Belah duren

1231 Kata
“Mas mau apa?” tanya Feya yang sudah tidak berdaya di bawah kungkungan Gilang. “Aku akan pelan-pelan,” Bisik Gilang yang sudah tidak tahan lagi. Dari kecupan, pelukan, ciuman lembut semua sudah Gilang lakukan. Teman dokternya bilang waktu itu, “Buat istrimu nyaman dan tidak merasa bahaya. Jangan paksa kalau tidak mau, sebisa mungkin sentuk titik kelemahannya. Biasanya titik itu ada di leher, d**a dan perut….” Gilang melakukan semua yang di katakan oleh temannya itu. Pelan tapi pasti memang membuat Feya seperti terhipnotis. Tapi pada saat yang sama… “Argh….. mas.” Feya kembali tersentak seperti waktu itu. Tapi bedanya, sekarang sudah penuh ke dalam. Gilang hanya bisa berhenti dan mengingat kembali apa yang di katakan oleh temannya. Sialnya, Gilang tidak mengingat kalau temannya berucap lagi setelah semua tertanam. Gilang mengambil inisiatif dengan membisikkan kata-kata sayangnya pada Feya. “Sayang, maafin mas ya. Apa mas udahan aja?” ucap Gilang yang sudah ketakutan kalau Feya kembali sakit. “Tidak usah mas, tapi sebentar pelan-pelan.” Feya kasihan melihat Gilang yang sudah berusaha keras, kalau harus kembali tidak jadi. Dengan kata lain, Feya menahan rasa sakit yang mungkin itu yang di mau oleh suaminya. Lagian, kalau dia tidak mau melayani suaminya, bisa-bisa Gilang akan di ambil orang. Olah raga malam hanya satu kali di lakukan oleh Gilang. Itu karena Feya terlihat masih kesakitan. Gilang harus sedikit menahan, karena hal itu tidak bisa di paksakan. Gilang dan Feya mandi karena keringat mereka terasa lengket. Gilang yang mandi lebih dulu pun dia hanya bisa menunggu Feya di depan pintu kamar mandi. “Mas kok di sini?” tanya Feya kaget melihat suaminya berdiri di depan kamar mandi. “Apa masih sakit?” “Tidak,” Gilang melihat cara Feya jalan seperti ada yang berbeda. “Apa sesakit itu?” Gilang tidak berani bertanya. Dia hanya bisa melakukan yang dia pikirkan secara langsung pada Feya. “Mas, boleh aku memelukmu?” tanya Feya saat hendak tidur. “Boleh.” Jam setengah sepuluh malam Feya dan Gilang mulai memasuki dunia mimpi mereka. Tidak ada drama-drama panas maupun demam lagi, tapi entah kenapa Gilang merasatangan Feya sedikit lebih aktif malam ini. “Apa tadi enak?” Gilang menangkap tangan Feya yang sepertinya memang sengaja dia maninkan di atas dadanya. Feya tidak bisa menjawab, selain mengangguk dengan sedikit senyuman. Astaga, lucu sekali Feya saat menggoda seperti ini. “Jangan nangis ya.” ucap Gilang memulai lagi. Pagi ini terasa sangat singkat sekali. Baru juga memejamkan mata, tapi matahari sudah menyilaukan saja. Feya bangun walau dia merasa masih mengantuk ddan lelah. Badannya pun terasa seperti habis mendaki gunung, tapi apa daya dia harus kerja. “Sudah bangun?” tanya Gilang yang menyiapkan sarapan untuknya. “Aku harus kerja, kemarin cuma izin sehari.” kata Feya menyantap roti bikinan Gilang. “Ya sudah, kalau masih tidak enak badan. Kamu pulang cepat saja nanti.” Gilang memperingatan Feya. “Ya aku tau.” Feya berangkat dengan jalan kaki, seperti biasa. Meski Gilang menawarinya bareng pun dia tidak mau. Baginya yang sehari-hari duduk di depan komputer. Saat-saat pulang dan berangkat kerja inilah yang dia manfaatkan untuk melepas sedikit kejenuhan kerja. Metime dengan berjalan kaki benar-bnar membuat Feya seperti dua orang yang berbeda saat di kantor dan di rumah. Feya sampai lebih cepat dari pada Gilang. Tatapan Gilang dan Feya bertemu, namun tatapan itu beda dari yang di rumah. Kalau di rumah menenangkan, makan yang saat ini adalah tatapan mengintimidasi. “Selamat pagi pak.” sapa beberapa karyawan pada Gilang. Tidak terkecuali dengan Feya yang ikut menyapanya. “Pagi.” jawab Gilang yang hanya menantap Feya dengan tatapan tajamnya. “Feya, kemarin kamu kan peluk pak Gilang secara asal. Sekarang kamu harus hati-hati, pak Gilang punya tunangan. Bu Alea, kemarin pas meeting….” “Pak Gilang mesra-mesraan sama bu Alea, jadi kamu jangan mimpi lagi deh jadi pasangan pak Gilang.” Yuni tiba-tiba datang langsung menimpali. “Mbak Yuni, sebenarnya ada masalah apa sih kamu sama aku? Sepertinya kamu menyerangku habis-habisan belakangan ini?” tanya Feya yang tidak dia ngerti kenapa pula Yuni berbeda dari awalnya. “Terserah aku dong , mau baik atau tidak padamu itu terserah aku. Lagian kamu gak ada gunanya juga buatku.” Jawab Yuni acuh. Di saat Feya hendak menjawab, tiba-tiba di halangi oleh teman yang bernama Nia. Orang yang selalu berkata tidak enak di dengar. “Gak usah di pikirkan, kamu ke sini buat kerja. Bukan buat bangun koloni, kerja sana.” “Mbak Nia benar, aku ke sini mau kerja, dapet duit. Bukan bangun koloni yang menghasilkan banyak kotoran.” Feya menetapkan diri untuk tidak lagi bergantung pada orang lain. Kata Nia benar, mengandalkan diri sendiri memang sudah seharusnya. Karena orang lain tidak akan mampu menopangmu selamanya. Suasana yang awalnya canggung, kini sudah tidak terasa apa-apa lagi. Itu karena Feya mendengarkan apa kata Nia, bahwa mengandalkan diri sendiri jauh lebih berguna dari pada menggantungkan diri pada orang lain. Tidak ada yang tau juga orang itu akan menarikmu ke atas atau malah mendorongmu jatuh. “Kak Gilang, kenapa kamu menghindariku belakangan?” Alea sudah ada di dalam ruangan Gilang saat dia baru masuk. “Kalau sudah di hindari ya seharusnya kamu sadar diri.” jawaban menohok Gilang tak menyurutkan Alea untuk mendekatinya. “Tapi kak Gilang kan tunangnku. Kalau aku jauhin kamu, nanti ada kuntulanak yang mendekat.” Alea semakin berani naik ke atas pangkuan Gilang yang duduk di kursi kerjanya. “Jangan terus membuatku muak, lebih baik kamu pergi sebelum aku menyeretmu dan mempermalukan kamu.” Gilang menolak Alea yang semakin kurang ajar padanya. “Kak Gilang, mau nanti atau sekarang itu sama saja. Nantinya kita akan menikah juga, jadi jangan nolak terus, ya.” Alea memeluk Gilang dari belakang. Di saat itu Andra yang tak pernah mengetuk pintu saat masuk ruangan Gilang pun kaget dengan apa yang dia lihat. Apesnya lagi, pintu di buka tadi Feya juga lagi lewat mau ke ruang rapat. Gila dan benar-benar gila, Gilang ketakutan parah. Dia berharap Feya tidak sempat menoleh ke arah kantornya. Harapan Gilang harus sirna, karena Feya melihat. Namun Feya entah medapat bisikan setan dari mana, dia lebih memilih untuk diam dan mengabaikannya. Andra melihat Feya juga, matanya terbelalak tidak percaya kalau gadis itu malah mengabaikan Gilang. Dengan alasan meeting, akhinya Gilang bisa lepas dari Alea dan segera mencari Feya. Meeting ya tetap saja meeting, Gilang melihat banyak laporang ulasan selama satu bulan ini cukup pusing. Feya tau, dia pun membuatkan kopi seperti biasanya dia buat untuk Gilang. Untuk tidak mencolok, Feya juga membuatkan semua orang yang ada di ruangan. Hal ini cukup efektif, walau tidak berguna di depan Andra dan beberapa orang yang waktu itu ada di hotel. “Kalian mau kerja atau cari perkara saja sih? Setiap bulan selalu aja banyak masalah dan aduan dengan hal yang sama. Astaga, ini proyek kok jadi mangkrak gini?” Gilang melempar dokumen tepat di atas kopi yang membuat gelas itu jatuh sebelum di minum. Semua kaget, tidak terkecuali dengan Feya. Raut wajah Feya berubah, Gilang tau, tapi dia tidak berani bertanya. Mungkin juga dia ketakutan gara-gara dirinya membanting map di depan semua orang. “Kalau sampai meeting evaluasi bulan depan masih tidak ada perubahan. Mending kalian mengundurkan diri aja deh.” Gilang melanjutkan. “Maaf pak, proyek itu sebenarnya tidak mangkrak. Tapi selama seminggu belakangan saya izin, pak Andra juga mengatakan kalau proyek ini tidak terburu-buru.” Feya takut-takut mengakui kesalahan itu di depan semuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN