Aku mengucap janji setelah kehilangan, Setia untuk selamanya bukanlah kepalsuan, Itu adalah komitmen tak hanya pada dunia, Namun ... juga pada Tuhan. *** Seorang anak laki-laki berambut cokelat gelap berlari mendekat. Usianya sekitar sepuluh tahun, tubuhnya sedikit lebih tinggi dari Aksara dan Arsaka. Dialah Nayel. Putra tunggal Gio dan Restha. Dia berdiri di depan Farzana seperti perisai kecil, tangannya terbuka seolah siap menghadang serangan salju berikutnya. “Kalau mau lempar, ke aku aja!” ujarnya tegas meski pipinya memerah oleh udara dingin. Aksara mendengus, “ih, Nayel sok jago.” Arsaka tertawa kecil, “iya nanti kamu nangis lagi kayak waktu Farzana jatuh kemarin!” Nayel menoleh tajam, “itu bukan nangis karena cengeng! Itu nangis karena khawatir! Tahu?” Farzana menarik uj

