Embun pagi perlahan merayap di jendela seakan merayakan kedatangannya di hunian Foster. Namun, kali ini hunian itu terasa hampa seiring kepergian Bik Omas. Biasanya Bik Omas yang selalu pertama bangun dan menyiapkan sarapan pagi. Suara ringan langkahnya tak lagi terdengar, meninggalkan kesan kosong di ruang yang biasanya penuh kehangatan. Sorot matanya yang penuh kasih sayang, kini hanya tinggal kenangan yang menggurat di sudut-sudut ruangan. Namun, semangatnya hidup dalam setiap sudut mengingatkan bahwa kepergiannya hanyalah awal dari cerita yang harus terus ditulis. “Ma! Kakek!” “Kakek sudah berangkat tanpa memakan sarapannya, Kei,” jawab Dewi, “Papa juga sama,” imbuh wanita paruh baya itu lagi menjelaskan pada putrinya. “Maaf, Ma,” bisik Keisya lirih. Ia menahan dirinya agar tidak m

