Lagu Spesial

1343 Kata
“Loh, Fabian dimana sih? Inikan waktunya di umumin siapa pemenang pentasnya, kok dia malah ngilang?.” Febiola celingukan mencari sosok sahabatnya itu yang menghilang entah kemana. “Oke teman-teman semua, sekarang waktunya mengumumkan para juara festival pentas seni kali ini, udah siap semua? Oke kita langsung aja mulai dari juara harapan 2 diraih oleh.. Bela Ananda kelas 11.C, story telling!!.” Tepuk tangan bergemuruh menggema mengisi tempat acara saat ini “Juara harapan 1 diraih oleh kelas?.. 12.F, Tari Tradisional!.” Tepuk tangan kembali bergemuruh memenuhi aula acara, sedangkan Febiola semakin cemas akan keberadaan Fabian yang masih tak tampak batang hidungnya. “Juara 3 diraih oleh kelas..? 12.A dance cover!! Mana tepuk tangannyaaa..!!!.” Suasana kini semakin heboh dengan suara teriakan dan tepuk tangan penonton. Tapi, lagi-lagi Febiola hanya bisa gigit jari sambil menatap layar ponselnya yang tengah menghubungi Fabian. “Juara ke 2 diraih oleh.. kelas??.. 11.G, Drama musikal!!!.” “Yah.. Kayaknya kelas kita nggak bakal dapet deh La?.” Franda melenguh kecewa sebelum pengumuman selesai, ia menatap Febiola dan hendak berbalik meninggalkan tempat acara. “Franda tunggu, masih ada kesempatan terakhir, kita harus tetep yakin Fran! Fabian pasti menang.. Aku yakin itu.” Febiola benar-benar tak tau apa yang ia katakan akan benar terjadi atau tidak, ia hanya sedikit memiliki harapan didalam keragu-raguannya. “Dan juara pertama, pentas seni SMA Negeri 1 Pagar Nusa jatuh kepada...?!!.. kelas?.. 12.... C, Fabian dengan Solosong!!! Beri tepuk tangan dong buat juara pertama kita!!.” Aulapun semakin gaduh setelah mendengar bahwa Fabian menjadi pemenang festival kali ini. “Waaahh!!! Kelas kita menang Laa, kelas kita menang!!.” Jerit Franda sangat antusias dan langsung memeluk Febiola yang masih mematung tak percaya. Karena belum semenit ia selesai berdoa agar Fabian menjadi pemenangnya. “Ya Tuhan, terimakasih..” Lirih Febiola yang tengah berpelukan dengan Franda. Tapi disaat semua para pemenang telah menaiki panggung, Fabian tak kunjung muncul. “Bagi juara pertama harap menaiki panggung untuk menerima hadiah dan piagam yang telah tersedia!.” Dan Fabian masih tak kunjung muncul juga. Febiola sangat panik dan langsung kembali menelfon Fabian. “Halo! Fabian, kamu dimana sih?.” “Aku lagi di depan sekolah la, baru sampai!.” Jawab Fabian dengan nafas terengah-engah dari seberang sana. “Emang kamu dari mana? Cepetan! Kelas kita menang! kita dapet juara pertama Fabian! cepet ke aula ya!!.” Febiola langsung menutup telfonnya tanpa mendengar jawaban dari Fabian. “Dasar cewek!.” Gerutu Fabian karena tak diberi kesempatan untuk menjawab. Kemudian ia langsung berlari menuju aula sekolah. “Ehh, itu Fabian!!.” “Iya itu Fabian!!.” Para siswi yang melihat Fabian muncul dari belakang penonton seketika histeris. Fabian terus berjalan dalam kerumunan penonton menuju panggung dan tak memperdulikan teriakan-teriakan histeris yang memanggilnya. “Maaf, saya terlambat.” Ucap Fabian yang kini sudah berada di atas panggung. Piagam, mendali serta hadiah diberikan padanya, disertai buket bunga dan piala. “Terimakasih semuanyaa!!!.” Teriak Fabian membungkukan badannya. “Kita ngobrol sedikit ya sama sang juara pertama kita ini. Memang kemana mas Fabian dari tadi? Kenapa baru muncul sekarang, dan buat penonton bingung nih sama kepergian kamu yang mendadak?.” Tanya host acara. “Sebelumnya saya minta maaf, tadi saya pulang sebentar mengambil catatan saya yang tertinggal.” Jawab Fabian tersenyum. “Catatan? Catatan apa itu Fabian? surat cintakah? surat hutangkah atau jangan-jangan surat tagihan listrik?.” Seisi aula pun tertawa dengan candaan host acara yang di layangkan pada Fabian “Oh bukan-bukan, ini catatan tentang sebuah lirik lagu yang baru saya buat semalam.” “Waw, lalu kenapa tadi tidak dinyanyikan saja Fabian?." tanya host lagi. “Sebenarnya saya memang ingin membawakannya dalam pentas tadi, tapi saya berubah pikiran, karena ini lagu spesial, saya akan bawakan nanti, setelah acara lomba selesai. Agar penonton bisa menikmati tanpa ada embel-embel penilaian perlombaan. Tapi masih ada lirik yang harus saya ganti dengan kalimat yang lebih sempurna, jadi saya masih harus hafalkan sebelum ditampilkan. Saya takut masih salah jika dinyanyikan tadi.” Jawab Fabian seperti orang yang sedang berpidato, sangat meyakinkan. “Wah.. Keren sekali, Kalau boleh tau nih, penonton juga pasti penasaran, memang buat siapa sih lagu spesial yang Fabian tulis itu? Sampai bela-belain pulang cuma buat ambil catatan itu??.” Tanya host makin penasaran. “Tentunya untuk seseorang yang spesial dan saya akan mempersembahkan lagu itu buat dia.” Jawab Fabian malu. “Waw waw waw? Kayaknya hari ini mau nembak cewek ya, Fabian?.” Tanya host makin menjadi. “Wah, kalau itu... rahasia.” Jawabnya sambil tertawa. Penonton yang mendengar percakapan merekapun ikut sedikit kecewa karena Fabian menahan jawabannya, sedangkan sebagian yang lain tertawa geli melihat tingkah Fabian yang lucu dan salah tingkah ketika ditanya pertanyaan seperti itu. Acarapun akhirnya selesai, Fabian segera mencari sahabatnya. Namun ketika ia berjalan dipinggir taman sekolah, tiba-tiba banyak sekali gadis yang tengah berlari menuju ke arahnya. “Fabiaaaann!!!.” Teriak mereka sambil berlari. “Ya Tuhan, toloooongg!!.” Fabian berlari dari kejaran para gadis itu, terus berlari sekuatnya hingga sebuah tangan menarik dan membekap mulutnya. Awalnya Fabian meronta-ronta, namun ketika ia melihat siapa yang melakukannya, seketika ia langsung terdiam dan sedikit tersenyum dalam bekapan tangan orang itu, seakan pasrah akan perlakuan orang yang tengah membungkam mulutnya, ia tak lagi menunjukkan perlawanan. “Ssssttt! Mereka nggak bakal nemuin kita disini!.” Suara lembut seorang gadis yang familiar ditelinga Fabian. Kemudian saat kerumunan gadis itu menjauh, ia melepaskan tangannya dari mulut Fabian. “Huh!. Untunglah, mereka udah pergi!.” Desahan lega terdengar dari Febiola, yang ternyata telah menarik Fabian tadi. “Kamu mau buat aku mati kehabisan nafas ya!.” Gerutu Fabian pura-pura marah. “What? Justru aku nyelamatin kamu barusan, bukannya terimakasih!.” “Iya iya. Makasih! Tapi kamu juga buat aku jantungan tau nggak, tiba-tiba narik aku, terus bungkam mulut aku kenceng banget, Kaget tau!.” “Ohh? Jadi kamu habis diselamatin mau ngajak berantem aku? Gitu!.” Febiola balik kesal, dan menampakan wajah cemberutnya yang membuat Fabian gemas. "Udah jangan dijelek-jelekin, dasar marmut! Kerjaannya cemberut..” “Kamu tuh kodok!.” Balasnya kesal. Fabian pun tertawa geli melihat sikap Febiola yang tengah marah padanya. Kemudian ia meraih tangan Febiola dengan lembut. “Yaudah, jangan marah lagi, aku cuma bercanda sama kamu, aku nggak bermaksut buat kamu kesel, aku minta maaf ya?.” Ucap Fabian lembut. “Hmm.. iya, aku juga minta maaf, tadi marah-marah ke kamu.” “He’em, nggak papa.” Fabian tersenyum dengan tulus. Ia berniat mengelus puncak kepala Febiola. “Oh iya, tau nggak?.." "Ya?." Fabian sedikit terkejut dengan ucapan Febiola yang tiba-tiba. Ia urungkan niatnya dan mengembalikan tangannya ke posisi semula. "Tadi penampilan kamu bagus banget! Kok kamu nggak pernah bilang ke aku kalo kamu jago nyanyi? dan bisa main piano pula?.” Febiola begitu antusias mengingat betapa menawannya pertunjukan Fabian diatas panggung tadi. “Hemm.. kayaknya Itu emang udah dari dulu deh, aku kan emang keren, kamu aja yang gak tau.” Jawab Fabian sedikit menyombongkan diri. “Aku juga nggak nyangka, kelas kita dapet juara? Juara pertama lagi?.” Ucapnya sangat senang. “O iya, masalah juara, kayaknya masih ada satu janji deh?.” Febiola yang mendengar itu kemudian berfikir sejenak, tentang janji apa yang pernah mereka buat. Beberapa saat kemudian ia teringat akan sesuatu, ada sebuah permintaan yang harus ia kabulkan. “Emm, itu? Iya-iya aku inget. Oke deh kamu yang menang. Karena kamu udah bisa buktiin ke aku, dan kelas kita bisa dapet juara, aku bakal kabulin satu permintaan kamu.” Jawabnya merasa yakin. “Janji?.” Fabian mengulurkan jari kelingkingnya. “Janji!.” Febiola mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Fabian. “Memang apa sih yang kamu minta dari aku?.” ‘Mungkin ini saatnya aku mengatakan yang sebenarnya tentang perasaanku ke dia’. Ucap Fabian dalam hati. Ia mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Perlahan tapi pasti, ia mulai mendekatkan jarak antara mereka, dan makin mempererat pegangan tangannya pada Febiola. “Kamu kan udah janji, aku harap kamu nggak bakal marah atau kecewa setelah aku bilang semuanya nanti.” Ucapnya dengan tulus. “Aku jadi makin penasaran deh? Sebenernya apa sih permintaan seorang Fabian?.” Balasnya tersenyum. “Febiola.. sebenernya.....”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN