Franda Tamara

1286 Kata
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah hari akhirnya mereka sampai disebuah rumah mewah dua tingkat yang sangat besar. Paman Jo dan Ara segera turun dari mobil dan dipandu para pria berbaju hitam seperti pengawal kedalam rumah tersebut. Mereka dibawa ke sebuah ruangan yang hampir seluruh bagiannya dilapisi dengan emas. "Halo bos, saya datang sesuai janji tempo hari dengan membawa anak yang masih fresh." Kebul asap rokok terhembus dari seorang wanita dewasa yang belum terlalu berumur. Ia nampak nyentrik dengan pakaian yang tabrak warna namun terkesan modis. Perlahan ia berjalan mengitari Ara untuk melihat penampilannya. "Yakin masih fresh? kenapa jalannya agak pincang kalau fresh?." Ia kembali menghembuskan asap rokok dan kali ini kewajah paman Jo yang tak berani berkutik. "Saya udah DP kamu mahal loh untuk barang baru? kenapa dibuka segelnya?." tambahnya lagi. Paman Jo tak bisa menjawab sepatah katapun karena ini memang kesalahannya yang lebih dulu meniduri Ara. "Kalau gitu kembalikan separuh uang saya. Kalau nggak kaki kamu taruhannya. Saya masih baik ngasih kamu setengahnya karena dia cantik." Paman Jo hanya mengangguk patuh tanpa melawan. Ia takut pulang sudah tak memiliki kedua kakinya lagi. Kemudian ia diusir pergi hanya dengan jentikkan jari. "Halo cantik, siapa nama kamu?." Ia membuang rokoknya karena tahu Ara terganggu dengan kebulan asapnya. "Saya Ara buk." jawabnya dengan tertunduk. "Jangan takut sayang, dan jangan panggil buk dong, panggil aja mami, mami Rose. Nama lengkap kamu siapa? biar mami bisa buat nama baru buat kamu nanti." Ia mengelus pipi Ara yang tak memakai riasan apapun. "Saya Franda, Franda Tamara. Dari kecil orang-orang memanggil saya Ara buk, eh mami." "Oke nice, nama yang bagus. Mulai sekarang nama kamu adalah.. Franda." Ia tersenyum kepada Ara agar tak takut lagi padanya. "Jadi nanti ketika kamu bekerja, klien kamu akan memanggil kamu Franda, oke?." Ara hanya mengangguk menyetujui tanpa penolakan sedikitpun. Karena bisa dilihat disekeliling ruangan itu setiap sudutnya terdapat bodyguard berbadan besar yang siap kapan saja mematahkan tulangnya. Ara dibawa ke sebuah ruangan khusus untuk perawatan para wanita panggilan disana. Meskipun mereka adalah wanita panggilan, namun mereka juga harus benar-benar menjaga penampilannya sebaik mungkin. Karena semakin cantik mereka, akan semakin mahal bayaran yang diterimanya. Seharian penuh Ara melakukan treatment ke seluruh tubuhnya hingga ke area yang terdalam. Ia harus benar-benar bersih dan wangi tanpa ada cacat sedikitpun. Kini ia sudah berdandan dan berganti pakaian. Ia melakukan pemotretan untuk mengambil foto profil yang akan dipakai di situs yang biasa digunakan untuk pemesanan wanita panggilan. Situs yang hanya bisa diakses oleh orang-orang penting dan terpandang yang mampu membayar sesuai standar pemesanan. Walaupun dapat dibilang anak baru, ternyata banyak yang tertarik dengan kecantikan Ara yang masih garis keturunan Tionghoa. Matanya sipit kulitnya putih bersih dan terlihat menarik apalagi setelah berubah penampilan. "Franda, hari ini kamu harus ketemu dua orang klien penting mami, mami udah jadwalin pertemuan kalian biar kamu nggak bingung. Yang pertama kamu harus ketemu sama bos batu bara, dia orang nya sangat royal dan gampang sekali kasih tip. Kalau kamu bisa membuat dia terkesan, tip yang akan kamu dapatkan bahkan bisa jauh lebih besar dari standar pemesanan kita. Lalu yang kedua.." "Mi apa hari ini Franda nggak bisa libur dulu? Franda capek mi. Kata mami dalam seminggu Franda hanya cukup melayani beberapa orang, tapi nyatanya setiap hari Franda harus kerja full time dan nggak ada waktu istirahat sama sekali." ucapnya memotong pembicaraan mami Rose. "Ya kamu benar, tapi justru ini adalah kesempatan kamu untuk lebih cepat menghasilkan lebih banyak uang Franda. Kamu harus memikirkan adik-adik kamu di panti asuhan itu. Belum lagi kamu bilang mau mengejar paket untuk bisa lulus SMP kan? kamu ingin melanjutkan sekolah juga kan? darimana uangnya kalau kamu malas-malasan?." "Tapi Franda juga bisa mati kalau terus-terusan begini mi, Franda bisa kena penyakit kalau selalu berganti-ganti klien setiap harinya." Ia benar-benar lelah, ingin sekali rasanya ia lari sejauh mungkin dari tempat itu namun tak bisa. "Tapi mami sudah lebih dulu memastikan kalau para klien mami itu bersih sayang, jadi kamu.." "Tetep aja mi, Franda itu capek.." Melihat Franda yang sedikit pucat mami Rose jadi iba. Ia harus memikirkan cara lain agar Franda bisa nyaman bekerja dan tidak mengeluh lagi. "Oke kalau gitu. Kali ini mami janji sama kamu, kamu hanya akan kerja seminggu tiga kali, mami janji. Mami akan saring klien terbaik buat kamu dengan pembayaran paling oke. Biar kamu juga bisa istirahat ya sayang." Ia mengelus kedua pipi Ara dengan lembut untuk meyakinkan nya. "Tapi untuk hari ini mami mohon, kamu bersedia ya kerja dua kali. Karena mami udah terlanjur menerima pembayaran nya. Dan perjanjian di bisnis mami, kalau uang sudah masuk, barang harus ada. Jadi untuk kali ini mami mohon ke kamu, kamu bisa ya?." tambahnya lagi. Ara berpikir cukup lama sebelum akhirnya ia terpaksa setuju dengan permintaan mami Rose. Ia harus mandi dan segera berangkat ketempat yang sudah ditentukan oleh klien pertama, disebuah hotel bintang lima yang berjarak tak jauh dari tempat tinggal mereka. Ia tak bisa melakukan apa-apa selain bekerja dan bekerja. Ia harus menurut jika ingin hidup lebih lama. Karena walaupun terkesan baik, mami Rose juga bisa membunuh nya kapan saja. Ia dimanja dan disayang bukan karena ketulusan, namun karena saat ini ia merupakan gadis yang paling banyak menghasilkan uang, dan paling sering dipesan oleh klien dari dalam maupun manca negara. Masa depannya benar-benar sudah hancur, tak bisa ia kembali ke masa dimana ia bisa bebas kemana saja. Setelah selesai pada klien pertama ia harus bergegas pulang, mandi dan bersiap-siap kembali. Masih ada satu tanggungan lagi untuk nya hari ini. Tepat jam tujuh malam ia sampai di sebuah villa tempatnya akan bekerja untuk klien kedua. Ia disambut oleh seorang pria bertato harimau dipunggung nya yang hanya berbalut handuk yang melilit sebatas pinggang. Namun aneh nya banyak barang-barang yang menurutnya tidak seharusnya ada di kamar ini. Cambuk, borgol, dan juga pistol. Ia merinding dan sedikit takut membayangkan apa yang akan kliennya lakukan dengan barang-barang itu. "Kenapa hanya berdiri disana? cepat kemari." ujar pria itu kepada Ara. Ara mendekat perlahan dan berdiri dihadapan pria tinggi besar yang saat ini mulai melucuti pakaiannya. "Kita nggak mau ngobrol dulu sebentar untuk saling mengenal?." tanya Ara kepada pria itu yang terlihat sudah tidak sabar. "Tidak perlu, aku tidak berbicara dengan anak kecil sepertimu." Setelah berhasil melucuti pakaian Ara pria itu segera mengambil borgol dan mengunci kedua tangan Ara yang masih kebingungan. Diseretnya gadis itu ketengah ruangan dan mengaitkan sebuah rantai besi yang terulur dari atas itu ke borgol yang mengunci tangan Ara. Tubuhnya yang polos dan tangan yang terangkat keatas membuatnya sulit bergerak. Pria itu segera mengambil cambuk dan mencambuk tubuh Ara dengan tiba-tiba. Ara terkejut sekaligus kesakitan. Ia kembali berteriak ketika beberapa cambukan berhasil mendarat di beberapa bagian tubuhnya yang cukup sensitif. Ia menangis tertahan dan merintih kesakitan. Ia memohon untuk di lepaskan namun lagi-lagi ia malah mendapat tamparan diwajahnya dengan keras. Seketika pipinya memerah, dan terlihat bekas tamparan itu yang sangat menyakitkan. Setelah ia tak berdaya baru ia dilepaskan dan dilepar keranjang. Banyak luka menganga bekas cambuk disekujur tubuhnya yang terasa sangat perih dan berdenyut nyeri. Ia terlihat sangat tak berdaya dan bergerak dengan gelisah ketika pria itu mendekatinya. Pria itu menyeringai melihat Ara yang beringsut mundur ketakutan sambil menangis merintih kesakitan. Ia melihat sebuah pistol yang terletak tak jauh darinya. Di atas meja dekat ranjang tempatnya berada ia diam-diam terus memperhatikan pistol itu dan pria itu secara bergantian. Ketika pria itu semakin mendekat sambil membawa cambuknya ia segera mengambil pistol itu dan tanpa pikir panjang ia tembakkan ke arah pria itu beberapa kali. Ia membuka matanya dan mendapati pria itu sudah tergeletak tak berdaya dengan tubuh yang bersimbah darah. Segera ia jatuhkan pistol nya dan gemetar ketakutan. Ia turun dari ranjang dan mengecek keadaannya. Benar, pria itu sudah tidak bernyawa. Ia telah membunuh seseorang untuk pertama kalinya dengan kedua tangan nya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN