Jika suatu hari aku lupa bagaimana rasanya dicintai, Ingatkan aku pada pagi itu, Langit pucat Paris, Doa yang lirih, Dan satu nama yang kusebut sebagai hidupku. *** Pagi itu perlahan datang menyapa Zevana yang membuka mata dengan senyum kecil yang tanpa disadari. Cahaya matahari masuk perlahan melalui jendela besar rumah mereka. Rumah yang sangat luas dan megah. Meskipun luas, namun rumah itu tetap hangat. Tangan Zevana secara refleks bergerak ke samping, menemukan Ankala yang masih terlelap. Wajahnya tenang, dan ketika dia membuka mata, cahaya mentari menyorot ke iris keabuan matanya seolah cahaya itu tak bisa dipisahkan. Zevana menatapnya cukup lama. Masih merasa takjub pada kisah hidupnya. Mengingat bahwa mereka sampai di titik ini. Begitu banyak kehilangan yang telah terjadi

