“Proyek ini memang tidak terburu-buru. Tapi tidak seharusnya juga kamu lalai seperti ini!” lagi-lagi Gilang meledak dan menggebrak meja.
“Ma… Maaf pak. Hari ini saya usahakan untuk selesai paling tidak lima puluh persen.” janji Feya yang sudah ketakutan.
“Gilang, saya yang bilang. Proyek ini kan masih dua minggu lagi, biar di kerjakan pelan-pelan. Masih keburu kok.” Andra menengahi.
“Dia janji hari ini lima puluh persen. Jadi aku mau dalam tiga hari sudah selesai. Sebelum weekand sudah ada di atas mejaku!” Gilang tidak bisa di tawar lagi. Feya pun hanya bisa pasrah karena mulutnya sendiri.
“Sudahlah pak Andra, saya bisa.” Feya seperti mencari pijakan lain setelah tidak bisa menaklukan Gilang.
“Wah, gila juga ya Feya. Kemarin dia peluk pak Gilang dan sekarang dia malah mencoba menggoda pak Andra.” bisik Yuni pada teman sebelahnya.
Namun naas, teman sebelahnya adalah Nia. “Ya kalau kamu bisam, coba saja rayu.” kata Nia yang tidak memelankan sama sekali ucapannya.
“Kamu!”
Melihat Feya yang bisa semanja itu pada Andra di depan yang lain, tapi tidak padanya. Itu membuat Gilang semakin emosi.
“Jangan jadi murahan di kantorku! Kalau niatmu hanya mau menggoda atasan, lebih baik mengundurkan diri!” Bentak Gilang.
“Bapak! Ini keterlaluan gak sih? Kapan bapak lihat saya menggoda atasan? Kalau bapak merasa saya menggoda atasan, kenapa tidak memecat dan memberi pesangon? Ingat, proyek ini biar santai tetap penting untuk perusahaan. Dan aku punya data semua di tangan, dengan kemampuan saya. Bisa saya pastikan bapak tidak akan pernah mendapatkan proyek ini.” Feya panas hatinya di katai hanya menggoda atasan oleh Gilang.
Gilang tidak bisa apa-apa dan dia juga tidak bisa menghentikan langkah Feya yang pergi meningglkan ruangan meeting.
Alea yang ada di luar ruangan malah menambah ejekan dari Gilang.
“Oh, lagi mencari mangsa? Pantesan tidak mau ninggalin rumah Gilang. Sekarang belangmu sudah ketahuan, mending jaga muka dan cepat pergi!”
Feya melihat Alea lalu melihat ke arah Gilang. Pikiran Feya sudah tidak bisa di tebak lagi oleh Gilang. Mata garang Gilang tadi berubah memelas dan penuh penyesalan menatap Feya. Tapi yang ada di benak Feya sekarang hanya kebencian saja.
“Buat dia mengusirku, aku berjanji tidak akan pernah muncul di depan kalian!” bisik Feya.
“Brow, sepertinya aku tidak bisa menyelamatkanmu.” Andra mengingatkan Gilang atas ledakan amarahnya.
Feya tidak keluar dari perusahaan, tapi dia tetap mengerjakan proyek yang di nyatakan terbengkalai itu. Feya tidak istirahat maupun hanya untuk makan saja gadis itu sepertinya lupa.
“Istirahat dulu. Sekarang sudah jam sembilan malam, loh.” Gilang datang membawa makanan.
“Sebentar lagi selesai.” jawab Feya datar.
Mendengar nada bicara Feya yang bisa-biasa saja, jelas Gilang merasa tenang. Batinnya, Feya sudah tidak marah lagi padanya. Tapi ini sudah jam sembilan malam, lebih dari sepuluh jam dari dia keluar dari ruangan meeting dan belum makan apa-apa.
“Aku suapi ya.” nada bicara Gilang merendah, seolah dia tengah membujuk dan meminta maaf pada istrinya.
“Sebentar lagi sudah selesai. Oh ya aku besok mau pulang, jadi aku sudah izin ke pak Andra. Mending kamu tanda tangani juga surat cuti ku.” Feya menyodorkan berkas pada Gilang sambil mengambil minuman yang di bawa oleh suaminya.
Gilang sendiri yang melihat istrinya mau meminum minuman yang dia bawa pun tidak curiga. Gilang tanda tangan tanpa melihat lagi, ya dia percaya pada Feya.
Jam setengah dua belas Feya mengirim laporan yang sudah dia kerjakan seharian pada Andra. Di saat itu juga sudah mendapat ACC dari bosnya. Feya pulang bersama dengan Gilang.
Di rumah Feya hanya ingin istrirahat dan tidur. Tapi nyatanya dia di kagetkan dengan keberadaan Alea.
Gadis cantik itu mengenakan baju tidur couple yang dia beli. Baju baru yang belum pernah di pakai oleh Feya, tapi Gilang sudah memberikannya pada Alea.
Feya seketika sadar dengan apa yang sudah Gilang lakukan.
“Anu, Alea kemalaman buat pulang. Jadi dia mau menginap…”
“Aku tau, aku sudah memesan taksi. Mungkin sudah sampai di bawah, aku pamit setelah mengambil koper.” Gilang di buat semakin terkejut dengan apa yang Feya katakan.
Tak membutuhkan waktu lama, Feya keluar dengan koper besar yang awal dia bawa saat masuk ke rumah ini. Gilang semakin Gila di buat oleh istrinya.
“Feya, kenapa kamu bawa koper sebesar ini?” tanya Gilang mencoba menghentikan Feya.
“Aku gak punya koper lain. Lagian aku sedikit lebih lama di kampung, aku mau membantu papa dulu sementara. Kalau sudah satu minggu aku balik ke sini lagi.” jawab Feya menenangkan Gilang agar di izinkan untuk keluar malam ini juga.
Feya sebenarnya bohong. Dia sama sekali tidak memesan taksi. Dia hanya bisa memesan tiket kereta malam untuk menuju ke kotanya.
Alea kemalaman dan tidak berani pulang adalah sebuah alasan belaka. Buktinya Feya yang juga berasal dari kota yang sama pun bisa pulang selarut ini. Dan untuk baju tidur itu, apa Gila benar-benar buta sampai memberikan baju itu pada Alea?
Pernikahan yang memang tidak di landasi oleh cinta memang berbeda. Rapuh dan tidak solid, banyak cela yang membuat runtuh kapan saja.
“Sekarang mending tidur, besok baru di pikir lagi.” Kata Feya saat sudah masuk ke dalam kereta malam.
Lumayan lama juaga di perjalanan, Feya sampai bosan. Tidur tidak nyenyak, makan juga terasa seperti sekam. Bahkan kopi pait pun terasa hambar.
Pikirannya hanya pada Gilang saat ini. Gilang dengan Alea sepanjang malam bersama.
Mengingat Gilang yang belakangan suka m***m pun, pikiran Feya tidak bisa untuk tidak cemburu.
“Sial, kenapa masih kepikiran orang m***m itu sih.” Feya menggerutu pada dirinya sendiri.
“Jujur saja, badan Gilang memang bagus. Tapi aku gak boleh terlena, lagian sudah impas. Aku sudah kasih gantinya dari uang yang di bawa oleh papa. Sekarang aku harus bantuin papa buat bangkit lagi. Dan menampar semua yang menyebarkan rumor itu.” tekad Feya.
Dia tak ingin mengingat apa-apa lagi soal Gilang. Dia berikir, awalnya mereka bukan siapa-siapa. Maka selanjutnya mereka juga lebih baik tidak saling mengenal.
Pagi masih buta, Feya sudah berada di depan rumahnya. Lula kaget saat membuka pintu dan mendapati Feya sudah ada di depan rumahnya menenteng koper yang begitu besar.
“Feya, kamu di usir Gilang?” kaget Lula.
“Mana mungkin? Aku cuma mau bantuin papa buat memulai kembali bisnisnya. Ma, aku sudah cukup belajarnya dan sekarang harus berjuang demi keluarga.” keputusan Feya di sambut hangat oleh orang tuanya.
“Bagus. Ini baru anak mama dan papa, tidak memihak orang luar.” Lula memeluk Feya.