Dari mertua untuk papa

1145 Kata
“Gilang, bisa bantu paman? Aku butuh modal….” “Papa, aku ada satu miliar di kartu ini. Kemarin papanya Mas Gilang beri aku kartu ini. Aku cuma buat beli camilan aja kemarin, paling gak sampai sejuta. Jangan melalui perusahaan, biar tidak di bilang kkn nanti.” Feya langsung menghalangi Dimas papanya untuk meminjam uang dari suaminya. Sejujurnya, walau tidak ada bedanya dengan meminjam pada Gilang. Tapi uang yang di berikan padanya sudah seharusnya untuknya. Di tambah lagi Feya juga tidak mau memisahkan ayah dan anak karena keegoisan dirinya. “Ya Paman, pakai itu saja. Itu uang pribadi papa, jadi sekali-sekali biar papa bisa bertanggung jawab dengan tindakannya.” jawaban Gilang membuat Dimas yang awalnya ragu dengan uang yang di kasih putrinya menjadi berterima kasih. Sebenarnya pagi ini sebelum jam lima, Gilang sudah tau siapa yang mendalangi rumor itu muncul. Selain papanya dan juga sahabat karipnya yang licik, Damora Lubis, papa dari Alea. “Paman tidak sungkan kalau begitu.” Dimas pun mulai merencanakan untuk memulai bisnis di bidang fasion. Bidang yang paling di sukai putri dan istrinya. Feya mengambil jurusan managemen bisnis karena dia benar-benar ingin menghasilkan uang yangbanyak untuk orang tuanya. Feya tidak berlama-lama lagi di rumah orang tuanya, karena Gilang tidak mau di suruh untuk pulang lebih dulu. “Nempel terus begitu kok kamu gak tau mereka saling suka. Memangnya harus gimana biar kamu tau?” Dimas membuka mata Lula istrinya dengan senyum yang seolah bangga putrinya di bawa oleh orang yang sangat ia percayai. “Tapi, suamiku. Apa Feya akan baik-baik saja? Rina memang baik padaku, tapi Satrio itu rumit.” Lula mencurahkan isi hatinya yang membuatnya tidak tenang. “Kamu jangan lupa, sayang. Gilang bisa sampai di titik ini karena apa? Dia memberontak pada papanya. Yang aku dengar juga, Gilang menolak perjodohan dengan keluarga Lubis.” jelas Dimas yang terus menenangkan istrinya untuk merasa lega melepas putrinya pada Gilang. “Kamu tau semua itu? Setau aku, pas itu kamu…..” Lula seketika langsung ingat semua yang dia alami selama lima tahun belakangan. “Tega kamu.” “Sayang…. dengarkan penjelasan ku dulu.” Dimas berusaha menjelaskan sesimple mungkin dan misa di terima oleh istrinya. Di dalam mobil, Feya masih sangat mengantuk yang akhirnya dia tidur. Sedangkan Gilang ternyata sibuk meeting online dengan orang kantor. Feya tidak tau kalau Gilang sedang meeting selama dia tertidur. Tapi saat di tengah perjalanan Feya tiba-tiba merasa lapar. “Mas, di depan kita berhenti sebentar ya. Aku mau beli camilan.” kata Feya menunjuk sebuah mini market yang ada di depan. “Ya,” jawwab Gilang yang masih tidak mengatakan pada Feya akan meeting saat ini. Semua yang ikut meeting memang tidak melihat siapa dan sedang apa mereka saat ini, selain di jalan. Tapi yang ikut meeting semua tau kalau bos yang selama ini terkenal galak dan jahat. Rupanya bisa juga bertutur kata yang begitu lembut pada kekasihnya. “Pakai ini. Belikan aku kopi.” Gilang memberi dompetnya pada Feya yang kala itu mau keluar mobil. “Mau dingin apa panas?” Tanya Feya lagi yang sudah tampak terbiasa dengan keberadaan Gilang. “Apa yang kamu beli, aku minum.” sesabar itu kedengarannya sangat manis. Banyak karyawati yang histeris mendengar percakapan singkat si iblis dengan kekasihnya. “Eh kira-kira orag seperti apa ya yang bisa mencuri hati pak gilang?” “Kalau biasanya orang kayak pak gilang tu yang bisa menaklukan hanya gadis bar-bar.” “Tidak pasti juga. Kadang orang yang bisa menarik perhatian orang seperti pak Gilang tu gadis lemah lembut dan juga terampil.” “Kalian bisa diam tidak? Gilang tidak akan mencari pasangan yang templet kayak gitu. Sudah kembali fokus, sebelum bonus kalian yang di pangkat total sama Gilang.” Andra yang mendengar langsung pun merasa geli dengan tebakan-tebakan mereka. Gilang sebenarnya bisa mendengar apa yang di katakan karyawannya. Tapi dia memilih hanya diam, diam-diam tersenyum kecil. “Mas, aku belikan panas dan dingin. Jadi kamu bisa meminumnya berkala, ini makan sosisnya.” Feya menyuapkan sosis yang dia beli untuk Gilang. Perjalanan kembali di lanjutkan dengan Feya yang banyak cerita ini dan itu. Gilang menanggapinya santai dan dengan reaksi yang benar-benar terkesan sangat manis. Sampai akhirnya Gilang memberi tanggapan dan ulasan selama meeting. “Jadi kalau misalnya ada nasabah atau klien meminta kenaikan, apa kalian mau memberikannya tanpa mencari tau dulu harga pasar? Kalian ini jangan apa-apa harus memakai hati dan perasaan. Ingat, kalian bekerja mencari duit, bukan pahala. Besok kita bahas lagi, meeting cukup sampai di sini. Saya akan ke kantor nanti sore.” Feya kaget mdengedar suaminya bicara tanpa tau kalau sedang ada meeting. Gilang memutuskan panggilan dan meletakkan earphone. Gilang mengantarkan Feya pulang sebelum dia meluncur ke kantor sore ini. Feya sampai rumah langsung merebahkan diri di sofa. Rasa lelah selama di perjalanan pun seperti meleleh begitu saja. Tidur memang obat yang paling mujarab untuk rasa lelah. Tidak terkecuali dengan Feya. Gilang tidak lama di kantor, dia hanya memberi masukan dan setelah itu langsung pulang. Dengan penampilan Gilang yang santai, banyak karyawan yang semakin terpesona padanya. “Cinta itu memang ampuh, iblis kaku pun bida di ubah jadi oppa-oppa tampan.” “Emang dasarnya pak Gilang ganteng sebenarnya. Cuma kaku aja, terima kasih aja sama calon nyonya. Tambah satu lagi list cowok ganteng di kantor ini.” “Eh sadar gak sih, suara pacar pak Gilang itu seperti familiar sekali.” kali ini ada yang sadar kalau suara gadis yang bersama dengan Gilang itu bukan orang asing. Tapi orang itu siapa, masih tidak ada yang menebak. “Eh iya juga ya.” “Gak mungkin dari perusahaan kita kan?” tebakan pun semakin mengerucut. Tapi seketika itu pula di tepis oleh Yuni yang kebetulan lewat. “Paling nona Alea, perusahaan Lubis itu. Mereka kan sudah tunangan sejak kecil.” ujar Yuni. “Oh…. begitu. Lagian pak Gilang gak pernah menerima yang namanya percintaan di kantor.” Tidak tau saja, gadis yang bermanja pada Gilang tadi sebenarnya rekan mereka juga. Gilang sampai di rumah, dia melihat istrinya masih dengan pakaian dan juga tas masih nyempang di badannya. Gilang hanya tersenyum melihat istrinya. “Dasar kucing malas.” Gilang mengangkat Feya masuk ke kamar. Melepas tas dan mengganti bajunya. Gilang tidak membangunkan Feya karena dia memang ingin kembali bekerja. Ya, karena seharian dia tidak kerja akhirnya banyak kerjaan yang tertunda. “Mas Gilang…” suara serak Feya mencari keberadaan suaminya. “Mas di sini, sayang.” jawab Gilang. “Kenapa tidak bangunin aku? Aku masak sekarang, ya.” Feya tiba-tiba sekali duduk di pangkuan Gilang yang saat itu duduk di meja makan dengan menghadap laptopnya. “Aku sudah beli makan. Kalau kamu lapar, biar Mas siapkan.” “Tidak perlu, aku cuma mau tidur aja. Kalau Mas lapar, biar Feya temanin makan.” “Tidak usah, Mas juga sudah mengantuk.” Sekarang masih jam delapan malam, tapi Gilang sudah bilang mengantuk? Gilang tidak menurunkan Feya, tapi menggendongnya kembali ke kamar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN