BAB 3

1010 Kata
Di hari yang terik, saat matahari menyinari atap kaca gedung-gedung tinggi di Korea Selatan, mereka bisa menjadi salah satu gedung dengan solusi arsitektur terbaik. Bangunan itu bernama J Corp, sebuah perusahaan milik keluarga Jung, yang juga mendirikan perusahaan makanan cepat saji, pakaian bahkan air minum. Gedung J Corp dapat dianggap sebagai salah satu ikon paling unik. J besar di bagian depan gedung dan kaca gelap di bagian luar memberi kesan Mahesh pada bangunan di tengah kota Seoul. Kemeja putih, jas hitam, merah tua dengan dasi garis-garis biru tua, terlihat bagus dan terlihat seperti pria bernama lengkap Jung Jaehyun, kini mengarahkan kakinya ke sebuah mobil Ferrari berwarna merah, yang tersimpan rapi di ruang bawah tanah sebuah perusahaan Pakistan di selatan diparkir. Korea. Garis dagu tegas, kulit putih dan rambut coklat adalah dambaan setiap wanita. Bahkan di lantai bawah, Jaehyun masih bertemu dengan pekerja kantoran. "Selamat siang, Tuan Jaehyun," para wanita itu menyapa dengan anggun sambil menundukkan kepala sambil menyiramkan air Sikman. Jaehyun menoleh ke 3 wanita yang berlarian setengah-setengah tanpa melakukan satu kesalahan pun. Tiba-tiba salah satu dari tiga wanita itu histeris ke dua teman lainnya, dan saya membandingkan wanita yang menulis tadi. "Dia sangat tampan," kata wanita yang pernah di Srijet itu. Jaehyun hanya melilitkannya di lehernya sementara dasinya melingkar di lehernya. Kakinya kembali ke camp dan ngwa ke mobil dengan warna merah kedip, lalu duduk di dalam mobil yang diingatnya. Mobil Ferrari berwarna merah, akhirnya terbakar dan berlari keluar dari tempat parkir dan langsung jatuh ke tanah. Sore ini, Jaehyun akan pergi ke pesta keluarga yang direncanakan 1 bulan lalu. Jadwal rapat Jaehyun yang padat membuat keluarganya berulang kali mengkhawatirkan jadwal Jaehyun. Hingga akhirnya, keluarganya mendapat jadwal kosong Jaehyun, yang jatuh antara pukul 11:00 hingga 02:00 pada hari Selasa. Jaehyun pergi sendiri tanpa ditemani oleh sekretaris ibunya. drrrr! s**l! s**l! Suara buku telepon membuat Jaehyun, yang sedang berkonsentrasi pada navigasi, menoleh setiap saat lalu menekan tombol layar di mobilnya untuk mendapatkan nama kontak yang baru saja dia masukkan ke teleponnya. "Halo," sapa Jaehyun dengan suara berat. Jaehyun melihat dan melihat nama Kim Doyoung di layar mobilnya. "Tuan, apakah Anda pernah ke restoran yang saya berikan alamatnya pagi ini?" tanya Doyoung. "Cukup. Ini aku di perapian. Ada apa?" Jaehyun, menatap ke jalan, mempertanyakan kota Seoul yang ramai di siang hari. "Ah, syukurlah. Sebelumnya, ibumu meneleponku dan memintaku untuk tidak selingkuh dari Tuan Jaehyun. Sepertinya ada yang ingin membela diri dan itu sangat sulit," kata Doyoung di ujung telepon dari jawaban Consana. Jaehyun tersenyum pada samime-nya, "Tenang saja. Mungkin itu hanya makanan biasa. Wajar saja, aku anak tunggal. Ayah dan ibu sering meminta Melbara dan Melur saat bahalanku sedang sibuk," kata Jaehyun menjawab. Doyoung terdiam lalu menghela napas, "Kalika kalau begitu, Pak. Aku akan kembali ke kekuatanku." "Kau tidak makan? Aku tidak mau sakit gajian seperti bulan lalu," jawab Jaehyun saat merasa sakit dan selama liburan Doyoung tidak bekerja hampir sebulan. Selama cuti sakit Doyoung, Jaehyun kewalahan. Jadwal pertemuan berantakan, banyak email yang masuk diabaikan, dan Doyoung sebenarnya berusaha untuk tidak menyerang Jaehyun. Jika Jaehyun tanpa Doyoung keita seperti korek api tanpa api. Sama halnya dengan Doyoung tanpa Jaehyun, seperti coklat tanpa gula alias pahit. "Jangan khawatir pak. Saya baru saja makan siang," jawab Doyoung. "Oke, kalau begitu." Tut. Sambungan telepon juga yang terakhir. Jaehyun kembali ke Navidar tempat dia pergi. Pria tampan itu membawa kacamata hitam dari dasbornya dan mengenakannya karena merasa silau oleh sinar matahari di hari yang panas. Jung Jaehyun adalah pria lajang kaya yang lahir di keluarga Jung. Keluarganya adalah keluarga terhormat yang telah diwarisi dari kota Seoul selama 20 tahun terakhir dan begitu alami. Nama orang tua Jaehyun adalah Jung Kibum dan Cho Hyuna. Pernikahan orang tuanya juga merupakan pernikahan bisnis yang paling sukses. Kibum memiliki wajah yang cantik, sama seperti Hyuna yang sudah cantik sejak lahir. Bisnisnya juga berkembang dari tahun ke tahun dan akhirnya menikmati pasar bisnis kota Seoul. Tanggul Merah Ferrari mudikan oleh Jaehyun akhirnya sampai juga di salah satu restoran Jepang di pusat kota Seoul. Tanpa ragu, Jaehyun langsung menuju tempat parkir VIP dan mengeluarkan ponselnya. "Tolong parkirkan mobil saya," kata Jaehyun kepada salah satu pria yang bertugas di parkiran mobil khusus dengan fasilitas VIP. Gadis itu hanya mengangguk setelah melihat Jaehyun. Dari penampilan dan wajahnya saja, pria itu mungkin bisa menilai seberapa tebal dompet Jaehyun. Apalagi dengan ponsel yang merupakan salah satu ponsel sport terpopuler di Korea Selatan. "Terima kasih," jawab Jaehyun, lalu dia masuk ke ruang makan, tapi dia tidak melihat matanya. Jaehyun menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan orang-orang disekitarnya. Kemudian seorang pramusaji wanita menghampiri Jaehyun dan mengenali sosok Jaehyun yang saat ini menjabat sebagai CEO. "Tuan Jaehyun?" memanggil pelayan. saat melihat Jaehyun yang baru saja masuk ke dalam area restaurant. "Ya, saya Jaehyun," jawab Jaehyun. "Silakan lewat sini, Pak. Orang tua anda sudah mengungar," kata pramusaji wanita, lalu mengarahkan Jaehyun ke salah satu VIP di restoran ala Jepang itu. Sreekkk! Pintu yang menutupi ruangan dibuka oleh pelayan, lalu Jaehyun masuk. Tanpa menunggu lama, Jaehyun melepas jaketnya dan memasuki area VIP yang disediakan oleh orang-orang di sekitarnya. Orang di ruangan itu segera berhenti berbicara ketika mereka merasakan pintu kamar mereka terbuka. "Anakku akhirnya sudah datang," kata Hyu na. "Jaehyun, kemarilah," panggil Ki bum. Jaehyun melihat sekeliling, tetapi menyadari bahwa hanya ada tiga orang di ruangan itu. Selain itu, ada 2 orang lain yang Jaehyun kenal sebagai salah satu pegawai kepercayaan Ayah. Enggan berkomentar lebih dulu, Jaehyun duduk di sebelah Kibum setelah menyapa tamu yang ikut makan siang bersama merak. “Jaehyun, kami punya permintaan untukmu,” kata Kibum dan menatap Jaehyun yang baru saja duduk dengan wajah serius. Jaehyun melonggarkan dasinya dan memperbaiki posisi rambutnya "Ada apa? Kenapa pembicaraan kalian sangat kaku sekali?" Hyu na menghela napas, “Perkenalkan ini Pak Na Youngmin dan istrinya Bu Ra mi,” kata Hyu na memperkenalkan 2 orang tersebut di depan Jaehyun. Jaehyun menundukkan kepalanya dan menyapanya dengan senyum manis. "Kami akan menjodohkan kamu," kata Pak Ki bum. Jaehyun tiba-tiba menoleh dan maitana mabulat, "Apa?!" pekik Jaehyun dan berusaha mengulang kembali ucapan ayahnya dan berharap ia hanya salah dengar barusan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN