Tingg!!
Dengan hanya berbalutkan handuk Febiola segera berjalan menghampiri ponselnya yang baru saja berbunyi, nampaknya ada sebuah pesan.
‘Aku bosan dirumah, ku jemput nanti malam tepat jam 8. Tidak terima kata penolakan atau maaf mu akan ku cabut, tertanda Fabian.’ Isi pesan itu.
Febiola menghela nafas sembari membaringkan diri di tempat tidurnya. Ia melirik jam dinding diruangan tersebut dan kembali menghela nafas panjangnya.
“Kenapa kasih taunya dadakan sih, inikan udah jam 6? cuma punya waktu dua jam buat siap-siap. Hhh.. kalau aja kamu bukan temenku, aku nggak akan mau.” ucapnya pasrah.
Kemudian ia menuju lemari pakaiannya, dan memilah baju yang hendak ia kenakan malam nanti. Hampir setengah jam berlalu, ia masih belum juga menemukan baju yang dia anggap cocok untuk pergi bersama Fabian. Hingga sampai seseorang mengetuk pintu kamarnya.
‘tok tok tok’
“Iya masuk!.” Seru Febiola dari dalam kamar.
‘cklek’
Pintupun terbuka. Terpampang lah seorang gadis berwajah tirus bermata sipit yang tak lain adalah sepupunya yang baru saja tiba dari Singapore kemarin lusa.
“Hai.. ganggu nggak? Hehe..”
“Lia? kamu dateng kok nggak ngabarin dulu?.” Febiola segera memeluknya dengan erat.
“Iya maaf La, aku emang sengaja nggak ngabarin kamu, biar surprise hehe.. Tapi aku emang lagi pengen banget main kesini, jadi ya langsung aja deh terbang, kan deket hehe.. Ngomong-ngomong kamu lagi ngapain? Kok bajunya berantakan gitu?.” Tanya Lia, yang melihat pakaian sepupunya yang berhamburan di atas ranjang.
“Aku pusing pilih baju buat nanti malem nih Li.”
"Ohh? Mau ngedate ya sama pacarnya, pilih baju aja sampe pusing?.”
‘Ngedate? sama pacar? oh iya, harusnya kan aku jalan sama Fiko, bukan Fabian. Tapi kok malah kebalik gini?.’ Ujarnya dalam hati.
'Astaga, aku lupa, kan aku udah putus sama Fiko!.' Febiola menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri.
“Oh, bukan kok, bukan. Sebenernya bukan sama pacar, tapi..”
“Iya.. iya.. aku ngerti kok, sekarang kamu terima beres, biar aku yang pilihin baju terus make up in kamu nanti, oke?.” Lia langsung menarik Febiola agar duduk santai di depan meja rias.
Febiola hanya bisa mengernyitkan dahinya melihat aksi sepupunya yang tengah sibuk memilah baju. Dan beberapa menit kemudian akhirnya Lia menemukan baju yang menurutnya cocok dengan sepupunya.
“Nah! Ini cocok banget nih sama kamu!.” Ia menyodorkan sebuah dress putih yang panjangnya sedikit di atas lutut.
“Apa ini nggak terlalu berlebihan? kan aku cuma..”
“Udah Febiola, sekarang cepet pake, nurut aja kenapa! malam ini kamu akan jadi princes paling cantik sejagat raya!.” Lia mendorong tubuh Febiola memasuki kamar mandi untuk mencoba dress itu.
Selang beberapa menit Febiola pun keluar dan memperlihatkan penampilannya.
“Tuh kan, apa aku bilang? belum dandan aja udah cantik begini, pantes aja kamu jadi primadona di sekolah.”
“Ah, kamu lebay, biasa aja tuh.”
“Kamu tuh ya dibilangin.”
“Yayaya.. terserah kamu deh.” Jawab Febiola pasrah.
“Oke, sekarang tinggal make up. Sini sini sini..” Febiola hanya menurut, ia kembali di dudukan dikursi rias membelakangi cermin.
Febiola hanya bisa pasrah dengan perlakuan sepupunya yang kini tengah mendandani wajahnya. 30 menitpun berlalu, pukul 19.45 Febiola telah selesai dirias.
“Nah, udah selesai, wah.. cantiknya sepupuku ini.. kaya artis hehe..”
“Beneran? apa aku cantik?.” Tanya Febiola ragu.
“Duh, bukan cuma cantik Ola ku sayang, sekarang lihat sendiri deh wajah kamu di cermin.” Lia membalikan tubuh Febiola menghadap cermin.
Febiola sedikit tertegun melihat pantulan dirinya sendiri di cermin yang begitu cantik. Ia sedikit berbeda, karena selama ini ia memang hampir tidak pernah memakai make up apapun ke sekolah, hanya sunscreen dan lip balm yang ia pakai untuk melindungi kulit nya dari sinar matahari.
“Benar kan yang aku bilang? baru percaya kan? aku yakin kamu akan jadi peran utama malam ini.”
“Udah jangan berlebihan ah.”
“Aku jamin, malam ini siapa pun yang lihat kamu pasti bakal jatuh hati sejatuh jatuhnya.” bisiknya di telinga Febiola.
“Udah deh! Kamu makin ngawur!.”
“Lihat aja nanti, yaudah nih pake sepatunya, dan kamu sekarang tinggal nunggu pangeranmu datang.. oke?.” ledek Lia lagi.
Tinn Tiinnn!!!
Belum ada satu menit Lia selesai bicara, suara klakson mobil terdengar keras dihalaman rumah Febiola.
“Wah, belum selesai ngomongin dia, langsung muncul aja!.” dengus Febiola sedikit kaget dengan bunyi klakson mobil Fabian yang cukup keras.
“Cie pacarnya udah dateng!.”
“Kan udah aku bilang dia bukan...”
“Ssstt! udah kamu tunggu disini, biar aku bukain pintu dulu ya.” Lia pun segera menuju pintu ruang tamu dengan antusias.
“Hhh, dasar.. belum juga selesai ngomong udah main potong aja.” Gerutu nya kesal.
Ting Tung!
“Iya sebentar!.”
‘cklek’
Ketika pintu terbuka Lia terkejut melihat sosok pria tampan yang ada di hadapannya saat ini.
‘Gantengnya..' batinnya yang masih mematung.
“Ehem! maaf, Febiola nya ada?, mbak..?.”
“Lia.. saya Lia.” ucapnya sambil mengulurkan tangan.
“Oh, saya Fabian.” Balas Fabian menyambut uluran tangan Lia.
“Emm, Febiola ada kok, masih di dalam, masuk aja Fabian.”
“Saya nunggu disini aja.”
“Yaudah, biar aku panggilin dulu.” Ia lalu pergi memanggil Febiola. Fabian hanya mengangguk pelan, lalu membelakangi pintu sambil mengecek ponselnya.
Beberapa menit kemudian...
“Yuk kita berangkat!.” suara seseorang yang Fabian kenal dari belakang.
Fabian berbalik dan terdiam cukup lama, ia tak percaya siapa yang ada dihadapannya saat ini. Ia memandang penampilan Febiola dari bawah hingga atas yang terlihat begitu berbeda dari biasanya. Fabian seakan salah tingkah dibuatnya. Ia tak menyangka Febiola yang biasanya tak pernah berdandan kini melakukannya hanya karena pergi dengan dirinya. Ia masih menatap nya tanpa berkedip, apakah dia terpesona? Hanya dia yang tau (Dan author :v).
“Kenapa? Ada yang aneh ya?.” Febiola mengoreksi penampilannya sendiri.
“Enggak kok.. kamu cantik.” Jawab Fabian yang membuat Febiola sedikit terkejut.
‘seorang Fabian yang selalu memanggilku marmut jelek bilang aku cantik?.’ Batinnya dalam hati.
“Emm.. makasih.” ucapnya canggung.
“Yaudah, kita berangkat sekarang?.” Fabian mengulurkan tangannya.
“Ayok.” Febiola menyambut uluran tangan Fabian.
Mereka berjalan bak sepasang kekasih yang baru resmi jadian, tak lupa Fabian membukakan pintu mobilnya untuk Febiola.
“Ya ampun, mereka serasi banget..” Dari jendela Lia melihat mereka memasuki mobil kemudian berlalu pergi.
"Kan jadi pengen punya ayang." gumamnya lagi.
Lia pun memilih untuk segera mandi dan tidur, malam ini ia akan memanjakan diri di bathup kesayangan Febiola sepuasnya.