"Meisya jangan pergi tinggalin aku, aku sayang sama kamu." Samuel terus merapat rasanya tidak tahu harus mencari wanita yang sangat dicintainya itu ke mana mengingat Meisya tidak memiliki tempat pergi di sini, terlebih lagi jika membayangkannya Abraar yang masih sangat kecil untuk dibawa bepergian tanpa tujuan. "Meisya, kenapa kamu ninggalin aku, aku mohon jangan tinggalin aku," rintih Samuel yang kini tergugu seraya menghapus air matanya. "Aku enggak akan ninggalin Kak Sam, tapi Kak Sam harus janji sesuatu sama aku." Rasanya semua keberuntungan yang ada di dunia ini berada di pihak Samuel hingga membuah kebahagiaan yang tidak terkira menguasai hatinya saat mendengar suara Meisya dari belakang. Samuel membalikkan tubuhnya dan mendapati Meisya berdiri tidak jauh dari pintu, tanpa bany

