Hari yang ditunggu pun tiba, festival pentas seni yang megah di salah satu sekolah menengah atas favorit di Jakarta akan segera di mulai pada hari ini, tanggal 21 maret 2012 yang juga bertepatan dengan hari ulang tahun Febiola.
Semuanya sudah tertata rapih dan indah. Dari dekorasi, konsep gedung, dan tata panggung. Sedangkan para peserta kini tengah bersiap-siap di backstage. Semua siswa siswi beserta guru dan tamu undangan sudah tak sabar menunggu acara dimulai dan banyak sekali penonton pada event kali ini.
Jam menunjukan pukul 08.00, akhirnya acarapun di mulai. Dari mulai para host yang membuka acara, lalu dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh kepala sekolah, guru seni dan perwakilan panitia. Tibalah acara inti, yakni seni pertunjukan. Dibuka dengan penampil pertama dari jajaran kelas X yang menampilkan penampilan yang bervariasi, dari story telling, dance group, fashion show, dan penampilan drama yang memukau seisi gedung pertunjukan. Penampilan mereka satu demi satu selesai dengan baik dan di sambut tepuk tangan yang meriah.
Disisi lain seorang pria tampan berkacamata tengah bercermin, menatap seluruh bagian wajahnya. Tak bisa di pungkiri, Fabian memang sangat tampan, namun ia tengah gelisah, akankah hari ini ia bisa mendapatkan hati cinta pertamanya yang selama bertahun-tahun ia dambakan. Ia berharap semua akan baik dan lancar.
“Hari ini aku harus serius. Aku lelah terus berharap dan hanya menunggu Seperti orang bodoh. Kalau aku nggak pernah mencoba, bagaimana aku akan tau kapan saat itu akan tiba. Pokoknya mau nggak mau, siap nggak siap, aku harus menyatakan perasanku pada Febiola. Aku nggak perduli apapun jawabannya, yang penting hatiku bisa lega, sudah mengungkapkan perasaan yang selama ini sangat menyiksa. Huh... semangat Fabian!.” Ucapnya menyemangati diri.
Kemudian ia mengambil ponselnya dan menelfon seseorang.
“Halo?.” ucap seseorang dari seberang sana.
“Halo kak vita?.”
“Fabian, ada apa? Kok kamu nelfon kakak? Memang belum mulai acaranya?.”
“Udah kak, tapi aku lagi di belakang panggung, nunggu giliran. Aku Cuma mau minta doa dari kak Vita, supaya semuanya yang aku harapkan hari ini bisa lancar kak.” Satu-satunya orang yang bisa menguatkan Fabian saat ini adalah kakaknya.
“Iya dek, pasti kakak selalu doakan kamu. Inget! Jangan gugup, dan berikan yang terbaik buat semuanya, dan terutama, Febiola. Oke?.”
“Iya kak, makasih atas doanya, aku sayang kak Vita.”
“Kakak juga sayang kamu Fabian. Semangat!.”
“Oke kak, Bye..”
Fabian sangat lega dapat dukungan penuh dari kakak nya. Ia kembali menatap cermin untuk merapihkan penampilannya.
“Fabian, siap-siap ya, 2 lagi giliran kamu.”
Seorang panitia menghampiri Fabian diruang make up.
“Oh, iya, oke. Emang sudah giliran anak kelas tiga ya?.”
“Iya, semua kelas satu dan dua sudah tampil, sekarang masih kelas 12 A yang masih tampil. Ngomong-ngomong kelasmu mau nampilin apa Fabian?.”
“Emm, Cuma solosong, dan aku masih gugup.” Fabian kembali menghela nafasnya untuk mengatur kegelisahannya yang semakin memuncak.
“Semangat ya!.” Ucap sang panitia di sambut dengan anggukkan Fabian yang kemudian tersenyum tipis, lalu panitia kembali pergi kesisi panggung.
Fabian dengan percaya diri melepas kacamata yang selama ini tak pernah sekalipun ia lepas didepan orang, bahkan selama disekolah. Ia menyimpan kacamata itu dalam saku nya dengan hati-hati.
“Oke temen-temen semua, sebelum lanjut ke penampilan terakhir, dramanya tadi bagus nggak?.” Ucap mc 1
“Ya jelas bagus dong kak, dramanya menarik dan kreatif banget. Setelah ini ada penampilan apa nih kak?.” Tanya mc 2 pada mc 1.
“Setelah ini ada penampilan spesial dari cowok ganteng dan berkacamata. Wah, udah nggak sabar kan liat tampilan terakhir kita? Yaudah langsung aja kita sambut, Fabian dari kelas 12 C!.”
Fabian pun menaiki panggung yang megah, bak seorang artis semua mata tertuju padanya. Banyak yang terkejut dengan penampilan baru si kutu buku yang mereka kenal. Fabian memang terkenal disekolah karena kepintarannya yang banyak menjuarai perlombaan dibidang akademik, namun tak ada yang menyangka bahwa penampilannya bisa berubah 180 derajat.
Semula banyak yang menganggap bahwa Fabian sangat buruk dalam hal penampilan, namun ternyata sebenarnya ia juga sangat tampan hanya dengan sedikit perombakan dan melepas kacamata bulat itu. Mungkin mereka sekarang tengah takjub dengan ketampanan yang ia miliki. Tampilan yang cool, namun kesan manis terpampang jelas dari wajahnya yang memiliki fitur tegas.
“Ya Tuhan. Itu Fabian? ganteng banget!.”
“Aku masih nggak percaya kalau itu Fabian, kok bisa?.”
“Belum nyanyi aja dia udah buat aku meleleh..” Ucap dari beberapa siswi yang berkomentar tentang penampilan baru Fabian.
Teriakan histeris kini mulai terdengar ketika Fabian menaiki panggung utama. Matanya menelusuri kerumunan penonton. Mencari seseorang yang ingin ia lihat. Febiola yang melihat hal itupun tau bahwa ialah yang sedang Fabian cari. Lalu ia berdiri dan maju kebangku penonton paling depan, memberi semangat untuk sahabatnya.
Mata mereka akhirnya saling bertemu, Fabian menemukan sosok Febiola dibangku yang tak jauh dari hadapannya, seketika rasa lega menjalar ditubuhnya. Senyum manis ia sunggingkan pada Febiola kala itu.
“Semangat Fabian!.” Seru Febiola setengah berbisik menyemangati sahabatnya yang akan tampil.
“Selamat siang semua! Disini saya perwakilan dari kelas 12 C akan membawakan sebuah lagu spesial, untuk kalian semua, terkhusus untuk seseorang yang spesial juga tentunya.” Ucapnya dengan menatap Febiola.
“Hah? Siapa?.”
“ Siapa ya, orang yang spesial itu?.”
“Tak diragukan lagi, pasti itu aku!.” bisik para gadis yang mengharapkan bahwa seseorang yang spesial itu adalah mereka.
Fabianpun mulai memainkan piano. Seketika suasana hening, dan hanya terdengar dentingan piano yang terdengar sangat indah. Ia menyanyi dengan segenap perasaan. Matanya selalu melihat kearah Febiola ketika bait perbait ia nyanyikan. Semua penonton yang terbawa suasana ikut bernyanyi bersama Fabian.
Setelah lagu selesai dinyanyikan, gemuruh tepuk tangan terdengar keras memenuhi seisi gedung pertunjukan. Mereka sangat terkesan dengan penampilan Fabian, dan masih banyak orang yang tidak percaya, bahwa seorang Fabian yang dulunya cupu, sekarang telah menjadi seseorang yang menawan.
“Ya Tuhan, dia keren banget!.” Franda menghapus air matanya karena terharu melihat penampilan Fabian. Sedangkan Febiola masih mematung di tempatnya, belum bisa berkata apa-apa, karena diam-diam ia juga ikut terpesona oleh sahabatnya.
“Terimakasih!.” Fabian membungkukan badannya, kemudian ia turun dari panggung dan segera menuju ruang make up.
“Huuuhh!!.” Deru nafas leganya terdengar keras saat berada didepan cermin.
“Semoga tadi nggak memalukan!.” Ia masih menatap cermin.
Tibalah saat pengumuman para pemenang, semua peserta berada didepan panggung, namun pangeran pencuri hati dadakan itu tidak nampak batang hidungnya. Semua peserta ada, kecuali Fabian.