Pesannya cuma dibaca oleh Anna dan entah kenapa ia merasa kesal.
**
Helena bingung ingin membalas bagaimana pesan dari Dimitris tersebut. Pertama, karena laki-laki itu dengan tidak berdosa nya menyebut tempat tinggal nya walaupun tidak secara spesifik. Kedua, laki-laki itu terang-terangan sekali seperti ingin mendekatinya. Wajar saja, Dimitris tidak tahu kalau dirinya sudah mempunyai pacar yang kini hilang entah kemana. Namun, Helena tidak sejahat itu untuk mengkhianati Dylan yang bagaimanapun sudah menemani nya selama setahun belakangan ini. Dylan sekarang hanya sibuk di kehidupan nyata nya dan akan kembali menghubungi Helena secepatnya. Setidaknya itulah yang diyakini gadis bermata coklat itu.
Banyak sekali rasa nya yang gadis itu pikirkan tapi Ia bingung harus menceritakan nya pada siapa. Kini Ia menyendokkan suapan terakhir makan malam nya bersamaan dengan Lia yang tiba-tiba masuk ke kamar dengan pakaian yang sudah berganti dengan pakaian tidur.
“Udah abis makannya, kanjeng ratu?” tanya Lia dengan nada meledek. Helena tertawa sambil berpura-pura memasang wajah angkuh dan sombong.
“Iya, beresin ya.”
“Anak kurang ajar.” Sahut Lia dengan kesal yang malah membuat Helena makin tertawa. Wanita itu ikut terkekeh sambil membereskan makan malam anak gadisnya itu. Kedua tangan nya tiba-tiba ditahan oleh Helena.
“Bercanda, Ma. Sini biar Helena aja yang bawa, udah kuat jalan kok.” sahut Helena yang langsung merampas nampan bekas piring kotor nya lalu berjalan keluar kamar. Lia geleng-geleng kepala sambil tersenyum samar melihat punggung anak nya itu yang sudah menghilang di balik pintu.
Di dapur, gadis itu langsung mencuci piring kotor bekas makan malam nya. Kepala nya menoleh saat Lia menyusul nya, “Loh? Kenapa, Ma?” tanya nya menunjukkan wajah sedikit keheranan. Ia kira setelah dari kamar nya, Mama nya itu akan langsung ke kamar. Wajah Lia sedikit lelah terlihat dari sorot mata nya yang seperti tidak semangat.
“Gak ada. Mau buat teh s**u, mau?” tawar Lia yang disambut dengan gelengan kepala oleh Helena. Gadis itu memilih untuk melanjutkan tidur nya karena besok pagi ia ada kelas dan dirinya harus datang. Ia merasa bosan berada di rumah terus-menerus. Tidak ada yang bisa Ia kerjakan selain bermain ponsel nya itu.
“Helena ke kamar ya, Ma? Mau lanjut tidur.” Pamit Helena yang diangguki kepala oleh Lia sambil tersenyum hangat. Setelah anak semata wayang nya itu masuk ke kamar nya lagi, wanita paruh baya itu melanjutkan aksi nya membuat minuman kesukaan nya sambil bersenandung. Ia bersyukur anak gadis nya itu sudah jauh lebih baik seperti sekarang ini.
**
Gadis itu terbangun jam lima subuh oleh alarm yang sibuk berbunyi di ponselnya. Ia mematikan alarm tersebut lalu beranjak mengambil wudhu dan melaksanakan ibadah subuh seperti biasa yang Ia lakukan. Saat melihat jam masih menunjukkan setengah enam kurang sepuluh menit, Ia memutuskan untuk mandi lebih awal dari biasa nya karena sejak semalam dirinya belum pernah menyentuh air dan kini tubuh nya terasa lengket, hal itu membuat dirinya merasa kurang nyaman.
Jam di dinding kamar nya itu sudah menunjukkan jam setengah tujuh lewat lima menit saat dirinya sudah siap dengan kemeja polos berwarna maroon yang dipasangkan dengan celana kulot berwarna mocca. Saat dirinya melangkahkan kedua kaki nya keluar kamar, Lia sudah siap dengan setelan kerja nya yang memakai celana bahan berwarna hitam dan blouse berwarna kuning cerah. Wanita itu tampak sibuk menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Helena di meja makan.
“Makan dulu atau gak boleh ke kampus?” tembak Lia langsung saat Helena berjalan menghampiri nya. Helena otomatis mengerucutkan bibir nya sambil melahap roti selai coklat tersebut dengan cepat dan gerakan sedikit terpaksa. Setelah meneguk s**u coklat hangat favorit nya itu, Ia menyalami tangan Lia dan bergegas ke kampus.
“Udah mau telat ini, Ma, Assalamualaikum.” Katanya tergopoh-gopoh menyalami tangan Mama nya itu dan berjalan sedikit cepat ke arah pintu depan.
“Waalaikumsalam,” balas Lia menggeleng-gelengkan kepala nya sambil menyeruput teh s**u nya yang sudah tinggal setengah.
“Udah pake alarm segede toa masih aja telat.” Tambah nya yang masih melahap sarapan nya dengan santai. Ia benar-benar merasa lega anak gadis nya itu sudah kembali seperti sedia kala. Setelah menghabiskan sarapan dan membereskan meja makan, wanita itu juga bersiap-siap ke butik tempat dirinya bekerja menggunakan taksi online.
**
Helena menghela napas saat dirinya tiba tepat waktu di dalam kelas yang kini sudah ramai dengan teman-teman sekelas nya. Kedua bola mata nya mencari keberadaan sahabat nya, Anggi, yang biasa nya duduk di pojokan namun ia tidak melihat adanya keberadaan sahabat nya itu. Ia memutuskan duduk di sembarang kursi yang kosong sambil mengeluarkan ponsel nya.
“Nggi, lo gak masuk?”
Tak lama kemudian sebuah pesan balasan dari Anggi masuk ke notifikasi ponsel nya itu.
“Mobil gue mogok anjir!” Helena menghela napas pasrah. Seperti nya dirinya akan sendiri di kelas pagi ini. Entah kenapa firasat nya mengatakan sahabat nya itu tidak akan pergi ke kampus.
“Terus lo gak masuk?” tanya Helena memastikan dugaan nya benar.
“Iya, sorry ya. Lo udah gak sakit kan, Na?” tanya Anggi balik. Helena menghela napas saat dugaan nya itu ternyata benar. Sahabat nya itu tidak akan hadir di kelas pagi kali ini. Ia sedikit merasa lesu, bahkan rasa nya Ia ingin pulang saja kalau saja dosen yang mengajar kelas nya pagi itu sudah terlanjur masuk.
“Iya, selo. Tar ketemuan di kantin!” balas Helena lalu menyimpan ponsel nya di dalam tas dan mengeluarkan alat tulis dan buku kuliah nya.
Dua jam berlangsung lebih lambat dari biasa nya saat kelas pagi itu kini telah usai. Helena buru-buru melangkahkan kedua kaki nya keluar kelas saat dosen yang bersangkutan mengakhiri materi hari itu. Baru saja beberapa menit yang lalu, Anggi mengirimi nya pesan untuk pergi ke kantin karena dirinya sedang bersama Dania. Gadis itu langsung tersenyum lebar saat melihat kedua sahabat nya sedang asik berdebat entah tentang apa, kaki nya dengan cepat menghampiri meja mereka.
“Udah ngapa woi! Ribut mulu etdah.” Sahut Helena mengambil tempat duduk di antara mereka.
“Tau nih cunguk satu ngajak berantem mulu!” ujar Dania sebal sambil menatap Anggi dengan tatapan sinis nya.
“Abis lo duluan!”
“Eh dimana-mana ayam duluan baru telornya g****k!” ujar Dania lagi.
“Telor dulu lah b**o!” sahut Anggi tak mau kalah.
“Ah bacot!” ujar Helena menambahkan.
“Peduli banget lo pada mana yang duluan!” tambahnya lagi.
“Yeee yang baru sembuh diem aje!” ujar Dania membalas ucapan Helena yang hanya tertawa.
“Eh, udah pada mesen gak sih?” tanya Helena.
“Ini gue mau pesen. Nungguin lo nih, lama!” omel Dania.
“Yeee alay! Gue pesen siomay dong!” balas Helena lagi.
“Gue juga deh samain,” kata Anggi ikut-ikutan.
“Oke!” kata Dania yang mengacungkan jempol nya lalu berlalu pergi memesankan pesanan mereka bertiga. Helena melirik ponsel Dania yang dibiarkan tergeletak sembarangan di atas meja.
“Kebiasaan banget nih cecungut atu hpnya diletakin sembarang.” Gumam Helena pelan yang bahkan tidak terdengar oleh Anggi yang juga sibuk dengan ponsel nya. Saat Helena ingin memasukkan ponsel Dania ke dalam tas sahabat nya itu, layar nya tiba-tiba menyala tanda ada notifikasi yang masuk saat itu. Jantung nya berdegup kencang saat sebuah pesan dari akun bernama Willy terpampang dengan jelas di layar.
“Sayang, aku pergi dulu sama temen-temen aku ya. I love you.”
“LO BACA-BACA NOTIF HP GUE?!” seru Dania dengan membawa nampan berisi tiga piring siomay, suara nya setengah berteriak yang membuat Helena dan Anggi sangat kaget. Orang-orang di sekeliling mereka pun menoleh dengan pandangan ingin tahu.
“Gak Dan! Lo salah paham!” ucap Helena mulai panik melihat wajah Dania yang menahan emosi. Setelah meletakkan nampan di atas meja, Dania merampas ponsel dan tas nya dari Helena dengan kasar. Anggi yang melihat itu merasa bingung, Ia langsung berdiri menahan tangan Dania yang tampak ingin meninggalkan meja mereka namun langsung ditepis begitu saja oleh gadis itu. Helena sendiri masih duduk diam tidak mengeluarkan suara apapun, badan nya gemetar menahan tangis melihat perlakuan Dania pada nya, karena jujur saja, Helena memang tidak bisa saat seseorang memarahi nya di depan publik. Ia pasti merasa lemah seketika.
“Dan! Jangan gini!” ucap Anggi ikut membujuk Dania yang sudah terlanjur kesal. Gadis berambut cokelat itu tetap menepis tangan Anggi dari lengan nya. Ia menatap sinis ke arah Helena yang menunduk tidak berani melihat ke arah dirinya.
“Lo demen ya gangguin privasi orang?” pertanyaan Dania tersebut sangat menohok hati Helena. Kedua mata nya sudah berkaca-kaca, tidak menggubris sedikit pun pertanyaan dari sahabat nya itu. Usai mengatakan hal itu, Dania melenggang pergi begitu saja dengan emosi yang meluap-luap. Terlihat dari cara berjalan nya yang menghentak-hentakkan kedua kaki nya.
“Udah, gak usah dipikirin dulu, lo baru aja sembuh dari sakit lo. Makan dulu siomay nya, nanti kita bicarain lagi.” Ujar Anggi menenangkan gadis itu dengan mengusap kedua bahu nya perlahan. Anggi tidak marah pada Helena karena Ia tahu ini hanyalah kesalah pahaman. Ia juga tidak menyalahkan Dania karena pasti sudut pandang gadis itu jelas berbeda, apalagi Dania memang mudah tersinggung jika seseorang mengganggu nya.
“Apa dia gak mau temenan lagi sama gue, Nggi?” ujar Helena dengan suara menahan tangis.
Anggi hanya diam, merasa bingung merespon pertanyaan dari sahabat nya itu. Ia juga tidak tahu nasib persahabatan mereka kedepan nya akan seperti apa. Ia hanya berharap badai kali ini akan cepat berlalu seperti yang sudah-sudah.
**
Helena menghembuskan napas dengan kasar sambil duduk di tepi ranjang nya. Pikiran nya kembali pada kejadian tadi siang saat dirinya, Anggi, dan Dania berada di kantin. Jujur, ia juga merasa bersalah karena membaca notifikasi dari ponsel sahabat nya itu, tapi jauh di dalam dirinya ada sesuatu yang juga membuat nya yakin Ia tidak melakukan kesalahan apapun. Apa yang Dania lihat dan katakan tentang dirinya yang tidak menghargai privasi seseorang itu salah. Justru, Ia sangat menjunjung tinggi hal-hal yang menyangkut privasi seseorang.
Siapa sih yang tidak akan melihat ke arah ponsel sahabat nya itu saat tiba-tiba menyala dengan sendiri nya? Semua orang pasti refleks melihat ke arah sana. Helena tiba-tiba merasa kesal dengan sikap kekanakan Dania yang mudah sekali tersinggung dan tidak mau mendengarkan penjelasan nya terlebih dahulu. Gadis itu malah pergi begitu saja tanpa mengizinkan Helena berbicara barang satu dua patah kata padanya.
Lamunan nya terpecah saat ponsel nya yang ia letakkan di atas nakas bergetar. Di layar terpampang jelas nama Anggi yang sedang menelpon nya. Dengan gerakan tidak semangat, jempol nya menggeser layar untuk menjawab. Ia menarik napas lalu menghembuskan nya perlahan, “Iya, Nggi?” tanya nya lesu.
Di seberang sana, gadis bernama Anggi itu sedang bersama Dania yang kini menatap nya dengan raut wajah sebal. “Lo dimana, Na? Di rumah? Yoshinoya yuk!” ajak Anggi dengan nada semangat yang dipaksakan. Dirinya sendiri juga lelah dengan perselisihan di antara mereka ini. Walaupun dirinya memiliki sifat jutek dan temperamental, Ia tidak menyukai pertengkaran apalagi di antara kedua sahabat nya.
“Males, gue tau lo ajak Dania. Gue lagi males ketemu dia.” jawab Helena singkat yang langsung menutup panggilan tersebut secara sepihak. Ponsel yang memang sengaja di loudspeaker agar Dania juga dapat mendengar jawaban Helena yang menurut Anggi akan diiyakan, yang sayang nya malah berbanding terbalik dengan ekspetasi gadis itu, masih setia berada di genggaman tangan Anggi. Gadis itu merasa kaget dengan jawaban Helena, sementara Dania kembali memunculkan raut wajah menahan marah.
“Sok banget tuh orang!” sungut nya. Anggi menghembuskan napas kasar. Cukup! ini sudah keterlaluan. Ia tahu, Helena tidak mungkin seperti itu. Apalagi sahabat nya itu juga lumayan tertutup. Tidak mungkin gadis seperti Helena melakukan perbuatan lancang seperti yang Dania tuduh.
“Dan, keknya lo yang salah paham deh.” Ucap Anggi dengan nada berhati-hati, Ia takut Dania akan tersinggung dengan perkataan nya.
Dania menatap Anggi dengan tatapan tidak percaya, “Salah paham gimana? Jelas-jelas dia buka hp gue tadi!” nada bicaranya seperti sedang menahan amarah. Ia kesal sekaligus takut, ia takut apa yang ia simpan selama ini terbongkar. Ia belum siap memberitahukan nya pada siapapun, termasuk kedua sahabat nya itu.
Anggi menghela napas lelah, “Lo kayak gak tau Helena aja deh, Dan. Sejak kapan sih dia suka buka-buka hp orang? Gue yakin tadi salah paham aja. Harusnya lo ngasih dia waktu buat jelasin tadi.”
“Oh, lo sekarang belain dia?” ucap Dania sinis. Perasaan nya sedikit terluka mendengar penuturan Anggi yang seolah-olah mengatakan bahwa dirinya lah yang salah. Bahwa ternyata Helena hanya lah korban keegoisan nya.
“Gak gitu, Dan. Lo cuma percaya yang lo liat aja tanpa lo mau tau dari sudut pandang Helena. Kita bertiga temenan udah lumayan lama, kan?” Anggi masih dengan sabar berusaha menjelaskan pada Dania bahwa ini hanya lah murni kesalah pahaman.
“Terus?”
“Ya harusnya lo tau dong, Helena gak mungkin kayak gitu. Emang selama ini dia pernah bukain hp lo? Lo malah yang suka maksa minjem hp gue sama dia.” ucap Anggi jujur. Ia juga merasa kesal dengan sikap sahabat nya yang satu ini. Egois, merasa paling tersakiti tanpa Ia sadar Ia juga menyakiti hati orang lain.
Dania berdecih menghindari tatapan Anggi, Ia merasa malu dengan perkataan gadis itu tapi hati dan pikiran nya masih keukeuh bahwa Helena sudah lancang membaca notifikasi pesan di ponsel nya. Ia mengambil totebag nya dan pergi begitu saja tanpa berniat menggubris perkataan Anggi. Gadis itu juga memutuskan untuk membiarkan sahabat nya itu pergi. Ia meremas ponsel nya yang masih ia genggam seraya menghela napas lelah.
Cukup lama Ia berdiam diri menatap pintu depan rumah nya yang beberapa menit lalu dilalui oleh Dania. Pandangan nya beralih ke arah layar ponsel nya yang bergetar, seketika itu juga bibir nya langsung tersenyum samar saat membaca pesan yang baru saja masuk.
“Sayang /peluk kamu/”
Tak butuh waktu lama, gadis itu mengetikkan pesan balasan untuk si pengirim. Suasana hatinya yang tadi memburuk karena percakapan nya dengan Dania kini berangsur membaik, “Iya sayang? /peluk kamu balik/”