Rencana

1202 Kata
Setelah pulang dari sekolah Febiola berniat menjenguk Fabian di rumahnya. Setibanya dirumah Fabian ia langsung mengetuk pintu dan terus memanggil nama sahabatnya. “Fabian? Fabian?.” Beberapa kali ia memanggil, tetap tak ada jawaban dari dalam rumah. Ia mencoba mengetuk lagi dan tiba-tiba pintu rumah Fabian terbuka. “Maaf non Febi, mas Fabiannya sedang keluar.” Ternyata bi Surti yang datang dengan membawa sapu dan kemoceng. “Keluar? Kemana bi, bukannya dia masih sakit?. “Saya juga kurang tau non. Mas Fabiannya nggak bilang apa-apa ke saya tadi.” “Oh. Yaudah bi makasih. Biar saya cari Fabian nanti.” Ia lalu pergi dan segera mencari keberadaan Fabian. “Ian.. sebenernya kamu dimana? Tau nggak sih aku kawatir! Aku kangen sama kamu bodoh..” gumamnya sambil menyetir. Febiola berkeliling ke tempat-tempat yang sering mereka kunjungi, namun nihil, Fabian tak ada di sana. Setelah lama mencari dan mencari, akhirnya tanpa sengaja Febiola menemukan seseorang yang ia cari disebuah kedai kopi kecil yang berada agak jauh dari jalan utama. Terlihat dari kejauhan Fabian tengah terduduk lemas dengan ditemani secangkir kopi mocca yang belum sama sekali disentuhnya. Fabian nampak tengah memandang kosong kedepan, tanpa ada target yang diperhatikan. Febiola pun segera datang menghampiri nya, ia datang dengan membawa segudang pertanyaan. “Fabian..” lirih nya menyentuh pundak Fabian pelan. Ketika Fabian menoleh ia sedikit terkejut melihat siapa yang berada dibelakang nya. Ia bergegas ingin pergi, namun dengan cepat Febiola mencekal lengannya. “Ian tunggu! mau kemana kamu? kamu mau pergi lagi? kamu mau menghindar lagi dari aku hah? kamu kenapa sih, disekolah gak nyamperin aku, sakit nggak kasih tau aku, dan kamu hilang tanpa sepengetahuan aku. Selama ini kamu kemana?.” Cecar Febiola begitu ada kesempatan. “Aku? Sakit?.. kamu dibohongin, kamu bisa lihat aku sehat. Dan aku juga nggak hilang kemana-mana.” Jawabnya datar. “Bohong, buktinya kamu ada disini, ini tempat yang cukup jauh dari rumah, dan kita nggak biasa kesini bahkan nggak pernah. Liat sekarang, wajah kamu aja pucat, udaranya sangat dingin disini, kenapa kamu keluar rumah? Bukanya istirahat aja..” ucap Febiola dengan lembut. “Cukup Febiola, kamu ga usah sok khawatir sama aku. Kalau aku sakit, terus apa perdulimu? Aku itu nggak sepenting itu buat kamu. Aku cuma sahabat kamu.” Balasnya menatap Febiola dengan pandangan tajam. "Justru karena kamu sahabat aku makanya aku perduli! aku khawatir! aku takut kamu kenapa-napa. Kamu gak tau aku secemas itu denger kamu sakit, terlebih lagi aku denger dari orang lain." "Kamu mending pulang sekarang, urusin aja pacar kamu itu, kayaknya kita emang ga perlu ketemu lagi." Sebulir airmata menetes dipipi Febiola, ia seakan tak percaya akan jawaban yang dilontarkan oleh sahabatnya itu kepadanya. “Kamu kenapa sih? salahku apa ke kamu? kenapa kamu makin jauh dari aku? aku kangen kamu yang dulu Ian.” Isak tangisnya mulai terdengar. Sebenarnya Fabian sedikit tertegun ketika Febiola menangis, karena ini pertama kalinya ia melihat sahabatnya begitu terlihat sedih, apalagi karena dirinya. Ia sangat tidak tega melihat sahabatnya sendiri berurai airmata, dan ingin rasanya ia hapus airmata itu segera, tapi ia terlalu sakit untuk melakukannya. “Kamu nggak salah apa-apa. Semua keputusan yang kamu ambil adalah kebahagiaan buat aku. Jadi jangan kawatir, aku masih Fabian yang dulu.” ‘Walaupun sudah sedikit berubah juga karna kamu’ lanjut nya dalam hati. “Lagi-lagi kamu bohong, Aku sama sekali belum bisa merasakan kamu yang dulu ada di kamu yang sekarang. Semakin kesini kamu makin jauh dari aku, kamu sadar nggak hal itu?.” Ucap Febiola mengusap air matanya. “Ola, lebih baik kamu pulang! sekarang dengan ego kita masing-masing kita nggak akan bisa menyelesaikan percakapan ini. Suatu hari nanti, kamu akan ngerti semuanya. Disaat kamu udah peka, dan kita lebih dewasa.” Fabianpun berlalu pergi tanpa pertimbangan, ia meninggalkan Febiola yang masih menapakkan kaki ditempat yang sama sendirian. “Fabian! tunggu!.” Hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya. Ia ingin mengejar, namun kakinya berat untuk melangkah. Fabian tetap tidak merespon teriakan Febiola, dan terus berjalan tegak, meskipun tubuh dan hatinya begitu sakit. “Fabian..” lirihnya melihat punggung sahabatnya yang mulai menghilang dari pandangan. ************* Fabian tengah bermain basket seorang diri dilapangan. Tanpa ditemani lawan main ia tetap mendrible bola menuju ke ring dan melakukannya berkali-kali. Tubuhnya memang berada dilapangan, namun pikiran nya sedang terbang entah kemana. Hatinya tak karuan dan gelisah tanpa sebab. Biasanya di waktu senggang, ia akan makan berdua, belajar di perpustakaan berdua, dan bermain berdua bersama sahabatnya. Namun sekarang hanya ring basket tempat interaksi nya tanpa berbicara. “Fabian..” Panggil seseorang tiba-tiba. Ia menoleh sekilas dan kembali fokus dengan bolanya. “Hmm? ada apa Fran?.” Jawab Fabian kepada gadis yang ternyata adalah Franda. “Aku.. pengen ngomong sesuatu ke kamu.” “Yaudah ngomong aja.” Fabian masih mendribble bola itu. “Emm.. aku.. aku udah capek terus-terusan mendam ini semua. Aku cinta sama kamu Ian!.” ucapnya dengan sangat tiba-tiba. Ini adalah topik yang cukup sensitif untuk mereka berdua yang dari dulu hanya berteman biasa. Kata-kata nya membuat Fabian menghentikan kegiatannya. Ia mengernyitkan alisnya dan sedikit bingung atas pernyataan Franda barusan. “Aku nggak ngerti maksut kamu, jangan ngelucu deh, aku lagi gak bisa ngelayanin bualan kamu sekarang, nggak lucu tau nggak.” Fabian hanya tertawa tipis dan masih menganggapnya biasa. “Aku serius Fabian! Aku cinta sama kamu! Aku mulai suka ketika kamu tampil dipensi beberapa bulan lalu. Awalnya aku memang nggak merasakan apa-apa, tapi setelah lihat kamu waktu itu aku sadar, ternyata aku suka sama kamu.” Ucap Franda tegas, seakan meyakinkan atas kata-katanya. Fabian lama terdiam dan masih mencerna apa yang baru ia dengar. Hingga akhirnya ia mengerti dan buka suara. “Maaf Fran, tapi aku anggap kamu cuma sebagai teman baikku, dan nggak bisa lebih dari itu.” Fabian kemudian bergegas pergi. “Tunggu! Kenapa kamu nggak bisa? Apa alasannya? apa semua itu karna Febiola?.” Franda mulai tersulut dalam emosinya. “Apa maksut kamu? Kenapa bawa-bawa Febiola?.” jawabnya berbalik badan. “Jangan pura-pura! Aku udah tau semuanya. Kamu pikir aku nggak tau, selama ini kamu mencintai Febiola hah?.” Suaranya kini mulai meninggi. “Itu bukan urusan kamu!.” “Tapi itu jadi urusanku sekarang! Aku nggak suka kamu selalu ada dideket Ola." Sorot matanya menyiratkan bahwa ia benar-benar tak suka akan kedekatan mereka berdua. “Kamu nggak tau apa-apa, lebih baik diam.” “Diam kamu bilang? Jelas aku nggak akan bisa diam, apalagi ketika ngeliat kamu bersama Febiola! Aku cemburu Ian, aku cemburu! Aku cemburu karena aku cinta sama kamu!.” “Cukup Franda! Ia memang! Aku mencintai Febiola, sangat! Sampai nyawaku saja bisa ku korbankan demi dia. Dia adalah satu-satunya, pertama dan terakhir buat aku. Aku nggak akan pernah ninggalin dia, walaupun dia bukan jadi milik aku. Puas kamu!.” Akhirnya Fabian meluapkan semua emosinya dengan pernyataan itu kepada Franda yang masih meradang menahan emosinya. Fabian pun berlalu pergi, tanpa menghiraukan Franda berteriak memanggil namanya berkali-kali. “Fabian! Ian! Aku bersumpah akan buat kalian menderita! bukan Febiola yang pantas buat kamu! Tapi Cuma aku Fabian!.” Franda menjerit seakan frustasi. “Lihat saja, Aku nggak akan biarin kalian berdua bersama, nggak akan.” Franda begitu tersulut dalam emosinya. Nampaknya ia diam-diam tengah merencanakan sesuatu yang mungkin akan membahayakan Febiola atau bahkan Fabian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN