“Kak, aku boleh tanya sesuatu?.”
“Ya bolehlah, kenapa harus ijin dulu?.” Vita tersenyum lucu melihat adiknya yang tampak ragu-ragu.
“Kakak, pernah di tembak cowok? Atau di kasih kado saat kak Vita ulang tahun?.”
“Pernah, terus?.”
“Saat itu, hal apa yang pertama kali di lakukan cowok itu buat nembak kakak? Atau dikasih hadiah apa?.”
“Yaa, saat itu sih... Ehh? tunggu-tunggu, kamu, buat apa tanya itu? Atau jangan-jangan kamu lagi mau nembak cewek ya?.” Ledeknya yang membuat pipi Fabian seketika itu menjadi merah semu yang artinya ia tengah malu.
‘Apa aku harus jujur aja? dia kan kakakku, nggak mungkin selamanya aku bakal diem terus tanpa masukan dari orang lain.’
“Iya kak, aku.. aku lagi suka sama seseorang.” Fabian tertunduk lesu.
“Tu kan bener? Pantas kamu tanya kayak gitu. Emang siapa sih, cewek yang bisa buat hati adek kak Vita yang dingin dan nggak pernah mau dikenalin sama siapapun ini jadi meleleh gini?.” Vita terlihat antusias mendengarkan cerita adiknya.
“Namanya Febiola kak, dia teman dekat dari awal masuk SMP, terus gimana kak? kan belum di jawab tadi?.”
“Dulu waktu itu kakak ingat, momen paling romantis yang pernah kakak dapat, dia nembak kakak dengan sebuah lagu, dan dia melakukan itu didepan umum. Dulu kakak juga masih seumuran kamu, malu sekali waktu itu, di tonton orang banyak.” Terasa bernostalgia, Vita mengenang masa lalunya.
“Lagu? Nyanyi? Didepan umum? Kayaknya ide bagus, itung-itung uji nyali.” Ucapnya lirih.
“Kamu itu laki-laki, kamu harus berani menunjukkan kalau kamu benar-benar sayang dan serius sama perempuan itu.” ucap Vita dengan tulus.
“Iya kak, pensi nanti aku akan tunjukan ke dia, kalo aku sebenarnya suka sama dia dari lama, itu momen yang tepat untuk mengungkapkan semuanya. Makasih ya kak, sudah bantu aku dapet ide ini, aku sayang banget sama kak Vita.” Fabian memeluk kakaknya dan Vita hanya balas memeluk tulus adiknya itu dengan tersenyum.
"Iya sama-sama sayang, kalau kamu punya uneg-uneg atau sesuatu yang ingin kamu sampaikan, kamu bisa cerita ke kakak kapanpun tanpa ragu, kakak justru senang kalau kamu mau terbuka begini sama kakak. Kakak ingin bisa bantu apapun masalah kamu, oke?." ucapnya sambil mengelus puncak kepala Fabian dengan lembut.
"Senang rasanya punya kakak yang perhatian dan pengertian, hehe."
Fabian melepaskan pelukannya dan tersenyum riang.
"Oh iya, memang temen kamu itu belum punya pacar?." tanya Vita spontan.
"Nah itu kak masalahnya, dia lagi suka sama salah satu cowok populer di sekolah kita, dan sebenarnya aku nggak yakin apa aku bisa buat dia suka sama aku.." Fabian kembali terlihat lesu.
"Jangan menyerah Fabian, kamu harus mencoba dulu, kan kita belum tau hasilnya akan seperti apa? kakak yakin kamu bisa, apalagi kamu nggak pernah kan memperlihatkan sisi kamu tanpa kacamata didepan semua orang? kamu itu ganteng, dan keren, asal kamu mau merubah penampilan seperti cowok-cowok di luar sana."
Vita terlihat mencoba meyakinkan Fabian yang mulai pesimis.
"Kakak benar, aku harus percaya diri dan mencoba dulu, semoga semuanya bisa seperti yang di harapkan ya kak."
"Nah, gitu dong, itu baru adik kak Vita, semoga berhasil ya.." Fabian pun tersenyum dan kembali memakan makanannya bersama.
***********
Fabian tengah berjalan menyusuri sekolah, mencari seseorang yang ia kenal. Dan akhirnya ia menemukan seseorang itu tengah berada ditaman dekat kelasnya. Febiola terlihat tengah melamun memikirkan sesuatu.
“Heh marmut!.” Seru Fabian mengagetkan Febiola dari belakang, membuatnya tersentak kaget.
“Fabian! Ngagetin aja!.”
“Hehe, kamu lagi ngapain disini sendirian? Aku cari kamu kemana-mana, eh, taunya disini.” Fabian ikut duduk disamping Febiola.
“Aku lagi mikirin perkataan Franda kemarin lusa.” ucapnya tanpa menoleh.
“Emm.. tentang?.” Fabian dibuat penasaran.
“Dia bilang aku akan dapat kejutan waktu pensi nanti.” Ucap Febiola dengan menatap Fabian.
‘Astaga! Apa dia sudah tau kalau aku mau nembak dia? Nggak-nggak! Nggak mungkin, nggak mungkin ada yang tau, kan rencana itu cuma aku sama kak Vita saja yang tau?’ ucap Fabian dalam hati. Kemudian ia membuang nafas beratnya perlahan.
“Emm, mungkin iya, semacam kejutan spesial dari seseorang yang tak terduga?.” Ucap Fabian menatap Febiola dalam.
“Aku jadi deg-degan deh, tapi aku juga penasaran kira-kira kejutan apa dan dari siapa?.”
“I don’t know?.” Jawab Fabian pura-pura tidak tau.
“Oo iya, kelas kita sudah milih kamu untuk tampil di pentas seni nanti, kita tampil solo song. Peraturan nya dirubah sama panitia, yang tadinya bebas memilih mau nampilkan apa saja, tapi karena banyak yang sama, jadi diganti, panitia yang bagi setiap kelas harus nampilin apa. Soalnya nggak ada yang berani nyanyi diatas panggung, jadi karena tadi kamu nggak ada dikelas mereka sepakat buat nunjuk kamu, kamu keberatan?." Febiola merasa bersalah, karena ia takut Fabian merasa terbebani dengan keputusan sepihak dari kelasnya. Fabian terlihat berpikir serius.
“Gimana? Kamu mau? Yah, walaupun aku nggak yakin kamu bisa.”
“Siapa bilang? Aku mau! Aku akan buktikan ke kamu dan semua orang disini nanti, kalau aku juga bisa nyanyi.” Fabian pura-pura kesal.
“Emm, masa?.” Febiola memicingkan matanya.
“Berani taruhan?.” tantang Fabian.
“Siapa takut!.” Febiola yang memang keras kepala juga tak mau kalah.
“Oke kalo begitu, kalau pensi nanti aku kalah dan nggak bisa bawa juara buat kelas kita, aku akan menuruti semua permintaan kamu, tapi kalau sebaliknya, aku bisa dapet juara, kamu cuma harus mengabulkan satu permintaanku, bagaimana?.”
Tak lama untuk Febiola berfikir, ia langsung menyetujui syarat yang di berikan oleh Fabian.
“Oke, aku setuju. Tapi ngomong-ngomong, kenapa aku boleh minta semua, sedangkan kamu cuma minta satu?.” Febiola kembali memicingkan matanya menatap Fabian yang terlihat mencurigakan.
“Emm, ya nggak papa sih, satu saja aku nggak yakin kamu bisa mengabulkan? Berat lo syaratnya, sanggup?.” Tanya Fabian mengejek.
“Iyaa pangeran kodokku.” Jawabnya tegas.
Fabian tersenyum penuh arti dan tidak sabar menantikan hari pentasnya nanti.
Selama kurang dari satu bulan ia manfaatkan waktu itu untuk latihan dan mengasah vokalnya.
Bagi yang belum tahu, Fabian sebenarnya pandai menyanyi, bahkan suaranya tergolong bagus dan stabil, ia juga pandai memainkan alat musik seperti piano, gitar, drum dan biola, itu semua diwariskan dari almarhum ayahnya yang merupakan seorang musisi di tahun 90 an. Teman-temannya pun tidak tahu menahu jika Fabian adalah anak dari seorang musisi veteran yang terkenal pada zamannya. Hal itu karena Fabian yang lebih memilih tertutup akan kehidupan keluarganya dan ingin menjadi dirinya sendiri tanpa ada embel-embel anak dari musisi atau anak seorang penyanyi lawas.
Fabian hanya ingin mewujudkan cita-cita nya tanpa melibatkan pengaruh orang tuanya, dan setelah ia terkenal, baru ia akan mengatakan bahwa semua bakatnya ia dapatkan dari sang ayah tercinta, itu yang selama ini ia harapkan.
Fabian juga telah mendapatkan beberapa kali perombakan penampilan yang tentu saja dilakukan oleh kakaknya yang notabenenya adalah seorang make up artis. Kakaknya ingin agar Fabian menemukan stylenya dan bisa tampil maksimal diatas panggung tanpa merasa minder atau tidak percaya diri pada dirinya sendiri. Setelah semuanya siap, Fabian hanya tinggal menunggu hari itu tiba, hari pernyataan cintanya pada Febiola.