BAB. 4. CARI SEGERA! (bagian 2)

1202 Kata
Dia berkaca pada jendela HYDROMATIK. Dia menatap wajahnya yang hitam, berhias bopeng, koreng yang sedang mekar. Aneka luka dengan aneka stadium. Dari stadium kutil, radang, bisul, bernanah, yang pecah, berdarah, lelehan darah mengering. Bau busuk terkadang tercium karena aliran angin buatan HYDROMATIK ini. Angin yang menghembuskan oksigen itu kini ikut mengantarkan bau yang samar-samar. Tapi untuk dia, si pemilik bau, tentu saja bau itu tak banyak mengganggunya, karena dia telah mengalami penyesuaian sepanjang penyakit misterius itu bercokol di tubuhnya. Ikan-ikan di depannya berenang seperti biasa. Riang menyambut aliran air laut yang membawa serta plankton dan zooplangkton. Riang menyambut makanan, tak peduli seseorang yang di dalam HYDROMATIK itu sedang merasa sekarat. Ya Nenek!  Kini sakit itu semakin  menjadi dan menyergap alat gerakku. Entah tulang atau otot. Yaaa aku akan segera menghadapMU… Maafkan aku Jhonik… karna aku tak bisa menjaga anak ini… jadi, CEPAT! jemput saja aku Jhonik! Dia terduduk, lemah tak berdaya. Dia tak peduli lagi akan keselamatannya. *** Dokter Croll melihat tubuh yang melipat seperti buntelan kain. Penciumannya yang tajam mengaduk isi perutnya.            Bangkai apakah  ini? Dia membalikan tubuh yang terlipat itu. “Ya Tuhan…” bisiknya. Dengan sigap dia mengangkat tubuh itu, tak peduli tubuh itu membawa kuman yang siap menular. Dokter Croll bukannya lupa dengan segala informasi yang diberikan Kaila. Tapi panggilan hati nuraninya lebih keras menyuruhnya untuk mengangkatnya. SEGERA! Cepat- sebelum yang lain menemukannya. Menemukan mereka.            Ke mana akan dibawa tubuh ini? Oh-ya ke gudang peralatan di dekat reactor nuklir itu. Kaila sudah memberi pesan itu. Menurutnya tempat itu adalah tempat teraman, karena ada larangan masuk ke daerah di dekat rekator nuklir [1]itu.            Dokter Croll melihat beberapa orang berjalan ke arahnya. Dia mendirikan Hantu itu di sampingnya. Tangan kanannya memegang pinggang si Hantu, sementara tangan kirinya memegang tangan Kiri yang dilewatkan bahunya. Dia memberi kesan sedang berjalan sambil berpeliukan.            Tangannya merogoh saku celana, dan dengan gerakan kilat dia memasangkan kumis palsu.            “Oh, honey… kau minum therlalu banyak? Bagaimana dengan acara kitha?” tanya Dokter Croll seolah dirinya seorang Zirac sedang mengobrol dengan si Hantu.            Mereka berpapasan. Terdengar para Zirac  itu bicara:            “Oh… bau apha ini?”            “Bangkai? Bagaimana mungkin di HYDROMAThIK ini ada bau sepherthi ini?"            “Hoek!”            Cepat-cepat Dokter Croll menyeret tubuh itu. Mencari jalan-‘khusus karyawan’  yang sepi dari lalu lalang para warga HYDROMATIK.            Sesampainya di ruang yang ditunjukan Kaila, Dokter Croll membangunkan wanita sakit itu.            “Kau di sini dulu, yah. Percayalah, kami ingin menyelamatkanmu. Kehadiranmu di sini akan membuat panik semua orang. Kau pasti sadar, karena itu kau selalu bersembunyi dan berlari. Ya, kan?” kata Dokter Croll dengan perlahan membaringkan tubuh itu.            “Kami telah menyiapkan segalanya.” Kata Dokter Croll memperlihatkan makanan dan tiga galon air mineral.            “Ah… terima kasih…” suaranya begitu lemah, tapi Dokter Croll dapat menangkapnya. Hmmm… dia seorang ! Apakah dia salah satu dari  etnik korban genosida itu ? Permainan apalagi yang tengah dilakukan para inohedonist   itu? Dokter Croll mencoba tersenyum. Memberikan rasa hangat bagi wanita sakit itu.            “Siapa namamu?” tanya Dokter Croll ingat selama ini teman-temannya, Kaila-Xheira-Zyeko-Nato- O’shizak, hanya menyebutnya si HANTU.            “Shakeera.” Katanya sangat lemah. Dokter Croll mengamati wajah itu. Matanya yang tajam dan terbiasa dengan wajah-wajah indah para modelnya dapat menangkap pahatan khas pada wajah itu. Dokter Croll tak pernah salah dalam menilai keindahan.            “Kau... cantik…” katanya sangat jujur. Membuat Shakeera Wanita sakit itu, mengerut heran. Bagaimana mungkin seseorang melihatnya dalam kecantikan seperti dulu, sementara saat ini penyakit itu telah membuat rusak wajahnya.            “Kau akan sembuh, dan akan cantik seperti dulu.” Kata Dokter Croll menangkap ketakpercayaan dari mata yang penuh derita itu.            Dokter Croll batal berdiri ketika tangan yang lemah itu mencengkeramnya. Tangan itu tak melepaskan tangan Dokter Croll, bahkan membawa telapak tangan Dokter Croll untuk meraba perutnya.            Dokter Croll diam terpana. Perut itu buncit, dia dapat merasakan  denyut jantung lain di dalamnya. Mata Dokter Croll membelalak. Aku tak mungkin salah,            “Kau sedang hamil?” bisik Dokter Croll hampir tak percaya.            Shakeera hanya mengangguk lemah. Matanya menggenang air mata. Bibirnya gemetar. Tangannya gemetar menggenggam tangan Dokter Croll yang hangat.            “Berapa usia kehamilanmu?” tanya Dokter Croll.            “sembilan. Sembilan bulan…” Jawab Sha Shakeera .            “Ya, Tuhan… sebentar lagi?!”            “Ya. Tolong! Tolong… bayi ini … harus hidup. Dia ….–mungkin- satu-satunya penerus… suku kami….” “Baik. Kalau begitu kau punya alas an yang kuat untuk bertahanlah. Aku dan temanku yang lain akan bergiliran menengokmu… “ Dokter Croll menengok ans[2]-nya.            “Maaf, Aku tak bisa lama.” Kepergiannya yang lama akan membuat krunya curiga dan mencarinya.            Dokter Croll dengan cepat keluar dari ruang peralatan itu.            Shakeera,  manusia hantu itu, memandang tempat bersembunyinya. Mereka, entah siapa telah menyiapkan ini semua? Mereka tahu kehadiranku? Posisi Shakeera sendiri Tempat bersembunyi itu telah diatur, terlindung dari tumpukan sekoci karet, alat selam, alat alat lainnya. *** Suasana kamar mencekam. Seperti biasa, Xheira menggigit bantal kecilnya. Bantal itu semakin hari semakin parah keadaannya. Bantal kecil itu adalah korban dari keadaan emosi Xheira yang tak stabil. Dirinya disergap oleh berbagai kegelisahan. Si maling, si Hiu, dan si Hantu yang kini bernama. Dan kejutan terakhir adalah Dokter Croll pahlawan kebebasannya melakukan kontak dengan si Hantu.            “Sekarang apa yang kau rasakan, Dokter Croll?” tanya Kaila.            “Aku tidak merasakan apa-apa.” kata  Dokter Croll tenang. Aku masih merasa mual karena bau itu menempel di tubuhku.            “Kalau kau merasa sesuatu… katakan saja!” kata Kaila ragu.            “Memang kamu sudah menemukan obatnya Kaila?” tanya Xheira membuat semua saling pandang.            “Belum, setidaknya… kita bisa meminimalisir orang-orang yang kontak dengan penderita.” Kaila menatap Xheira.            “Maksudmu… melakukan karantina?” Xheira mendengus.            “Yaaa…” Kaila mengangkat bahunya. Kamu marah, karena aku hanya…?            “Haaa! Kenapa aku percaya padamu? Bodohnya aku! kamu hanya akan menciptakan HYDROMATIK sebagai tempat karantina yang tepat?” Xheira menutup wajahnya. Oh bunda…. jenius kita belum menemukan obatnya, dan bodohnya aku percaya begitu saja pada si gadungan ini!            “Sudahlah, toh cepat atau lambat kejadiannya sudah diramalkan akan begini, kita hanya akan mengulur kepanikan saja. Kaila bagaimana dengan pencarian obat itu, apa ada kemajuan ?” tanya Dokter Croll.            Kaila lalu meneruskan diskusinya –dua arah- dengan Dokter Croll, tentang epedemiologi itu.   Xheira mendengus kesal. Dia hanya bisa diam membiarkan dua orang cerdas itu bicara tanpa mengindahkan kehadirannya. Xheira mencoba menangkap apa yang sedang didiskusikan, tapi gagal, karena kapasitasnya yang standard itu susah menangkap kalimat-kaliamt berisitilah kedokteran.             “Oke, jadi sekarang, diputuskan, akulah yang akan mengurusnya, selama aku belum ada tanda-tanda tertular.” Dokter Croll menutup diskusi itu.            “Tapi ingat, Dokter Croll! Tak ada gejala bukan berarti kau bebas! Dokter   -kini-berpotensi-sebagai-KARIER (pembawa)-! “Kaila mengingatkan.            “Jadi ingat! Jangan sembarangan menyentuh ‘pasien-pasien’ itu!” Xheira ikut menambahkan dari belakang punggung Kaila.            “Yayayaya.” Dokter Croll tersenyum. Bagaimana bila aku menyentuhmu, Xheira yang lucu? huehehehehe *** [1] Reaktor nuklir = sumber tenaga penggerak dan semua energi yang dipakai di HYDROMATIK. [2] Ans = seperti jam tangan, tapi memuat berbagai data up to date tentang lingkungan. Seperti kecepatan angin, kelembaban, suhu. Hal ini –pada masa ini- dianggap penting karena perubahan cuaca yang sering terjadi mendadak dan berubah drastic mengingat factor alam dan polutan telah berkolaborasi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN