Berbeda

1195 Kata
"Febiola.. sebenernya.....” “Febiola!.” Franda tiba-tiba muncul sekaligus memotong kalimat yang akan disampaikan oleh Fabian. Dengan terpaksa Fabian dan Febiola segera melepaskan genggaman tangan mereka. “Ada apa sih Fran teriak-teriak begitu? ngagetin aja deh.” Febiola sedikit kesal dengan Franda yang tiba-tiba datang. “Ayok cepet ikut aku! Ada kejutan buat kamu di aula!.” Franda segera menarik tangan sahabatnya sebelum Febiola mencegahnya. “Tunggu-tunggu, kejutan? kejutan apa?.” “Iya kejutan, ehh? ada Fabian. Kalian lagi ngapain disini?.” Franda menatap mereka curiga, seakan ada sesuatu yang mereka sembunyikan. “Eee.. enggak, nggak ngapa-ngapain, aku tadi cuma.. cuma.. emm cuma mau kasih ini ke Febiola." Fabian mengeluarkan sebuah kotak hitam kecil berpita biru kepada Febiola. "Kan sekarang juga ulang tahun Febiola, jadi.. happy birthday ya La, wish you all the best.” Terpaksa Fabian menyimpangkan niatnya yang sebenarnya. “Ooh? Jadi kamu tadi mau ngomong itu? Wahh.. makasih Fabian.. makin sayang deh sama kamu.” Febiola menerima kado itu. Jantung franda tiba-tiba merespon, panas, dan bergemuruh, seakan ada yang mengganjal, ia tak tahu pasti, tapi rasanya seperti tak terima atas apa yang baru Febiola katakan. ‘makin sayang?’ batinnya. “Iya.. semoga kita bisa menjadi.. jadi sahabat selamanya.” Lirih Fabian pelan, namun dapat terdengar dengan jelas. Ucapannya barusan disambut dengan anggukan mantap Febiola disertai senyuman. “Yaudah, ayo cepetan Ola! Ntar kejutannya keburu pergi!.” Franda menarik tangan Febiola tergesa, lalu pergi meninggalkan Fabian ditempat. Fabian sangat kecewa, padahal ini kesempatan baik baginya, tapi kenapa ada saja yang menghalangi kesempatan itu, apakah karena mereka tak akan pernah bersama?. Kegelisahan mulai menyelimuti hati nya saat ini. Apa yang harus ia lakukan, akankah semua rencana ini batal?. “Ya Tuhan, kenapa aku bodoh, aku bahkan belum mengatakan apapun padanya, tapi kenapa aku biarkan dia pergi? Aku nggak mau kehilangan dia lagi.” Sesal Fabian memandang nanar sebuah mawar merah di tangannya. Kemudian ia segera mengikuti dua gadis yang tengah berjalan menuju aula, tempat kejutan untuk Febiola disiapkan. “Stop stop! Sebelum kamu sampe aula, biar surprise matamu harus di tutup dulu dong!.” Franda menutup mata Febiola dengan sapu tangan miliknya. “Emang kejutan apa sih Franda? Pake tutup mata segala.” Gerutu Febiola yang tengah ditutup matanya. “Pokoknya kamu diem aja deh bawel! Pasti nanti kamu juga tau.” Kemudian mereka berdua berjalan dengan hati-hati sampai ke aula. Di aula sekolah, di panggung tempat pertunjukan tadi sudah disiapkan sebuah kejutan yang sangat istimewa untuk Febiola. “Nah, sudah sampai. Sekarang kamu boleh buka penutup matanya, aku pergi ya..” Franda mengantarkan Febiola ke atas panggung, kemudian ia segera turun dan hendak menyaksikan peristiwa yang akan terjadi di atas panggung bersama kerumunan siswa lain yang juga ramai ikut menyaksikan dibawah panggung. Ketika Febiola membuka penutup matanya, ia langsung terbelalak kaget, bagaimana tidak? Sesosok pria yang sangat ia idolakan ada didepan matanya dengan memegang sebuket bunga mawar putih. “Fi.. Fiko?.” Ucap Febiola masih dengan kebingungannya. Seketika ia melihat sekelilingnya, aula dipenuhi siswa dan penonton yang tadi menyaksikan pentas. “In.. ini, ada apa sih? Kok kita disini?.” Ucapnya sedikit gemetar. “Febiola.. aku disini ingin menyampaikan sesuatu hal ke kamu, hal penting yang selama ini ada dihatiku la, hal yang selalu aku tunggu-tunggu untuk bisa aku katakan ke kamu.” “Ma.. maksudnya?..” Febiola semakin gugup dan bingung dibuatnya. “Aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu, aku pengen jadi seseorang yang bisa kamu inget. Aku ingin melindungi kamu, menjaga kamu selama aku mampu. Walaupun mungkin ini terlalu cepat, tapi aku sangat yakin dengan perasaan ku ke kamu. Apa kamu mau terima cintaku Febiola?.” Fiko berjongkok dan mengulurkan buket bunga itu. DEG! Setangkai bunga mawar merah terjatuh bersamaan dengan sebulir airmata yang mengalir jatuh ke tanah, dari seorang laki-laki yang baru tiba di aula itu. Jantungnya berdebar hebat, darahnya berdesir kuat dan ia masih mematung ditempat. Febiola kembali terbelalak kaget mendengar pernyataan yang baru saja diucapkan oleh Fiko, pujaannya selama ini. Ia masih membisu seribu bahasa, terkejut sudah pasti, karena ia masih belum sadar akan apa yang terjadi. Hingga suara sorak sorai penonton terdengar gaduh memerintah Febiola untuk menerima pernyataannya. “Terima.. terima.. terima...!!!.” sorak para penonton yang membuat Febiola makin salah tingkah dan terpojokkan. “Bagaimana Febiola?.” Fiko kembali mengulang kata-katanya. “Aa..aku.. aku nggak bisa..” “Nggak bisa?.” Fiko terlihat kecewa. “Iya.. aku nggak bisa.. nggak bisa nolak..” ucapnya tersenyum malu. “Jadi? Kamu.. aku.. kita jadian?.” “Iya..” Seketika aula menjadi gaduh dengan suara siulan dan tepuk tangan dari penonton dan para siswa. Mereka semua ikut merasakan kebahagiaan yang menyelimuti dua insan yang baru memiliki ikatan itu. Disaat mereka berpegangan tangan dengan saling adu tatap, sesosok laki-laki yang tengah mematung setelah menyaksikan hal menyakitkan itu kembali menjatuhkan air matanya. Fabian masih tak percaya akan apa yang ia dengar dan di lihatnya barusan. Lalu untuk apa rencananya selama ini? Semuanya hancur sudah. Ia memalingkan tubuhnya, perlahan ia berjalan pergi dengan meninggalkan mawar yang terjatuh, dan hanya membawa sayatan perih dihatinya yang baru saja terukir. Semenjak kejadian pada hari itu, Fabian mengalami banyak perubahan. Ia menjadi banyak diam dan murung. Ia mulai menjaga jarak dengan Febiola. Dan pada hari-hari selanjutnya, Franda lah yang selalu mengisi hari-hari Fabian. Selang beberapa bulan setelah Febiola dan Fiko resmi berpacaran, Febiola mulai menyadari bahwa ada yang salah dengan persahabatannya. Ia jadi semakin jauh dengan Fabian, hampir setiap hari mereka tak pernah bertegur sapa, padahal mereka berada dikelas yang sama. Kini Fabian yang ceria, suka menyapa, dan sering bercanda sudah hilang, dan berubah menjadi sosok yang dingin, tertutup dan pendiam. Keanehan itu sangat ingin dipertanyakan oleh Febiola sejak lama. Mengapa Fabian menjauhi dirinya, mengapa kini mereka berdua seperti orang asing yang tak saling sapa, Mengapa dan mengapa. Hanya itu yang sangat ingin ia pertanyakan, itu yang ada di kepala nya. Di sekolah Febiola tengah mencari seseorang, yang sangat ia rindukan. Fiko? Bukan, tetapi Fabian, seorang sahabat karibnya yang kini mulai menjauh darinya. Febiola sudah mengelilingi sekolah, tapi sama sekali tak ia temukan sosok Fabian. “Kemana sih, dia? Apa hari ini Fabian nggak masuk sekolah?.” Tanpa sengaja ia bertemu dengan Franda ketika tengah berjalan melewati koridor sekolah, terlihat Franda tak seperti biasa yang langsung memeluk dirinya ketika bertemu, tetapi Franda malah pura-pura tidak melihat Febiola ada di hadapannya. “Franda tunggu, kamu tau nggak Fabian dimana?.” “Dia nggak masuk! Sakit!.” Franda menjawabnya dengan begitu acuh. Ketika ia hendak pergi, dengan cepat Febiola mencekal tangannya. “Fran, kamu kenapa sih? Kok jadi beda gini sama aku?, rasanya nggak kaya Franda yang aku kenal deh.. Ada apa?.” Febiola masih memegang tangan Franda. “Trus itu masalah buat lo! Lepasin tangan gue!.” Jawabnya sinis. Ia menepis kasar tangan Febiola hingga mundur beberapa langkah. Franda langsung pergi meninggalkan Febiola yang masih tak percaya akan apa yang ia dengar. “Ada apa sebenarnya? semuanya makin aneh, apa aku ada salah selama ini?, atau ada suatu hal yang cuma aku yang nggak tau?.” Hati Febiola masih berkecamuk dengan rasa sedih, bingung, dan kecewa, kenapa Franda jadi berbeda, dan kenapa Fabian menjauhinya. Sebenarnya apa yang terjadi. Ia terus bertanya-tanya dalam hati kecilnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN