Bab 10

2140 Kata
Tak butuh waktu lama, gadis itu mengetikkan pesan balasan untuk si pengirim. Suasana hatinya yang tadi memburuk karena percakapan nya dengan Dania kini berangsur membaik, “Iya sayang? /peluk kamu balik/” ** Lia yang baru saja pulang dari tempat kerja nya mendapati Helena sedang sibuk dengan tugas kuliah nya di ruang TV. Segelas s**u cokelat yang isi nya tinggal setengah terlihat di antara laptop dan buku kuliah gadis itu. Wanita itu memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu, Ia tersenyum geli melihat raut wajah serius Helena yang sampai tidak menjawab salam dari nya. Gadis itu pasti tidak mendengarnya karena sibuk berkutat dengan tugas-tugas kuliah yang kian hari makin menumpuk. “Serius amat itu komuk!” tegur Lia yang membuat Helena tersentak kaget. Pena yang Ia pakai untuk menulis sampai terjatuh dan bahkan masuk ke celah-celah sofa. Wanita paruh baya yang kini sudah berganti pakaian dengan daster rumahan itu tertawa sambil memencet remot TV, mencari tayangan yang sekiranya bisa Ia nikmati sambil menemani anak gadis nya itu mengerjakan tugas. “Ma, sejak kapan pulang?” tanya Helena yang masih merasa kaget. Matanya sedikit melotot saat melihat penampakan sang Mama di sofa. “Apa ini bukan Mak gue ya? Jangan-jangan hantu rumah ini lagi nyamar.” Seketika bulu kuduknya merinding, Ia menatap Lia dengan horror yang balas ditatap dengan raut wajah kebingungan Mama nya itu. Ia menghela napas dan memejamkan mata lalu tiba-tiba Ia membaca ayat pertama dari ayat kursi. Baru ayat kedua, Ia membuka mata nya saat kepala nya langsung dilempar bantal sofa oleh Lia yang kini menatap nya dengan tatapan garang. “Maksud nya apa ya baca ayat kursi?” tanya Lia galak. “Anjir bisa ngomong!” seru Helena kaget. Ia sedikit menghindar dari Lia yang menatap nya kesal sekaligus bingung. “Kebanyakan ngerjain tugas gini nih. Otaknya ngebug.” Ujar Lia. Walaupun wanita itu sudah berumur empat puluh tahun, namun bahasa nya masih terbilang gaul seperti anak muda kebanyakan. “Apa sih, Na?” tanya Lia lagi melihat anaknya masih diam menatap nya sambil takut-takut. “Kok tau nama panggilan gue?” tanya Helena. Lia menatap anak nya tidak percaya. “Lagi sandiwara? Mau ada acara drama gitu ya di kampus kamu?” tanya Lia balik. “Hah?” sahut Helena tidak paham. “Kok tau gue kuliah?” tanya Helena bingung. “Halah apaan kamu ini?” tanya Lia mulai habis kesabaran. “Kamu kira Mama hantu?!” seru Lia tiba-tiba tersadar bahwa dari tadi anak gadis nya itu mengira dirinya makhluk halus. “Ini Mama beneran? Kok gak ngetok pintu lagi? Gak ngucap salam?” tanya Helena menghela napas lega. Kini perasaan takut nya sudah hilang berganti perasaan geli akibat pikiran konyol nya tadi. “Ya Rabbi! Dari tadi Mama udah ngetok pintu, udah ngucap assalamualaikum tiga kali gak denger? Terus tadi emang Mama liat kamu lagi belajar yaudah Mama langsung masuk kamar buat mandi.” jelas Lia yang geleng-geleng kepala. Gadis itu hanya menunjukkan cengiran khas nya lalu melanjutkan tugas kuliah nya itu. “Kamu udah makan, Na?” tanya Lia sambil memakan cemilan dari toples yang memang tersedia di ruang TV mereka. Helena mengangguk mengiyakan, tangan kanan nya masih aktif menulis, sesekali ia mencari jawaban di internet menggunakan laptopnya. “Kapan?” tanya Lia lagi. “Tadi sore, Ma. Sekarang udah kenyang, udah minum s**u juga.” jawab Helena masih belum berhenti menulis. “Mama udah?” tanya Helena balik. “Udah tadi di kantor.” Jawab Lia singkat yang hanya dibalas oleh anggukan kepala oleh Helena. Kedua nya sibuk dengan urusan masing-masing. Helena yang masih berusaha menyelesaikan tugas nya dan Lia yang hanya sibuk menoton TV atau sekedar mengecek ponsel nya. Waktu berlalu hingga jam sepuluh malam, gadis itu menghela napas lega saat semua tugas nya itu telah selesai Ia kerjakan, setelah itu Ia hanya meregangkan otot-otot nya akibat terlalu lama menulis. Dengan cepat, Ia memasukkan peralatan kuliah nya dan mematikan laptop nya. Lia sendiri beberapa belas menit yang lalu sudah pergi ke kamar nya sendiri untuk beristirahat. Setelah semua nya sudah Ia bereskan, gadis itu mematikan lampu di ruang tengah lalu melangkahkan kedua kaki nya menuju kamar. Usai mencuci muka, gadis itu merebahkan diri di atas kasur. Kedua mata nya belum mengantuk sama sekali, tangan nya tergerak mencari ponsel nya di atas nakas. Entah kenapa ia sedikit merasa kecewa saat tidak menemukan pesan dari Dimitris. Ia melihat grup yang berisi dirinya dan laki-laki itu. Jantung nya tiba-tiba berdegup kencang saat melihat Dimitris asyik menggoda seorang gadis disana yang bernama Olivia. Tampak nya gadis itu anggota baru di grup mereka. “Salken Olive hehe” ucap Dimitris. Salken sendiri merupakan kepanjangan dari salam kenal. Maklum, bahasa anak RP memang suka disingkat-singkat seperti itu. “Dih najis Dim! Kemaren Anna sekarang Olivia!” sembur Laura yang melihat aksi Dimitris itu. “Sok manggil Olive lagi si b*****t RP ini.” respon Agra “Yailah guys gue cuma berusaha ramah aje.” Bela Dimitris. “Iya, Dim.” Respon Olivia “Apa nih bawa-bawa nama gue?” tanya Anna alias Helena. Dimas yang memainkan akun Dimitris itu awal nya hendak merespon balasan dari Olivia, namun Ia merasa kaget saat melihat nama Anna muncul di grup tersebut. Ia seharian ini memang menahan diri untuk tidak mengirimi gadis itu pesan, Ia sengaja melakukan itu untuk mencari tahu apakah Anna akan mencari dirinya seperti apa yang Ia lakukan saat gadis itu menghilang. Namun, pesan kemarin pun masih sama, hanya dibaca saja oleh Anna. Gadis itu bahkan tidak berniat sedikit pun mengirimi dirinya pesan padahal Ia juga sedang aktif di grup. “Liat tuh gebetan lo, Na. Genitin newmem.” Sahut Georgiana. Newmem merupakan kepanjangan dari new member yang berarti anggota baru. Mungkin grup nya sedang merekrut anggota baru dan Olivia salah satu orang yang diterima di grup nya itu. “Marahin Na marahin!” Laura ikut mengompori Helena agar memarahi Dimitris yang tidak memberikan respon apapun. Helena bingung harus bagaimana. Ia merasa tidak enak dengan Dimitris karena dituduh menjadi gebetan nya. Ia juga merasa bersalah tidak memberi tahu bahwa dirinya sudah mempunyai pacar kepada teman-teman di grup nya itu, terutama Dimitris. “Gue cuma temenan doang kok sama Dimi.” Kata Helena pada akhir nya. Ia bingung harus berkata apa, akhir nya Ia mengetikkan pesan itu. “Gak salah juga kan? Emang cuma temen doang.” Batin nya. Teman-teman grup nya yang sedang aktif seperti Agra, Georgiana, dan Laura sibuk meledek Dimitris yang kesan nya terkena friendzone dengan Helena. “Sabar, bro. RP keras!” ucap Agra meledek. “Mundur alon-alon, Dim!” tambah Laura. “Dim, masih ada gue kok!” seru Olivia ikut-ikutan. “Dim jangan galau yak!” Georgiana juga menambahkan. Semua respon dari teman-teman nya itu tidak ada yang ia gubris sama sekali. Fokus nya hanya pada isi pesan Anna yang entah kenapa malah membuat nya marah. Apa gadis itu tidak tahu kalau dirinya tertarik? Apa gadis itu tidak peka dengan perlakuan nya yang selalu mengirimi nya pesan beruntun setiap gadis itu hilang? Apa sikap nya selama ini kurang menunjukkan rasa ketertarikan nya pada gadis itu? Banyak sekali pertanyaan yang berputar di benak nya tapi Ia juga merasa bingung harus menanyakan nya atau tidak. Anna bukanlah gadis yang terbuka seperti dirinya. Terbuka. Otaknya memikirkan satu kata itu dan seketika dirinya terkulai lemas di jendela balkon kamar nya, tempat Ia biasa duduk dan merenung memikirkan banyak hal. Firasat nya mengatakan apa yang Ia pikirkan kali ini benar. Bahwa Anna tidak suka ia menyebutkan identitas nya pada gadis itu. “Tapi kan gue cuma nyebut Jogja?” Buru-buru Ia mengirim pesan pribadi pada Anna sebelum gadis itu keburu tidak aktif kembali. Ia yakin Ia tidak berbuat salah selain memberikan identitas tempat tinggal nya pada Anna. “Na, lo marah sama gue ya?” “b**o! b**o!” rutuk nya kesal pada diri sendiri. Dirinya merasa sedikit frustasi saat tidak kunjung mendapatkan balasan dari Anna. Ia mengalihkan pandangan ke arah luar, bulan sedang terang-terang nya menghiasi langit Jogja. Bintang-bintang kini juga berlomba-lomba memberikan sinar nya. Saat ponsel dirinya bergetar, cepat-cepat Ia membuka notifikasi yang ternyata berasal dari gadis itu. Dengan jantung yang sudah berdegup tidak karuan, Ia dengan sabar menunggu ponsel nya yang kini sedang ngelag tidak tahu kondisi dan waktu. “Kalo gue punya hp baru, gue buang lo anying!” rutuknya lagi pada ponsel nya itu. Ia berdecak kesal menunggu ponsel nya kembali normal. Butuh beberapa menit sampai Ia bisa membaca dan membalas pesan dari gadis tersebut. “Marah kenapa?” tanya Anna balik. Gadis itu di seberang sana merasa kebingungan dengan isi pesan laki-laki itu. Entah kenapa Ia merasa senang saat Dimitris mengirimi nya pesan lagi setelah seharian laki-laki itu seperti sengaja mengabaikan nya.  “Gara-gara grup kali ya?” batinnya. Dimas dengan cepat mengetikkan balasan untuk gadis yang Ia ketahui sebagai Anna, “Gara-gara gue bilang Jogja kemarin? Lo read doang gara-gara itu kan?” Helena yang menerima pesan itu sedikit kaget dan merasa tidak enak karena alasan yang membuat dirinya hanya membaca pesan dari laki-laki itu memang benar. Hanya saja ia tidak marah, Ia hanya tidak tahu harus merespon seperti apa. “Gue gak marah, gue cuma bingung ngeresponnya gimana.” Balas Helena jujur. “Bingung kenapa?” tak butuh waktu lama, laki-laki itu sudah membalas pesan nya lagi. “Belum pernah ada yang spill identitas asli nya sama gue.” Sent. Gadis itu sudah sedikit mengantuk namun Ia masih memilih melanjutkan obrolan nya dengan Dimitris. Ada perasaan senang yang tidak bisa Ia akui saat Dimitris mengirimi nya pesan kembali. Ia merasa sedikit bersalah pada Dylan. Entah darimana perasaan aneh ini muncul tapi Ia merasa seperti sedang berselingkuh. “Jadi, gue yang pertama?” “Iya.” Dimas di seberang sana menghela napas lega. Awal nya Ia pikir harapan nya sudah pupus saat membaca pesan Anna di grup. Namun, entah kenapa semangat nya muncul lagi. Iya, Ia bertekad menjadikan Anna miliknya. Cepat atau lambat, Ia akan mengatakan perasaan nya pada Anna. “Gue minta maaf ya, cantik. Mending lo tidur gih sekarang. Sleep tight.” Ucap Dimas yang hanya diiyakan saja oleh Anna. Ia berniat untuk membalas nya besok saja agar obrolan nya tidak terputus. Laki-laki itu tersenyum lebar sesekali terkekeh ketika mengingat perkenalan awal nya dengan Anna. Ia bersyukur bahwa dirinya lah yang menjadi partner Anna di event tersebut. “Gue berharap kita bisa jadi partner beneran, Na.” gumam nya sambil masih bersender di jendela balkon kamar nya. ** Usai melaksanakan ibadah shalat subuh, Helena memutuskan untuk kembali tertidur karena kelas nya hari ini dimulai pukul satu siang nanti. Baru saja Ia hendak memejamkan mata, pikiran nya malah melayang ke percakapan antara dirinya dan Dimitris tadi malam. Secara tidak sadar, bibir nya membentuk senyum segaris saat mengingat isi pesan terakhir dari laki-laki itu. “Gue minta maaf ya, cantik. Mending lo tidur gih sekarang. Sleep tight.” Ia tahu dirinya salah tingkah dan merasa senang saat laki-laki itu memanggil nya cantik dan bahkan mengucapkan ucapan selamat tidur padanya. Hanya saja gadis itu tidak mau mengakui nya dan memilih untuk mengabaikan perasaan nya itu. Ia percaya ini hanya karena dirinya dipuji bukan karena merasa tertarik atau bahkan menyukai Dimitris. Laki-laki itu bahkan tidak pernah melihat wajah asli nya, sudah pasti Dimitris memuji foto gadis Turki yang Ia gunakan sebagai karakternya di dunia roleplay tersebut. Iya, pasti begitu. Setidaknya gadis itu berusaha meyakini dirinya bahwa Ia sama sekali tidak mempunyai perasaan untuk Dimitris. Entah sudah minggu ke berapa sejak hari pertama hubungan nya dengan Dylan dalam masa break, Ia sudah berhenti mengirimi laki-laki itu pesan. Ia bingung harus bagaimana. Hati nya masih tidak rela melepaskan Dylan begitu saja tapi hati nya juga sudah lelah menunggu kejelasan hubungan mereka yang menurut Helena, kini di ujung tanduk. “Kata orang, break itu putus yang tertunda. Should I prepare for the worst?” batin nya menanyakan hal yang sama berkali-kali. Di satu sisi Ia percaya, Dylan memang sangat sibuk di kehidupan nyata nya yang membuat laki-laki itu terpaksa rehat sejenak dari dunia roleplay. Namun, sisi lain dari dalam dirinya juga ragu dengan hal itu. Apalagi sejak Ia masuk ke grup adik nya, Rissa, dimana Willy yang merupakan pacar Rissa juga bergabung ke dalam grup tersebut. Teman-teman Dylan pun turut bergabung yang semakin menguatkan pikiran buruk nya tentang pelaku di balik akun Dylan dan Willy yang Ia yakini merupakan orang yang sama. Dengan kata lain, Dylan memainkan dua akun sekaligus. Di tambah lagi dengan insiden ponsel Dania yang memunculkan nama Willy dua kali. Pertama, saat Dania sedang berada di rumah nya dan saat mereka bertiga bertemu di kantin kampus kemarin. Gadis itu menghela napas frustasi. Dirinya bingung harus mencari kemana semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan nya ini. Rasanya ingin sekali gadis itu menanyakan nya terlebih dahulu kepada Dania, namun sikap sahabat nya itu sedang sangat tidak bersahabat. Ia juga enggan menyapa nya duluan karena menurut Helena, perbuatan Dania di kantin kemarin sudah cukup membuat luka di hati nya. Ia tidak ingin perbuatan atau perkataan Dania yang lain kembali menyakiti dirinya kalau Ia berbuat nekat untuk bertanya tentang apa yang Ia pikirkan selama ini. Apa benar Dania lah orang di balik akun Rissa? Apa Dania merupakan adik RP nya? Pikiran-pikiran ini darimana datang nya? Bukan nya tadi dirinya sedang berbunga-bunga karena memikirkan pesan dari Dimitris semalam? “Pagi-pagi, gue udah overthinking aja.” gumam nya setengah berbisik. Helena menghela napas lagi sebelum mematikan lampu tidur nya. Ia berusaha tidak memikirkan masalah-masalah nya itu dengan susah payah. Beruntung nya, setelah sepuluh menit berlalu, gadis bermata coklat itu sudah kembali masuk kealam mimpi nya. Beberapa menit setelah Ia terlelap, satu pesan masuk ke notifikasi ponselnya. “Sayang.” Pesan itu hanya bertahan beberapa menit sebelum akhirnya si pengirim pesan memutuskan untuk menarik pesan nya kembali.                        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN