Kesembuhan Dimas

1161 Kata
Gilang menempuh perjalanan selama hampir tiga jam. Sesampainya di rumah, lampu sudah mati dan keadaan sudah semakin hening. Gilang tidak bermaksud untuk membangunkan Feya, tapi sebenarnya dia juga sangat lelah. Gilang memutuskan untuk tidur di mobil. Kejadian di rumah benar-benar membuat Gilang sangat marah sekali. Dan dia tidak ingin membawa emosi masuk ke dalam rumah yang akan mempengaruhi Feya nantiinya. Gilang hendak beristirahat sejenak dengan memainkan ponselnya. Tapi Gilang di buat kaget dengan muncunya berita yang sangat mengejutkan. Perusahaan Birma yang bergerak di bidang busana pernah tumbang akibat putrinya yang selalu ingin kemewahan. Kini muncul kembali dengan beribu hujatan dari para pembaca. Tak sedikit yang melontarkan sumpah serapah pada Feya kala itu. Dan kalau sesaui dengar perkiraan Gilang, kejadian bangkrutnya keluarga Feya. Tepat setelah Gilang menemui Feya saat itu, dan memang setelah itu juga gadis itu menghilang bak di telan bumi. Bukan hanya berita kebangkrutan saja yang di baca oleh Gilang. Bahkan dia juga melihat beberaoa beberapa foto dan Video Dimas Ananta tengah berobat di salah satu rumah sakit jiwa. Di sana Gilang bisa melihat Feya yang menemani ibunya menangani papanya yang mengamuk. Gadis baik yang tak terlihat sebagai penindas ini malah di tuduh sebagai penyebab kehancuran keluarga. Bahkan Feya tampak tidak merasa tertekan saat dia awal datang untuk bekerja saat itu. “Berita ini pasti bohong. Feya, ya Feya pasti sangat tertekan sekali.” Gilang langsung berlari ke dalam rumah dan melihat keadaan istrinya. “Feya! Feya!” Gilang mencari Feya ke seluruh rumah. Rumah kecil itu seketika terasa sangat luas sekali. Sampai-sampai Gilang tidak bisa menemukan Feya di sudut mana pun. Dengan cemas, Gilang akhirnya menelephon Feya. Menanyakan keadaan dan keberadaannya sekarang. “Kamu di mana, sayang?” suara Gilang panik dan gemetar, Feya bisa mendengar dan meerasakan kekhawatiran suaminya. “Mas Gilang tenang saja. Aku sekarang di rumah mama dan papa. Papaku juga sudah lebih baik, jadi bisa lebih sabar menghadapi masalah ini. Aku juga sudah minta izin ke pak Andra.” Ucap Feya menenangkan Gilang. Setelah menutup telephon, Gilang langsung kembali ke kota yang tadi dia kunjungi. Karena memang Feya dan Gilang awalnya tinggal di kota yang sama dulunya. Setelah ada insiden kebangkrutan itu Feya memilih untuk merantau sendiri ke kota besar sendirian. Sedangkan orang tuanya tinggal di kota lain. Lula Ananta tetap tinggal untuk merawat suaminya dan bekerja serabutan sebisa dia. Malam semakin larut, Dimas yang sudah bisa berpikir logis pun sekarang dia tidak ingin membiarkan istri dan anaknya terus menanggungnya. “Aku berhutang maaf dan kewajiban pada kalian. Aku janji, bakal buat kalian kembali ke masa di mana aku jaya dulu.” Dimas memang sebegitu menyayangi istri dan putrinya. Berdiri sendiri di luar, Dimas mencoba memutar otak untuk membalas semua yang sudah istri dan putrinya berikan padanya selama ini.. Dari ujung jalan Dimas melihat ada cahaya merambah mendekat. Karena Dimas berdiri di teras sendirian. Dia pun seolah menyambut sorot cahaya yang semakin dekat itu. “Gilang?” gumam Dimas saat tau siapa yang datang tengah malam seperti ini. “Paman, anda sudah sembuh? Kenapa belum tidur jam segini?” Tanya Gilang setelah mencium tangan papa mertuanya. “Ya sseperti yang kamu lihat. Aku sedang cemas yang ada di internet, semua itu tidak benar.” jawab Dimas mencurahkan keresahannya. “Paman tenang saja, aku sudah menekan semua berita itu sebisanya.” Gilang mencoba menenangkan mertuanya yang baru sembuh. “Terima kasih.” Dimas tersentuh sejenak sebelum akhirnya dia tersadar kalau ada orang asing yang datang ke rumahnya tengah malam seperti ini. “Tunggu, kenapa kamu datang ke sini malam-malam? Memangnya tidak bisa di tunda sampai besok?” “Anu… anu paman….” “Feya jam segini sudah tidur….” “Tidak pa, aku masih bangun.” Feya yang terbiasa mendengar deru mobol Gilang pun sudah hafal kalau suaminya datang. “Kalian?” “Kami sudah menikah, paman.” Gilang buru-buru mengeluarkan buku nikah mereka berdua. “Apa? Kalian berani menikah di belakang ku?” Dimas emosi mendengar putrinya di nikahi tanpa sepengetahuannya. Dimas berusaha memukul Gilang namun terus di halangi oleh Feya. Biar bagaimana pun juga, Gilang adalah suaminya sekarang. Keributan yang di buat oleh Gilang dan Dimas membuat Lula dan tetangga sekitar terbangun. “Astaga kalian ini kenapa ribut begini? Malu di lihatin tetangga begini.” Lula terbangun dan memisahkan Dimas dan Gilang. “Sayang, mereka berdua menikah. Apa kamu juga tau?” Dimas mengatakan apa yang Gilang katakan padanya. “Apa?” Lula pun ikut kaget dengan apa yang di katakan suaminya. Bagaimana mungkin putri yang dia titipkan malah menjadi istri dari Gilang. “Gilang, tante kan nitipin Feya ke kamu untuk di jaga selama di kota? Kenapa kamu malah menikahinya?” Lula Ananta tampak kecewa dengan Gilang dan Feya. “Tante, aku sudah menjaga Feya sekuat yang saya bisa. Tapi kalau hanya di rumah saja, apa kekuatan saya untuk menjamin keselamatannya? Jadi saya menikahinya untuk menjaganya di manapun berada.” jawab Gilang tegas. “Astaga pikiran anak ini kenapa jadi sekaku ini sih? Keluarga kamu tau?” tanya Lula yang menyesal menitipkan putrinya pada Gilang. “Belum, tapi sepertinya papa sudah mencurigai kami. Makanya kemarin papa memberi uang pada Feya untuk menjauhiku.” “Terus kamu ambil Fey?” tanya Lula pada putrinya setelah mendengar penjelasan Gilang. “Ambil-lah, lumayan buat jajan. Mas Gilang juga bilang itu boleh pakai dan bahkan suruh aku anggap itu hadiah dari mertua. Lagian rejeki kok di tolak, itukan yang sering mama bilang.” Jawaban Feya yang polos membuat Dimas dan Lula seketika menepuk jidat masing-masing. “Sudah-sudah, mereka sudah sah juga. Kita sebagai orang tua juga tidak bisa berkata apa-apa kalau anak sudah saling suka.” Dimas memang selalu menjadi penengah walau pernah juga emosi tak terkendali, seperti tadi. ”Dari mana kamu tau kalau mereka saling suka?” Lula yang tidak percaya pun malah meragukan apa yang di katakan suaminya. “Nanti kamu juga akan tau apa yang aku katakan. Sekarang sudah hampir subuh, biarkan Gilang istirahat. Perjalanan ke sini juga cukup memakan waktu yang lama.” Dimas menyerah dan tidak mempermasalahkan pernikahan mereka lagi. Gilang akhirnya di bawa masuk dan tidur di kamar Feya. Sedangkan Dimas yang di serang dengan kejutan yang begitu besar pun merasa lelah. Yang sebenarnya, Dimas merasa sedikit lega karena Feya sudah menemuka laki-laki yang mampu menjaganya. Pagi itu hanya kurang beberapa jam saja, tapi Feya dan Gilang masih sangat mengantuk. Tidur di samping istri memang senyaman itu. Sampai mereka lupa di mana sekarang tidur. “Jam sembilan mereka belum bangun juga?” tanya Dimas melihat Lula masak sendiri di dapur. “Biarkan mereka tidur lebih lama. Katanya kamu mau punya cucu?” sindir Lula mendengar igauan suaminya semalam. “Hais, Feya masih kecil.” Dimas membantu istrinya sampai selesai. Sarapan pagi yang sudah sangat telat sekali. Karena memang pagi ini satu rumah kesiangan. Ya, bukan hanya Gilang dan Feya yang bangun sekitaran jam sebelas siang. Lula yang paling awal bangun saja, sudah jam delapan pagi. Intinya, karena serangan mendadak semalam dari Gilang dan Feya benar-benar membuat satu keluarga tidur nyenyak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN