Meisya duduk memangku Qinara yang bersandar di bahu dengan kedua tangan melingkari pundaknya, ia berada di ruang tengah bersama kedua nenek Qinara, Eyang Estri dan Eyang Putri Qinara biasa nyapa mereka, Eyang Putri adalah ibunda Asih dan Eyang Estri adalah ibunda Naka. Sementara para lelaki sedang menggelar acara tahlil di ruang tamu hingga teras rumah, yang dihadiri para kerabat dan tetangga mereka Naka. Samuel juga ada di sana, Meisya menatap kedua wanita yang sudah tidak muda lagi itu. Mereka adalah dua orang yang tidak memiliki ikatan darah tetapi dipersatukan menjadi keluarga oleh ikatan pernikahan anak-anak mereka. "Eyang Estri, saya mohon doakan Asih putri saya, agar diampuni segala dosanya. Maafkan juga jika selama menjadi menantu Anda dia banyak kekurangan dan kesalahan," ujar

