Perjuangan Gilang

1298 Kata
Satu minggu berlalu, Feya yang bilangnya hanya cuti satu minggu, namun tak kunjung balik. Gilang yang sudah selama satu minggu pula tinggal di kantor merasa heran. “Kenapa Feya belum balik?” tanya Gilang saat membahass proposal yang di buat Feya sebelum mengajukan cuti. “Balik? Dia kan sudah resign, kamu sendiri yang menandatanganinya. Aku pikir kamu mau mengurungnya di rumah, makanya aku tidak bertanya lebih ke kamu.” jawab Andra membuat Gilang sangat syok. “Berhenti? Jangan gila, cuma dia yang cocok kerjaannya buatku, selain dirimu. Mana mungkin aku menyetujuinya.” Gilang benar-benar tidak percaya saat Andra menyodorkan berkas yang sudah di file dan di arsipkan. Benar ada tanda tangan Gilang, di pikir-pikir dan di pikir lagi. Gilang menyesal saat ingat kapan dia menandatangani. “Sial, aku di tipu mentah-mentah. Bisa tidak kamu menggantikan aku ke Hongkong besok? Aku harus ke rumah mertuaku, bawa pulang lagi istriku.” Gilang tidak membutuhkan persetujuan Andra, dia langsung berlari meninggalkan kantor. Gilang tidak pergi ke rumah lagi yang sudah dia tinggal selama satu minggu. Dia langsung tancap gas ke rumah mertuanya yang ada di kota lain. Gilang tidak pikir-pikir lagi, pasti ada kesalah pahaman di antara mereka. Samapai-sampai Feya pulang kampung dan tidak kembali lagi. Sore-sore Gilang sudah duduk di depan teras rumah Feya. Sedangkan Feya sendiri bersama dengan kedua orang tuanya baru sampai rumah pun di buat kaget oleh kehadiran Gilang yang duduk termenung di teras. “Hey, kamu ngapain di sini? Kenapa tidak menelephon ku?” Feya menghampiri Gilang yang saat itu terlihat sangat kacau. “Aku sudah menelephon mu berkali-kali, bahkan pesan ku pun gak kamu buka sama sekali.” kata Gilang menunjukkan wajah memelasnya. “Aduh lupa, ponselnya aku jual. Sayang aja kalau pakai hp mahal di kampung.” jawab Feya menunjukkan ponsel barunya. “Kenapa kamu berhenti?” tanya Gilang lagi. “Aku mau bantuin papa memulai dari awal.” cicit Feya tak berani memandang wajah suaminya yang semakin kecewa padanya. “Feya, kamu sadar gak sih? Kamu sekarang punya suami, dan wajib mengurusinya. Tanya mama kamu kalau tidak tau.” Kali ini Gilang menyerang keluarga Feya dengan cara halus. “Aduh nak Gilang. Bukan tante tidak menyukai kamu, tapi lebih baik kalian bercerai saja.” takut-takut Lula yang memang dari awal sangat keeratan pun mengutarakan pendapatnya. Pasalnya semua itu tidak ia lakukan tanpa alasan. Sebab Satrio beberapa hari lalu datang ke butik yang baru di buka oleh Dimas. Di sana Satrio juga menyebarkan rumor jika Feya menjadi simpanan putranya di kota. Sejak kedatangan Alea, Feya yang tadinya di pelihara pun sekarang harus menelan pil pahit dengan terbuang. “Bukan, aku tidak melakukan kesalahan. Dan aku juga sudah baik pada Feya selama ini, kenapa harus cerai?” Gilang kaget dengan apa yang di katakan oleh mertuanya. “Kalian masih sangat muda, Feya juga baru dua puluh dua tahun ini. Perjalanan kalian masih sangat jauh, lebih baik pisah aja. Nanti kalau memang kalian berjodoh, pasti akan kembali.” kali ini Dimas yang angkat bicara. “Bukan, paman. Kenapa kalian bersekongkol memisahkan kami? Sebenarnya apa yang salah dengan hubungan kami?” gilang semakin tidak percaya dengan kedua mertuanya yang tidak menginginkan dirinya menjadi menantu. “Kamu sendiri bagaimana, Feya?” tanya Gilang semakin putus asa. “Mas, kamu punya tunangan dan kita juga tidak saling cinta. Memang lebih baik kita pisah aja.” Feya tidak berani mengangkat kepalanya. Feya tidak mau Gilang melihat air mata yang perlahan memenuhi pelupuk matanya. Gilang benar-benar putus asa saat ini. Dia pun dengan lemas pergi dari rumah Feya. Gilang tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Feya. Kalau Feya tidak mencintainya, tapi Gilang sudah mencintai sejak lama. “Tidak, aku tidak bisa menyerah. Aku harus menemui papa.” Gilang yakin, pasti ada campur tangan keluarganya. Jarak anatar rumah Feya dengan rumah Gilang tidak terlalu jauh. Perjalanan hanya sepuluh menit saja ternyata. Tapi kenapa dulu mamanya dan mama Feya tidak sering main? Malah rumah Alea yang jaraknya cukup jauh, lebih sering datang ke rumahnya. Gilang sampai di rumah saat mamanya tengah memetik bunga di kebun mawar samping rumah. Rina melihat putranya datang pun langsung menghampirinya. “Gilang, kamu pulang. Akhirnya kamu pulang juga.” Rina sungguh senang sekali melihat putranya. “Papa mana?” raut wajah Gilang yang di liputi amarah benar-benar menakutkan. “Ada apa Gilang?” “Ma, jujur sama aku. Papa melakukan apa lagi ke Feya? Sampai dia kabur dan menceraikan aku.” kata Gilang mengagetkan Rina sekarang. “Cerai?” Gilang yang baru menyadari dia salah ngomong pun menjadi panik sendiri.”Anu ma… aduh bukan saatnya sekarang menjelaskan. Tapi sekarang aku mau ketemu papa dulu.” “Papa kamu baru aja berangkat ke Hongkong. Perjalanan bisnis katanya.” jawab Rina masih penasaran dengan pernikahan yang di katakan oleh putranya. Dengan berat hati akhirnya Gilang menceritakan semua pada mamanya. Mendengar putranya sudah menikah dengan putri sahabatnya, Rina menjadi sangat bahagia. Namun bahagia itu harus sirna di saat Gilang mengatakan. “Feya dan keluarganya sekongkol untuk menceraikan aku. Ma, aku gak bisa jauh dari Feya.” kini Rina memelik Gilang yang menangis gara-gara di pisahka. “St… st… nanti mama yang datang ke rumah tante Lula. Biar mengizinkan kamu bareng lagi sama Feya.” “Sekarang ma, aku mau Feya sekarang. Sudah ssatu minggu Feya keluar dari rumah, aku gak mau lebih lama lagi.” rengek Gilang yang tak ingin menunggu lagi. “Astaga anak ini. Ya sudah sekarang ayo antar mama ke sana, biar mama yang ngomong.” Akhirnya Rina mengikuti keinginan anaknya untuk membujuk keluarga Feya. Gilang dan mamanya tiba di rumah Feya tak lama setelah Gilang menangis histeris. Bahkan mata dan hidung mancung Gilang masih berwarna merah. Air mata juga masih belum mengering. Feya kaget dengan kedatangan Gilang dan mamanya. Di tambah dengan keadaan Gilang yang super berantakan. “Kamu kenapa?” tanya Feya yang langsung memeluk Gilang saat membuka pintu. Rina yang melihat rapuhnya hati mereka sekarang pun tak kuasa menahan air matanya. Hatinya juga tidak akan terima jika kedua insan ini di pisahkan begitu saja. Dari arah dalam rumah Dimas menahan Lula yang hendak memisahkan Gilang dan Feya. Dimas berusaha untuk memberi paham istrinya kalau mereka benar saling mencintai. “Gilang, masuk jangan di tengah pintu begitu.” Dimas menepuk pelan lengan menantunya yang saat itusudah menangis di pelukan putrinya. “Gak usah masuk, biar Gilang pulang bawa Feya saja….” “Loh, ya jangan gitu.” Dimas menahan. Rina yang ada di belakang Gilang hanya bisa tersenyum melihat tingkah putranya. “Sepertinya kita memang harus bicara sebagai orang tua. Gilang dan Feya sudah menikah tanpa kita tau awalnya. Dan sekarang kita semua tau kalau mereka bersama, bisa tidak kalau kita suport mereka. Ya…. jangan di pisahkan mereka. Gilang tidak pernah aku lihat seperti ini memperjuangkan keinginannya.” Rina membujuk keluarga Feya. Bukan hanya Rima yang memperhatikan Gilang dan Feya menjadi tak bisa berkata-kata. Lula pun yang menentang sejak awal pun pasrah melihat keduanya. Gilang sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya pada Feya, biar gadis itu tampak malu di lihatin kedua orang tuanya. “Tapi Rin, Gilang kan punya tunangan.” “Tidak, aku tidak pernah mau sama Alea. Kalau bukan Feya aku tidak mau menikah sampai kapan pun.” sela Gilang saat Lula menyinggung keberadaan Alea. “Benar, Alea itu sebenarnya… selingkuhan suami saya. Tapi karena tidak mau ketahuan orang tuaku dan mendepaknya dari posisinya sekarang. Makanya Satrio mati-matian menjodohkan Alea dengan Gilang. Gilang tau sejak awal, makanya dia lebih memilih untuk bekerja bareng Andra, sahabatnya.” penjelasan yang paling tidak bisa di tebak. Lula dan Dimas kaget dengan fakta yang selama ini di tutupi oleh ibu dan anak ini. Lula tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan sahabatnya. Ya walau dia awalnya sudah mewanti-wanti Rina untuk tidak terlalu jatuh hati pada Satrio. “Baiklah, selama anak kamu tidak menyakiti Feya, kami restui.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN