Sesampainya di UKS Febiola membaringkan tubuh Fabian yang kini terlihat sangat lemah. Kebetulan perawat yang biasanya berjaga di UKS sedang tidak berada ditempat, mau tidak mau Febiola yang harus segera mengobati luka Fabian untuk melakukan pertolongan pertama.
Ia mengambil kotak obat dan antiseptik untuk mengobati luka Fabian yang cukup parah pada bagian wajahnya. Fabian hanya bisa melihatnya sendu, melihat wajah cemas pada sahabatnya itu.
“Ayo, kubantu duduk.” Ucap Febiola lembut, namun masih jelas terlihat kecemasan menyelimuti wajahnya.
Fabian hanya menurut dan terduduk disamping Febiola yang tengah membuka kotak obat.
"Tunggu ya, aku ambil air dingin dulu buat bersihin darahnya."
Fabian hanya mengangguk lemah dan menunggu Febiola kembali membawa air dingin.
"Kalo sakit bilang ya.."
Lagi-lagi Fabian hanya mengangguk lemah menatapnya yang mulai memeras kain handuk dalam wadah yang lumayan besar
Febiola mulai membersihkan darah di wajah sahabatnya menggunakan handuk kecil dengan lembut, sangat berhati-hati karena takut tambah menyakiti luka Fabian yang cukup parah.
Setelah wajahnya bersih dapat terlihat dengan jelas beberapa luka di bagian wajahnya. Lukanya tidak banyak, namun karena pelipisnya pecah yang mengakibatkan darah mengalir cukup deras dan menyebar ke seluruh wajahnya. Bibirnya juga sedikit pecah dan sedikit sobek, tulang pipinya memar dan lecet serta bagian tulang hidungnya terdapat beberapa goresan luka yang cukup banyak.
Febiola ngilu dan ngeri melihatnya, ia sempat membayangkan bagaimana bila bukan pelipisnya melainkan mata Fabian yang terkena pukulan dan pecah, pasti sangat menakutkan. Ia menggeleng mengakhiri bayangannya sendiri.
“Tahan ya, ini akan sedikit sakit.”
Febiola mulai mengobati area wajah Fabian yang luka. Pelan tapi pasti, ia yakin rasanya pasti sangat perih dan panas. Tapi bukanya kesakitan, Fabian malah memandang Febiola tanpa ekspresi apapun.
“Harusnya kamu nggak usah nolong aku.” Ucap Fabian datar.
“Aku nggak bisa dong, nggak nolong sahabatku sendiri?.”
“Kenapa kamu nggak biarin aku mati aja tadi?.” lanjutnya tiba-tiba dengan menatap lekat wajah Febiola. Membuat Febiola menghentikan kegiatannya dan membalas tatapan Fabian tak percaya.
“Kenapa kamu ngomong gitu? Aku nggak akan biarin kamu mati, kamu tau karena apa? karena aku sayang sama kamu Fabian, aku nggak mau kamu terluka sedikitpun.” Ucapnya lembut.
“Tapi ini nggak seberapa, ketimbang luka yang ada disini.”
Fabian meraih tangan Febiola lalu meletakkan pada dadanya, membuat Febiola bingung dan tak mengerti.
“Maksut kamu?.” Ia merasakan denyut jantung Fabian yang berdebar kencang tak beraturan.
“Bukan apa-apa.” Fabian melepaskan tangan Febiola dari dadanya.
“Lagi, kamu aneh! Setiap aku tanya pasti kamu bilang nggak papa, kamu selalu menjauh saat aku tanya hal yang sama. Kamu ini anggap aku apa sih?.”
Febiola benar-benar dibuat bingung, kenapa sangat sulit untuk mengerti Fabian. Sangat banyak hal yang Fabian sembunyikan dari nya.
“Kamu itu segalanya buat aku. Jangankan nangis, kamu digigit semut aja aku nggak rela.” Ucap Fabian tanpa ekspresi, membuat Febiola tertawa kecil melihat tingkahnya.
“Dasar kodok! Bisa aja ya, disaat seperti ini kamu masih bisa buat aku ketawa.” ucapnya pura-pura kesal.
“Kamu jelek kalo marah.” Ucap Fabian lagi.
“Kalau nggak marah cantik dong?.”
“Ya nggak juga.” Fabian kembali meledek membuat Febiola melotot ke arahnya.
“Apa? iihh!.” Febiola begitu kesal dengan ucapan Fabian, namun seketika kesal itu hilang saat ia melihat sebuah senyuman tulus yang tak sengaja berhasil terukir di wajah sahabatnya itu.
“Dasar marmut cilik.” dengusnya pelan.
“Jadi, kamu udah nggak marah kan?.” tanya Febiola tiba-tiba.
“Marah?.”
“Iya marah, kemarin waktu di kedai kamu kan marah sama aku?.”
“Siapa bilang aku marah.”
“Trus, apa kalo nggak marah? Kamu tiba-tiba ngilang dari aku, jauhin aku, terus kamu marah ke aku tanpa sebab?.”
“Aku.. cuma lagi butuh waktu sendiri.” Lirihnya.
“Tanpa aku? Kita kan bisa selesaikan masalah kamu sama-sama Fabian?.”
“Tapi ini masalah batin La, aku nggak bisa libatin kamu.”
‘walaupun kamu sebenarnya terlibat’ lanjutnya dalam hati.
Febiola hanya bisa menghela nafas panjangnya disertai anggukan lemahnya. Sedikit kecewa memang tak dapat membantu sahabatnya, tapi apa boleh buat, yang penting sekarang Fabian tak marah lagi padanya. Kemudian ia kembali mengobati luka Fabian.
Sepulangnya dari sekolah, Fabian langsung menghempaskan tubuhnya disofa ruang keluarga. Masih merasakan sakit disekujur tubuhnya. Ia mengelus perban yang ada dipipinya, mengingat Febiola lah yang menyematkan perban itu dengan lembut. Vita yang baru saja turun dari tangga terkejut melihat lebam-lebam diwajah adiknya itu.
“Ya Tuhan, Fabian kamu kenapa?.” Vita panik dan mengelus wajah adiknya, ia terlihat begitu cemas.
“Auu.. jangan dipegang kak, sakit. Aku nggak papa kok, tadi cuma jatuh dari motor.” Jawab Fabian asal-asalan.
“Jatuh dari motor? Kamu kan bawa mobil, gimana bisa jatuh dari motor?.” Vita terlihat mulai curiga.
“Emm.. itu.. maksutnya jatoh dari motor temen aku, kan dia punya motor baru, trus aku iseng-iseng cobain, eh tadi hilang kendali, jatoh deh.” Jawabnya berbohong.
“Beneran kamu jatoh dari motor? Kok cuma mukanya yang luka badannya enggak? Emang cuma mukamu aja yang nyusruk?.” Vita sengaja meledek Fabian yang tidak mau jujur.
"Kakak ini bisa aja. Tapi.. ya.. emang gitu.. ya.. gitu..” Jawab Fabian menyetujui.
“Kamu nggak bohong kan? Atau jangan-jangan kamu berantem ya?.”
“Enggak kak, enggak! Bukan aku yang berantem, tapi dia yang mukul duluan.”
“Tuh kan bener! Itu sama aja kamu abis berantem!.” Vita memegang wajah adiknya sekali lagi, tapi kali ini dengan lembut.
“Dia nuduh aku yang enggak-enggak, terus mukulin aku kak.” Fabian tertunduk lesu.
“Nuduh gimana, kok nyampe mukul kamu?.”
“Ya gitulah kak, masalah pacarnya. Dia ngira kalau aku yang buat Febiola nangis.” Jawabnya lagi.
“Jadi kamu babak belur cuma gara-gara Febiola? Mau sampai kapan dek, kamu gini terus? Kapan kamu bisa move on dari Febiola yang jelas-jelas udah punya pacar?.”
“Entahlah kak, aku juga nggak tau. Mungkin cuma waktu yang bisa menghapus semuanya.” Jawab Fabian lemah.
“Yaudah, mungkin kakak cuma bisa doain supaya kamu mendapatkan yang terbaik.” Ucap Vita dengan lembut.
"Makasih kak..” Vita hanya mengangguk memberi dukungan.
“Kamu istirahat gih, pasti capek kan? Jangan lupa mandi dulu. Besok kakak anterin kamu ke rumah sakit, oke?.” Vita mengelus lembut puncak kepala Fabian, kemudian beranjak pergi.
“Makasih kak atas perhatiannya, i love you kakakku sayang.” Senyum Fabian tersungging ketika menatap punggung kakaknya yang mulai menjauh.
Seminggu kemudian..
Fabian duduk di kursi kamarnya sambil membuka plastik obat-obatan yang terlihat tinggal beberapa. Lukanya juga mulai kering dan berangsur sembuh.
Ia menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Kemudian ia ambil ponselnya dan melihat tanggal.
“Tanggal 20, hari sabtu. Hari sabtu ya? Berarti nanti malam, malam minggu?.” Fabian memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian ia tersenyum penuh arti.