Aku berdiri di tepi bahagia itu. Bukan sebagai korban apalagi pahlawan. Hanya seorang perempuan, Yang mencintai terlalu dalam, Hingga rela menjadi latar, Agar dunia tetap berdiri utuh. *** Zevana berdiri di depan papan besar yang hampir memenuhi satu sisi dinding ruang kerja itu. Papan gabus berbingkai kayu tersebut telah berubah menjadi peta perasaan yang tak pernah dia akui. Potongan kain berbagai tekstur, sketsa gaun dengan garis-garis tegas dan lembut, juga catatan kecil bertuliskan tangan rapi, semuanya tertata presisi. Beberapa hari setelah Ankala resmi melamar Restha di restoran itu, secara langsung Restha menghampiri Zevana dan meminta untuk membantu menyiapkan acara pertunangan. Dia berkata bahwa dia terlalu gugup, dia khawatir jika Ankala tidak menyukai pilihannya untuk

