Ara

1018 Kata
Semua hal didunia ini pasti ada bayarannya. Adapun hal baik ataupun buruk pasti akan menemukan jalannya sebagai penebusan dosa atau penerimaan pahala. Hidup didunia juga tidak hanya secara cuma-cuma. Pada akhirnya setiap hal akan ternilai dan diberi label harga sesuai dengan kualitasnya. Begitu juga dengan seorang wanita. Wanita adalah makhluk yang secara alamiah ingin dijaga dan dilindungi. Sekuat apapun mereka pasti ada sisi rapuh dibaliknya yang bisa disembunyikan dan tak seorang pun bisa melihatnya. Namun apa jadinya bila wanita muda harus berjuang untuk hidupnya sendiri dimana pada umur itu harusnya ia masih bergantung pada orang tua. Ia menjual apapun yang bisa dijual, dan merelakan apa saja asalkan ia dapat bertahan hidup sendirian. Berawal dari paksaan, hingga berakhir menjadi kebiasaan. 3 tahun yang lalu Seorang gadis remaja tengah berjalan sendirian membawa keranjang belanjaan yang terlihat cukup berat. Gadis itu masih duduk dibangku SMP dan belum genap berusia 15 tahun. Ia berhenti sejenak guna mengusap keringat yang membanjiri keningnya di bawah matahari yang terik. Ingin rasanya ia membeli sebotol air minum, namun ia kembali mengingat bahwa adik-adiknya di panti pasti belum makan apa-apa jadi ia lebih memilih bergegas untuk segera pulang. Sesampainya di sebuah rumah kecil yang biasa orang-orang sebut panti cemara itu ia langsung masuk dan mendapati semua anak-anak disana menyambutnya dengan antusias. "Kak Ara kok lama sih, kita kan nungguin dari tadi." ujar seorang gadis yang jauh lebih kecil darinya. "Maaf ya, tadi asongan kakak cuma laku sedikit, jadi kakak ikut bantu-bantu angkatin barang dipasar buat cari tambahan. Nih kakak pulang bawa belanjaan, siapa yang mau bantu kak Ara masak di dapur?." ucapnya dengan gembira. "Aku, aku.." semua anak nampak antusias dan bersemangat untuk membantu memasak, mengingat waktu makan siang sudah berlalu. "Yaudah, nih bantuin kakak bawa belanjaan nya ya ke dapur, kakak mau narok barang asongan dulu dikamar." Semuanya ikut membantu membawa belanjaan itu dan pergi ke dapur, sedangkan Ara bergegas ke kamarnya untuk menaruh barang-barang nya untuk dijual besok. Tiba-tiba ia dikagetkan dengan suara pintu yang di kunci dari dalam. Ia segera menoleh dan mendapati paman pemilik panti itu berjalan mendekatinya. Ia berangsur mundur karena merasa takut dan was-was. "Paman mau apa kesini?." Ia terus mundur hingga punggung nya membentur tembok. "Kamu jangan pura-pura tanya begitu, kamu jelas sudah sangat tahu kenapa paman di sini bukan?." Ia terus memojokkan Ara yang sangat ketakutan. "Bagaimana tawaran paman tempo hari? kamu harus setuju, karena bayarannya sangat menguntungkan untuk kita Ara." "Aku tetap tidak mau paman, aku takut. Aku lebih suka mendapatkan upah sedikit tapi halal, dari pada harus menjadi wanita seperti itu." Ia merunduk karena tak mau menatap mata pamannya yang menyeramkan baginya. "Halah! kamu nggak usah munafik Ara, kamu ini yatim piatu dan sangat miskin. Paman tau bagaimana kamu banting tulang setiap hari jual asongan dan jadi kuli pasar hanya untuk uang yang tidak lebih dari 50 ribu itu. Kamu pikir uang segitu cukup untuk memberi makan adik-adik pantimu yang banyak itu tiga kali sehari? kamu tidak lelah makan mie instan setiap hari hah? Coba berpikir logis dan gunakan otakmu. Hari gini sudah tidak ada yang namanya harga diri, yang ada hanyalah diri yang di 'hargai'." "Tapi paman juga tahu kalau aku masih dibawah umur, mana mungkin aku melakukan hal semacam itu?." "Kalau kau takut melakukannya karena ini pertama kalinya untukmu, paman bisa membantumu. Kau bisa belajar dengan paman dulu mengenai ini." Ia menyeringai dan membanting Ara ketempat tidur. "Kalau kau tidak mau melakukannya, paman akan buang semua adikmu ke hutan, agar mereka dimakan harimau liar disana. Kau tahu kan kalau kemarin baru saja ada warga yang tewas akibat di mangsa harimau?." "Tidak paman, jangan. Aku mohon jangan paman. Mereka anak baik yang tidak bersalah, jangan ganggu mereka." Ia memohon dengan berurai airmata. "Bagus, anak pintar. Kalau begitu besok kau akan paman antar ke rumah bos paman dan kau hanya punya waktu hari ini untuk berpamitan dengan adik-adikmu. Tapi sebelum itu, akan sangat disayangkan kalau kau kesana dengan tubuh yang masih tersegel." Ia mendekati Ara yang mulai panik. "Apa maksut paman? jangan paman." Ia dibekap dan tak mampu melakukan perlawanan apapun. "Kok kak Ara lama banget narok barang asongan nya ya?." ujap salah satu gadis kecil yang sudah berkumpul di dapur. "Coba dipanggil, siapa tahu kak Ara ketiduran." ucap gadis kecil yang lain. Ketika mereka hendak memanggil Ara, dari arah kamar mereka melihat paman Jo yang baru keluar dari sana. Ia terlihat seperti membenarkan ikat pinggang nya dan berlalu pergi. Merekapun penasaran dan langsung masuk ke kamar Ara. Ketika mereka masuk mereka dikejutkan dengan Ara yang tengah menangis dan meringkuk kesakitan. Merekapun menghampiri nya segera. "Kak Ara kenapa? kok nangis? kak Ara dipukul paman lagi ya?." Sedangkan Ara hanya menggeleng lemah. Ia sangat takut membayangkan apa yang baru saja terjadi padanya. Ia kesakitan dan ia merasa kotor. Paman Jo benar-benar biadap, ia tega memangsa anak dibawah umur dan berniat menjualnya kepada mucikari. Ara segera menghapus airmata nya dan berjalan tertatih-tatih keluar kamar. "Ayo kita masak ke dapur, sudah sore, nanti kalian tambah lapar." "Tapi kakak harus diobatin dulu lukanya kalau sakit." ujar gadis kecil itu. "Enggak kakak nggak apa-apa, kita langsung masak aja ya." Dengan sisa tenaganya ia menuju dapur walaupun untuk berjalan saja rasanya sulit. Malamnya ia segera mengemasi barangnya yang perlu ia bawa untuk besok. Ia harus cepat, karena kalau tidak paman pasti akan menghukumnya lagi, bahkan bisa lebih berat dari biasanya. Paman Jo mengancam akan berbuat seperti itu lagi bila ia tidak menurut. Akhirnya demi adik-adiknya ia harus rela pergi dan 'bekerja' ditempat barunya nanti. Keesokan harinya pagi-pagi buta sebuah mobil sedan hitam sudah terparkir didepan panti. Paman Jo segera memberitahu Ara jika jemputan nya sudah datang dan ia harus bergegas pergi. Ia dan paman Jo segera menaiki mobil itu dengan membawa ransel besar milik Ara yang berisi baju ganti dan keperluan lainnya. "Aku bahkan belum mengatakan apapun pada anak-anak Paman." Ia membuka pembicaraan didalam mobil itu. "Sudahlah, nanti paman yang akan memberitahu mereka tentang kepergian kamu yang mendadak ini. Mereka pasti mengerti kamu pergi bekerja jauh juga demi mereka." Sepanjang perjalanan Ara hanya bisa diam-diam menangis dan terus menatap keluar jendela. Ia sama sekali tak tahu apa yang akan terjadi padanya setelah ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN