Oh Tuhan kenapa semua orang di sini memakai jubah serupa? Memangnya temanya apa tahun ini? Seingatnya tahun lalu karnaval ini sangat meriah dengan barisan bikini bertopeng. Kenapa sekarang semua berjubah-topeng? Seolah karnaval ini untuk menghormati penyelundup yang ia cari. Barisan itu benar-benar menelan bayangan berjubah yang sedang dicarinya. Bayangan berwajah hantu itu betul-betul tenggelam homogen dengan barisan berjubah-bertopeng hantu. Tak dapat dibedakan mana yang topeng-dan mana yang ASLI. Nato menghentikan langkahnya. Suara marching band menjauh seiring barisan karnavalnya. “Aku kehilangan dia.” “Heuhhhh…” suara gemas dari Zyeko dan Xheira hampir bersamaan. *** Hari berikutnya. “Kran 1.” Suara Kaila “Kosong.” Suara Nato. “Kran 2.” Suara Kaila “Ohhh…. Dia ada di kran 4. Cepat! Siapa yang jaga di tempat terdekat?” Suara Nato. Matanya menatap lekat monitor security darurat di kamar mereka yang sumpek. “Xheira!” jawab Zyeko dan Nato bersamaan. “Xheiraaaaa!” Kaila hampir saja berteriak, tapi bukan Kaila namanya bila selalu dalam kendali. Dia hanya mengeluarkan suara desis. XHEIRASSSSSSSSSS…! Xheira nun jauh di sana, di daerah pertanian  menatap bayangan berjubah itu. Xan’qa tenggelam dalam kekakuan dan ketakutan. Ingin sekali Xheira berbalik dan lari. Tapi lutut Xheira tiba-tiba lemas tak berdaya. Kakinya seperti terperangkap lem maha lekat. Mungkin seperti apa yang dirasakan tikus yang terjebak pada lem tikus. Keduanya saling tatap. Xheira sama sekali tak menduga akan berhadapan langsung dengan si Hantu itu. “Euuuuhhhh…” hanya suara itu yang berhasil keluar dari mulut Xheira. Padahal tadi dia sudah menyusun dan menghapal dialog bahasa internationalnya: ‘Hai… How are you?’ ‘I am fine’ ‘Where are you come from?’ ‘I am Xheira… yes! I am beautiful girl, Thank you.’ ‘What is your name?’ ‘Oh…’ ‘Yes! You are dead poet sociaty… so because of that, I have to get you. OKE? ‘OKEHH!’ TAPI. Dia –hantu itu- berbalik dan berlari menjauh sebelum Xheira sadar, dan bangkit dari rasa terkejut dan takutnya. “XHEIRAAAAAAA!” suara Fitosek yang lantang memecah keheningan pertanian, menimpahi desis panggilan Kaila lewat minisupertelenya. “Eh… ya pak manager?” tanya Xheira terkejut. “Kau masih berani berulah ya?” tanya Fitosek. “Ada Apa ya, pak manager?” “Amphun Nenek! 10 thabung kulthur di rak nomor sathu. 6 bothol kulthur dan rak nomor 3! Buath apha? Kalau thak ingath thesth urine ithu! Aku phasthi sudah memecathmu. Thaphi unthuk meyakinkan aku ingin kau thesth urine lagi!” “Haaaa! Siapa takut?” Xheira mengepalkan tangannya sendiri. Jelas dia sangat kesal. Kini dia harus menghadapi rutinitas baru, Test urine . Sangat menyebalkan. “Selama maling ithu belum therthangkaph, maka kau harus melakukannya!” “kenapa aku? HYDROMATIK ini punya 10 orang pekerja di sekto kultur.” “Ya! Semua sudah melakukan thesth Urine, kecuali kamu.” “Haaaa?” Dengan lesu Xheira mengambil botol kecil. “Negathive.” Kata Fitosek menatap lesu tanda min dari test urine. Fitosek bertambah kesal karena tak menemukan juga maling misterius itu. “Nah!” Xheira duduk kesal di depan meja atasannya.   Fitosek menatap Xheira. Ohh, culun kenapa kau datang -ada di situ (di kursi itu)- pada saat yang salah. Aku sedang marah-kesal- karena semua risetku digagalkan si pencuri sialan. “Kamu thahu, buah-buahan di gudang beranthakan. Cephath! Phengiriman akan dilakukan sebenthar lagi. Festhifal kali ini dimeriahkan dengan lomba ciphtha kreasi fermenthasi buah-buahan dari kebun kitha, Kau thahu althinya?” wajah Fitosek sangat tidak bersahabat. Xheira hanya menggeleng. “Arthinya kitha membuthuhkan buah-buahan lebih dari  biasanya… nona (bodooooh)…” desis Fitosek karena tak sabar. “Jangan lupha juga, kau lanjuthkan dengan inokulasi jamur di ruang stheril! HYDROMAThIK thak bisa menunggu!” Fitosek berdiri di ujung jalan setapak yang membelah perkebunan. Setelah beberapa langkah Xheira menjauh dari Fitosek, dia berbalik ke arah perkebunan. Xheira melihat Fitosek menggunakan minispedinya untuk inspeksi kebun. Kendaraan itu bergerak ke arah pedalaman kebun.. Cepat-cepat Xheira berbalik dan bergegas ke arah kebun.   Bayangan Hantu itu ke mana? Sial! Aku kehilangan dia lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN