Aku duduk tercenung di kursi meja makan, kedua tanganku meremas ujung daster yang kukenakan. Sembari memikirkan tentang perkataan Mas Rama dan Mang Ujang tadi siang yang terus berputar-putar tanpa henti di kepalaku. Keduanya saling bertolak belakang. Saling menutupi. Dan entah kenapa… bukan membuatku tenang, tapi justru membuat tengkukku terasa dingin sejak sore tadi.
Langkah kaki terdengar menuruni tangga. Ibu muncul dari lantai atas, senyumnya tipis namun tatapannya seperti bisa membaca isi hatiku. Ia duduk di kursi seberangku, merapikan baju yang ia kenakan.
"Wati!" panggil Ibu dengan suara nyaring.
"Iya, Nyonya. Ada apa?" Mbak Wati muncul dari pintu belakang, wajahnya masih basah oleh keringat. Mungkin baru saja selesai menyapu halaman.
"Buatin saya teh manis hangat!"
"Baik Nyonya."
Mbak Wati bergegas menyiapkan pesanan Ibu. Sementara Ibu mengalihkan tatapannya padaku.
"Sarah, kamu harus banyak gerak ya, untuk melancarkan persalinan. Kalau Ibu dulu sering ngepel sambil jongkok, kamu juga harus gitu, jangan diam saja ya!" ucap Ibu Mertua.
Semenjak aku dan Mas Rama pindah kesini, Ibu Mertua memang begitu perhatian. Terutama pada calon bayi kami.
"Tehnya, Nyonya," ucap Mbak Wati sembari meletakkan secangkir teh di hadapan Ibu.
Ibu mengangguk, lalu Mbak Wati kembali ke halaman belakang melanjutkan pekerjaannya.
"Iya Bu, Sarah juga sering ikut senam hamil kok,"
"Nah, bagus itu. Oh, iya, hari ini Ibu ada urusan, pulangnya mungkin malam, sama Reza. Kalau kamu mau makan atau butuh apa-apa, bilang saja ke Wati."
"Iya Bu. Hati-hati di jalan!"
Ibu bangkit, mengambil tasnya, lalu meninggalkan rumah bersama Bang Reza, sementara Mas Rama sedang di perkebunan. Di rumah memang ada Mbak Wati asisten rumah tangga di rumah ini, tetapi wanita itu sangat hormat pada majikannya sehingga sangat kaku saat kuajak mengobrol.
---
Sore hari, langit tampak mendung gelap. Hanya beberapa menit kemudian hujan pun turun dengan lebat disertai petir yang menyambar-nyambar. Suara gemuruh yang menggelegar membuat suasana sore menjelang malam menjadi mencekam. Ditambah angin yang berhembus sangat kencang menambah kesan ngeri.
Aku sedang mencari kunci pintu dapur diantara deretan laci kayu, karena angin bertiup sangat kencang membuat pintu dapur berulang kali terbuka dan tertutup dengan sendirinya. Sehingga menimbulkan suara yang sangat mengganggu.
Sampai akhirnya pandanganku tertumbuk pada sebuah kunci yang bentuknya… bukan seperti kunci pintu biasa.
Kunci gembok.
Dan satu-satunya pintu yang digembok di rumah ini hanyalah…
Pintu gudang.
Seketika dadaku berdegup keras.
Apakah ini... Apakah ini kunci untuk membuka rahasia yang sejak kemarin mengganggu pikiranku?
"Apa kuncinya sudah ketemu, Non?" suara Mbak Wati terdengar dari belakangku.
Aku tersentak. Jantungku hampir meloncat.
"Sudah Mbak," jawabku cepat sambil menutupi kunci itu dengan telapak tanganku. "Aku kunci dulu ya pintunya. Mbak Wati, bisa minta tolong beresin kamarku?" ucapku mengalihkan perhatian.
"Oh, bisa Non. Tapi hati-hati ya, lantainya licin jangan sampai terpeleset!"
Aku mengangguk. "Iya Mbak, terima kasih."
Begitu Mbak Wati pergi, aku mencengkeram kunci gembok itu erat-erat dan berjalan ke arah belakang rumah. Hawa dingin dari lorong seakan menyusup ke tulang-tulangku. Suara gemuruh hujan memantul di dinding, menggetarkan udara.
Sampai di pintu dapur, aku menguncinya cepat-cepat. Lalu aku berdiri tepat di depan pintu gudang.
Aku sangat penasaran sebenarnya ada apa didalam ruangan ini? Bagaimana bisa, didalam sana ada suara tangisan bayi?
Setelah kurasa aman, aku mulai memasukkan kunci kedalam gembok. Dua kali memutar gembok itu akhirnya terbuka. Aku celingukan ke kanan dan kiri, takut saja jika ada pegawai Ibu yang melihatnya, aku masuk kedalam gudang dan menutup pintu kembali.
Bau kayu tua dan debu langsung menusuk hidungku. Ruangannya gelap hanya diterangi sinar tipis dari celah kayu dinding. Lemari-lemari besar berdiri, berjejer seperti penjaga yang mengawasi setiap gerakanku. Ranjang-ranjang besi bekas bersandar acak, sebagian terikat dengan tali kusut.
Angin dan hujan yang menerjang atap, menghasilkan bunyi drup-drup-drup yang terdengar seperti detak jantung seseorang yang ketakutan.
Aku menelan ludah.
Mataku mengamati setiap sudut ruangan.
Lalu—
Bugh!... Bugh!... Bugh!...
Suara pukulan keras dari… sesuatu.
Aku memucat.
"A... Apa itu...?" lirihku.
"Tolong...!"
Aku membeku.
Suara perempuan.
Serak.
Lemah.
Terdengar putus asa.
"Tolong keluarkan aku dari sini!"
Tengkukku merinding.
Perutku menegang.
Jantungku berdebar sangat kencang, mencari sumber suara itu. Aku bergegas memeriksa belakang lemari. Kosong. Ranjang-ranjang kosong. Di balik tumpukan kasur pun kosong. Tidak ada siapa pun.
Tapi suara itu terdengar jelas. Sangat jelas.
Aku bisa saja berteriak mencari keberadaan wanita itu tapi yang aku ditakutkan Mbak Wati masuk kemari dan menemukan keberadaanku.
Bugh!... Bugh!... Bugh!...
Suara itu terdengar lagi tapi aku tidak tahu dari mana sumber suara itu. Aku terus melangkah mengikuti arah suara itu. Semakin dekat aku melangkah, semakin keras suara pukulannya.
Sampai akhirnya aku merasakan…
getaran halus di lantai.
Jantungku seperti tercungkil dari tempatnya.
Suara itu berasal dari lantai.
Dari bawah kakiku.
Aku berlutut, menempelkan telapak tangan ke lantai semen yang dingin. Hawa dingin menembus kulitku.
"Toloooong... Keluarkan aku dari sini!"
Mataku melebar ketakutan.
Ada seseorang.
Ada perempuan.
Terperangkap di bawah lantai gudang ini.
Aku menatap lantai itu lama, tubuhku gemetar.
Bagaimana mungkin?
Kenapa bisa ada seseorang yang disembunyikan di sini?
Saat tanganku meraba lantai semen itu tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat.
"Hei!" Suaranya terdengar menggelegar. "Siapa yang berani membuka pintu gudang ini, hah?!"
"Itu suara Ibu Mertua, gawat Ibu bisa marah besar kalau tahu aku ada didalam. Bagaimana pun juga aku tak ingin ada masalah dengannya," gumamku.
Aku segera berjinjit dan masuk kedalam lemari besar untuk bersembunyi.
"Ayo, kalian cari siapa yang berani masuk kedalam gudang ini!" seru Ibu dengan tegas.
Darahku serasa berhenti mengalir.
Tidak.
Tidak boleh ketahuan.
Tidak sekarang.
"Ujang, nyalakan lampunya!” perintah Ibu.
Ceklek.
Lampu gudang menyala terang.
Aku memejamkan mata sesaat. Cahaya yang menembus celah lemari membuatku bisa melihat siluet-siluet orang lewat. Suara sepatu mereka menghantam lantai gudang.
Orang-orang suruhan Ibu tampak sedang menggeledah isi ruangan. Pintu-pintu lemari dibuka satu per satu. Bunyi engsel berdecit membuat jantungku hampir meledak. Sebentar lagi, cepat atau lambat aku pasti ketahuan.
"Bu, sepertinya kita harus memindahkan dia dari sini. Lihatlah dia terus memukul-mukul pintu, bikin orang-orang curiga saja!" Suara Bang Reza terdengar dekat sekali.
Aku membeku.
"Dia? Dipindahkan? A-Apa maksudnya?" pikirku.
"Ya, kamu benar! Malam ini kita bawa dia dari sini," sahut Ibu tegas.
Tubuhku terasa seperti dicelupkan ke air es.
Ada seseorang di sini.
Disembunyikan.
Disekap.
Dan Ibu mertua serta Bang Reza tahu semuanya.
Aku tidak sempat berpikir lagi karena—
KRIEEEK…
Pintu lemari tempatku bersembunyi terbuka.
Aku mengangkat wajah dengan napas tercekat.
Di depanku berdiri Mang Ujang, wajahnya pucat, matanya membelalak melihatku meringkuk di dalam lemari.
Aku terpaku.
Tidak bisa bicara.
Tidak bisa bergerak.
Ia menemukan aku.
Aku tertangkap.
Dan setelah ini… aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
Tapi perasaanku mengatakan sesuatu yang jauh lebih buruk akan dimulai.
---