Fabian tengah berjalan lunglai, ia masih terngiang-ngiang dan terus teringat akan ucapan Franda tentang dirinya dan Febiola dilapangan basket tadi. Ia terus berfikir, mengapa Franda bisa tau semuanya, darimana ia mendapatkan semua informasi itu. Apa selama ini sikapnya terlalu jelas jika ia menyukai Febiola? Padahal ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyembunyikan sikap dan perbuatannya didepan Febiola dan didepan semua orang. Jika sudah begini, apa jadinya jika Franda mengatakan semuanya pada Febiola?
Memang tak apa jika Febiola tau, tapi akan lebih baik jika dirinya sendiri yang memberitahukan tentang perasaannya pada Febiola. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi. Ketika ia ingin mempercepat langkahnya, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya dari belakang.
“Fabian tunggu!.”
Fabian menghentikan langkahnya dan ia berbalik, ia sangat malas menatap laki-laki dihadapannya yang ternyata adalah Fiko. Ia hanya menatap nya dengan datar tanpa bermaksud bertanya apa tujuannya datang.
“Lo apain Ola sampai dia nangis?.” Fiko mendekati Fabian.
“Maksutnya apa? gue nggak ngerti.” Fabian memalingkan tubuhnya berniat pergi.
“Nggak usah pura-pura nggak ngerti deh lo! Gue tanya sekali lagi, lo ngelakuin apa ke Ola sampai dia nangis hah?!.” Suaranya mulai meninggi.
“Kuping lo tuli? Gue bilang gue nggak tau! Yang pacarnya kan elo, harusnya lo lebih tau dia kenapa.” Jawab Fabian tak kalah sinis.
Kemudian sebuah pukulan keras mendarat diwajah Fabian secara tiba-tiba, membuat ia terkejut dan tersungkur ke lantai.
“Itu akibatnya kalo lo berani main-main sama gue dan berani bikin Febiola nangis! Ngerti lo!.”
Darah segar berhasil keluar dari ujung bibir Fabian, ia masih tersungkur dan meringis kesakitan memegang wajahnya yang berdarah akibat pukulan keras Fiko yang tanpa aba-aba. Dengan menahan rasa sakitnya perlahan ia bangkit.
“Kenapa cuma sekali? Ayo pukul lagi, biar Ola tau siapa lo sebenernya. Pacar yang selalu dia banggain dan terkenal lembut ternyata juga bisa ngelakuin kekerasan.” Fabian tersenyum meremehkan.
“b******k!!!.” Umpat Fiko disertai tinjuan yang kembali ia layangkan dan berhasil mendarat tepat di pipi kiri Fabian. Dan lagi-lagi kembali membuat Fabian tersungkur ke lantai. Darah semakin deras mengaliri wajahnya. Tak berhenti disitu, Fiko kembali mendekat dan memukuli wajah Fabian bertubi-tubi tanpa ampun.
Seketika banyak orang yang berkerumun menyaksikan kejadian tak terduga itu. Sebagian ada yang berteriak agar mereka menghentikan perkelahian itu, atau lebih tepatnya tindak kekerasan yang di lakukan Fiko pada Fabian, karena Fabian sama sekali tak melakukan perlawanan.
Sedangkan sebagian lagi mencoba mengambil video dan mungkin berniat menggunggah nya di media sosial.
Ada beberapa siswa yang mencoba menghentikan Fiko yang tengah kalang kabut melakukan aksinya, namun seperti kesetanan, Fiko juga memukul mereka yang mencoba menolong Fabian. Sampai pada akhirnya satu-satunya orang yang dapat memisahkan mereka datang tanpa sengaja.
"Fiko stop!!." Teriakan itu berhasil menghentikannya.
Febiola yang tanpa sengaja melihat ada perkelahian di area sekolah segera datang dan melihat. Fiko mendongak dan segera bangkit dan menghentikan kegiatannya. Ia menatap Febiola dengan panik.
Febiola sangat terkejut karena tak menyangka pacarnya bisa sebrutal itu memukuli orang. Dan yang lebih membuat nya terkejut lagi adalah siapa yang dipukuli habis-habisan oleh kekasihnya itu.
“Fabiaan!!.”
Teriak Febiola setelah melihat ternyata orang yang baru dipukuli pacarnya adalah sahabatnya sendiri. Fabian masih terlentang tak berdaya akibat ulah Fiko. Dengan cepat ia berlari menuju tempat mereka berada.
“Ya Tuhan, Ian! Fabian! kamu nggak papa? Wajahmu berdarah Ian!.”
Febiola begitu panik dan khawatir melihat darah yang hampir menutupi seluruh wajah Fabian. Fiko tertegun melihat kedatangan Febiola yang secara tiba-tiba.
“Fiko! Apa-apaan kamu?! Kenapa kamu mukul Fabian? dia salah apa? jawab Fiko!.” Teriaknya dengan mata berkaca-kaca.
“Ola.. ini.. ini nggak seperti yang kamu lihat sayang?.” Fiko panik dan merasa bersalah.
“Nggak usah bohong kamu! Kamu apain sahabatku sampai babak belur begini hah?!.”
Febiola mulai menangis. Dilihatnya Fabian yang hampir tak sadarkan diri dengan wajah yang berlumuran darah.
“Aku cuma beri pelajaran ke dia, karna udah berani buat kamu nangis. Apa itu salah?.” Jawabnya membela diri.
“Tapi bukan dengan kamu mukul dia! Itu sama aja kamu lebih nyakitin aku Fiko! Aku nggak nyangka kamu tega!.”
"Ola, sayang aku tuh tadi cuman.."
"Cuman kamu bilang? wajah Fabian sampai babak belur begini cuman kamu bilang?! Aku nggak pernah nyuruh kamu bela aku!, aku juga nggak pernah minta kamu bikin perhitungan apa-apa sama Fabian, karena memang ini bukan urusan kamu Fiko!."
"Jelas ini urusan aku Ola, kamu ini pacar aku, dan masalah kamu sama dia juga bakal jadi masalahku juga, aku nggak terima dia udah nyakitin kamu! maka dari itu aku kasih sedikit pelajaran buat cowok cupu itu!."
Febiola sekarang mengerti siapa sebenarnya Fiko Pranata yang ada didepannya saat ini. Ternyata sikapnya yang penuh kasih sayang dan penuh kelembutan itu hanyalah topeng yang ia tampilkan didepan semua orang.
Sedangkan dibalik itu semua ia adalah pria posesif yang memiliki perangai buruk. Semula ia tak percaya ketika banyak siswa yang membicarakan tentang pacarnya. Mereka sempat memberikan peringatan pada Febiola untuk berhati-hati menjalin hubungan dengan Fiko, karena banyak kabar miring yang mengatakan bahwa Fiko adalah anak seorang gengster dan bisa saja Fiko mengikuti jejak ayahnya.
"Diam kamu.. Aku udah nggak bisa ngelanjutin hubungan ini lagi.." ucap Febiola gemetar menahan emosinya.
"Ap.. apa maksud kamu sayang?."
"Kita putus."
Fiko terbelalak kaget mendengar penuturan Febiola yang terkesan sarkastik.
Febiola beralih ke Fabian dan dengan segera membantunya berdiri, lalu meminta bantuan siswa lain untuk memapahnya pergi.
“Ola? Febiola! Dengerin aku dulu. Febiola!.” Teriaknya begitu frustasi
Ia tak menyangka bahwa hubungan asmara nya hanya bertahan seumur jagung. Ia juga sedikit menyesal karena kurang dapat menahan emosinya yang mengakibatkan kesialan tersendiri baginya. Ia berusaha kembali memanggil Febiola yang mulai menjauh dan tak menengoknya sama sekali, namun nihil. Ia tetap tak mendapatkan jawaban apapun.
Febiola membawa Fabian pergi dan tak menghiraukan Fiko yang berteriak memanggilnya berulang kali. Mungkin sudah saatnya Febiola tegas dalam hubungan yang menyesakkan ini. Jujur ia juga mulai jengah dengan perilaku Fiko yang posesif diluar batas dan tak membiarkan dia melakukan kontak mata dengan pria manapun.
Semula ia mencoba memahami sikap pacarnya, namun batas pemahamannya tidak mampu menembus pola pikir Fiko yang ternyata jauh dari kata dewasa.