Bab 3 Makanan yang Tak Boleh Dihabiskan

1114 Kata
Aku berdiri mematung, menatap Mang Ujang dengan mata melotot, berharap ia tidak mengatakan apa pun tentang keberadaanku. Jantungku berdetak kencang, telapak tanganku basah oleh keringat. Aku tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika Ibu tahu bahwa aku yang bersembunyi di dalam lemari ini. "Gimana Jang? Apa kamu menemukan seseorang yang masuk kesini?!" tanya Ibu dengan nada yang sedikit meninggi, membuat aku semakin merasa takut. Aku menahan napas, menunggu jawaban Mang Ujang. Detik demi detik terasa begitu panjang. Pandangannya beralih ke arah lemari. Aku membeku. Matanya menatap lurus ke arah tempatku bersembunyi, menyipit seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. "Ya Tuhan… jangan. Jangan bilang apa pun!" batinku memohon. Beberapa detik berlalu—terlalu lama. "Tidak ada, Nyonya!" jawab Mang Ujang akhirnya, sembari menutup pintu lemari dengan tenang. Kaki dan tanganku langsung terasa lemas. Aku hampir terjatuh jika saja tidak berpegangan pada dinding lemari. Ibu mendengus keras, jelas tidak puas. Langkah kakinya menghentak lantai. "Lalu siapa yang berani membuka pintu gudang ini tanpa perintahku, hah?" tanya Ibu lagi, nada suaranya semakin meninggi dan membuatku merasa tidak nyaman. "Maaf Nyonya, ta-tadi sa-ya yang buka," ucap Mbak Wati terbata, suaranya dipenuhi ketakutan. Aku membelalakkan mata. Dia… mengaku? Kenapa? Mengapa ia mau mengambil risiko sebesar itu? "APA!? Kamu ngapain masuk kedalam gudang!? Apa aku menyuruhmu?! HAH!?" bentak Ibu, suaranya yang lantang membuat tubuhku gemetar dan keringat bercucuran. Aku tidak menyangka Ibu bisa menjadi seperti itu. "Maaf Nyonya, tadi perempuan itu berteriak sangat kencang. Saya terpaksa masuk dan menenangkannya. Tetapi tiba-tiba Non Sarah memanggil, karena saya takut dia datang kemari jadi saya buru-buru menemuinya dan lupa mengunci pintu kembali, maafkan saya Nyonya," jelas Mbak Wati panjang lebar, suaranya yang tenang membuatku merasa sedikit lega. "Benar begitu? Apa kamu tidak berbohong?" tanya Ibu lagi, nada suaranya kembali meninggi, menguji, menekan dan memaksa. "Benar Nyonya, saya tidak berbohong!" sahut Mbak Wati sambil menunduk semakin dalam. Ruangan mendadak lengang. Aku menahan napas. Lemari ini terasa semakin sesak. Perutku tertekan, betisku pegal, dan aku hampir tidak sanggup bertahan lebih lama. Akhirnya Ibu bersuara. "Baik. Kali ini saya maafkan." Suara Ibu terdengar sedikit mereda, tapi aku masih bisa menangkap ketidakpuasan dalam nada itu. "Tapi lain kali jangan ceroboh seperti ini! Saya tidak ingin ada orang luar tahu rahasia ini, termasuk menantu saya!" Jantungku seakan berhenti berdetak. Rahasia? Rahasia apa yang sampai harus disembunyikan dariku? "Baik Nyonya," jawab Mbak Wati, suaranya yang hormat membuatku merasa tidak nyaman. Akhirnya aku bisa bernafas lega, Ibu sudah percaya, itu artinya sudah tak ada lagi orang yang menggeledah ruangan ini. Setidaknya untuk saat ini, aku aman. Tapi, apa maksud dari perkataan Ibu? Rahasia apa yang disembunyikan Ibu dariku? "Lalu, dimana menantuku sekarang?" tanya Ibu lagi, nada suaranya yang sedikit meninggi membuatku merasa tidak nyaman. "Di kamar Nyonya, sepertinya Non Sarah sedang mandi," jawab Mbak Wati, suaranya yang tenang membuatku merasa sedikit lega. Kenapa ia rela berbohong demi melindungiku? "Hem, baiklah. Kita keluar dari sini. Dan ingat! Jangan pernah masuk gudang ini lagi tanpa seizinku!" titah Ibu tegas. Tubuhku kembali menegang. Jika mereka semua keluar dan mengunci pintunya… lalu bagaimana aku bisa keluar dari sini? Langkah kaki terdengar menjauh. Suara pintu ditutup dan... Hening. Pelan-pelan aku membuka pintu lemari. Ruangan itu kosong, gelap dan sunyi. Aku melangkah keluar dengan napas tertahan, lalu mondar-mandir di depan pintu gudang dengan perasaan panik. Aku tidak berani mengetuk atau membuat suara sedikitpun, takut saja jika Ibu tiba-tiba kembali. Klik. Suara kunci gembok dibuka dari luar. Pintu terbuka perlahan. Wajah Mbak Wati muncul dengan sorot mata waspada. "Ayo cepat keluar, Non!" bisiknya. Tanpa pikir panjang, aku keluar dan langsung bergegas menuju kamar untuk berganti pakaian. Baju penuh debu dan sarang laba-laba ini jangan sampai ibu lihat. Baru saja aku selesai berganti baju, terdengar suara ketukan di pintu. "Sarah!" "Iya, Bu. Ada apa?" Aku membuka pintu perlahan, berusaha setenang mungkin. "Sudah makan, Rah?" "Belum, Bu. Ibu kapan pulang?" "Baru saja," jawabnya sambil tersenyum lembut—berbanding terbalik dengan sosok yang barusan mengomel di gudang. "Ibu bawakan makanan buat kamu. Ada di dapur, lagi disiapkan sama Wati. Nanti di makan ya!" "Oh… iya, Bu. Terimakasih. Ibu nggak makan?" tanyaku. Ibu menggeleng. "Tidak, Rah. Ibu sudah makan. Lagi pula banyak yang harus Ibu kerjakan." Aku mengangguk pelan. Ibu segera berlalu menuju kamarnya di lantai atas. Aku menghela napas panjang sebelum akhirnya melangkah ke dapur. Tak lama kemudian, Mbak Wati datang menghampiri. Tanpa banyak bicara, ia meletakkan piring berisi ayam bakar lengkap dengan nasi dan segelas teh hangat di atas meja. "Ini makanannya, Non," ucap Mbak Wati, suaranya terdengar datar tetapi sorot matanya dipenuhi kecemasan. Aku menelan ludah. "Mbak… aku ingin bicara sesuatu denganmu!" Ia tidak langsung menjawab. Hanya menatapku sekilas dengan pandangan khawatir. "Sebenarnya…" aku mendekatkan wajah, bicara hampir berbisik. "Siapa wanita yang tadi… berteriak meminta pertolongan dari dalam gudang itu, mbak?" Mbak Wati menahan napas. Matanya bergerak gelisah ke segala arah, seperti memastikan tidak ada yang mengintip atau mendengar. "Mbak, jawab singkat saja. Aku nggak butuh penjelasan. Aku cuma… aku cuma ingin tahu sedikit saja," bisikku lagi, berharap Mbak Wati akan menjawab. Akhirnya ia mendekat. Sangat dekat. Suaranya begitu pelan, hampir tidak terdengar. "Kalau Nona benar-benar ingin tahu… malam ini, Nona jangan sampai tertidur!" Ia menelan ludah, suaranya gemetar. "Tapi semua orang harus mengira bahwa Nona tertidur pulas." Ia menatap ayam di piringku. "Dan jangan makan sampai habis ayam ini!" bisiknya lagi membuatku urung untuk menyuapkan makanan ini. Aku terdiam memikirkan ucapan Mbak Wati, bagaimanapun juga aku harus faham tanpa harus dijelaskan secara rinci. Mbak Wati pasti dalam keadaan terdesak dan tidak bisa banyak bicara. Bisa juga ini menyangkut pekerjaan atau juga nyawanya. Sehingga ia terlihat sangat ketakutan dengan Ibu. Apa yang harus kulakukan? Setelah ini pasti Ibu akan bertanya makanan yang ia bawa habis atau tidak. Harus kubuang kemana makanan ini, agar Ibu tak melihatnya? "Jika Nona ingin, saya bisa bantu membuang makanan ini dengan aman," bisik Mbak Wati, suaranya yang pelan membuatku merasa tidak nyaman. Aku kembali celingukan kearah dalam, takut saja ada orang lain atau Ibu yang sedang memperhatikan. Dan saat keadaan aman, akupun menganggukkan kepala. Segera Mbak Wati mengambil sebuah kantong kresek berwarna hitam, menumpahkan daging ayam dan setengah porsi nasi itu kedalamnya. Lalu ia pergi keluar lewat pintu belakang. Kini dihadapanku hanya ada setengah porsi nasi yang tersisa dan segelas teh hangat. Dan kali ini aku sama sekali tak berani meminum teh hangat itu. Aku hanya bisa duduk diam, memikirkan apa yang akan terjadi malam ini. Apakah aku akan menemukan rahasia yang disembunyikan oleh keluarga suamiku? Perkataan Mbak Wati terus terngiang-ngiang dikepalaku. "Malam ini jangan sampai tertidur… tapi semua orang harus mengira Nona tertidur pulas!" Jantungku berdebar kencang. Bagaimana kalau aku ketahuan pura-pura tidur? Apa yang akan mereka lakukan padaku? Aku menelan ludah. Tidak, aku tidak punya pilihan. Aku harus tetap sadar. Harus. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN