Sulit

1126 Kata
Selama musik terus teralun merdu Febiola seakan merasa sakit mendengarkan kata demi kata yang di lantunkan oleh Fabian. Tanpa disadari air matanya mulai mengalir, meresapi makna dari lagu itu. Suara tepuk tangan bergemuruh dalam kafe itu setelah Fabian selesai menyanyikan lagunya. “Terima kasih.” Fabian kemudian turun dari panggung dan kembali ke tempat duduknya, ia sedikit tertegun melihat Febiola mengeluarkan airmata. “Kamu nangis?.” Febiola segera mengusap air matanya dan pura-pura tak terjadi apa-apa. Ia hanya menggelengkan kepala dan tersenyum tipis. “Ooo.. atau jangan-jangan, kamu tersentuh ya sama lagu tadi? hmm, aku memang penyanyi profesional.” Fabian tersenyum dan mencoba mencairkan suasana. “Iya.. aku memang tersentuh..” "Benarkah?.” Fabian sedikit terkejut karna Febiola benar-benar tersentuh, padahal semula ia hanya bercanda mengatakan hal itu. “Apa lagu itu buat aku?.” Fabian hanya bisa terdiam dan sedikit canggung dengan pertanyaan Febiola barusan, karena biasanya Febiola tak pernah peka dengan apapun yang ia ucapkan tentang perasaannya. Dan kali inipun ia pikir akan sama seperti biasanya, namun sepertinya ia mengerti alasan Febiola menangis tadi. Ia menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian membuangnya perlahan. “Iya, lagu itu memang buat kamu.” Fabian menatap manik mata Febiola dalam-dalam, berusaha mentransfer emosi dari perasaannya yang seakan butuh jawaban. Febiola yang tak sanggup membalas tatapan itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia merasakan tatapan Fabian memacu detak jantungnya, dan rasa aneh itu kembali muncul untuk kesekian kalinya. Mengapa rasa itu selalu muncul ketika ia bersama dengan Fabian? Sedangkan saat ia bersama Fiko, jantungnya tak pernah berdebar sehebat ini. “Fabian, lebih baik kita pulang sekarang!.” Ucap Febiola tiba-tiba. “Pulang? Secepat itu?.” Fabian menatap Febiola bingung. "Iya, aku ngantuk." jawabnya berbohong. "Kita bisa pesen makan dulu, setelah itu baru kita pulang gimana? sayang banget kita jauh-jauh kesini tapi belum..." “Aku pengen pulang Fabian! kamu nggak denger aku?.” Febiola meninggikan suaranya, ia memotong kalimat yang belum selesai Fabian ucapkan dengan kasar. Fabian hanya bisa tertegun mendengar kalimat yang baru dilontarkan oleh sahabatnya seperti itu. Ini pertama kalinya Febiola membentaknya dengan nyata. “Iya, kita pulang sekarang.” Fabian sedikit kecewa, ia tak tau lagi harus mengatakan apa jika sudah seperti ini. Sesampainya didalam mobil mereka berdua hanya terdiam tanpa berbicara sepatah kata. “Fabian..” panggil Febiola memecah keheningan. Fabian tetap tak bergeming, masih terngiang dengan jelas olehnya perkataan Febiola didalam kafe tadi. “Ian..!.” panggil Febiola lagi, membuat Fabian hanya menoleh lemah ke arahnya. “Iya, kita segera pulang.” Fabian hendak menyalakan mobilnya. “Bukan itu!.” Febiola mencegah tangan Fabian. “Lalu apa lagi?.” Tanya Fabian datar, tanpa menengok ke arah Febiola. “Maaf, untuk yang tadi. Aku nggak bermaksut untuk...” “Iya aku tau, kamu memang nggak bermaksut marah sama aku. Mungkin kamu cuma nggak suka jalan sama aku, atau mungkin kamu lagi kefikiran sama mantan pacar kamu. Kalau kamu ngerasa nggak nyaman deket-deket sama aku, tinggal bilang apa susahnya? Aku nggak mau jadi penyebab kesedihan kamu La.” “Sstt! Jangan pernah bilang kayak gitu Fabian!.” Febiola menghentikan ucapan Fabian dengan jari telunjuknya. “Kamu nggak ngerti..” lirih Febiola lagi. “Kamu yang nggak pernah ngerti perasaanku Febiola!.” ujar Fabian sedikit meninggikan suaranya. “Maksut kamu?.” Cukup lama bagi mereka beradu tatap tanpa ada seorang pun yang mengalah untuk bicara. "Lupakan. Kita harus pulang sekarang.” Lagi-lagi Fabian mengalihkan pembicaraan, karena disaat seperti ini tidak akan mungkin baginya mengatakan yang sebenarnya tentang perasaannya. “Aku turun disini!.” Ucap Febiola tiba-tiba membuat Fabian menoleh cepat. “Iya! Aku mau pulang sendiri!.” Ia lalu bergegas turun. “Ola! Kamu jangan keras kepala gini dong!.” Febiola tak memperdulikan ucapan Fabian dari dalam mobil, dan ia terus berjalan sendirian. “Febiolaa! Ola!.” Febiola terlihat semakin jauh sementara Fabian hanya dapat mengacak rambutnya frustasi. Mereka sama-sama masih memiliki ego yang tinggi, sama-sama tak mau mengalah untuk bicara akan perasaan masing-masing, dan mereka belum bisa menghancurkan tembok persahabatan yang sudah berjalan hampir 6 tahun itu untuk melangkah lebih jauh. Mereka sama-sama takut kecewa, dan takut untuk terluka. Fabian merasa kesal dengan dirinya sendiri karena sangat sulit baginya untuk bicara akan hal ini lagi. Mengingat bahwa ia pernah sangat terluka oleh cinta sepihaknya. Setelah sedikit menenangkan pikiran, ia berniat mengejar Febiola, namun tiba-tiba ponselnya berdering. “Halo? Febiola, dimana kamu sekarang?.” “Pacarmu ada padaku!.” Fabian mengernyit, ia sedikit familiar dengan suara ini. Ini bukan suara Febiola, namun ia juga pernah mendengar suara ini sebelumnya. “Halo? Maksutnya apa ini?.” Fabian semakin tak mengerti. Ia mengecek kembali nomor yang ia hubungi, benar itu adalah nomor Febiola, tetapi suara yang menjawab dibalik telepon itu berbeda. “Pacarmu Febiola ada padaku! Jika kamu mau dia kembali hidup-hidup, segera datang kemari!.” “Apa-apaan ini! Siapa ini? Jangan berani-berani sakiti Febiola!.” Fabian semakin panik dibuatnya. “Fabiaan! Fabiaann!! Tolongg! Tolong aku Fabiaan!!.” Teriak seorang gadis yang Fabian kenal dari balik telefon. “Ola? Febiola?! Halo! Ola?!!.” “Segeralah datang kemari! Kalau tidak..” “Baik! Aku akan segera datang kesana! tapi tolong, jangan apa-apa kan Febiola. Cepat beritahu dimana lokasi kalian sekarang!.” “Disebuah gedung terbengkalai di dekat persimpangan, 500 meter dari mall.” Tut tut tutt.. “Halo? Halo! Kurang ajar!.” Fabian begitu geram, lalu ia segera tancap gas menuju tempat itu. Disisi lain, Febiola yang tengah disandera didalam gedung itu begitu ketakutan. Tadi ketika ia sedang berjalan sendiri, ada sebuah mobil dari belakang yang berhenti dan langsung menyekapnya menuju tempat ini. Diperjalanan ponsel Fabian kembali berbunyi. “Halo?.” “Fabian, dimana Febiola? Apa dia bersama kamu?.” tanya seorang laki-laki dibalik telefon itu. “Febiola diculik! Aku sedang menuju tempat dimana ia disandera sekarang!.” Jawab Fabian dengan terus menambah kecepatan laju mobilnya. “Apa?! bagaimana bisa Febiola diculik? Sekarang kamu dimana Fabian? Aku segera menyusul!.” “Ceritanya panjang! Cepatlah jika ingin kemari, gedung kosong dekat persimpangan!.” Fiko pun segera menuju tempat itu. Sesampainya Fabian di gedung tua itu, ia segera masuk dan mencari keberadaan sahabatnya. “Febiola? Dimana kamu? Febiola!.” Ia terus meneriakkan nama Febiola, sampai pada akhirnya ia menemukan Febiola yang tengah diikat disebuah kursi. Namun dua orang pria berbadan besar menghadang langkahnya. “Siapa kalian? siapa yang menyuruh kalian melakukan ini? apa mau kalian sebenarnya? kalian mau uang? aku bisa memberikannya lebih dari orang yang menyuruh kalian. Tapi tolong, lepaskan temanku!.” Pria itu seperti memberi aba-aba pada kelompoknya yang lain untuk menangkap Fabian. “Hei! Apa-apaan ini! Lepaskan aku! dasar b******n kalian semua! Lepaskan aku!.” Fabian berusaha memberontak sekuat tenaga dari para pria berbadan besar itu. ‘puk puk puk’ suara tepukan tangan dari seseorang yang tengah berjalan dibawah lampu yang remang. “Ternyata sang pangeran telah datang rupanya?.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN