Bab 3
Selamat membaca.
"Kamu tahu ratu Elizabeth dari Britania raya? Beliau itu perempuan terhormat. Saking di hormati nya, tidak sembarang orang bisa menyentuh tangan nya. Begitu pula Pandangan Islam terhadap kaum wanita. Terhormat." Jelas nya membuat ku malu, tapi ada perasaan ingin tahu lebih banyak tentang bagaimana cara dia beragama.
"Tapi selama ini aku terbiasa bersentuhan dengan teman laki-laki ku, tak ada juga yang melarang," jawab ku memasang wajah jutek.
"Allah memaklumi empat hal, sakit, lupa, terpaksa dan tidak tahu." ucap nya sambil tersenyum, dia sebenarnya tidak begitu tampan, tapi cukup manis saat tersenyum. Satu hal yang aku suka, wajah nya selalu teduh, siapa pun yang melihatnya secara lama akan merasa lebih tenang.
"Maksud mu apa? Aku gak ngerti." tanya ku yang hanya di balas dengan senyuman.
"Apa masih jauh?" Tanya nya mengalihkan perhatian, kita sudah sampai di stasiun Shin Fuji. Tinggal naik taxi selama dua puluh menit untuk sampai ke Imamiya.
Kami tadi hanya naik kereta dari stasiun Shizuoka selama 15 menit, kemudian turun di stasiun Shin Fuji, terus naik taxi sampai jalan perkebunan. Itu juga yang setiap hari aku lewati ketika berangkat dan pulang kerja.
"Kamu duduk di belakang, saya di depan," katanya membuka pintu mobil dan mempersilahkan aku masuk di bangku belakang. Dia bilang supir taxi nya laki-laki dan aku bukan mahram nya, begitu pula dengan dia, jadi dia yang duduk di depan.
"Halo, Imamiya plantations.Has my tea order been delivered? I'm on the way to the location." (Halo, Perkebunan Imamiya. Apakah pesanan teh saya sudah dikirim? Saya sedang dalam perjalanan ke lokasi) Ucap nya pada seseorang di sebrang telepon.
"Ok,wait for me ten more minutes." (baik, tunggu saya sepuluh menit lagi) jawab nya.
Setelah kurang lebih sepuluh menit, kami sampai di depan perkebunan teh. Aku melihat Shuji yang kaget melihat ku datang di hari raya Islam ini. Aku langsung memasang muka masam.
"Tuh, ada yang minta di antar ke sini, kayanya dia salah satu costumer kita, tadi aku mendengar nya saat menelepon dengan pihak sini, mengganggu liburan ku, saja." gerutu ku pada nya.
Seperti biasa, dia tersenyum sambil mengacak-acak rambutku dengan gemas. Jauh berbeda dengan pria itu, Shuji memiliki wajah yang tampan, kulit yang putih bersih dan mata sipit, khas orang Jepang.
Sudah sering Shuji menyatakan perasaannya padaku, aku pun sebenarnya mempunyai rasa yang sama seperti nya, tapi entah kenapa aku tidak bisa menerima dia menjadi kekasih.
Salah satu yang menjadi pertimbangan adalah keyakinan, meskipun aku bukan tipe manusia yang taat pada aturan agama, tapi mama pernah berkata tidak boleh menjalin hubungan apalagi menikah dengan pria yang berbeda agama. Mungkin itu yang membuat aku masih belum bisa menerima perasaan Shuji selama 4 tahun ini.
****
Waktu liburan ku telah berakhir, hari ini aku sudah memulai rutinitas ku setiap hari, bekerja di perkebunan teh Shizuoka.
"Selamat pagi Asma manja, apakah liburan mu menyenangkan?" Tanya nya dengan tatapan menggoda, membuat ku mengerucut bibir.
"Ah sungguh menyebalkan lelaki bernama Zacky itu, mengganggu liburan ku satu hari full." ucap ku sambil terus manyun.
"Sudah tak apa, weekend nanti aku ajak kamu jalan ya, kita ke Hamamatsu Flower Park." Mata ku langsung membulat secara otomatis, bagaimana tidak, sudah lama aku pengen main ke sana, selain gak ada yang nganter, pergi ke taman bunga sendirian rasa nya gak enak, kita hanya akan melihat pasangan yang bermesraan tapi kita gak ada pasangan.
"Mauuu." ucapku bersemangat sambil memeluk nya, seperti biasa dia akan mengusap pucuk kepala ku.
Setelah nya, aku kembali ke meja costumer servis, sedangkan Shuji kembali ke kebun untuk mengawasi para pekerja yang sedang memanen teh.
"Permisi, nona Asma. Saya menemukan ini di dekat ruang Bapak kepala cabang. Mungkin milik costumer yang terjatuh."
Ucapan seorang office boy sambil meletakkan sebuah dompet kulit berwarna cokelat.
"Baik, terimakasih. Kamu boleh kembali bekerja!" Ucap ku tersenyum sopan.
Bukan hal yang aneh bagi ku, aku pun sering menemukan barang yang tertinggal di area perkebunan ini.
Aku harus membuka nya untuk mencari tahu identitas pemilik dompet ini, namun alangkah terkejutnya aku saat yang ku lihat adalah sebuah KTP, tanda bahwa pemilik nya adalah orang Indonesia, dan yang lebih mengejutkan lagi pemilik dompet ini adalah lelaki menyebalkan kemarin.
Ah kenapa pula aku harus berurusan lagi dengan nya, kalau aku tidak menghubungi dan memberitahukan bahwa dompet nya tertinggal aku pasti bakal kena semprot Tuan Kepala.
Tapi aku sudah malas bertemu dengan nya setelah Kemarin dia menghancurkan liburan ku.
"Hallo, Imamiya plantations. Ini aku Asma, dompet mu ketinggalan di sini, cepetan ambil sembelum jam empat sore." Ucapku setengah berteriak karena masih kesal dengan kejadian kemarin.
"Ok terimakasih, ya."ucap nya. Kemudian aku langsung mematikan sambungan telepon.
****
Malam ini sungguh tenang. Aku keluar menuju plafon apartemen mencari udara segar. Tak pernah bosan aku memandang bintang yang bertaburan mengelilingi bulan. Aku menghela nafas.
'kalau di Indonesia, aku biasa menghitung bintang bareng Mama dan Papa. Sampai kadang tertidur di teras rumah lalu Papa menggendong ku ke kamar.' ah sedih rasanya kalau ingat rumah. Ingat mama, papa, dan semua tentang mereka.
****
"Kamu tega sama aku, mas. Kamu gak kasihan sama Rani, dia masih SMP, dia masih butuh perhatian kamu, kamu malah mau nikah lagi." Ucap Mama sambil menangis menarik tangan Papa, walaupun aku masih kecil tapi aku paham betul apa yang di ucapkan mama tadi. Ya, papa akan menikah lagi.
"Aku ini laki-laki, boleh punya lebih dari satu istri, yang penting aku bisa adil kepada kalian semua." Jawab Papa enteng.
"Tapi, Mas. Adil yang seperti apa? Pokoknya aku gak ngijinin." Ucap Mama memohon sambil memegang tangan Papa.
"Dengan atau tanpa ijin dari kamu, aku akan tetap menikah." Ucap Papa membuat Mama menangis meraung-raung, pemandangan yang sangat mengiris hati. Aku masih bersembunyi di balik tembok, sambil terus memperhatikan apa yang akan papa lakukan pada mama. Tapi tiba-tiba saja mama pingsan, aku keluar dari tempat persembunyian dan berusaha membantu mama.
Bukan nya menolong Mama, Papa malah memanfaatkan situasi dan langsung pergi membawa sekoper baju yang sudah dimasukkannya ke dalam mobil.
Aku yang sudah tak bisa menahan marah, langsung mengejar dan mengambil sebongkah batu berukuran sedang lalu melempar kaca belakang mobil papa dengan batu tadi sekencang mungkin. Dan
Praaang...
Bersambung