bab 4

996 Kata
Selamat membaca. Praaang.. Aku langsung pulang ke rumah dan memanggil tetangga untuk membantu ku memindahkan Mama ke kamar. ada perasaan takut tapi aku merasa sedikit puas. **** Pagi ini masih seperti kemarin, mamah masih enggan membuka mulutnya. "Mah, ayo dong di makan bubur nya." Bujuk ku, sudah dua hari setelah kejadian menyakitkan itu, Mama belum makan. Ini semua gara-gara lelaki si*l*n itu. "Aaaaaaagggghhh." Aku menjerit mencoba mengeluarkan rasa sesak di d**a. "Jangan teriak-teriak, neng, nanti Mama mu kaget, kasihan." Ucap Bu Minah, tetangga sebelah rumah yang hanya tinggal sendiri, suami nya meninggalkan dua tahun lalu, anak nya sudah berumah tangga semua. Ah lebih baik Papa mati saja, daripada membuat Mama sakit seperti ini, batin ku jahat. Sebagai anak perempuan, aku bisa merasakan bagaimana rasa hati Mama sekarang. Anak mana yang tidak sedih jika kedua orang tua nya berpisah, apalagi ini Papa yang menikah lagi tanpa mengakhiri hubungan nya dengan Mama, ingin rasanya aku membac*k lelaki gil* itu. Ah, Tak terasa sudah lewat tengah malam. Aku masuk kedalam kamar dan tidur telentang menghadap ke atas, menatap langit-langit kamar yang aku hiasi lampu bintang yang kelap kelip. Setelah merasa ngantuk aku pun tidur dalam bayangan kelam yang selalu menghantuiku itu lagi. **** "Morning, Alinda Asmarani. Sudah sarapan?" Sapa Shuji, aku hanya menggeleng lemas, gara gara memikirkan itu lagi aku jadi tidur kemalaman, pagi ini aku bangun kesiangan dan tidak sempat sarapan. "Why? Nanti kalau kamu sakit siapa yang bakal ngurus kamu? Kamu gak kasian sama aku yang selalu jagain kamu kalau kamu sakit?" Gerutu nya sambil pura-pura merajuk. Shuji memang beda, selain tampan, dia juga lelaki yang baik dan perhatian. Karena bantuan dia juga lah aku dapat kerja di sini dan mempunyai apartemen pribadi, meskipun sederhana. Dulu pernah aku sakit gara-gara kehujanan, aku demam selama tiga hari dan dia lah yang merawat ku, memenuhi segala kebutuhan ku selama sakit, dan menghandle semua pekerjaan ku. "Makasih ya, Shuji, kamu orang yang paling baik sama aku." Kata ku lalu memeluk nya. "Karena aku sayang padamu." Ucap nya lirih namun masih jelas terdengar di telingaku. "Ayo kita masuk, nanti aku bisa di marahin tuan kepala kalau telat" kata ku mengalihkan perhatian, dia pun tersenyum tipis, aku bisa merasakan betapa menyedihkannya bila cinta tak terbalas, tapi aku juga tak bisa memaksakan diri untuk menerima nya menjadi kekasih kalau hati tidak nyaman. Dia pun kembali ke kebun untuk memeriksa para butuh tani yang sedang memanen teh. 'astaga, ternyata dompet ini masih ada' aku kaget saat melihat benda itu masih ada di atas meja costumer servis. "Permisi, saya ingin mengambil barang yang tertinggal." Ucap seseorang membuat ku terperanjat. Ternyata lelaki itu yang datang ingin mengambil barang nya. "Nih," ucapku memberikan dompet kulit itu lalu memalingkan wajah ke sembarang arah. "Kenapa kamu tidak mencari ku seperti aku yang mencari mu saat tas mu tertinggal di musholla?" Tanya nya membuat ku semakin kesal. Ku pilih untuk tetap diam dan menulis beberapa hal penting untuk di setor kan ke Tuan Kepala. "Lain kali, bersikap lah layak nya seorang wanita yang baik" katanya sambil berlalu begitu saja. Amarah ku sudah di ujung kepala, saat aku hendak mengejar nya dia malah berbalik badan dan tersenyum kepadaku, hal itu membuat amarah ku sedikit mereda. Entah kenapa setiap melihat wajah nya, jiwa yang tadi nya marah besar bisa langsung tenang begitu saja. Tanpa sadar aku sudah sendirian, dimana pria aneh itu? Kenapa aku jadi bengong sendiri? Ah sungguh menyebalkan lelaki itu. Saat hendak duduk di kursi pegawai, ada sepucuk surat yang entah punya siapa. Ingin ku buka dan baca, tapi takut punya orang lain yang penting. Tapi kalau tidak di buka aku tidak tau itu punya siapa, Perlahan aku buka amplop surat berwarna biru langit itu.. Isinya adalah... *Pria mengimpikan wanita sempurna. Wanita menginginkan pria sempurna. Mereka tidak tahu bahwa Allah menciptakan mereka untuk menyempurnakan satu sama lain.* Ahmad Al Shugairi 'Zacky Rachman' Glekk... Aku menelan ludah dengan susah payah, surat ini ia kirimkan untuk siapa? Kalau untuk ku apa maksudnya? Kalau bukan untuk ku kenapa ada di kursi tempat duduk ku? Ah, laki-laki itu sungguh aneh. "Surat dari siapa, Asma?" Shuji yang datang secara tiba-tiba mengagetkan ku, langsung ku tutup surat itu lalu menyimpan nya dalam saku celana. Bukan maksud ingin menyembunyikan sesuatu dari nya, tapi aku takut di merasa tidak enak dan, Cemburu. "Oh ini hanya kertas catatan yang salah tulis, nanti aku buang di luar." Jawab ku setenang mungkin, tak ingin Shuji curiga dan menanyakan lebih lanjut tentang surat itu. "Oke lanjutkan perkejaan mu, kalau butuh sesuatu telepon saja." Ucap nya mengelus punggung tangan ku lembut. Aku jadi ingat lagi pada pria aneh itu, dia tak ingin aku menyentuhnya atau dia yang tak boleh menyentuhku karena aku adalah wanita, dan wanita di hormati dalam Islam. Ah membuat pusing saja. **** POV Zacky Akhirnya aku sampai di negeri Matahari Terbit ini, negeri yang terkenal dengan dengan keindahan bunga sakura nya ini ternyata memang indah, apalagi saat musim gugur seperti saat ini, banyak bunga warna warni berguguran bersama dengan daun nya yang sudah kuning kecoklatan. Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan Tokyo-shizouka, aku akhirnya sampai di depan cafe Jepang, aku singgah sebentar untuk melepas lelah. Lalu aku lanjutkan mencari musholla tempat pertemuan dengan asisten Abi, sampai akhir nya aku bertemu dengan seorang wanita yang sedang menikmati pemandangan musim gugur. "Excuse me, Is there a place of worship for Muslims around here?" (Permisi, apa di sekitar sini ada tempat ibadah umat muslim?) Tanya ku pada wanita itu, dari penampilan dan bentuk wajahnya, aku perkirakan dia keturunan orang Melayu sama seperti ku, hanya warna kulit nya saja yang sudah menyesuaikan dengan iklim negara ini. Putih bersih dengan lesung pipit di kedua pipi nya, cantik sekali. "around here there is only one small prayer room" (di sekitar sini hanya ada satu musholla kecil) jawab nya sedikit ketus, ah dasar wanita. "no problem, the important thing is to be able to pray" (tidak masalah, yang penting bisa sholat) jawab ku tersenyum agar dia tak merasa canggung berada di dekat pria asing seperti ku. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN