Perasaan Aneh

1212 Kata
Menikmati keindahan jalan kota dimalam hari memang cukup menyenangkan, apalagi ini pertama kalinya mereka pergi berdua setelah berbulan-bulan mengalami salah paham. “Malam ini kita mau kemana?.” Tanya Febiola memecah keheningan di antara mereka. “Kafe.” Fabian hanya menjawab dengan singkat. “Memang apa nggak sebaiknya kamu istirahat dirumah? Lukamu masih belum kering loh?.” Febiola tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. “Hah.. luka segini disuruh istirahat? bukan Fabian namanya.” “Tapi kan..” “Udah ya, kamu nggak perlu se khawatir itu, yang sakit kan aku, kamu bisa liat aku udah nggak apa-apa.” Fabian masih bersikukuh meyakinkan kondisinya bahwa ia baik-baik saja. “Yakin?.” Febiola kembali memastikan, karena mau bagaimanapun ia tetap khawatir. “Seribu persen!.” “Hmm.. Iya deh. Tapi kalau sampai kamu kenapa-napa nanti, aku nggak tanggung jawab loh ya.” Febiola pura-pura tak perduli. “Iya iya, dasar marmut jelek.” Fabian tersenyum. “Kamu kodok!.” Balas Febiola tak mau kalah. Kemudian mereka tertawa bersama-sama di dalam mobil, menikmati perjalanan mereka menuju kafe. "Kacamata kamu baru? aku baru sadar." "Ini? iya kemarin kak Vita yang beli ini buat aku, soalnya kan waktu itu pecah gara-gara pacar kamu." "Aku udah putus kok sama Fiko." Seketika Fabian menginjak rem sehingga mobil mereka berhenti tiba-tiba. "Fabian! kamu apa-apa an sih, bahaya! kalo ada mobil dibelakang kita gimana?!." Fabian hanya menoleh sebentar dan kembali melajukan mobilnya, ia terlihat seperti berfikir. Dia sama sekali tak tahu menahu jika mereka berdua sudah mengakhiri hubungan nya. Mungkin karena saat itu dia benar-benar sudah hampir pingsan ketika Fiko memukulinya dengan brutal. "Kenapa?." tanya Fabian pelan. "Kenapa apanya?." "Kenapa kalian berdua putus?, apa jangan-jangan.. karena aku?." "Nggak juga sih, hubungan kita emang cuma manis di awal, makin kesini dia makin posesif nggak jelas. Membatasi pergaulan aku, nggak boleh ketemu sama kamu, dan mengatur apapun yang aku lakukan, aku udah nggak tahan." Ia menoleh pada Fabian yang masih fokus dengan setirnya. "Dan puncaknya, pas aku liat dengan mata kepala ku sendiri, dia berani nyakitin sahabatku satu-satunya yang sangat berarti.. Kamu tau? ternyata aku lebih sayang ke kamu daripada ke pacarku sendiri." Febiola kembali menatap lurus kedepan. Fabian terpaku dengan ucapan Febiola barusan. Ia tak memberikan respon apapun karena saat ini perasaannya benar-benar tak karuan. Antara senang, haru dan khawatir. 10 menit kemudian sampailah mereka berdua di sebuah kafe. Suasana di dalam sana sangat ramai. Tak sedikit juga pengunjung yang berkencan di tempat itu. Fabian dan Febiola pun turun dan mereka berdua segera memasuki kafe itu, namun betapa anehnya semua mata tertuju pada mereka. Mungkin sebagian menatap mereka kagum, melihat betapa cocoknya dua sahabat itu. “Disini Fabian.” Febiola menemukan tempat duduk yang paling dekat dengan panggung. Dan Fabian hanya menjawabnya dengan sebuah anggukkan manis. “Silahkan mas, mbak, ini daftar menunya.” Ucap seorang pelayan pada mereka. “Oh iya makasih mbak.” Febiola mengambil daftar menu itu dan mulai memeriksa. Fabian juga mengambil daftar menunya, ia membaca satu persatu menu yang tertera didalamnya. Suaranya setengah berbisik namun berhasil mencuri perhatian Febiola. Febiola yang tadinya fokus pada daftar menunya, tiba-tiba melirik ke arah Fabian, entah apa yang ia lihat, rasanya begitu aneh. Ia mencoba mengalihkan pandangannya dari wajah sahabatnya itu, namun matanya kembali berpindah ke wajah Fabian yang tengah membaca lirih. Perlahan tapi pasti, jantungnya mulai berdetak lebih cepat, merespon apa yang tengah dilihatnya saat ini. Pertama kali baginya merasakan hal seperti ini, rasanya aneh dan tak nyaman, namun ia sama sekali tak bisa berkedip dibuatnya. ‘Ada apa ini, apa yang sedang terjadi sama aku? kenapa aku nggak bisa berpaling dari wajahnya? Rasanya begitu damai melihat mata itu, bibir itu, dan wajah itu, yang kini tengah melantunkan kata.’ ucap Febiola dalam hatinya. “Nggak!.” Tiba-tiba Febiola berucap tanpa sebab dan menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan apa yang tengah ia pikirkan tak boleh terjadi. Fabian yang mendengarnya segera mendongak dan sedikit terkejut, ia mengernyitkan dahinya bingung. “la? ada apa?.” “Ya? aku.. aku nggak papa kok, mau pesen apa?.” Febiola mencoba mengalihkan pembicaraan. “Beneran kamu nggak papa? kamu sakit?.” Fabian mengulurkan tangannya mencoba meraih kening Febiola. Ketika ada pendekatan jarak antara mereka, Febiola kembali merasakan hal itu. “Iya Fabian, aku nggak papa!.” Jawabnya dengan menepis tangan Fabian. “Yaudah, kalo kamu sakit bilang aku ya?.” Fabian cemas karena tak biasanya Febiola bertindak seperti ini. Biasanya ia selalu percaya diri dan banyak bicara walaupun ditempat umum. Febiola hanya dapat mengangguk kecil menuruti perintah sahabat nya. “Mbak, saya pesen mocca coffee satu, dan..?.” “Vanilla latte aja.” “Mocca Coffee sama vanilla latte, makannya?." "Nanti pesannya menyusul." Fabian tersenyum pada pelayan itu. "Oke, silahkan ditunggu 10 menit, pesanannya akan segera datang, terimakasih.” Ucap pelayan itu lalu pergi, di sambut anggukkan kecil keduanya. “Fabian?.” panggil Febiola lirih. “Hm?.” "Boleh tanya sesuatu?.” “Boleh, emang mau tanya apa?.” jawab Fabian begitu manis, ia memajukan posisinya agar lebih dekat dengan wajah Febiola. Membuat Febiola terpaku menatap lekat wajah sahabatnya itu. Fabian melambai-lambai kan tangannya didepan wajah Febiola yang tak berkedip. “Kamu kenapa? Kok ngeliatin aku kaya gitu?.” “Aku...” “Maaf mas, mbak, ini pesanannya!.” Suara pelayan memecah suasana di antara mereka, sekaligus memotong perkataan Febiola. “Oh iya, makasih mbak..” Fabian mundur, menjauhkan jaraknya dengan Febiola yang tampak sedikit kecewa. Setelah pelayan itu pergi, Fabian kembali menatap Febiola yang terlihat tengah gelisah, ia makin bingung dibuatnya. Perlahan ia meraih tangan Febiola dengan lembut. “Kalau ada masalah cerita sama aku, jangan disimpen sendiri, karena kamu nggak pernah tau, seberapa lama dan seberapa kuat hati kamu bisa menampung beban itu, ya?” ucap Fabian dengan tatapan yang hangat dan sangat mengayomi. Febiola hanya dapat merasakan hal aneh itu lagi dan lagi. Ia benar-benar tak mampu mengucapkan sepatah katapun ketika Fabian mempererat genggaman tangannya. Pandangannya seakan terkunci pada satu titik sudut yang sebelumnya belum pernah ia lihat dari sosok yang ada dihadapannya. Ini sungguh mustahil, mengapa hanya dengan mengucapkan kalimat yang bahkan terdengar sederhana seperti itu Fabian mampu menghipnotis seluruh daya pikirnya. Ia benar-benar tak mampu berbuat apa-apa. Disisi lain ada seorang wanita yang tengah memandang benci kearah mereka berdua dari kejauhan. Menatap mereka dengan tajam kemudian meneguk minuman yang ada didepannya hingga tandas. Matanya membulat, wajahnya merah padam seakan sangat tak menyukai kebersamaan dan kedekatan antara Fabian dan Febiola. Ia terus memperhatikan gerak gerik mereka tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun. Ia mengambil ponselnya dan menelfon seseorang. “Mereka disini. Kalian bersiap diluar, rencana kita malam ini jangan sampai gagal!. Beritahu mami untuk mengirimkan beberapa orang lagi ketempat yang sudah kusiapkan.” Ucapnya pada seseorang di seberang telepon. “Mau dengar aku menyanyikan sesuatu?.” Febiola hanya mengangguk dan menyunggingkan senyumannya. Fabian naik ke atas panggung dan berkomunikasi dengan para pemain band disana. “Oke.. sebuah lagu untuk seseorang yang amat sangat spesial. Lagu ini berisi tentang curahan hati saya untuk seseorang yang pernah buat saya sakit.. dialah wanita yang berada tepat di depan panggung ini.” Ucap Fabian dengan segenap perasaannya. Febiola hanya bisa salah tingkah menengok kanan kirinya, melihat semua pengunjung bersorak dan memperhatikan dia dan Fabian. Lantunan musik mulai terdengar indah, dengan hanya memainkan gitarnya Fabian berhasil menghipnotis semua orang yang ada disana. Semua orang mulai hanya terfokus pada lagu yang Fabian nyanyikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN