Bab 15 : Sakit

2299 Kata
Author’s Point of View Setelah menghabiskan akhir perkan di Puncak, akhirnya kedua sejoli itu pun memutuskan untuk kembali ke Jakarta di sore hari. Sebenarnya, mereka berdua pun rasanya malas untuk kembali, karena perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, ditambah lagi Puncak yang selalu macet tak ada habisnya. Tetapi, daerah Puncak adalah daerah yang paling nyaman menurut mereka berdua. Udaranya yang sejuk ditambah lagi banyak pepohonan membuat mereka betah untuk berlama-lama. “Huft, aku bingung deh, ini tuh jaln udah segede ini loh, Mas … ya Tuhan, tapi tetep aja ya gak bergerak sama sekali. Depan mobil di belakang juga mobil,” gerutu Bianca seraya memakan snack kripik singkong yang ada di tangannya. Ia melihat jalan raya yang begitu padat seakan tak ada celah sedikit pun untuk mobilnya maju. “Ya, sabar dong, sayang … namanya juga akhir pekan. Banyak yang liburan.” “Pantes ya, rata-rata plat nomornya B.” Bianca menyenderkan tubuhnya di jok mobil. “Emangnya jalan cuma lewat sini aja ya, Mas? Kalau kita naik terus ke atas puter balik gitu, gak bisa?” Hendra tampak berpikir sejenak. Kemudian, pria itu pun menatap wanita yang duduk di sebelahnya dengan lekat. “Bisa sih, tapi nembusnya tuh ke daerah Jonggol.” “Hah? Makin jauh, gitu?” “Iya, lewat Cianjur juga kalau kita semakin ke atas sana.” Bianca menghela napasnya pelan. “Lalu kapan kita sampainya kalau begini?” Ia melihat ke arah luar jendela mobil yang sekarang sudah mulai berembun. Di tambah lagi, udara di Puncak semakin sore semakin dingin dan juga banyak kabut. Bianca tersenyum, ia jadi ingat dulu … ketika masih tinggal di panti asuhan, dirinya begitu ingin sekali main ke Puncak, namun tak pernah bisa karena Ibu Riana yang tidak memperbolehkannya. Salah satu alasannya karena Puncak itu macet. Walaupun panti juga berada di daerah Bogor, namun jarak dari panti ke Puncak cukup jauh. “Kamu kedinginan ya, Bi?” Tangan Hendra menyentuh tangan Bianca yang berada di atas paha wanita itu. Ia bisa merasakan suhu tubuh Bianca yang begitu dingin sekarang, ditambah lagi bibirnya yang menggigil dan mulai pucat. “Astaga … pakai sweatermu, Bi.” “Ada di koper, Mas,” ucap wanita itu dengan suara yang lirih. Hendra berdecak pelan. Koper yang mereka bawa semuanya ada di dalam bagasi mobil. Dan saat ini Bianca hanya menggunakan kaos pendek dengan celana jeans saja. Dan pria itu pun ingat bahwa dirinya sering menggantung jas yang ia pakai di jok belakang mobil. “Sebentar, Mas ambil jas dulu,” pria itu membuka seat belt yang ia gunakan. Lalu, tubuhnya pun mulai bergerak ke belakang untuk mengambil jas yang menggantung di dekat pintu mobil. Dan untungnya tangannya bisa menggapi benda itu. “Pakai ini,” Hendra melepaskan jas itu dari gantungannya, setelah itu ia pun memakaikannya di tubuh wanita muda di sampingnya. “Makasih ya, Mas.” Bianca merasa sedikit hangat sekarang. Tak sedingin tadi. “Mas matikan ya AC-nya?” “Eh, jangan …” Bianca menolaknya membuat pria itu mengernyit heran. “Loh, kenapa?” “Gak tau, Mas, kalau AC mobilnya dimatiin, aku suka mual, enek gitu rasanya mau muntah.” “Serius? Kamu sakit, Bi?” tangan Hendra menyentuh kening Bianca untuk memastikan bahwa wanita itu sakit atau tidak. “Ah, nggak panas. Kamu baik-baik aja? Kita ke dokter mau?” “Aku baik. Cuma pusing aja, gak tau kenapa mual, enek gitu rasanya. Terus juga lemes tiba-tiba, pokoknya aneh deh, Mas.” “Ke rumah sakit deh, ya?” Pria itu benar-benar cemas sekarang. “Gak usah, paling masuk angin aja. Minum jahe di kosan nanti juga udah sembuh.” “Saya rasanya gak akan bisa meninggalkan kamu sendirian di kosan, Bi. Dalam kondisi kamu yang pucat begini saya takut kamu kenapa-kenapa.” Bianca terkekeh pelan mendengarnya. Ia begitu senang karena pria itu sangat mengkhawatirkannya. “Terus, kalau aku gak pulang ke kosan, aku mau tidur di mana, Mas?” “Kamu lupa, ya? Saya kan ada apartemen, kamu tinggal di sana saja. Kalau ada apa-apa tinggal telepon, terus juga enak deket sama rumah saya.” “Kalau aku mau di rumah kamu, boleh?” Bianca menatap Hendra dengan tatapan berbinar. Tetapi, pria itu malah menatapnya dengan tatapan yang begitu horor sampai membuat Bianca rasanya ingin tertawa terpingkal-pingkal menatap ekspresi kekasihnya itu. “Nggak sih, aku bercanda. Lagian juga, ngapain aku ke sana? Gak usah serius gitu deh, Mas, mukanya …” “Ada-ada aja kamu ini, Bi.” Hendra mencubit pipi wanita itu sampai Bianca mengaduh sakit, padahal Hendra tau cubitannya hanyalah cubitan pelan. “Sekarang kita ada di mana ini, Mas?” tanya Bianca seraya menatap ke arah kaca mobil. Rasanya mobil yang ia tumpangi ini sudah bergerak perlahan tadi. Tetapi, kenapa seperti masih berada di tempat yang sama saja? “Kayak anak kecil aja, nanya di mana sekarang? Udah mau sampai belum? Masih jauh, ya?” ucap pria itu seraya menatap jalan raya dengan fokus. “Ih, Mas Hendra! Kan aku cuma nanya, aku gak hafal jalan begini, lebih enak tidur habis itu pas buka mata udah sampai, dari pada ngehafalin jalan kan.” “Ya udah, kalau begitu kamu tidur aja, istirahat, nanti pas sudah sampai Mas bangunkan,” Hendra mengusap rambut wanita yang ia cintai dengan lembut. Senyuman terbit di wajahnya membuat pria itu semakin manis. “Kamu belum jawab pertanyaan aku, setelah kamu jawab, nanti aku akan tidur,” Bianca menatap Hendra dengan tatapan yang jenaka. Dan pria itu tau, Bianca adalah wanita yang jahil, jadi ia harus siap-siap untuk mendapatkan kejutan yang lain dari kekasihnya itu. “Apa? Memangnya kamu nanya apa, hmm?” “Kita sekarang ada di mana? Ya ampun, Mas …” Hendra terkekeh pelan. “Katanya kamu gak mau hafalin jalan, sekarang kenapa kamu penasaran banget di mana kita sekarang?” “Ya, beda, Mas …” katanya. “Oh, di depan masjid ya,” lanjutnya karena ia melihat sebuah nama yang besar terpampang di pinggir jalan. “Hm, masjid ini bagus loh, Bi. Mau mampir?” “Buat apa? Mau ibadah?” Wanita itu tertawa pelan. Lalu, matanya tertuju ke arah berbagai tukang jualan yang ada di depan masjid. Begitu banyak membeludak seperti tempat lembelian oleh-oleh. “Turun yuk, Mas? Itu banyak banget makanannya, coba deh kayaknya enak, aku jadi lapar.” “Bi?” Pria itu terheran-heran menatap Bianca yang seperti orang tengah kelaparan saja. “Kamu baru makan loh tadi, belum ada 15 menit kamu makan nasi sama lauknya di villa, sekarang udah lapar lagi? Gak kenyang?” Bahkan, Bianca juga mengambil sedikit jatah makanan miliknya. “Ah, jangan diingetin. Aku laper, pokoknya mau makan. Turun sebentar ya, Mas? Ya? Ya?” Ia berusaha untuk membujuk pria itu. Ia berharap rayuannya kali ini bisa berhasil. “Kita mau parkir di mana? Penuh loh itu, Bi.” Bianca menghela napasnya pelan. Memang, ia sama sekali tak melihat jarak kosong antara mobil satu dan mobil lainnya. Semua mobil di parkiran tampak berdempetan. “Besok saya harus kerja, jadi jangan dulu, ya?” Hendra berusaha membujuk kekasihnya itu. Walaupun kecewa, akhirnya Bianca pun mengangguk. “Iya deh, gak apa-apa, kita langsung pulang aja.” “Nanti, ya … kalau kita jalan-jalan ke sini lagi. Nanti kita coba mampir ke situ,” Hendra mengelus rambut halus milik wanita yang duduk di sampingnya itu. “Iya,” ucap Bianca. Hendra bisa melihat raut kekecewaan dalam wajah Bianca. Sepertinya wanita itu begitu ingin berhenti sebentar di tempat tadi. Namun, waktu terus berjalan dan sekarang sudah hampir malam. Hendra tak ingin mereka menghabiskan waktu terlalu lama di Puncak. Mereka masih di Puncak sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 6 malam. Entah jam berapa mereka akan sampai Jakarta karena mobil sama sekali tak bergerak. Ia pun jadi khawatir kalau mereka akan datang pada waktu tengah malam. Ah, besok dia harus menghadiri rapat penting dengan seorang klien. Tiba-tiba saja, ponselnya berdering di atas dashboard mobil. Dengan cepat, Hendra pun mengambilnya. Dilihatnya nama yang memanggilnya lewat telepon. Istri. Pria itu mengembuskan napasnya pelan. Astaga … rasanya kepala dia ingin pecah. Di satu sisi ada Bianca yang sedang kecewa dan kesal karena tak dituruti keinginannya. Di sisi lain ada Fahira yang terus meneleponnya dari kemarin. Sepertinya istrinya itu begitu ingin tau di mana dirinya saat ini. “Angkat loh, Mas. Itu kan hp kamu bunyi.” Bianca berucap. Hendra pun mengangguk. Lalu, pria itu pun menaruh ponselnya di dekat telinga dan mulai mendengarkan ucapan dari seberang sana. “Mas kamu di mana?” Hendra menghela napasnya. Selalu saja, ketika Fahira menelepon, pasti wanita itu bertanya keberadaannya sekarang. “Saya menuju jalan pulang.” Mata Hendra melirik ke samping. Ternyata, Bianca sama sekali tak peduli dengannya sekarang. Wanita itu sibuk menatap jalanan seraya memakan kripik di tangannya. “Emangnya kamu dari mana, Mas? Selvi bilang kamu sama sekali gak ke kantor.” “Oh, s**t!” Hendra berdecak pelan. Fahira sampai bertanya kepada sekretarisnya di kantor? Astaga … Hendra rasanya benar-benar lelah saat ini. Ingin sekali ia mematikan ponselnya, namun ia tetap harus menjawab pertanyaan wanita itu, karena jika tidak … yang ada ketika ia sampai di rumah, Fahira akan terus menerornya dengan berbagai macam pertanyaan lainnya. “Ya, memang saya gak di kantor, Ra.” Bianca sontak menoleh saat nama itu disebut. Oh, ternyata Mas Hendra sedang berbicara dengan istrinya. Ia tersenyum miring dan memilih untuk tak menghiraukannya. Rasanya begitu sakit melihat Mas Hendra yang berbicara dengan istrinya. Padahal Fahira adalah istrinya, jadi wajar-wajar saja mereka seperti itu. Dan yang bersalah di sini adalah Bianca. Ya, Bianca selalu menyalahkan dirinya sendiri karena sudah masuk ke dalam rumah tangga seseorang. Dirinya sekarang bagaikan wanita yang tersakiti, padahal jelas-jelas dirinya adalah wanita perusak rumah tangga orang. Seharusnya Fahira lah yang marah kepadanya, kalau perlu menjambak rambutnya ketika mereka bertemu. Aih, terdengar begitu dramatis. Tetapi, Bianca selalu memikirkan kejadian itu jika terjadi di masa yang akan datang. Dia pernah mendengar sebuah pribahasa yang mengatakan bahwa ‘sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga’ dan seperti itu akan terjadi kepadanya dan juga Mas Hendra. Bukan sekarang, tetapi di masa yang akan datang. Entah itu besok atau pun lusa, semuanya bisa terjadi tanpa ia prediksi sedikit pun. “Kenapa, Mas?” Bianca melihat pria itu yang tampak kesal seraya menaruh ponselnya kembali du atas dashboard. Tangan lentik miliknya pun kini sudah mengelus lembut lengan pria itu. “Kenapa tiba-tiba muka kamu jadi masam begini?” “Gak apa-apa, Bi.” “Gak apa-apa, gimana? Jelas-jelas aku tau kalau kamu sekarang lagi kesal.” Bianca terus mengoceh. “Memangnya kenapa? Istri kamu itu bilang apa? Dia menyuruh untuk cepat pulang?” “Tentu saja. Apa lagi?” ucap Hendra. “Fahira bertanya macam-macam kepada saya, Bi. Sampai dia pun bertanya kepada sekretaris saya di kantor. Ah, benar-benar memusingkan.” Bianca tertawa. Ia pun mencubit pipi pria itu dengan lembut. “Punya satu wanita yang menjadi istri sah ditambah satu wanita yang menjadi selingkuhan ternyata berat banget ya, Mas?” kekehnya. Pria itu pun menoleh sejenak. “Kamu kayaknya kelihatan seneng lihat Mas begini?” “Ya, kamu lucu aja.” “Tapi gak apa-apa. Mas sama sekali tak menyesali pertemuan kita sampai membawa kita ke hubungan sejauh ini.” Hati Bianca berdesir mendengarnya. Ucapan yang keluar dari mulut Hendra berhasil membuatnya tersenyum malu. “Bisa aja ini om-om ngegombalnya.” “Tapi, kamu suka, ‘kan?” “Heleh!” Setelah itu, mobil pun bisa berjalan seperti biasa tanpa ada kendala macet lagi. Walaupun tak begitu leluasa untuk melajukan mobiknya dengan kencang, setidaknya mobil mereka tak diam saja sejak tadi. Ketika memasuki tol, Bianca sudah merasakan hal yang tak enak pada tubuhnya. Keringat dingin membanjiri tubuhnya saat ini. Kepalanya terasa begitu pusing, lalu perutnya pun terasa mual dan seperti ada sesuatu yang ingin dimuntahkan. “Kamu kenapa, Bi?” tanya Hendra saat melihat Bianca yang menutup mulutnya sendiri. “Mas berhenti sebentar, Mas!” Bianca masih berusaha untuk berbicara, walaupun ada sesuatu yang begitu ingin mendesak keluar. “Oke, oke …” Untung saja sebentar lagi rest area, jadi mereka bisa sekalian beristirahat. Hendra langsung memarkirkan mobilnya ketika sampai di rest area. “Aku … mau ke toilet,” lirih Bianca yang membuat pria itu panik. “Iya, Mas antar.” Mereka pun langsung keluar dari mobil. “Toiletnya di mana?” Bianca mencari-cari letak toilet. Dan Hendra pun melakukan hal yang sama. Namun, wanita itu sudah tak bisa menahan gejolak dalam perutnya lagi. Akhirnya, ia berlari ke sebuah sudut di dekat pohon besar. Ia pun menunduk dan memuntahkan isi perutnya di sana. Hendra pun menyusulnya, ia memijit tengkuk wanita itu. “Masih mual?” tanyanya ketika melihat Bianca yang tengah membersihkan pinggiran bibirnya dengan tangan. “Sebentar, Mas belikan air mineral dulu. Kamu tunggu di sini.” Hendra berlari, lalu ia pun melihat seorang pedagang keliling yang membawa berbagai macam minuman dan makanan. Dengan cepat, Hendra pun membelinya. Lalu, ia kembali menuju tempat Bianca tadi. “Sini …” tanpa merasa jijik sedikit pun, pria itu mengambil tangan Bianca dan membersihkannya dengan air mineral yang ia beli tadi. “Kamu sakit, Bi. Saya gak akan tinggalin kamu sendiri di kosan. Kamu di apartemen aja, ya?” Bianca menggelengkan kepalanya dengan lemah. “Gak ah, Mas. Nanti kalau misalnya tiba-tiba ada keluarga kamu yang datang bagaimana?” “Ck, gak akan ada.” “Aku akan baik-baik saja, Mas.” “Mas takut kamu kenapa-kenapa, jarak dari rumah ke kosan kamu cukup jauh, Bi.” “Aku gak apa-apa, Mas.” Bianca berusaha membuat pria itu percaya dengan ucapannya. “Gak apa-apa, gimana? Kamu muntah, wajah kamu pucat banget gitu.” Bianca terkekeh pelan. Akhirnya, ia bisa merasakan bagaimana dipedulikan oleh seseorang yang begitu ia cintai. Setelah hampir belasan tahun ia merindukan kasih sayang dan cinta dari seorang ibu dan ayah, tetapi tergantikan dengan hadirnya Hendra dalam hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN