“Franda? nggak mungkin..” Ucap Fabian tak percaya.
Sama halnya dengan Fabian yang masih terkejut, Febiola hanya dapat membulatkan matanya, ia benar-benar syok melihat siapa yang ada dihadapannya saat ini. Sangat mustahil baginya mempercayai apa yang tengah ia lihat.
Franda, sahabat yang ia anggap sudah sebagai keluarganya sendiri, ternyata tega melakukan semua ini padanya, dan telah menghancurkan persahabatan mereka dengan tangannya sendiri.
“Kenapa? kalian nggak percaya?.. Iya! Ini aku Franda, sahabat kalian!.” Ia menyeringai menatap mereka yang sama-sama masih syok.
“Tega kamu Fran! dia itu sahabatmu sendiri! setan dari mana yang merasuki kamu hah?!.” Teriak Fabian penuh amarah.
“Hhmm.. buka ikatan mulutnya.” Perintah Franda kepada anak buahnya untuk membuka ikatan mulut Febiola.
“Franda kamu sudah gilaa! Gilaa!! Apa yang sedang kamu lakukan sekarang?.” Tanya Febiola begitu ikatannya terbuka.
“Hahahaha.. apa Febiola sayang? Aku gila? Ya.. kamu benar! Aku memang sudah gila, tergila-gila karena Fabian!.” Franda kembali tertawa sambil mendekati Fabian. Febiola makin tak percaya akan apa yang terjadi sekarang.
“Gila kamu Franda! Cepat lepaskan Febiola!.” Fabian kembali berontak dan hendak menyerang, tapi lagi-lagi ia bukanlah lawan yang seimbang.
“Fabian sayang, jangan terlalu buru-buru gitu dong. Aku kan belum apa-apain dia? dan kamu fikir, semudah itu aku akan lepasin cewek sialan itu? nggak akan pernah sayang..” Franda mengelus pipi Fabian.
“Franda kumohon, lepaskan dia! Jangan pernah sakiti dia Franda!.”
“Nggak akan!! Aku benci kalian berdua, aku benci! Kenapa? kenapa harus Febiola yang ada di hati kamu hah? Kenapa?!!.” Franda berteriak semakin tak terkontrol. Febiola hanya bisa terdiam tak mengerti dengan apa yang di ucapkan Franda tentangnya.
"Jawab aku sebelum ku lukai wajah p*****r ini!."
Franda menarik rambut Febiola dengan keras dan mendongakkan nya keatas. Ia mengeluarkan sebuah pisau panjang untuk dimainkan di kedua pipi Febiola. Franda tidak main-main dan itu benar-benar hampir melukai kulit pipi Febiola. Ia tidak mempedulikan meskipun Febiola berteriak kesakitan.
“Franda tolong hentikan.. ku mohon jangan.." Febiola merintih meminta belas kasihan.
"Diam b******k, atau akan ku akhiri semuanya sekarang." Ia mengangkat pisaunya tinggi-tinggi diatas wajah Febiola untuk menakuti keduanya.
"Franda stop! kamu mau tau jawabannya kan? karena dia, dia adalah cinta pertamaku. Orang yang sangat aku cintai Franda!.” Ucap Fabian menatap Franda tajam.
Febiola terbelalak kaget mendengar kalimat yang baru saja Fabian ucapkan, kalimat yang baru saja keluar dari mulut sahabatnya itu. Ia menatap Fabian tak percaya. Inikah yang selama ini Fabian sembunyikan darinya.
“Apa? cinta pertamamu kamu bilang? Lalu bagaimana dengan aku Fabian? Apa posisiku dihatimu?.” Franda terlihat sangat terpukul dan kecewa, bahkan ia hampir menangis mendengar Fabian sendiri yang mengatakan nya.
“Kamu itu sahabatku Franda! Kita ini hanya teman!, dan aku nggak bisa menganggapmu lebih dari itu.”
“Teman? tapi aku nggak mau hanya jadi seorang teman. Aku ingin lebih dari sekedar temanmu Fabian!.” Emosi Franda mulai meluap.
“Sadar Franda, sadar! Jangan mengharap hal yang akan membuatmu lebih sakit! Lebih baik kamu akhiri semua ini, dan kita bersama akan menjadi sahabat lagi!.” Fabian berusaha menenangkan Franda yang mulai bergerak gelisah.
"Tidakk!! Tidaakk!!! kalau aku nggak bisa mendapatkan kamu, maka Febiola juga enggak!.” Franda kembali mengarahkan pisau itu kedepan wajah Febiola yang mulai ketakutan.
“Franda mau apa kamu?!!.” Fabian begitu panik melihat gelagat Franda yang mulai kehilangan akal.
“Kamu akan menjadi saksi, saksi kematian wanita yang sangat kamu cintai!.”
Franda mulai menampar Febiola berulang kali dengan sangat keras. Bahkan suaranya begitu nyaring hingga menggema di seluruh ruangan itu.
“Franda jangan!, sadar Franda, sadar!.” Fabian gemetar ketakutan melihat Franda membabi buta memukuli Febiola dan masih belum juga mengakhiri tamparan nya.
Wajah Febiola sudah penuh dengan lebam biru keunguan di seluruh bagian wajahnya. Darah segar mengalir disudut bibirnya yang sedikit terkoyak. Pipinya terasa perih dan panas ketika Franda mengakhiri tamparan itu. Penampilannya sudah seperti b***k yang disiksa oleh majikannya dengan keji. Walaupun itu hanya tamparan, namun ia bahkan hampir kehilangan kesadaran nya.
"Franda! kamu benar-benar seorang psikopat!." Fabian kembali memberontak sekuat tenaganya, ia benar-benar tak tega melihat Febiola yang hampir pingsan.
Sementara itu Franda masih mencoba menstabilkan nafasnya yang memburu karena terlalu bersemangat menyiksa Febiola. Baginya, Febiola kini hanyalah seorang jalang yang harus ia habisi sampai ke ujung rambutnya.
“Mati kau!.” Ia mengarahkan pisau itu pada Febiola.
“Franda!! Jangan pernah kamu berani melakukan itu pada Febiola! Seujung kuku pun kamu menyentuh dia, kamu akan menyesal seumur hidup!.” Ancam Fabian dengan memberontak sekuat tenaga.
“Kamu ngancem aku? Kamu pikir aku takut hah? Aku bahkan sudah pernah melakukan hal ini sebelumnya. Jauh sebelum aku mengenal kalian. Mau tahu apa?.” Franda tertawa meremehkan. Ia mendekat kearah Fabian untuk membisikkan sesuatu.
"Mem.. bu.. nuh..!." Ucapnya dengan penuh penekanan, lalu ia kembali tertawa dengan bangga.
Ia kembali berjalan kearah Febiola yang masih menatapnya tanpa berkedip. Dengan menahan rasa sakitnya Febiola masih merekam apa yang terjadi didalam ingatannya. Wajah itu, senyum keji itu, dan tamparan itu, dia harus mengingat semuanya, ia harus menyimpan luka itu seumur hidupnya. Tidak ada lagi kata sahabat didalam hatinya, karena kini ia benar-benar kecewa dan terluka.
"Lihat, si jalang ini berani menatapku seperti itu." Ia tertawa sembari mencekal wajah Febiola dengan paksa.
“Dan sekarang, kamu harus mati.. Mati!!.” Franda mengayunkan pisau panjang yang hampir terlihat seperti pedang itu dan berniat mengincar area jantung Febiola.
Fabian memberontak dan berhasil melepaskan diri dari orang yang menahannya. Kemudian ia segera berlari sekuat tenaga kearah mereka.
“Jangan!!.” teriakan Fabian menggema sebelum ia mulai kehilangan suaranya.
Seketika tubuhnya ambruk kelantai. Dengan nafas yang terasa mulai mencekat dan tersenggal-senggal ia merasakan sakit yang luar biasa pada bagian perut sampingnya. Dilihatnya pisau itu bahkan berhasil menembus bagian belakang tubuhnya. Jadi bisa dibayangkan seberapa kuat Franda menusuk nya tanpa sengaja. Kini darah segar mulai membanjiri lantai, dan semakin banyak darah yang keluar dari luka tusukan itu.
“Fabiaaann..!!!.”
Febiola benar-benar syok melihat Fabian terkapar tak berdaya. Ia terus menjerit meneriakkan nama Fabian yang mulai kehilangan kesadarannya. Ia terus berontak mencoba melepaskan diri dari ikatan kursi yang sangat kuat itu. Dunianya seakan runtuh saat itu juga. Rasa sakit luar biasa terus berdenyut-denyut di hatinya.
Franda hanya bisa terbelalak kaget, karena ia salah sasaran. Ternyata Fabian yang terkena serangannya. Seketika ia menjatuhkan pisau itu dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Fa.. Fabian..” tangannya gemetar hebat dan ia sangat ketakutan.
“Itu merekaa! Tangkap mereka semua pak!!.”
Fiko datang dengan rombongan polisi. Ia melihat sekeliling dan merasa sangat menyesal karena ia sudah terlambat menyelamatkan salah satu dari mereka. Ia segera melepaskan ikatan Febiola, sedangkan Franda dan anak buahnya berhasil tertangkap.
“Febiola, kamu nggak apa-apa?.” Fiko panik setelah selesai melepaskan tali yang mengikat Febiola.
Febiola tak mempedulikan Fiko yang bertanya kepadanya. Seakan tuli ia langsung jatuh kelantai dan melihat keadaan Fabian yang masih terkapar.
“Fabian! Fabian bangun ian!!.”
Febiola menangis histeris melihat keadaan sahabatnya itu. Ia meletakan kepala Fabian dipangkuannya. Fabian sudah tak sadarkan diri, sedangkan Fiko juga ikut panik melihat keadaan Fabian yang bersimbah darah.
“Fabian!! Bangun ian bangun! Jangan tinggalin aku Fabian!.” Febiola terus mengguncangkan badan Fabian dan menepuk-nepuk pipinya.
“Fabian..” lirih Franda yang merasa bersalah. Ia juga menangis melihat orang yang ia cintai terluka karena dirinya. Febiola langsung menoleh dan menatapnya dengan tajam.
“Diam kamu! sekarang kamu puas? kamu sudah berhasil lebih menyakiti aku dengan melukai Fabian! puas kamu?!. Kenapa? kenapa kamu bahkan senekat ini?.” Dengan air mata yang membendung, Febiola bahkan sudah benar-benar tak mampu lagi berteriak.
“Karena aku cemburu sama kamu! yang selalu dikasihi Fabian, yang selalu dilindungi Fabian! Dan yang sangat dicintai Fabian!. Apa kamu tau? Selama hampir enam tahun, Fabian merasakan cinta yang tak berbalas! Dan yang lebih menyakitkan bagiku, gadis itu adalah kamu! kamu Febiola!!.”
Franda menangis makin menjadi. Febiola terdiam mendengar perkataan Franda. Ia semakin terlarut dalam keadaan ini. Hatinya begitu sakit mengetahui bahwa Fabian ternyata sangat mencintainya, dan cinta Fabian tak pernah terbalas sedikitpun, karena selama ini Febiola hanya menganggap Fabian sebagai sahabat karibnya.
“Jadi.. selama ini.."
“Iya! Selama ini dia, nggak pernah bisa berpaling pada siapapun, karena dia sudah terlanjur mencintai kamu!.”
"Fiko cepat bantu aku bawa Fabian kerumah sakit, cepat!.” Dengan cepat Fiko dan beberapa polisi membantu mengangkat dan membawa Fabian pergi.
Febiola bergegas berdiri dan mengikuti dari belakang. Sampai didepan Franda ia berhenti cukup lama, masih berusaha mengontrol emosinya, lalu menatapnya dalam-dalam.
“Bawa mereka semua pak! termasuk wanita penghianat ini..” Febiola kemudian berlalu pergi. Akhirnya Franda dan anak buahnya dibawa ke kantor polisi.