"Selamat pagi," Samuel mengecup pipi Meisya dari samping, wanita yang tengah membuat secangkir kopi itu tersenyum mendapat perlakuan manis dari sang suami. "Pagi, mau sarapan sekarang?" tanya Meisya seraya mengaduk air panas yang baru saja ia tuangkan ke dalam cangkir hingga air putih itu berubah menghitam seketika tetapi dapat memberikan aroma dan rasa yang bisa menenangkan jiwa. "Nanti aja, masih pengen peluk kamu," jawab Samuel seraya mendekap tubuh Meisya dari belakang dan menaruh kepalanya di bahu sang istri dengan kedua tangan membelai perut buncitnya. Mbak Tri yang baru memasuki dapur mengulum senyum melihat apa yang kedua majikannya lakukan, sudah terbiasa bagi wanita itu melihat kemesraan yang Samuel lakukan pada Meisya selama hampir dua bulan ini. Benar apa yang wanita i

