bab 5

1014 Kata
Selamat membaca. Akhirnya Pak Zainal datang, beliau adalah tangan kanan Abi. Kata Abi, berkat tangan terampil beliau, cabang pabrik teh milik Abi di Jepang ini berkembang pesat. Itulah sebabnya mengapa tidak Abi percayakan usaha nya pada orang lain "Assalamualaikum, mas Zacky. Selamat datang di Shizuoka, maaf saya sudah membuat mas Zacky menunggu lama." Ucap nya merendah, mungkin merasa tidak enak karena beliau baru sampai. "Waalaikumussalam, Pak Zainal. Terimakasih banyak ya, pak. Gak apa kok, saya juga baru sampai. Tapi bukan nya tadi bapak sudah datang?" Tanya ku "Ah iya tadi ada sesuatu yang tertinggal, jadi saya pulang dulu untuk mengambil nya. Rumah saya sekitar dua ratus meter dari sini." Jelas nya sambil menunjuk ke arah selatan musholla. "Yasudah gak apa apa, Pak. Oya langsung saja ya, Pak. Saya di kirim oleh Abi untuk ikut belajar mengelola pabrik teh yang sudah sangat terkenal itu, agar saya bisa membuka cabang baru di Indonesia." Ucap ku menjelaskan maksud dan tujuan ku ke negeri ini. "Na'am, dengan senang hati, Mas. Nanti saya ajak Mas Zacky ke pabrik untuk melihat bahan apa saja yang di butuhkan dan bagaimana cara pembuatan teh hijau secara alami." Ujar nya sambil tersenyum ramah. Betul yang di katakan Abi, pak Zainal sangat baik dan ramah. Beliau juga bersikap santai dan tidak terlihat menjaga jarak. Baik sekali. "Tapi sebelum itu, saya sudah memesan satu mobil teh hijau dari perkebunan Imamiya sebagai bahan utama nya. Karena kualitas teh yang ada di kebun itu bukan kualitas biasa, harga nya yang relatif lebih miring dari perkebunan lain juga membuat Imamiya plantations menjadi perkebunan teh yang terkenal dan paling di buru. Bisakah mas Zacky membantu saya?"Tanya nya sedikit tidak enak. "Wah, tentu saja, pak. Apa yang bisa saya lakukan?" Tanya ku bersemangat. Ini untuk pertama kalinya dalam hidup ku, mencampuri urusan bisnis Abi, karena sedari dulu Abi menginginkan aku mengganti kan tugas nya, tapi selalu aku tolak. Belum siap. Sampai akhirnya keadaan yang memaksa, demi kesembuhan Abi. "Pergi dan cari Imamiya plantations berada, ini ada uang untuk pembayaran teh, tanya kan juga apakah teh nya sudah di antar atau belum." Ucap nya sambil memberikan amplop cokelat yang isi nya uang pembayaran teh. "Baik, Pak. Mungkin saya berangkat sekarang saja, takut keburu sore." Ucap ku meyakinkan pak Zainal bahwa aku bisa di percaya. "Iya, Mas. Hati hati di jalan nya ya. Barang mas Zacky biar saya bawa ke rumah saya dulu, nanti setelah selesai mas Zacky datang saja kemari lagi, nanti saya jemput ke rumah saya." Kata Pak Zainal sambil membungkukkan badan. Ah aku merasa risih di perlakukan seperti ini. Aku langsung membantu nya berdiri tegak lagi. "Tidak usah seperti itu, Pak Zainal. Anggap saya sebagai anak sendiri aja. Saya berangkat ya, Pak. Assalamualaikum." Pamit ku. Aku pun keluar dari musholla hendak mencari alamat perkebunan, namun tak sengaja aku melihat sebuah tas pink bersandar di pilar utama depan musholla. Bukan kah itu tas wanita tadi?. Aku harus mencari nya, kasian sekali kalau di dalam tas itu ada barang penting dan hilang di ambil orang. Aku segera berjalan menyusuri gang untuk mencari wanita itu. Satu gang, dua gang. Ah itu dia wanita polos tadi. "Permisi, maaf ini tas mu tertinggal di teras musholla" kata ku sambil memberikan tas tersebut pada pemlik nya. "Iya, terimakasih" jawab nya ketus, mungkin dia masih kesal karena kejadian tadi. Ah menggemaskan sekali wanita kalau lagi marah. "Terimakasih juga sudah mengantarkan saya ke musholla, tapi saya ingin bertanya lagi, apa kamu tahu perkebunan teh hijau Imamiya?" Tanya ku, entah kenapa dia malah membulatkan mata nya. "Tentu aku tahu, itu tempat aku bekerja" jawabnya sedikit menyombongkan diri, aku mengerti, karena tidak sembarang orang bisa menjadi pekerja di perkebunan dengan kualitas teh terbaik itu. Kalau tidak ada -orang dalam mungkin akan di tolak saat pendaftaran pegawai. "Antar saya ke sana!" Ucap ku, sengaja ingin mengetahui apa reaksi nya "Kalau aku gak mau gimana? Laki-laki sombong kaya kamu, mending cari orang lain aja" jawab nya kesal, sudah ku duga dia masih marah. "Maksud kamu saya sombong, gimana?" Tanya ku pura-pura lupa bagaimana aku padanya tadi. Ah rupanya dia menganggap ku sombong hanya karena aku tidak membalas uluran tangan nya tadi. Apa dia tidak tahu bagaimana batasan antara pria dan wanita yang bukan mahram? "Dalam agama kami, laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tidak boleh bersentuhan, bukan karena saya sombong, tapi itu cara kami menghormati perempuan" jawabku mencoba menerangkan dengan bahasa yang sopan agar dia tidak tersinggung. Dia masih tidak bisa menerima penjelasan ku tadi, bahkan dia merasa tersinggung saat aku menjelaskan tentang ratu Elizabeth yang mulia dan tidak sembarang orang bisa menyentuh tangan nya. Wajah nya seketika memerah, entah apa yang ada di dalam pikiran nya. Marah kah? Atau malu? Bisa saja dua dua nya. Aku menyunggingkan senyum tipis. Bukan niat ingin menyakiti hati nya, tapi ini salah satu cara agar dia dapat memahami apa yang aku ucapkan. "Allah memaklumi empat hal yaitu sakit, lupa, terpaksa, dan tidak tahu" ucap ku sambil tersenyum. Walaupun dia terlihat terpaksa, tapi dia mengantarkan ku juga ke tempat nya bekerja. Sebelumnya kami naik kereta dari stasiun Shizuoka dan berhenti di stasiun Shin Fuji setelah 15 menit perjalanan dan akan melanjutkan dengan taxi sampai ke gerbang perkebunan kurang lebih dua puluh menit, begitu penjelasan Asma tadi. "Silakan kamu duduk di belakang, kalau di depan supir bukan mahram mu, kalau aku duduk di belakang pun sama." Jelas ku pada nya, biar lah dia berfikir bahwa aku ribet dan banyak mengatur, toh itu demi kebaikan bersama. Akhirnya dia menuruti apa yang aku katakan, meski pun dengan bibir yang maju lima sentimeter dari tempat nya. Aku yakin ada yang salah dalam hidup nya, seorang wanita yang kodrat nya sebagai manusia yang lembut dan ber Tata Krama, dia malah sombong, jutek, dan keras. Entah angin apa yang membuat ku semakin yakin ingin mengetahui lebih dalam tentang kehidupan ny, aku harus terus mendekati nya, agar nanti nya dia bisa bersikap terbuka dan menceritakan masalah nya, semoga aku bisa membantu nya mengurangi beban yang di rasakan nya. 'Ya Allah, bantu hamba menunjukkan jalan untuk wanita itu menjemput Hidayah mu, Aamiin yaa robbalaalamiin" ucap ku sambil mengusap kedua tangan pada wajah Bersambung..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN