63. Titik Nol

1614 Kata

Aku belajar bahwa kepergian paling kejam, Adalah yang tak memberi kesempatan untuk merelakan, Kita berpisah bukan karena selesai, Melainkan karena takdir menutup pintu terlalu cepat. *** Lorong rumah sakit itu dipenuhi cahaya putih dan udara yang dingin, cahaya dari lampu yang memantul di lantai mengilap dan dinding yang terlalu besar untuk menampung kesedihan yang menyayat hati. Bau antiseptik terasa menusuk, bercampur dengan udara yang berat oleh penantian dan doa-doa yang tidak terucap. Zevana berdiri mematung di depan ruang gawat darurat. Tangannya dingin, jari-jarinya saling menggenggam seolah itu satu-satunya cara agar dia tidak runtuh. Baju sederhana yang dikenakannya terasa begitu asing, dia seperti tersesat di dunia yang tidak memberinya waktu untuk bernapas. Prabu mondar-

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN