Sudah seminggu Aku dan Mas Rama pindah ke kerumah Ibu mertua. Karena merasa bosan, aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar rumah. Setidaknya untuk meluruskan pinggang dan menghirup udara segar. Meski Ibu selalu memintaku untuk banyak istirahat, tapi aku merasa kalau aku diam terus di kamar, aku bisa benar-benar gila.
Saat melewati salah satu pintu kayu tua yang kusangka pintu gudang, sesuatu membuatku terhenti.
Pelan, samar… lalu mengeras.
Tangisan bayi?
Aku membeku.
Deg.
Bibirku terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar. Aku mencondongkan tubuh, mendekat ke pintu itu. Suara itu jelas. Bukan salah dengar. Bukan suara burung atau binatang lain. Itu benar-benar suara bayi menangis, cekikikan kecil yang berubah jadi rengekan panjang.
"Sarah, sini! kamu ngapain disitu?" tanya Ibu mengagetkanku. Aku langsung menoleh, jantungku nyaris melompat keluar.
Ibu berjalan cepat ke arahku, wajahnya cemas namun sorot matanya… tajam. Seolah bukan hanya terkejut, tapi juga marah.
Aku cepat-cepat melangkah menjauh dari pintu itu. "Ah, ibu ngagetin aja, ini aku cuma mau lihat-lihat, Bu!"
"Lain kali kamu jangan main ke area belakang rumah, ya!" suara Ibu terdengar lebih tegas dari biasanya. "Dan jangan sekali-kali masuk ke dalam gudang!"
Aku menelan ludah. "Kenapa memangnya, Bu?"
"Takut ada ular," jawabnya cepat.
Lalu tatapannya berubah lembut, seolah menutupi kekesalannya barusan. Dapat dikatakan wajah sang ibu mertua amatlah cantik. Di usianya yang tak lagi muda, dia masih terlihat sangat segar dan memesona, terlihat sekali kalau dia selalu merawat diri dengan baik.
"Tadi Sarah bosan di kamar, jadi mau berkeliling sebentar. Tapi Bu, bagian belakang tidak ada semak-semak, kok. Ular biasanya di..."
"Sarah," Ibu memotong cepat. "Udah kamu jangan banyak tanya!" ucap Ibu pergi meninggalkanku, padahal dari dalam gudang itu aku sangat jelas mendengar suara bayi menangis.
Rasa penasaran yang membuncah aku pun kembali memastikan keadaan, beruntung sekali tak kulihat Ibu di rumah ini, suamiku dan Bang Reza belum pulang dari perkebunan milik keluarganya.
Sekarang aku sudah sampai didepan pintu gudang, tetapi sayang sekali pintunya dikunci dengan gembok. Aku mencoba mendengarkan sekali lagi, tapi kali ini tak ada suara tangisan. Hanya hening.
Merasa kecewa akhirnya akupun keluar melalui pintu dapur, tampaklah sebuah kebun dibelakang rumah ini yang lumayan luas dan dikelilingi tembok yang menjulang tinggi.
Aneh sekali, Ibu bilang aku tak boleh menginjakkan kaki diarea ini, karena takut ada ular. Tapi disini tak ada pohon besar ataupun semak-semak belukar. Apakah mungkin disini ada ular?
Angin berhembus kencang sehingga membuat wajah dan tubuhku merasa segar, aku pun berjalan-jalan santai diarea yang ditumbuhi rerumputan liar.
Lalu tiba-tiba...
"Aaaak!"
Kakiku tersandung sesuatu dan tubuhku limbung.
Aku terjatuh, menghantam tanah dengan keras. Tanganku segera memegang perutku, takut terjadi apa-apa dengan bayiku. Sakitnya menusuk, tapi setelah menarik napas panjang, aku bisa merasakan gerakan kecil dari dalam perutku.
Syukurlah.
Saat mencoba bangun, lututku menginjak tanah yang gembur. Aku memandang ke bawah dan jantungku berdetak semakin kencang.
Saat kuperhatikan tanah yang aku pijak ini seperti baru digali, masih merah dan gembur bentuknya memanjang seperti sebuah kuburan. Aku menatap sekeliling, hanya gundukan ini yang tidak ditumbuhi rumput sama sekali.
Dengan perasaan panik, akupun masuk kedalam rumah membersihkan diri sebelum Ibu melihatku ada disini.
Ketika Mas Rama kembali sore hari, aku langsung bertanya.
"Mas, " ucapku perlahan sambil duduk di sampingnya. "Tadi saat aku berkeliling terus lewat depan pintu gudang aku gak sengaja dengar suara tangisan bayi? Itu bayi siapa ya, Mas?" tanyaku.
Mas Rama yang hendak terpejam pun membuka matanya kembali.
"Mungkin itu bayi tetangga," jawab Mas Rama santai.
"Loh, bukannya rumah ini jauh dari tetangga ya, Mas?"
Mas Rama terkesiap dan membulatkan matanya, tetapi tak lama kemudian wajahnya kembali tenang.
"Emm, mungkin tadi ada orang yang lewat sambil bawa bayi. Oh ya, lain kali kamu jangan main-main diarea belakang apalagi sampai masuk kedalam gudang ya, Rah!"
Aneh sekali, semakin aku dilarang semakin juga aku dilanda penasaran.
"Pokoknya aku harus cari tahu sendiri, sebenarnya ada apa didalam gudang itu. Aku yakin, suara itu dari dalam gudang bukan dari luar" batinku.
"Memangnya kenapa sih Mas aku gak boleh masuk ke dalam gudang? aku cuma ingin tahu seluk beluk rumah ini. Lagian, aku bosan. Semenjak kita pindah kesini kamu belum pernah ajak aku jalan-jalan keluar," ucapku cemberut.
Aku memang baru satu minggu tinggal di desa ini, awalnya kami tinggal di kota, tetapi Ibu Mertua ingin aku melahirkan disini karena ini cucu pertamanya.
"Sudahlah, kamu jangan banyak tanya! Kamu itu lagi hamil, di desa ini kalau ada orang hamil banyak pantangannya. Jadi kamu nurut aja apa kata Mas ya!" ucapnya sembari memejamkan matanya kembali.
"Terus tadi aku di halaman belakang nemuin gundukan tanah mirip kuburan, tanahnya juga masih merah. Itu kuburan atau bukan sih, Mas?" kali ini Mas Rama tampak terkejut seperti ketakutan.
"Bukan Rah, bukan. Disini mana ada kuburan? Mungkin itu kerjaannya Mang Ujang yang mengubur bangkai hewan disitu," ucapnya.
Mas Rama menyebut nama salah satu pegawai di rumah ini, tetapi rasanya semua pertanyaanku dijawab dengan asal-asalan olehnya, terlihat dari gelagatnya.
Malamnya aku benar-benar tidak bisa tidur. Bayiku bergerak terus seakan ikut gelisah. Aku mencoba membaca, menonton video di ponsel, minum s**u, tapi tidak berhasil menenangkan pikiranku.
Akhirnya kuputuskan menuju dapur untuk mengambil camilan.
Lampu dapur menyala. Dan di sana berdiri Mang Ujang, menyeduh kopi. Dia tampak kaget saat melihatku.
"Eh, Mang Ujang!"
Ia menoleh. "Iya Non. Ada yang bisa saya bantu?" tanya lelaki itu dengan sopan.
"Emm, tidak Mang, apa boleh saya bertanya?"
Aku sangat penasaran apa yang disembunyikan suamiku dan keluarganya. Mengingat tingkah laku mereka yang begitu aneh.
"Iya Non, boleh. Tanya saja!"
"Apa Mang Ujang habis mengubur sesuatu di halaman belakang?"
"Tidak Non. Saya tidak ngubur apa-apa. Memangnya ada apa ya?"
"Itu artinya ucapan Mas Rama tadi tidak benar, lalu jika Mang Ujang tidak mengubur apa-apa, lantas apa yang terkubur didalam sana? Kalau bangkai hewan, masa iya sebesar itu? Mirip Seperti kuburan manusia?" pikirku.
"Tapi tadi kata Mas Rama, Mang ujang loh yang ngubur bangkai hewan disitu? Tapi kok mirip kuburan ya Mang?" tanyaku menatap matanya.
Mang Ujang pun terkesiap, seperti ketakutan.
"Ii-iya, kemarin saya mengubur... mengubur bangkai kucing Non, iya, di halaman belakang," ujarnya gelagapan.
"Bangkai kucing masa sebesar itu?" ucapku menelisik.
Mang Ujang langsung panik, matanya menghindar dari tatapanku. "Maaf Non, saya ke depan dulu ya. Permisi!"
Ia pergi begitu cepat seolah melarikan diri dariku.
Dan aku berdiri di dapur, memegang perutku, merasakan hawa dingin perlahan naik dari lantai sampai ke tengkukku.
Ada sesuatu yang sangat… sangat salah di rumah ini.
Dan aku harus mencari tahu, sebelum semuanya terlambat.
--